Sebelum Semuanya Berlalu

suka terharu kalau lihat gambar ini [sumber : google]

Mengantar anak-anak berangkat sekolah sudah menjadi rutinitas saya setiap pagi. Seru dan menyenangkan. Namun masih ada yang lebih dahsyat lagi, yaitu tatkala membangunkan mereka, rebutan kamar mandi dan sarapan bareng. Kadang kocak namun tak jarang bikin dongkol.

Berbagai taktik sudah pernah saya lakukan untuk membangunkan anak-anak lebih awal. Didendangkan shalawat, digelitikin, dicipratin air sampai dimarahin. Tetep aja nyenyak tidurnya. Pernah suatu saat saking ngantuknya, anak saya ke kamar mandi sambil terpejam. Atau pas saya lagi asyik mandi, tiba-tiba si kakak gedor-gedor pintu kamar mandi karna sakit perut. Bener-bener pagi yang berwarna.

Setelah anak-anak mandi, sudah rapi sudah cakep, prosesi berikutnya adalah sarapan. Sembari menikmati masakan olahan istri, cerita-cerita tak henti mengalir dari buah hati saya. Tentang PR yang sulit, ngomongin bu guru yang galak, jajanan di kantin yang gak enak dan apa saja. Momen seperti inilah yang sangat saya sukai. Hangat, akrab dan penuh cinta. Bisa jadi momen seperti ini tak akan lama, karna anak-anak yang smakin beranjak remaja.

Sekarang anak saya sudah besar. Si sulung kelas 2 SMP. Bangun pagi gak pakai drama lagi. Sudah mulai bisa mengatur waktu. Untuk dicium dan dipeluk di depan gerbang sekolah pun mereka mulai enggan. Malu dilihat teman-teman, itu alasan mereka. Bahkan si sulung mulai minta dibelikan sepeda, mau berangkat sekolah sendiri. Duh saya belum siap.

Perasaan yang sama juga muncul saat anak saya ikut Persami (Perkemahan Sabtu Malam Minggu). Hanya dua malam, tapi saya begitu mengkhawatirkannya. Ada rindu yang menggebu saat dia tak ada di rumah. Saya dirundung kecemasan tingkat akut, sementara istri saya woles saja. Alhasil, setiap malam saya selalu mengunjunginya sambil bawa martabak, terang bulan dan beberapa camilan kesukaannya.

Memang akan tiba saatnya anak-anak mulai menemukan dunianya sendiri. Setelah bertahun-tahun kita membersamai mereka; menggendong, menatih, mandiin, memakaikan baju, ngajarin naik sepeda, melepas mereka sendirian ke sekolah dan pada akhirnya akan tiba waktunya untuk melepaskan pegangan tangan. Sedih.

Gimana ya rasanya jika kelak mereka menikah? Sekarang saja saya mulai galak sama cowok yang melirik anak saya. Haha, posesif banget.

Makanya jika kalian punya anak masih bayi atau balita, nikmati kebersamaan itu dengan baik. Nanti kalau anak-anak sudah gede dan gak mau dipeluk, kalian akan rasakan kesedihan itu. Tiap-tiap ayah akan kikuk menghadapi putrinya yang beranjak remaja. Pelukan tak lagi sama. Tak perlu kesal dengan rengekan, tangisan, keonaran atau tingkah mereka saat ngacak-ngacak rumah. Syukuri saja, itu artinya mereka sehat, aktif dan cerdas.

Enjoy parenthood, kita gak akan mengulangi momen seperti itu dengan mereka. Ngangenin banget. Apalagi jika mencium wangi shampo switzal, harum minyak telon cap lang usai anak-anak mandi. Bener-bener golden moment. Hadirlah, jangan sampai ada penyesalan. Ciumlah anak-anak setiap malam, meskipun mereka sudah terlelap tidur.

Suatu saat anak-anak akan dewasa, mandiri dan berkelana menemukan jalan hidupnya. Tugas kita adalah mengantar mereka, mengringinya dengan doa-doa indah, agar di setiap langkahnya selalu dalam perlindungan-Nya dan dinaungi keberkahan.

A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man ~ Don Corleone, the Godfather.

Iklan

Momong Anak

Saya pernah membaca sebuah cerita, tentang anak kecil yang menabung demi membeli waktu Ayahnya. Katanya sih Ayahnya sibuk sekali mencari nafkah, kejar setoran. Jadi gak ada waktu buat keluarga, gak sempat main sama anaknya. Singkat cerita, pas tabungannya sudah cukup, si anak minta waktu sejam agar Ayahnya mau menemani bermain.

Entah cerita ini beneran atau rekaan, tapi moral of the story nya; hadiah terbesar bagi anak adalah waktu yang kita luangkan untuknya. Buat anak-anak, cinta adalah kebersamaan.

Anak kecil itu sukanya kalau diajak main. Main apa saja pasti suka. Jangan salah, bermain itu ternyata sangat penting untuk perkembangan fisik dan mental. Anak kecil kalau kurang main malah bahaya. Dampaknya bisa membuat si kecil tidak bahagia, kurang kreatif dan susah bergaul dengan yang lainnya. Makanya sesibuk apapun, luangkanlah waktu buat si kecil. Jangan sampai ntar nyesel deh.

Nah di Palu, ada satu tempat yang asyik buat momong anak-anak yaitu di anjungan Taman Ria. Lokasinya di jalan Raja Moili, depan TVRI Palu. Dijamin anak-anak kecil pasti suka kalau diajak main kesitu. Merasakan semilir angin laut, bermain odong-odong, skuter, sepatu roda, mancing ikan dan beli mainan. Mau wisata kuliner juga ada. Cobalah!

1

Anjungan Taman Ria

2

Kereta Mini. Sekali naik bayar 10rb

3

Siapa mau naik helikopter?

5

Emaknya pun ikutan mancing

6

Kalau anak-anak kelebihan energi, suruh main loncat-loncat di sini

4

Muter-muter naik doraemon

15

Anjungan Taman Ria berada tepat di tepi pantai.

8

Sewa skuter, motor-motoran. 25ribu / 30 menit

9

Mau main sepatu roda? Ada yang nyewain tuh

11

Di sini tempat ngumpulnya mahmud & pahmud

16

Pisss

7

Mainan anak, harga murah meriah. Jangan segen nawar

13

Dipilih…dipilih. Aksesoris cewek

14

Habis ashar sudah mulai rame

10

Mua ngopi atau saraba? Pesan di sini bisa lho

11

Haus, tinggal pilih

12

Wikennya lelaki sejati itu momong anak

The best gift you can give to someone is your time, because you’re giving them something you can never get back. – Unknown.

Berdua Saja

Menjadi seorang suami sekaligus ayah itu gampang-gampang susah. Apalagi jika masih muda seperti saya, yang belum banyak pengalaman. Mau digampangin, ternyata ada tanggung jawab besar yang harus dipikul. Dibuat susah, nanti malah susah beneran. Ya dinikmati saja. Pokoknya harus rajin-rajin belajar, nambah pengetahuan tentang parenting dan jangan segan nanya sama yang lebih senior. Yang tak kalah penting juga adalah kemauan kita untuk selalu memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh.

Sebab anak adalah cerminan orang tua. Kalau anak suka bersikap kasar, teriak-teriak dan susah dikendalikan; berarti ia meniru orang tuanya. Anak malas ibadah, tandanya orang tua begitu juga. Anak kan refleksi orang tua. Orang lain bisa tahu lho siapa sesungguhnya diri kita dari tingkah laku anak-anak. Makanya orang tua harus baik dulu, biar anaknya juga ikut baik. Jangan terlalu nuntut supaya anak begini begitu, tapi orang tuanya malah….ya gitu deh.

Baca Selengkapnya