Menikmati Hidup Selow

Tahun dua ribu delapan belas sudah memasuki semester dua. Apa kabar resolusi yang dibuat di awal tahun? Sudah lupa atau menguap begitu saja? Dan kalau boleh nanya, apa pencapaianmu tahun ini yang bisa dibanggakan? Jangan bilang gak ada ya.

Andai apa yang kamu lakukan untuk mencapai impian masih gagal, ini adalah sebuah pengalaman berharga. Tak perlu bersedih dan membandingkan diri dengan orang lain.

Hidup bukan hanya tentang apa yang kita capai. Namun apa yang sudah kita berikan untuk sesama dari pencapain kita itu. Migunani tumraping liyan.

Ngiri sama achievement orang lain tak akan membuat hidup menjadi lebih baik. Selow aja. Semua punya jalan masing-masing. Sudahlah, jangan takut sama omongan netizen saudara, teman dan tetangga yang ngremehin hanya karna pencapaian kita biasa saja. Kita makan nggak minta mereka, biaya hidup gak nebeng mereka; abaikan saja. Percayalah, bagaimana pun kondisi kita saat ini, hidup kita tetaplah berharga.

Lulus S1 di usia 29 bukanlah aib. Ini adalah prestasi. Umur 30 belum punya pasangan, namun bisa gembira, tetaplah indah. Atau menikah di usia 37, belum terlambat kok. Punya rumah di usia 40, tetaplah hebat. Jangan biarkan orang lain membuat kita terburu-buru. Kita tak sedang berlomba cepet-cepetan punya mobil, cepet-cepatan punya anak atau cepet-cepetan jadi eselon tiga. Mereka punya waktu sendiri, kita juga.

Lagian achievement tiap orang kan beda. Ini personal banget. Nggak perlu memaksakan definisi achievement? Bisa jadi buat si Iwan, achievement adalah kuliah S2. Bagi Agus, achievement adalah menikah di usia muda. Bagi Felika, achievement adalah kerja di perusahaan multinasinonal dengan gaji USD. Bagi Hanum, achievement adalah punya rumah mewah dan jalan-jalan ke Eropa. Bagi Kiwil, achievement adalah punya istri dua. Tetap hidup meski ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, ini juga achievement yang keren. Selama nggak saling ganggu, biarkan saja tiap orang dengan definisinya masing-masing.

Kita gak pernah tahu kehidupan orang lain yang sebenarnya.

Ada yang lulus sarjana usia 21 namun sampai umur 28 belum punya kerja. Ada yang telat lulus, tapi langsung kerja. Ada yang begitu lulus kuliah langsung bekerja, namun membenci pekerjaan mereka. Bahkan ada yang tak pernah mengenyam bangku kampus, namun telah menemukan passion dan tujuan hidupnya di umur 18.

Ada yang sudah menikah lebih dari 10 tahun namun belum dikarunia anak. Ada yang punya anak, tapi tak punya pasangan. Tak sedikit orang yang terikat sebuah hubungan, tapi ternyata mencintai orang lain. Sementara itu ada pula yang saling mencintai namun tak bisa bersama. #eaa

Lantas, masih pantaskah kita merisaukan hidup ini? Nikmati saja. Mungkin kita perlu mencoba menjalani slow life. Bukan untuk melambat, tapi untuk mengatur ritme, menyeimbang hidup agar tak berlebihan. Ada saatnya harus selow, ada kalanya harus gercep.

Selama kita terus berjuang menciptakan kehidupan yang bermakna dengan cara yang terhormat, sejatinya kita telah menempuh jalan kebahagiaan. Dan kesuksesan pasti tiba. Pencapaian hidup yang diraih dengan cara culas justru akan melahirkan kebahagiaan semu.

Ini hanya soal waktu. Waktu dari-Nya nggak pernah terlambat, nggak juga kecepetan. Bersabarlah. Tuhan pasti punya rencana.

****

“Sometimes what you want isn’t always what you get, but in the end what you get is so much better than what you wanted.”

Iklan

Menua Di Ujung Malam

jar-of-rocks

“Tak perlu menua di ujung malam. Hidup tak hanya untuk bekerja”

Kalimat yang menohok. Menyadarkan saya bahwa ada dunia lain selain pekerjaan, ada kehidupan di luar sana yang patut ditengok.

Kesibukan mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian ada kalanya membuat enggan pulang. Malu pulang TENG GO. Begitu jam lima TENG, langsung GO. Makin larut pulang, makin merasa heroik. Lupa meluangkan waktu untuk keluarga tersayang.

Jangan-jangan selama ini saya terlalu egois, memikirkan diri sendiri, tanpa memperhatikan yang lain. Jangan-jangan ada yang terluka karna ambisi saya. Jangan-jangan keringat saya terus menetes tanpa makna. Jangan-jangan……..#ahsudahlah Baca Selengkapnya

Resolusi, Sekarang Atau Tidak !

o-NEW-YEAR-RESOLUTIONS-facebook

Gambar dari Google

Waktu terasa cepat saat kita bahagia. Bener gak sih? Tak terasa si kecil sudah masuk SD, tiba-tiba sudah weekend lagi, tahu-tahu sekarang sudah Desember. Tahun baru sudah di depan mata. Sudah siap-siap liburan dan pesta kembang api merayakan pergantian tahun.

Malam tahun baru adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun serta membuat resolusi tahun depan. Seringnya sih bikin resolusi banyak banget, hanya di bibir saja, gak pernah ditulis. Dibuat dengan gagah perkasa tanpa komitmen, dan kemudian dilanggar tanpa rasa bersalah. *ini sih gue banget

Tapi tak apalah. Berani membuat resolusi saja itu sudah bagus. Artinya berani  bermimpi, berani melakukan sesuatu yang baru.  Setidaknya hidup menjadi lebih greget, karna ada target yang hendak dicapai. Melakukan sesuatu yang baru adalah salah satu bentuk kesuksesan. Mengubah kebiasaan buruk juga sebuah kesuksesan.

Tak punya resolusi pun keren juga. Artinya pasrah dengan nasib. Mengalir begitu saja, jadi gak kecewa saat menerima kegagalan. Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Toh hidup tak harus sempurna, tak mesti sesuai rencana. Kalau semuanya selalu perfect ; gak ada masalah, gak kena macet, gak pernah kecewa, gak ada konflik.., apakah hidup jadi lebih menyenangkan? Baca Selengkapnya

Habiskan Jatah Gagalmu

Pernah gagal? Gagal apa saja deh. Gagal menurunkan berat badan, gagal dapat beasiswa, gagal nyobain resep baru, gagal nyaleg, gagal menyunting pujaan hati sampai gagal move on. Padahal usaha sudah maksimal, sayang hasilnya minimal.

Bagaimana rasanya?
Sedih… pastilah
Kecewa… tentu
Malu…. apalagi yang ini.
Rasanya pengen ada seseorang yang memeluk dan mengusap air mata kita. *puk puk puk

Tapi karna orang lain juga sibuk dengan urusannya sendiri dan tak sempat menenangkan hati kita yang remuk redam, mari menghibur diri sendiri. Biar tak terlalu lama tenggelam dalam kegagalan.

Jadi begini, yang namanya kegagalan itu biasa, bukan akhir dari segalanya. Bukan pula cobaan maha dasyat yang harus diratapi berhari-hari. Ndak perlu pamer kesedihan agar dikasihani, seolah-olah kita ini orang yang paling menderita. Pemerintah yang isinya orang-orang hebat saja juga gagal. Gagal mensejahterakan rakyatnya, gagal bikin kurikulum. Apalagi kita. Baca Selengkapnya