Menua Di Ujung Malam

jar-of-rocks

“Tak perlu menua di ujung malam. Hidup tak hanya untuk bekerja”

Kalimat yang menohok. Menyadarkan saya bahwa ada dunia lain selain pekerjaan, ada kehidupan di luar sana yang patut ditengok.

Kesibukan mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian ada kalanya membuat enggan pulang. Malu pulang TENG GO. Begitu jam lima TENG, langsung GO. Makin larut pulang, makin merasa heroik. Lupa meluangkan waktu untuk keluarga tersayang.

Jangan-jangan selama ini saya terlalu egois, memikirkan diri sendiri, tanpa memperhatikan yang lain. Jangan-jangan ada yang terluka karna ambisi saya. Jangan-jangan keringat saya terus menetes tanpa makna. Jangan-jangan……..#ahsudahlah Baca Selengkapnya

Iklan

Paradoks

Makin hari makin banyak paradoks yang mengemuka dalam kehidupan kita. Dan bisa jadi, kita menjadi salah satu bagian dari sebuah paradoks kelam tersebut. Ini dia beberapa contohnya :

1. Kerja mati-matian, lembur siang malam, cari duit sebanyak-banyaknya. Melupakan waktu untuk keluarga, mengabaikan kesehatan. Akhirnya duit yang terkumpul habis untuk biaya berobat agar bisa sehat kembali.

Sekedar info nih ya, orang yang sering lembur, bekerja lebih dari 8 jam sehari hingga larut malam, akan mengalami kombinasi stres, tekanan darah tinggi, serta diet tidak sehat. Tentu saja ini akan memicu resiko terkena penyakit jantung dan stroke hingga 80%.

Padahal, kerja lembur tidak selalu berarti rajin bekerja. Kadang lembur hanyalah alasan untuk main internet, ngrumpi, demi free wifi, free coffee, nasi kotak dan ngadem di kantor. *daripada di rumah kepanasan ūüôā

2. Sendiri di tengah kebersamaan. Lagi kumpul di acara keluarga, saat piknik bersama, berkumpul dengan orang-orang tercinta, namun justru asyik dengan smartphone. Menjauhkan yang dekat.

3. Tak sedikit orang pinter yang gelarnya berderet-deret, ternyata justru pelaku kejahatan korupsi. Makin panjang gelarnya, makin dahsyat korupsinya. Mungkin ada yang salah dengan pendidikan kita.

4. Indonesia, negeri dengan tingkat korupsi terparah, ekonominya justru tumbuh 14 kali lipat lebih tinggi dari negara zero corruption (Denmark). Hasil korupsi dibelanjakan untuk menggerakkan sektor riil, untuk beli rumah, beli mobil, buat liburan, beli akik, beli pensil alis dan buat spa di salon.

5. Ikutan demo anti USA, berkoar-koar mengutuk kezaliman Yahudi. Pas rehat, pada kisruh rebutan nasi kotak KFC dan Coca Cola. Ngata-ngatain anggota DPR tukang korupsi, ternyata kwitansi nginap di hotel  di-mark up.

6. Banyak para LDR-ers yang mesra-mesraan lewat telpon, ceting. Saling sapa, saling mengingatkan sudah makan belum, lagi ngapain etc…giliran pas ketemuan berantem.

7. Budi Hartono, orang terkaya Indonesia, pemilik Grup Djarum. Tapi dia tak pernah merokok. Jutaan rakyat Indonesia yang kurang sejahtera, lebih memilih membeli rokok sebungkus daripada beli daging dan telur untuk lauk keluarganya. Ada juga yang setelah berolah raga, futsal, jogging, sepedaan trus ngrokok.

8. Cewek-cewek cantik nan seksi justru memilih pasangan para pria gendut. Sebuah kenyataan yang sangat memilukan. Pria yang sixpack kebanyakan maho sih.

9. Tempe yang katanya makanan rakyat kecil, ternyata kedelainya diimpor dari luar negri. Beras, jagung, bawang, HP…semuanya impor.

10. Tingkat bunuh diri banyak terjadi di negara-negara yang paling happy di dunia. Korea 43,7 kasus per 100.000 orang dan Jepang 49,5 kasus per 100.000

11. Saat di tempat kerja begitu ramah dan sopan sama klien, tapi kalau di rumah sama anak istri justru gualak banget.

12. Pasangan resmi jauh lebih cantik, lebih ganteng dari pada selingkuhannya.

13. Baru sehari di Jakarta ngomongnya sudah lu gue. Yang Betawi asli malah ndak gitu-gitu amat.

14. Smart phone dengan harga mahal, fitur digunakan hanya 30%.

Hmmm… apa lagi ya?

Rileks Sejenak, Menjaga Gairah

Tandanya  kita masih manusia adalah terkadang bersemangat, kemudian lemah letih loyo di lain waktu. Gak semangat lazimnya karna dead line kerjaan, kangen sama yayang, tanggal tua atau berantem sama kawan. Biasa itu, manusiawi. Tapi kalau lebih banyak gak bergairah, banyak murungnya, itu perlu diwaspadai.

Semangat terus juga gak mungkin. Emang robot.

Saya pernah mengalami situasi seperti ini; tiba-tiba males, bosen, uring-uringan gak jelas, bete, padahal saldo ATM masih banyak ada lho. *sombong*

Meski di tempat kerja sudah dibriefing, disuruh teriak yel-yel, tetep aja gak mempan. Mungkin hati saya mengeras, atau bisa jadi karna briefingnya formalitas aja. Kayak politisi, nyuruh anak buah begini begitu, eh yang nyuruh teryata omdo. Cuma mengatakan sesuatu yang tak pernah dikerjakan. Jadi ya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. *sorry to say*

Gak semuanya sih. Ada juga briefing yang menarik. Keren, benar-benar memotivasi. Meski sebentar, tapi  yang disampaikan masuk ke hati. Sejuk mendengarnya. Ada.

Seorang kawan pernah menasehati saya. Katanya agar motivasi selalu terjaga, gak harus nunggu pengaruh dari orang lain. Banyak hal-hal sederhana yang bisa membuat kita relaks, tenang dan kemudian antusias dalam menjalani kehidupan ini. Berikut ini beberapa hal yang layak untuk dicoba :

Baca Selengkapnya

Takut Tak Dapat Rizki

rejeki 1

Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, tanggal segini gaji ke 13 sudah cair. Entah kenapa tahun ini molor. Wajar jika banyak yang gusar. Saya salah satunya. Juni kan musimnya anak masuk sekolah. Harus bayar uang gedung, beli tas baru, baju baru, sepatu baru, buku baru. Semua harus baru.

Mungkin pak SBY lagi repot-repotnya ngurusin negara, maklum mau lengser. Jadi belum sempat tanda tangan PP (Peraturan Pemerintah) tentang Gaji ke 13. Atau jangan-jangan sengaja dikeluarin di bulan Juli, dekat lebaran. Itung-itung THR. Bisa buat beli baju, kasih angpau ke saudara, beli tiket mudik, bayar zakat dan lain-lain. Klik Selengkapnya

Beda itu Lucu

Dalam banyak hal, kita sering berbeda dengan orang lain. Beda selera, beda hobi, beda pilihan. Perbedaan yang kata orang bijak adalah indah, ternyata juga lucu dan membuat pusing.

Ada yang berantem gara-gara beda jago Capres. Menumpahkan segala caci maki, sumpah serapah pada kubu lawan. Padahal sebelumnya adalah sahabat, saling menyayangi di kala jauh maupun dekat.

Tapi Tuhan tidak diam. Dengan rahman dan rahim-Nya, disatukan insan-insan yang terjerumus hiruk pikuk Pilpres ini dalam sebuah kecintaan pada sepak bola. Piala dunia mendamaikan Jasmev dengan relawan Prabowo. Sama-sama mendukung Jerman di Piala Dunia, tiada lagi ketegangan. Hilang kesumat antar mereka. Lupakan target suara yang harus dicapai dan persoalan hidup lainnya. Adem.

Sama-sama pilihan capresnya, sama-sama dukung Inggris di World Cup, tak menjamin selamanya akan seiring sejalan. Saat Ramadhan tiba, kegamangan hadir. Lagi-lagi harus memilih dan beda. Ikut pemerintah atau tidak.

Penentuan awal bulan suci ini beberapa kali tidak sama. Pemerintah menentukan tanggal sekian, sementara NU & Muhammadiyah tak sepakat dengan hasil sidang isbat. Beda lagi. Yang sedikit melegakan adalah, hari raya nya sama. Alhamdulillah.

Pada akhirnya, kita memang tidak bisa selalu sama dengan orang lain. Bahkan dengan orang tua atau pasangan. Tak perlu dipaksakan. Yang kita butuhkan hanyalah bersikap dewasa menghadapi setiap perbedaan. Berbeda dengan kita bukan berarti lawan yang harus dimusuhi.

Beda itu lucu, yang harus ditertawakan. Boleh jadi kita beda dalam satu hal, tapi akan sama pada hal lain. Akur kan

Jadi sebaiknya mana dulu yang mesti dipikirin, Piala Dunia, Pilpres atau Ramadhan?

Prinsip Hidup

Prinsip hidup, apaan tuh?
Semacam Moto?
Kayak semboyan?
Yel-yel?
Mirip kata-kata Om Mario Teguh?

Hmmm, panjang kalau dijelaskan di sini. Tapi saya yakin, setiap kita pasti punya prinsip yang jadi pegangan dalam menjalani kerasnya kehidupan ini. Mulai dari prinsip yang sederhana sampai yang rumit untuk dimengerti. Dari wejangan orang tua, dari kitab suci, dari quotes orang-orang bijak atau bahkan buatan sendiri.

Selengkapnya