Kebaikan Tak Pernah Salah Sasaran

Mumpung lagi di Jakarta, saya nyobain ojek online Grab Bike. Jangan tanya kenapa ndak pakai Gojek, ini cuma masalah selera. Tak usah diperdebatkan. Kebetulan jarak yang akan saya tempuh tak terlalu jauh, dari Aston Marina Ancol menuju stasiun Jakarta Kota. Sekitar 3,4 km, masih nyamanlah kalau naik ojek.

maps

dari Google Maps

Saat order ojek via aplikasi, muncul beberapa nama driver yang berada di sekitar lokasi hotel. Saya memilih mas Faisal Aziz Suargono. Dari namanya, dugaan saya ia orang Jawa. Ternyata benar, ia berasal dari Slawi. Sebelum naik ojek, saya sempatkan foto-foto dulu, biar kekinian. Saya pesani juga agar ia tak ngebut. Dulu pernah juga naik ojek pengkolan, dari Tebet ke Lapangan Banteng. Karna saya minta cepet, si abang ojek ngebut bukan main, zig zag, masuk jalur busway, nerobos palang pintu kereta. Bener-bener uji nyali. Semenjak itu, saya kapok. Baca Selengkapnya

Iklan

Masih Anggap Sepele?

Sesuatu yang besar selalu bermula dari yang kecil. Atau bahkan dari hal yang disepelekan. Seperti bencana kabut asap di Kalimantan dan Sumatra. Mungkin awalnya ada yang iseng buang puntung rokok, lalu terjadi kebakaran hutan. Ada juga yang sengaja membakar untuk kepentingan bisnis perusahaan, tapi pelakunya gak diapa-apain sama aparat. Dicuekin, disepelein dan dianggap biasa, gak diproses hukum. Kasusnya selalu mandeg di penegak hukum. Meski asap sudah sampai di negeri tetangga; Singapura dan Malaysia, penanganannya masih begitu-begitu saja. Mungkin lain ceritanya jika Jakarta yang dikepung asap. Pasti lebih cepat diatasi.

Padahal kesalahan-kesalahan kecil [sepele] yang dibiarkan akan mudah menular pada orang lain dan memicu pelanggaran-pelanggaran yang lebih besar. Dampaknya sangat sistemik. Coba saja sampeyan buang sampah sembarangan. Di ujung gang atau di sudut ruangan kantor. Dalam waktu yang tak terlalu lama semua orang bakalan ikut buang sampah di situ. Satu pelajaran kita dapat, perilaku buruk ternyata mudah menyebar dan menular. Baca Selengkapnya

Budak Informasi Sampah

bad-news2

Awal tahun ini, saya mencoba sesuatu yang baru, yaitu menjalankan diet informasi. Saya kurangi nonton televisi. Kalau untuk berhenti sama sekali, rasanya saya belum bisa. Saya masih suka menyaksikan beberapa acara yang menarik, terutama tayangan olah raga. Sepak bola. Buat saya sepak bola adalah drama terbaik, dibanding sinetron mendayu-dayu seperti Shakuntala dan GGS.

Setidaknya saya sudah tak pernah lagi melihat berita-berita negatif yang isinya korupsi, pembunuhan, kriminal, bentrokan, perselingkuhan dan sejenisnya. Bukannya saya tak peduli dengan situasi sekitar. Saya hanya tak mau lagi jadi budak informasi sampah.

Kabar-kabar kurang baik yang ditayangkan televisi itu berdampak serius bagi pemirsanya. Bisa mempengaruhi mindset para penonton. Level optimisme masyarakat akan menurun, otak akan mengkerut dan ini membuat kita menjadi lebih cepat tua. Informasi negatif juga akan memudarkan tingkat kebahagiaan kita, membuat kita mudah terpancing emosi.
Baca Selengkapnya

Abu Jahal Pun Berjubah

Melihat bentrok antara FPI dengan anggota kepolisian di televisi, saya jadi miris. Nggak wakil rakyatnya, gak aparatnya, gak rakyatnya kok hobi banget berantem. Emang kalau sudah baku pukul, selesai semua urusan. Enggak kan. Saya jadi kepikiran, yang suka kelahi, bikin ribut di sini, kirim aja ke Palestina. Suruh mereka tawuran sama Israel. Berjihad di sana. Pahalanya lebih gede. Hayo…berani nggak.

Saya gak benci FPI, saya gak mau membenci siapapun. Karna kebencian kita kepada suatu golongan, justru membuat mereka semakin militan, semakin merasa berada di jalan yang benar. Saya hanya ingin menyampaikan, demo menolak si A; gak setuju sama si Anu; tak  sependapat sama koalisi itu; beda hari raya sama pemerentah; boleh-boleh saja. Tapi kalau sudah pakai lempar batu dan kotoran, merusak fasilitas umum, membuat keresahan di masyarakat, itu gak baik, lebay banget bro. Itu cara-cara preman. Masih banyak cara santun yang bisa ditempuh.

Jika kita tak mau dipimpin sama orang semacam A, kenapa gak kita saja yang maju pas Pilkada. Bikin partai sendiri. Kalau suka kesel sama anggota dewan, ya udah 2019 kita ramai-ramai nyaleg. Ini langkah lebih nyata, daripada sekedar menghujat dan bikin onar.

Terakhir, ada sebuah renungan buat kita semua. Bukanlah pakaian dan ucapan yang menunjukkan tingkat kesolihan kita. Tapi sikap dan perilakulah, sesuai atau tidak dengan ajaran agama. Karna pribadi yang baik selalu mampu bersikap baik dalam kondisi apapun. Saat di tempat ibadah, saat antri BBM, saat terjebak macet, pun pula saat kehujanan.
Semoga kita mampu menjaga akhlak agar senantiasa dicintai penduduk langit dan penduduk bumi. Karna Abu Jahal pun dulu juga berjubah…

Tentang Mengenang Seseorang

Minggu lalu saya pulang kampung. Eh enggak ding, lebih tepatnya singgah. Kebetulan ada tugas beberapa hari di Jawa. Cuma sebentar, tiba di rumah jam 10 malam dan harus kembali ke Palu jam 8 esok paginya. Buru-buru banget, takut ketinggalan pesawat.

Meski hanya sesaat di desa, tapi cukup berkesan. Bisa ketemu orang tua, saudara dan kerabat; memastikan mereka baik-baik saja, sudah menjadi kebahagian buat saya. Sempat juga bertegur sapa dengan tetangga, berbasa basi di warung kopi depan rumah malam itu dan saat subuhan di mushola.

Yang paling membekas sampai sekarang adalah ketika saya nyekar ke makam simbah; mbah kung dan mbah uti. Sudah lama tak berziarah, membuat saya agak canggung.

Pagi itu saya bergegas menuju makam, melawan sisa kantuk semalam dan hawa dingin yang menyergap. Tanpa membawa bunga, saya langsung menuju makam simbah. Rumput dan daun jati menutupi sebagian nisan yang mulai nampak kusam. Tulisan nama di nisan pun mulai tak jelas.

Saya ingin segera berdoa untuk mereka. Tapi apa daya, justru air mata menetes. Tak kuasa menahannya.

Selengkapnya