Memulai Obrolan Tanpa Basa-Basi Yang Menyakiti

Ada sebagian orang yang menganggap aku ini pendiam. Gak salah sih, tapi gak sepenuhnya bener. Kalau belum begitu akrab, aku memang gitu. Irit bicara. Karna aku penganut paham diam itu emas.

Namun bila sudah terlanjur deket sama seseorang, apa aja diomongin, gak pernah kehabisan bahan obrolan. Hingga tak ada rahasia lagi.

Nah, besok kan Lebaran. Kita bakalan ketemu banyak orang. Keluarga, sepupu dua kali, saudara jauh, tetangga dan teman sekolah. Biasanya malah sering ada reuni. Bagi sebagian orang, akan jadi sedikit masalah. Tatkala jarang bersua, trus harus memulai obrolan. Kikuk jadinya.

Mau sok akrab, kalau aslinya gak supel malah jadinya gak asik.
Kalau diem-dieman sambil maen hp, sungguh tak etis. Mari hargai orang lain. Tatap matanya saat sedang bicara.

Makanya kita perlu mengasah skill memulai obrolan dengan orang lain. Obrolan yang bukan basa basi. Ini penting lo. Manfaatnya bisa kita rasakan saat bepergian, nunggu di bandara, menghadiri kondangan atau silaturahim ke rumah saudara.

Salah memulai percakapan, berpotensi menyakiti lawan bicara. Contohnya nih :
Kapan nikah
Kapan punya anak
Kok alismu miring
Ngomentarin berat badan
Nanyain gaji
Ngegosip
Dapet THR berapa?

Sebaiknya hindari ngomongin politik. Semenjak pilpres 2014, banyak yang gila. Kecuali yakin banget lawan bicara bakalan dewasa menyikapi perbedaan, oke lah.

Mending buka obrolan dengan sesuatu yang simpel :
– [ ] Hmmm, nastarnya enak nih. Bagi resepnya dong.
– [ ] Eh gimana perjalannya kemarin, lancar gak? Bisa disambung dengan cerita pengalaman naik kapal laut atau pesawat.
– [ ] Udah nyoba tol baru belum? Tapi jangan lanjutkan dengan itu tolnya Jokowi lho, ntar malah berantem.
– [ ] Piala dunia megang mana? Kalau dia anak bola, bakalan nyambung.
– [ ] Di sini nyari oleh-oleh dimana ya. Lanjut ngobrolin wisata kuliner.
– [ ] Liburnya lama nih, enaknya jalan-jalan kemana ya? Sekalian promosi wisata di daerah kamu.
– [ ] Ketupatnya bagus, siapa yang bikin? Susah lho. Trus cerita filosofi ketupat
– [ ] Cuacanya panas ya? Lalu bahas global warming.
– [ ] Ngomongin hobi. Olahraga, hewan peliharaan.
– [ ] Di WAG, dapat ucapan Idulfitri macam apa? Yang sebening embun, ketika tangan tak mampu menjabat, atau kalimat puitis lainnya. Ini bakalan seru dan lucu.
– [ ] Kuliah di mana? Ambil jurusan apa. Nanyainnya santai aja, gak usah nge-gas seperti interogasi.
– [ ] Kemarin ikut itikaf di mana?
– [ ] Pas lihat di ruangan ada tanaman, tanyain aja “Bro, aglonema tuh termasuk dikotil apa monokotil? Atau tanyain jalanan depan yang bikin Deandles atau Jan Pieterszoon Coen ya? *makin terdiam karna bingung
– [ ] Bicara apa saja deh, tentang harga sembako, film terbaru dan ikan paus di laut. Atau mungkin tentang bunga padi di sawah.

Kalau benar-benar canggung dan gak tahu harus ngomong apa lagi, tawarin aja makan kue. Bagus lagi kalau disediakan buku bacaan. Atau ajakin aja maen PS.

Atau mungkin kalian punya ide topik lain yang asik buat mengawali sebuah percakapan?

Btw, selamat Idulfitri ya. Semoga dengan berlalunya Ramadan, diampuni semua dosa kita. Diberi umur panjang bisa berjumpa Ramadan tahun depan.

Yang lagi mudik, selamat berkumpul dengan keluarga. Eratkan kembali jalinan silaturahim dengan berbagi cerita.

Iklan

Marhaban Yaa THR

Sebentar lagi akan tiba suatu hari di mana semua barang menjadi berasa murah, mall penuh dengan jamaah big sale. Itulah hari turunnya Tunjangan Hari Raya. *sombong, padahal buat beli iPhone6 gak cukup

Yang dapat THR tentu seneng banget dong. Begitu THR turun, langsung muncul deh daftar belanjaan. Pengen ini, pengen itu. Kalap jadinya.

Sebelum THR terlanjur habis begitu saja gak karuan, cuma sekedar mampir, mending diatur dengan baik. Dapat banyak atau dikit, sebaiknya sisihkan uang THR untuk zakat atau infak. Apa yang kita infakkan akan menjadi rejeki yang sangat kita butuhkan di akhirat kelak.

Jangan lupa juga untuk investasi. Gak usah banyak-banyak, yang penting ada. Bingung mau invest ke mana? Cobain aja beli reksadana di bukareksa atau beli emas di bukaemas. Mulai sepuluh ribu bisa kok.

Selain itu biasanya THR juga buat keperluan pribadi. Buat beli baju baru, sepatu baru, tiket mudik dll. Beli baju gak usah berlebih. Coba cek isi lemari, pasti banyak baju yang jarang dipakai. Baju segambreng, tapi bisa-bisanya kita merasa gak punya baju. Pernah mengalami hal seperti ini? Kalau iya, berarti kita sama.

Kita semua memang suka mengumpulkan sesuatu, karna hal itu membuat kita merasa jadi “berpunya”. Apa saja kita tumpuk. Harta, pakaian, buku, perabot dll. Padahal itu semua semu.

Sekarang saya punya aturan dalam membeli pakaian. Setiap kali membeli satu yang baru, maka yang di lemari harus dikeluarin dua. Dibagikan ke yang membutuhkan. Biar  lemari gak penuh sesak. Saya terapkan aturan ini ke anak istri. Belajar jadi minimalis.

Berikutnya, alokasikan THR untuk berbagi kebahagiaan pada orang tua dan saudara. Ponakan pasti seneng kalau dapat angpau dari omnya yang ganteng, meski ketika dibuka amplopnya cuma isi lima ribu. Tetangga atau teman yang hobi nanyain “kapan kawin” kasih aja sepuluh ribu. Biar diem gak reseh lagi

Kalau uang THR masih ada sisa, bisa buat keperluan lain yang penting. Misal buat lunasin hutang. Jangan pura-pura lupa bayar hutang ya. Itu tidak baik. Nanti saya tenggelamkan. Kan banyak tuh yang seperti itu. Pas minjem duit merengek-rengek. Pas ketemu kita, mendadak amnesia. Gak mau negur, wajahnya galakan dia daripada kita.

Yang gak dapat THR jangan sedih. Tanpa THR pun, lebaran tetap akan datang. Yang terlalu berharap sama THR, fix lemah. Berharaplah pada Allah agar dapat ampunan dan ridhonya. *ustad mode : on

Kita bisa bikin THR sendiri lho. Bukan Tunjangan Hari Raya, tapi Tabungan Hari Raya. Caranya ya rutin menabung, dan baru diambil tabungannya menjelang Lebaran. Nabung di toples bekas kacang bisa juga.

Yang pasti, berapapun THR yang kita terima, insya allah cukup jika hanya untuk keperluan lebaran yang gak macem-macem. Tapi THR  gak akan pernah cukup jika untuk membeli gengsi.

Selamat menyambut Lebaran, selamat menghabiskan THR di jalan yang benar. Kalau bingung habisin, saya siap nampung.

Beberapa Fakta Unik Yang Hanya Terjadi Saat Lebaran

Idulfitri tlah tiba. Semua orang bersuka cita. Ada yang memaknai Lebaran itu makan-makan, baju baru, maaf-maafan atau hari kemenangan. Apapun itu, saya cuma mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1437 H. Semoga kita layak jadi pemenang di hari suci ini. Yang menang, merasa menang atau bahkan yang merasa kalah tetap boleh merayakan.

Sekalian mau ngasih tahu , ternyata ada beberapa fakta unik dan menarik yang hanya terjadi saat Lebaran. Ini dia :

1. Jumlah orang yang melantunkan takbir di malam Lebaran agak berkurang. Banyak yang lebih sibuk dengan gadget-nya.

2. Pada saat Lebaran, mendadak muncul pujangga-pujangga baru yang mengucapkan permohonan maaf secara puitis. Sekedar saran, permintaan maaf & ucapan Idulfitri akan lebih berkesan jika dilakukan secara langsung, bertemu dengan orangnya. Kalaupun tak bisa berjumpa dan terpaksa via HP sebaiknya jangan brodkes, jangan copy paste dan jangan garing.

3. Setelah ramai ucapan Lebaran di FB, Path, WA dan BBM; selanjutnya dunia Maya akan riuh dengan foto makanan khas Lebaran dan foto-foto selfie, wefie maupun groufie.
Read More

Memaafkan dan Melupakan

maafkan

Jadilah orang pertama yang memaafkan

Libur Lebaran sudah usai. Saatnya kembali bekerja, kembali pada kehidupan nyata. Di hari pertama kerja, semua orang memasang muka manis. Saling berjabat tangan  bermaaf-maafan atas dosa-dosa yang sengaja maupun tidak. Sembari mengucap minal aidzin, lahir batin ya, kosong-kosong ya. Entah apa maksudnya, kosong dosanya atau kosong dompetnya.

Secara teori, memohon maaf itu lebih mudah dibanding memaafkan. Apalagi jika dilakukan di suasana Idul Fitri. Maklum, semua orang pada hari itu sedang bergembira. Lebaran telah memberi kita jalan, berbondong-bondong minta maaf. Minta maafnya pakai brodkes copas-an pula, “Jika hati sebening air jangan biarkan ia keruh bla…bla…bla” Baca Selengkapnya

Merantaulah Sejauh-Jauhnya, Engkau Akan Tahu Arti Mudik Yang Sebenarnya

Ramadhan hari ke 21. Delapan kali sahur lagi, kita akan meninggalkan bulan suci ini dan bertemu Idul Fitri. Entah harus sedih atau senang. Semoga ini bukan Ramadhan terakhir kita.

Dan saat ini sepertinya sudah boleh ngomongin mudik. Ritual tahunan yang selalu dinantikan semua orang. Ritual yang menyadarkan kita bahwa semua yang pergi harus kembali.

Sayangnya lebaran kali ini saya tak mudik. Bukan karna tak rindu. Bukan. Sungguh, sebagai lelaki pemuja rindu, hati saya sudah berdarah-darah dicabik-cabik kerinduan. Rindu bapak ibu, rindu adik-adik, rindu kehangatan rumah, rindu kuliner kampung, rindu sawah dan sungai-sungainya. Apa saja yang ada di desa, seolah melambai-lambai memanggil saya untuk pulang.

Saya tak pulang juga bukan karna malu.

Memang ada sebagian orang yang mengurungkan kepulangannya karna malu tak ada yang dipamerin. Malu tak bawa mobil. Malu pulang sendiri tanpa pasangan. Malu tak bawa oleh-oleh, malu karna belum sukses di tanah rantau. Saya tidak seperti itu. Pulang ke kampung halaman adalah sebuah perjalanan hati, tak perlu melibatkan gengsi.

Saya tak mudik bukan pula karna takut habis-habisan setelah lebaran. Habis dosanya, habis pula saldonya. Saya tak pernah merasa rugi mengeluarkan sejumlah uang untuk beli tiket pesawat. Saya yakin setiap rupiah yang dibelanjakan demi menyambung tali silaturahim, demi senyum orang tua tercinta, akan dibalas dengan keberkahan. Uang bukan masalah buat saya *sombong

Sedih memang, di hari nan fitri tak bisa berkumpul dengan handai taulan. Tapi berlebaran di tanah rantau juga bukanlah sebuah kesalahan. Toh di mana mana sama saja, yang penting maknanya kan. Kembali ke fitri, kembali pada kesucian. *cie…menghibur diri

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan jika tidak pulang kampung. Kalian bisa me time, main ke rumah teman, jalan-jalan, mencoba wisata kuliner, menata ulang kamar dan quality time bersama keluarga.

Meski lebaran tahun ini tak bisa pulang kampung, tak membuat saya murung. Sang Maha Pemberi Hidup melimpahkan begitu banyak kenikmatan untuk saya. Saya bisa setiap saat berkumpul dengan anak istri, bisa berbuka dan sahur bersama. Saya juga dianugerahi kesehatan, rejeki, keberkahan dan kebaikan hidup. Apalagi yang kurang. Tak sepantasnya bila saya harus meratapi nasib.

Buat yang mudik, saya ucapkan selamat mudik, hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa peluk dan cium ibu kalian sesampai di rumah. Yang ndak mudik, bisa main ke rumah saya. Saya akan open house. Lebaran nanti istri saya mau masak opor ayam. Ada juga orson dan biskuit Khong Guan. Mari kita rayakan kemenangan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

Untuk Apa Mudik?

image

Lebaran sebentar lagi, aura mudik pun mulai terasa. Jika di awal Ramadhan masjid ramai penuh sesak, maka di penghujung bulan suci ini, keramaian itu berpindah ke bandara, stasiun, terminal dan pelabuhan.

Sebenarnya apa sih yang kita dapatkan dari mudik? Semua orang rela bermacet-macet ria, berdesak-desakkan, menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer demi mudik. Bahkan ada pula yang menghabiskan dana tidak sedikit demi mengunjungi kampung halaman.

Baca lebih lanjut

Beda itu Lucu

Dalam banyak hal, kita sering berbeda dengan orang lain. Beda selera, beda hobi, beda pilihan. Perbedaan yang kata orang bijak adalah indah, ternyata juga lucu dan membuat pusing.

Ada yang berantem gara-gara beda jago Capres. Menumpahkan segala caci maki, sumpah serapah pada kubu lawan. Padahal sebelumnya adalah sahabat, saling menyayangi di kala jauh maupun dekat.

Tapi Tuhan tidak diam. Dengan rahman dan rahim-Nya, disatukan insan-insan yang terjerumus hiruk pikuk Pilpres ini dalam sebuah kecintaan pada sepak bola. Piala dunia mendamaikan Jasmev dengan relawan Prabowo. Sama-sama mendukung Jerman di Piala Dunia, tiada lagi ketegangan. Hilang kesumat antar mereka. Lupakan target suara yang harus dicapai dan persoalan hidup lainnya. Adem.

Sama-sama pilihan capresnya, sama-sama dukung Inggris di World Cup, tak menjamin selamanya akan seiring sejalan. Saat Ramadhan tiba, kegamangan hadir. Lagi-lagi harus memilih dan beda. Ikut pemerintah atau tidak.

Penentuan awal bulan suci ini beberapa kali tidak sama. Pemerintah menentukan tanggal sekian, sementara NU & Muhammadiyah tak sepakat dengan hasil sidang isbat. Beda lagi. Yang sedikit melegakan adalah, hari raya nya sama. Alhamdulillah.

Pada akhirnya, kita memang tidak bisa selalu sama dengan orang lain. Bahkan dengan orang tua atau pasangan. Tak perlu dipaksakan. Yang kita butuhkan hanyalah bersikap dewasa menghadapi setiap perbedaan. Berbeda dengan kita bukan berarti lawan yang harus dimusuhi.

Beda itu lucu, yang harus ditertawakan. Boleh jadi kita beda dalam satu hal, tapi akan sama pada hal lain. Akur kan

Jadi sebaiknya mana dulu yang mesti dipikirin, Piala Dunia, Pilpres atau Ramadhan?