Memilih Pasangan Dengan Tepat

Pasangan yang kita pilih akan menentukan bagaimana kehidupan selanjutnya. Jika dapat yang baik, setidaknya separuh kebahagiaan ada di genggaman. Kalau dapat yang buruk, bersiaplah berkawan dengan prahara.

Tentu saja tiap orang punya kriteria yang berbeda untuk menemukan belahan jiwanya.

Gambar dari IG @ bro_danang

Anak muda usia duapuluhan awal –yang gairah asmaranya sangat membara dan egonya tinggi– pasti maunya dapet paket lengkap. Detail banget.

Harus sedap dipandang mata, gak malu-maluin kalau diajak ke kondangan, body proporsional, gak seperti gapura selamat datang, tinggi semampai, bukan penganut bumi datar, kalau habis mandi handuk gak ditaruh di atas kasur, bisa masang galon dan LPG, preferensi politik sama, gak merokok, IP lebih dari 2.75, diajak ngobrol nyambung, dari keluarga baik-baik, penghasilan minimal 30 juta dan bukan Gemini.

Sementara mereka yang usia tigapuluhan, gak muluk-muluk lagi. Cukuplah baik, setia, penyayang dan punya kerjaan. Empat puluhan ke atas beda lagi, yang penting cocok dan ada yang mau aja deh.

Jika mencintai karena kecantikan dan kemolekan tubuh, akan selalu ada yang body-nya lebih bagus dari si dia. Jika memilihnya hanya karna kekayaannya, percayalah yang kita butuhkan tak sebanyak itu. Dunia dan seisinya, tak kan pernah memuaskan kita.

Lantas apa tolak ukur yang tepat untuk memilih pasangan? Kalau versi saya sih sebagai seorang muslim, agama menjadi pertimbangan utama. Ibadah formalnya bagus, akhlaknya pun terpuji. Ini tentang kesolehan dan keelokan hati. Setelah itu, boleh deh nambahin kriteria lainnya. Boleh kok milih yang cantik. Setidaknya cantik menurutmu.

Tapi ya tetep harus realistis dan sadar diri. Ngaca. Kalau standarnya tinggi banget, coba dipikir lagi deh kira-kira ada gak yang seperti itu. Mau gak orangnya sama kita, pantes gak dia buat kita. Dalam Islam, inilah yang disebut konsep sekufu, setara.

Ada beberapa value yang menjadi perhatian saya dalam memilih pasangan. Pertama, pinter. Gak harus punya gelar S2, dari kampus ternama. Gak gitu juga. Pinter menurut saya lebih dari itu. Ini tentang kemampuan dan kecerdasan dalam menghadapi lika-liku kehidupan. Pinter cari duit dan ngatur duit, pinter nyenengin pasangan dan mertua, pinter bergaul, pinter membawa diri serta pinter mengatasi konflik.

Value berikutnya adalah tentang sikap mental yang tahan banting, gak mudah menyerah, mau diajak hidup susah berjuang bersama. Memperjuangkan cinta, memperjuangkan impian dan harapan.

Soalnya setelah nikah, bukan berarti sudah selesai. Justru ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang.

Menikah memang indah, tapi tetep saja ada onak dan duri yang harus dihadapi. Mulai urusan finansial, karir pasangan, pendidikan anak, menghadapi puber kedua, melawan kebosanan, mengatasi krisis psikologis, menjaga hubungan dengan saudara, ipar maupun dengan tetangga. Pelik banget. Perlu saling mendukung dan saling menguatkan, agar semua rintangan bisa dilewati.

Yang jadi masalah adalah bagaimana kita tahu bahwa dia adalah yang terbaik buat kita. Gak mau dong kita beli kucing dalam karung.

Yang pacaran bertahun-tahun aja bisa dapat zonk, ketipu. Pas udah nikah mulai ketahuan semua belangnya.

Kepribadian orang memang susah ditebak. Tapi kita bisa menguliknya dari lingkungan pertemanannya, bagaimana tanggung jawabnya terhadap pekerjaan serta bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Ini urusan teknis banget. Pinter-pinternya kita aja lah.

Kita bisa minta bantuan orang tua, teman atau saudara untuk memberi masukan. Dan yang tak kalah penting adalah berdoa kepada Yang Maha Kuasa, agar kita diberi petunjuk. Shalat istikharah. Biasanya akan muncul kemantapan hati.

Dan pada akhirnya, kita harus mengakui dan menerima dengan lapang dada bahwa tak ada manusia yang sempurna. Masing-masing kita punya kekurangan. Sadari ini agar tidak demanding pada pasangan.

Pernikahan tak hanya tentang siapa pasangan kita, tapi juga tentang apa yang kita lakukan untuk pasangan kita.

Andil kita dalam membina keluarga sangat menentukan akan menjadi seperti apa pasangan kita. Ibarat membeli tanaman hias yang indah dan menawan, jika tak dirawat dengan baik, disiram, dipupuk; maka akan layu, menguning dan mati.

Begitu juga dengan pasangan hidup. Apakah setelah menikah dengan kita, ia menjadi lebih bahagia. Apakah ia tumbuh menjadi pribadi yang makin baik, makin dewasa dan matang, makin rajin beribadah serta makin bertanggung jawab.

Ini yang harus kita perjuangkan. Masing-masing harus berupaya memberikan yang terbaik untuk pasangan. Agar cinta makin bersemi indah, agar hari-hari yang dilalui makin penuh berkah dan bernilai ibadah.

Tabik.

Kalap Belanja

Tak hanya 12.12, di tanggal-tanggal cantik sebelumnya seperti 11.11 ataupun 10.10, saya berhasil menahan diri untuk tidak kalap belanja, meski banyak  promo dan diskon bertebaran.

Mumpung diskon 400ribu. Padahal kalau gak beli hematnya malah tiga juta.

Mending nyesel gak jadi beli daripada udah terlanjur beli trus kecele. Ternyata barangnya cuma gitu doang gak sesuai iklannya. Belum lagi nyesel karna kantong makin tipis, sementara gajian masih lama.

Ada lho yang seperti ini, bela-belain ngutang buat beli barang yang sebenarnya gak penting-penting banget demi pansos dan menaikkan citra diri. Padahal aslinya ya gitu deh.

Saya gak anti belanja. HP kalau rusak ya beli yang baru, sepatu kalau usang ya beli lagi. Baju gitu juga. Hanya saja saya berusaha untuk tidak impulsive saat belanja. Tiba-tiba belanja tanpa rencana, apalagi hanya untuk barang sekunder atau tersier.

Intinya saya mencoba untuk lebih logis, gak emosional kalau lagi belanja. Ini beneran kebutuhan atau sekadar keinginan sesaat. Pas seminggu dipakai, eh udah bosen. Dianggurin jadinya.

Lihat barang lucu, bungkus. Ada gratis ongkir, langsung checkout. Promo cuma hari ini, langsung gaskeun, takut gak kebagian. Ngintip story teman punya ini itu, gak mau kalah juga, ikutan beli.

 

Mungkin karna sudah gak muda lagi kali ya, jadi banyak pertimbangan. Ingat anak, ingat cicilan, ingat kebutuhan lain yang lebih penting. Kan hidup bukan untuk hari ini saja. Kesannya malah seperti pelit ke diri sendiri ya, gak menikmati hidup.

Etapi gak juga sih. Pas saya muda, gak hedon banget buat belanja. Jangan dikira karna sederhana, emang gak ada duitnya. Hahaha.

Bukan seperti itu. Ini hanya sebuah upaya untuk  tidak menggantungkan kebahagiaan pada sebuah materi. Ngapain mesti beli tas LV, Hermes, jam Rolex, Jacob n Co dan koper Tumi pakai duit suap; kalau makan indomie tengah malam sambil nonton tivi sudah sangat menyenangkan.

Impulsive buying ini sebenarnya gak mandang usia. Tua muda bisa saja. Biasanya sih karna faktor kepribadian. Emang dari sononya demen tampil glamour, gayanya selangit. Bisa juga karna dulu pas kecil gak pernah dibeliin apa-apa, giliran udah dewasa dan mampu, akhirnya “balas dendam”. Apa saja dibeli.

Faktor lingkungan turut mempengaruhi juga. Jika berada di circle pertemanan yang penuh kompetisi, maka hobi belanja ikut meningkat. Di sebuah klub sepeda, jika ada teman pakai jersey baru, upgrade groupset dan frame; biasanya bakal mendorong yang lain untuk ikutan juga. Kejadian seperti ini juga dialami grup ibu-ibu arisan. Tentu dengan barang-barang khas bunda-bunda: tas, jilbab dan tupperware.

Agar nafsu belanja ini gak makin parah dan tak memperburuk kondisi keuangan, maka harus dikendalikan dengan baik. Harus ada kemauan kuat untuk melakukan perubahan. Misalnya kalau ada barang yang kita inginkan, jangan langsung dibeli.  Kasih jeda waktu sehari, dua hari atau seminggu untuk merenung, ini beneran penting atau tidak. Di situ kita akan menemukan jawabannya. Kalau di online shop, masukin keranjang belanja, tapi jangan buru-buru dibayar. Kadang gini aja udah bikin hati seneng.

Jika masih bimbang mau beli apa, Garmin atau Suntoo, mau pilih warna yang mana, seri berapa; sebenarnya ini sebuah pertanda bahwa barang tersebut gak perlu dibeli. Masalahnya, kita sering mengabaikan sinyal ini. Atau jika kita merasa barang itu masih terlalu mahal dan terpakasa harus nyicil, sejatinya barang itu pangsa pasarnya bukan buat kita.

Berikutnya, jangan jadikan belanja sebagai pelarian karna stress. Ini bahaya banget. Saldo bisa terkuras habis. Dan satu lagi, cobalah untuk menggunakan uang tunai saat berbelanja. Rasakan jeritan hati ketika melihat lembaran uang itu berpindah tangan ke orang lain. Beda banget ketika kita menggunakan mobile banking atau pakai kartu. Transfer kesana kemari, bayar ini itu, seolah gak berasa kehilangan uang. Tahu-tahu dah habis banyak. Cobain deh.

Masih ada sih tips lainnya, tapi ini extrim banget, hanya untuk lelaki pemberani. Titipkan kartu debit/kredit ke istri dan jangan pakai mobile banking.

Semoga tips ini bermanfaat ya. Kalau ada tambahan, silakan tulis di kolom komentar.

 

 

Ikan Bumbu Woku, Warisan Kuliner Nusantara Yang Istimewa

Jika tak ingat lingkar perut yang susah dikendalikan dan sering bikin malu saat sesi foto bersama, mungkin saya akan nambah sepiring nasi untuk menandaskan kepala ikan putih bumbu woku ini.

Ikan putih bumbu woku

Paduan ikan segar, cabai rawit, aroma daun pandan, kemangi dan serai serta aneka rempah-rempah khas seperti jahe, kunyit, kemiri; menghasilkan rasa yang istimewa. Gurih, manis dan pedas bersatu padu menari-nari di lidah. Tak hanya membuat liur menetes deras tapi juga sangat ampuh untuk membuat orang lupa diri.

bikin pengen nambah terus

Namun ini tak hanya soal rasa. Ikan bumbu woku adalah bagian dari perjalanan hidup saya ketika merantau di Palu.

Berkat kebiasaan saling berbagi makanan, saling mengantari bingkisan; hubungan kami dengan tetangga jadi makin akrab, jadi makin mengenal. Dan satu lagi, istri saya bisa mendapatkan bumbu rahasia masakan khas Sulawesi ini, dari tetangga dekat yang sudah seperti saudara.

Setelah berhasil mempraktekan salah satu warisan kuliner nusantara ini, kami sekeluarga jadi ketagihan. Ketika jenuh dengan menu ikan yang itu itu saja; dibakar, digoreng ataupun dibikin kuah asam manis, maka bumbu woku adalah oase di tengah gurun pasir.

Maknyuz. Endesss. Haoce

Beli Followers

Katanya sih kalau mau punya banyak follower di Instagram, kita harus rajin bikin postingan. Peduli amat kontennya bermutu atau tidak, pokoknya ngonten terus. Biar beken. Apapun kegiatannya, harus dikabarkan. Dunia harus tahu itu.

Dan saya termasuk orang yang gak terlalu aktif di medsos. Jadi ya jarang-jarang update konten. Makanya gak heran kalau dari dulu followers saya ya segitu-gitu aja.

Bagi sebagian orang, jumlah follower adalah harga diri. Ini menunjukkan tingkat ketenaran. Bahkan ada yang rela beli follower biar bisa jadi selebgram. Bisa untuk kepentingan bisnis juga sih.

Beberapa kali saya ditawarin jasa tambah follower dengan iming-iming harga murah, akun aktif dan garansi uang kembali. Namun selalu saya abaikan.

Follower bukanlah segalanya. Ada yang lebih bermakna dari sekadar statistik. Untuk apa banyak jika lancung.

Beli follower itu ibarat kita bikin konser, trus kita bayar orang-orang untuk datang dan bertepuk tangan. Padahal mereka sama sekali gak menikmati perform kita. Sebuah kepalsuan yang paripurna bukan?

Saya memilih untuk apa adanya saja. Gak perlu sok famous. Kalau konten kita bagus, tanpa disuruh pun orang akan dengan senang hati mengikuti. Kualitas sebuah akun tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pengikutnya. Tak sedikit akun-akun kecil yang kontennya mengesankan dan penuh faedah.

Tak hanya jumlah follower yang dikit, yang saya follow di medsos pun juga terbatas. Saya sengaja untuk selektif. Itu sebabnya gak semua teman di real life saya ikuti. Bukan karna gak suka atau musuhan. Di kehidupan nyata aja kita udah tahu, ngapain juga mesti kepo-in sampai dunia maya-nya.

Terkadang kita sungkan, gak enak hati karna sudah difollow seseorang, akhirnya follow balik. Padahal gak ada kewajiban seperti itu lho. Kita bebas memilih akun yang kita follow.

Ini juga salah satu trik biar gak lama-lama mantengin sosmed. Kalau yang kita follow dikit, pas buka sosmed pasti isinya itu-itu aja. Akhirnya bosen dan letakkan hp.

Semakin banyak yang kita follow, semakin banyak informasi tentang orang lain yang kita terima. Oh si A lagi begini, si B lagi jalan-jalan ke sana. Ini akan menggiring kita untuk terlalu ngurusin kehidupan orang lain. Bisa-bisa malah ngebandingin antara kita dengan orang lain. Hal ini bisa mengurangi tingkat kebahagiaan, menjauhkan kita dari orang terdekat dan mengurangi produktifitas kita.

Di medsos, semua orang nampak bahagia, keren, pinter dan sempurna. Dan banyak yang menyangka semua ini nyata. Padahal semua sudah dikurasi dan diedit. Kita hanya menampilkan sisi terbaik kita.

Jadi, santai aja main sosmed. Gak usah dibawa serius. Sosmed hanyalah selingan dan hiburan. Ada sisi positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana kita menggunakannya. Tetap kontrol diri dan gak berlebihan.

 

 

Sandal Eiger, Teman Setia Perjalanan

Setelah lima tahun menemani, akhirnya sandal gunung ini tumbang juga. Sol bawahnya terkelupas dan patah. Yang sebelah kanan. Sebelah kiri masih kuat dan bagus. Agak menipis, tapi masih bisa digunakan.

IMG_20200808_070143-01

terima kasih telah menjadi kawan setia dalam perjalanan

IMG_6skjtq.jpg

selfoot dari ketinggian, paralayang dari Gunung Matantimali Palu

Banyak kenangan indah yang tertoreh, kala saya berpetualang dengan sandal ini. Bersepeda, menyusuri sudut kota, membelah langit, menembus kesunyian, menyibak pekatnya malam maupun mendaki.

me.jpg

topi dari 2006, kemeja dari 2011; dan sampai sekarang masih saya pakai

P1050622

my trip my sppd. upssss

100_8247-02

buat rafting asyik juga

Sandal ini layaknya sahabat setia yang bisa diandalkan. Selain tangguh dan nyaman, modelnya juga keren. Fashionable. Dipadukan dengan celana panjang slim fit, training, celana pendek maupun sarung juga pantes. Satu lagi, awet. Asal gak hilang, bakal bertahan lama.

Sandal gunung pertama saya hanya berumur setahun. Hilang pas di masjid.

Inilah yang menyebabkan saya jatuh hati padanya. Kecintaan ini bermula saat SMA. Seorang kawan mengajak saya jalan-jalan ke Madiun –satu jam perjalanan dari Ngawi– untuk beli celana gunung merk Alpina.

Alpina adalah brand adventure outdoor gear yang merajai di tahun 90-an, sebelum ada Eiger, Rei dan Consina.

IMG_yfk6fq.jpg

di air terjun Wera Donggala Sulawesi Tengah

Begitu masuk tokonya, saya langsung tercengang. Wow, ada sepatu, sandal, topi, botol minum, tali, tas dan perlengkapan outdoor lainnya. Sayangnya waktu itu saya gak punya duit. Jadi ya gak beli apa-apa, cuma lihat-lihat. Dalam hati saya bergumam, suatu saat pengen punya sandal gunung.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian akhirnya kesampaian juga keinginan saya punya sandal gunung, celana gunung dan juga carrier.

atas taman sari

penampakan sandal gunung & celana outdoor yang pertama kali saya miliki. 2002

Semenjak saat itu, saya mulai rajin mengoleksi perlengkapan outdoor dari berbagai merk. Gak pernah fanatik sama satu merk. Selama barangnya bagus, sesuai dengan selera, pasti saya pilih. Dan untuk menggantikan sandal yang telah rusak, saya memilih Eiger Caldera Men 1.0

IMG_20200805_175648_HDR-01

cakep gak?

Sebenarnya ini bukan pilihan pertama. Sempat melirik merk Rei maupun Consina, namun tak ada yang memikat hati. Yang paling banyak jenisnya ya Eiger. Setelah menyeleksi beberapa tipe yang ukuran 43, pilihan jatuh ke model Caldera.

IMG_20200805_175723_HDR-01

sol bawah Eiger Caldera

Sandal fleksibel ini dilengkapi fitur outsole rubber dan tali hook-and-loop yang mudah disesuaikan agar nyaman dan pas dipakai. Selain itu, designnya minimalis, warnanya kalem dan terasa ringan. Saat dipakai, tingkat kekerenan saya meningkat 67,38%.

IMG_20200812_095052_HDR-01.jpeg

teruslah melangkah, jangan takut pada jarak

Ada tips sederhana nih, biar sandal gunung awet dan tahan lama. Pertama, jangan suka nginjek tali belakangnya. Biasanya ini terjadi karna males melepas atau masang talinya. Akhirnya maen injek aja, biar cepet. Kedua, cuci sandal bila kotor. Percayalah, apa yang dirawat tak kan pernah khianat.

Semoga sandal ini akan jadi teman yang menyenangkan untuk memulai petualangan seru berikutnya.

Kalau kalian suka sandal yang seperti apa? Sini cerita yuk.

PS: Bonus lagu Mahameru Dewa 19, anak 90-an pasti tahu. Salam lestari.

Urusan Duit Jangan Malah Bikin Takut

Tergiur dapat duit gede dengan cara gampang dan cepat, tak jarang bikin orang jadi gak rasional. Ikut invest ini itu tanpa tahu resikonya. Alih-alih untung, malah buntung.

Semua investasi yang to good to be true layak untuk dicurigai.

Atau saking takutnya dengan masa depan, takut gak cukup buat biaya persalinan 80 juta, takut kurang buat masuk TK 50 juta, takut gak bisa capai target dana pensiun 2 M; kita jadi terlalu sibuk berencana.

Jadi begitu penuh perhitungan, pelit sama saudara, enggan membantu sesama dan gak mau berbagi. Dikiranya semua yang ada di genggaman adalah miliknya dan semata-mata karna jerih payahnya.

Merencanakan keuangan dan mengelola penghasilan itu memang perlu dan penting. Bahkan ini bagian dari bentuk rasa syukur kita. Namun ya jangan sampai bikin parno lah. Tiap orang punya cara yang unik dan berbeda.

Kalau saya sih gak ngoyo. Bismillah aja. Ikhtiar sungguh-sungguh, nabung, gak boros, bergaya sesuai kantong, gak hutang buat foya-foya dan titipin ATM ke istri. Gimana mau macem-macem kalau ATM nya disita ibu negara.

foto : IG @bro_danang

Sempat terlintas juga sih kekhawatiran-kekhawatiran soal finansial. Entar biaya anak-anak kuliah gimana, hari tua seperti apa? Tapi setelah dipikir-pikir, ketakutan seperti itu kok gak berdasar ya. Seolah mendahului kehendak Tuhan. Prinsip saya, kerjakan yang bisa kita kerjakan, sebaik mungkin. Sisanya biar Tuhan yang urus.

Jika selalu mencemaskan hal-hal yang belum terjadi, nanti malah bikin overthinking dan insecure. Bisa bikin penyakit juga.

Yang pasti, rejeki bisa datang dari arah yang tak disangka-sangka. Pas lagi bokek, tiba-tiba dapat honor, ada yang insyaf balikin hutangnya, dianterin makanan sama tetangga. Kalkulator manusia tak sama dengan kalkulator Yang Maha Kuasa. Pantaskan diri agar kita layak menerima amanah dari-Nya. Gimana mau dititipin rejeki lebih, kalau masih gak jujur saat mencari nafkah, suka bohong, ngambil hak orang lain, dan nikung teman.

foto : IG @bro_danang

Allah tuh kalau mau ngasih kekayaan ke kita gampang banget. Ngambilnya pun juga gampang. Dan setamak apa pun, yang kita dapat tak akan melebihi jatah yang tlah ditetapkan-Nya.

 

Perlu Gak Upgrade Sepeda?

bro

sebuah nasehat

Semenjak pertama kali beli, sepeda saya tak pernah di-upgrade.
Kenapa? Karna buat saya, segitu aja udah cukup. Bahkan lebih. Framenya kuat dan lumayan ringan, speednya juga gak jelek-jelek banget.

IMG_20191208_071343_BURST1-01.jpeg

di pelabuhan peti kemas Tanjung Redeb

Rasa cukup inilah yang akhirnya membentengi saya dari segala godaan untuk ingin lebih. Ganti groupset lah, sadel, ban atau pun hub jangkrik. Tahu sendiri kan, ongkos upgrade kalau diturutin bisa lebih mahal dari harga sepeda itu sendiri.

“Keinginan adalah sumber penderitaan”

Ya, sejatinya kita memang tak pernah puas dengan yang sudah kita miliki. Kita memandang apa yang ada pada orang lain, nampak lebih indah. Gak cuma urusan sepeda sih. Soal asmara, harta atau pun karir . Makanya tak sedikit orang yang akhirnya selingkuh, korupsi, dan menjilat demi memperturutkan hawa nafsunya.

IMG_20200607_073633_HDR-01

habis sepedaan trus main air

IMG_20200125_075109_642.jpg

kalori terbuang < kalori masuk

Maka hamdalah banget jika kita bisa mengendalikan diri. Tahu kapan saatnya harus berhenti. Tahu apa saja yang esensial dan bernilai yang layak diperjuangkan. Ngerti mana yang tak relevan, yang nantinya justru akan menjadi beban.

Saat hasrat untuk nambah sepeda atau upgrade begitu menggebu, biasanya saya salurkan dengan nonton Youtube yang isinya dunia pergowesan. Tentang review sepeda serta kisah-kisah seru gowes bareng komunitas. Paling mentok, checkout spare part sepeda di toko online, tapi gak pernah dibayar. Gini aja udah seneng.

IMG_20200525_174804_200.jpg

paling manteb buat blusukan

Jadi gimana nih, boleh upgrade gak?
Boleh banget, asal ada duitnya dan ntu sepeda bakalan rajin dipakai. Ya buat olahraga ataupun sebagai alat transportasi. Bukan hanya disimpan. Bukan hobi sesaat yang anget-anget tai ayam.

Jangan pernah upgrade hanya karna gak kuat sama omongan teman komunitas atau demi pansos. Gak perlu sok-sokan. Jadilah dirimu sendiri tanpa berpura-pura. Belajar menerima diri apa adanya.

IMG_20200801_174036_932.jpg

habis mandiin bestie

Salam gowes. Satu sepeda, sejuta sahabat.

IMG_20191228_075739-01

rehat di tepian, mo nyari sarapan

Edz-1EBUwAApzzB

gowes samawa bareng istri

Benarkah Semua Lelaki Tak Setia?

Di salah satu episode A World Of Married Couple, Jae Hyuk pernah ngomong sama Ji Sun Woo kalau lelaki di dunia ini ada dua tipe. Yang tak setia dan yang tak ketahuan.

Duh…, seolah-olah semua lelaki itu brengsek, otaknya hanya mikirin selangkangan aja. Padahal gak semuanya seperti itu.

Masih banyak lelaki baik-baik yang mencintai keluarga, setia pada pasangan, punya kerjaan, bertanggung jawab, gak dugem dan gak mabuk-mabukan. Jika sulit menemukan lelaki seperti ini, bisa jadi karna kita berada di circle pertemanan yang tidak tepat.

Meski A World of Married Couple hanyalah drama bertabur konflik kehidupan, namun kita bisa mengambil hikmah bahwa problematika dalam pernikahan amatlah pelik. Selalu ada onak dan duri yang merintangi.

Salah satunya adalah perselingkuhan. Ini bukanlah satu-satunya hal yang bisa menghancurkan mahligai rumah tangga. Di balik perselingkuhan, sejatinya terpendam seabrek permasalahan yang tak terselesaikan.

Tentang ke-egois-an Sun Woo yang tenggelam dalam pekerjaannya, sering pulang larut malam dan secara emosional tak begitu dekat dengan anaknya.Tentang tersumbatnya komunikasi antar anggota keluarga, semua bersikap dingin, asyik dengan dunia masing-masing. Dan ketidakjujuran antar pasangan.

Tega-teganya Tae Oh berhutang menggadaikan rumah tanpa sepengetahuan istrinya dan menggunakan dana pendidikan anaknya hanya untuk bersenang-senang dengan gundiknya.

Ngomongin perselingkuhan emang tak akan pernah ada habisnya. Kadang gak masuk akal, masa iya sih sebuah keluarga yang nampak sempurna; kaya, sukses, cerdas, pasangan cantik ganteng; ternyata tak bisa bertahan dari prahara ini.

Penasaran deh, sebenarnya apa sih yang mendorong seseorang sampai hati mengkhianati pasangannya?

Makin menua, hasrat berselingkuh kaum lelaki justru kian membuncah. Dan meski berselingkuh, sesungguhnya mereka masih mencintai pasangannya. Maruk aja.

Berdasakan survey, alasan terkuat seseorang menduakan pasangannya bukanlah karna ketidakpuasan seksual atau jenuh dengan pasangan. Bukan pula karna merasa tak dicintai atau karna faktor ekonomi. Tapi lebih karna sering berantem dengan pasangannya

Terlalu banyak konflik. Hal-hal kecil diributin. Dikit-dikit ngambek dan merajuk. HP dicek istri, marah. Suami ngilangin tuperware, marah. Kalau beneran cinta, seharusnya kita tak mudah naik pitam.

Lalu bagaimana caranya agar keluarga kita bisa rukun, saling setia hingga akhir? Tak ada rumus baku, namun setidaknya beberapa cara ini bisa dicoba.

Pertama. Mungkin ini terdengar klise, yaitu menjadikan nilai-nilai religi sebagai patokan. Jangankan Tuhan, selihai-lihainya selingkuh, istri pasti bakalan tahu. Dan kau akan mampus dikoyak-koyak amukannya.

Belum lagi jika perbuatan tercela ini langsung dapat balasan di dunia. Bisa-bisa kelak akan ada FTV Azab judulnya “Perebut Suami Orang Mati Dengan Perut Membengkak Disengat Ribuan Tawon, Keranda Jenazahnya Terkena Badai dan Terjebur ke Adukan Semen”.

Berikutnya adalah meluangkan waktu untuk keluarga. Boleh sibuk urusan masing-masing, namun harus ada komitmen untuk memberi perhatian pada keluarga. Sempatkan makan bersama, ngantar anak sekolah, main bareng, bantuin bikin PR dan liburan.

Hal-hal kecil seperti ini ternyata sangat berarti buat mereka. Jadikan keberadaan kita sebagai penyejuk pandangan untuk orang-orang tercinta.

Ketiga, jalin komunikasi dengan baik. Saling terbuka dengan pasangan, jangan ada yang disembunyikan. Bayangkan saat di tempat kerja, kita begitu sopan, lembut dengan klien, hormat pada atasan. Harusnya saat di rumah lebih dari itu dong. Sebelum nikah mesra, habis nikah ketahuan belangnya deh.

Namun, ada penghalang yang tanpa disadari ternyata menjauhkan kita dengan pasangan. Gadget. Benda itu justru membuat kita lebih asyik dan mudah akrab dengan orang lain yang jauh dari kita dibanding dengan pasangan kita.

Keempat, yang perlu dicoba adalah, saling memberi penghargaan dan pujian pada pasangan. Jangan pelit memuji. Bagi orang yang love language-nya word affirmation, pasti seneng disanjung-sanjung.

Masakan kamu enak dek, kamu cantik deh hari ini, makasih ya udah ngedukung aku selama ini. I love you. Ditambah lagi dengan sentuhan mesra, pasangan akan merasa diapresiasi banget.

Tapi ya harus hati-hati juga, karna kalau pasangan mendadak jadi romantis, tiba-tiba baik; pasti ada yang disembunyikan atau ada maunya.

Dan terakhir, sebagai sebuah renungan. Tuhan telah memberi hal-hal baik dalam hidup ini. Pekerjaan yang bonafid, pasangan ideal, anak-anak yang cerdas dan sehat serta kualitas hidup yang layak. So, gak usahlah macem-macem pengen nyobain ini itu. Nanti malah bisa kehilangan banyak hal.

Dah segini aja dulu, silakan ditambahin kalau punya tips lain. Semoga selalu rukun dan bahagia.

Caper Di Jagat Maya

Di dunia maya, kelakuan kita semua tak jauh beda, sama-sama berebut perhatian orang lain. Kadarnya saja yang berbeda. Ada yang capernya kebangetan, ada yang sedang, ada yang biasa-biasa saja. Ada yang capernya bermanfaat, ada pula yang nyusahin orang lain.

Caper dengan pamer karya, pamer kemesraan, pamer kerjaan, pamer liburan adalah hal yang lumrah. Mendapatkan atensi dari orang lain adalah kemewahan delusional yang melahirkan hormon dopamin. Kan ego juga butuh diberi makan.

Masa-masa pandemi yang berat seperti saat ini ternyata tak menyurutkan tingkat kecaperan. Media caper dengan membanjiri kita berita clikbait, anggota grup WA berlomba syar syer berita terkini yang sanadnya meragukan dan media sosial pun memunculkan berbagai ahli karbitan yang menyesatkan karna pernyataan sembrononya.

Selain mempengaruhi mood, berlimpahnya informasi yang kita terima justru memicu kecemasan dan overthinking. Agar tak berlanjut menjadi panik dan takut, ada baiknya kita tak menelan mentah-mentah semua informasi yang beredar.

Cobalah untuk selalu bertanya dan jangan redam rasa penasaranmu untuk mencari bukti. Tak ada salahnya untuk menggunakan kacamata skeptis.

Bener gak nih beritanya, tuh orang siapa ya, sudah ada hasil penelitiannya belum, ini media kredibel tidak, jangan-jangan dia buzerp

Jika tidak berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi, maka kita akan mudah terombang-ambing, gampang terprovokasi dan terpancing emosi.

Baca Juga: THINK Before You Share

Dan yang cukup parah menurut saya sih grup WA. Ya grup alumi, grup arisan maupun grup kelurga besar. Semua ngumpul di situ. Ada om tante, paman bibi, pakde bude, sepupu, ipar dan saudara jauh. Segala macam isi kepala dengan berbagai latar belakang tumpah ruah di grup.

Maka tak berlebihan jika ada yang mengatakan WA adalah gudang segala macam hoax dan informasi tak penting dari orang-orang sok informatif.

Resep masakan, info cegatan, lowongan kerja, joke khas bapak-bapak, info pemadaman listrik, situasi ipoleksosbud hankamnas terkini, hingga tips kesehatan. Ada info yang benar, ada yang masih abu-abu, tak sedikit pula yang tingkat keabsahannya sangat meragukan.

Segunung informasi yang dijejalkan tersebut tak lantas membuat kita langsung paham dalam sehari dua hari. Ini butuh proses yang panjang.

Lantas bagaimana jika anggota WAG keluarga besar ternyata ada yang nyebar informasi nir-verifikasi? Mau negur, pasti ewuh pakewuh kan. Khawatir kalau tersinggung , keluar grup dan hubungan pun jadi renggang. Kalau dibiarin kok ya gimana gitu, gemes deh. Serba salah kan.

Saya yakin mereka nyebar ini itu bukan bermaksud jelek ingin ngehoak. Mungkin karna belum baca isinya, sekadar meneruskan dari grup sebelah. Bisa jadi karena gegar budaya para boomers yang baru mengenal gawai serta karna ketidaktahuan. Entah tak tahu atau tak mau tahu, bedanya emang tipis.

Sekali lagi bukan ada niatan buruk. Beda dengan howaks yang dilakukan pelaku profesional, yang melakukannya sebagai pekerjaan rutin dan dilakukan berulang-ulang.

Yang bisa kita lakukan adalah dengan membuka ruang dialog. Ngobrol baik-baik tanpa perlu menghakimi. Ini adalah salah satu wujud cinta kita pada mereka yang lebih tua, agar tak linglung terjebak dalam belantara digital.

Dan yang tak kalah penting, kita gak perlu latah. Ndak semua-semua harus disyer. Kendalikan jempol dan egomu, mulai dari diri sendiri dan keluarga terdekat.

Celengan Syukur

Saking selownya, saya suka melakukan hal-hal receh. Pernah ngumpulin uang dua puluh ribuan di toples bekas kacang , iseng bikin aquarium ikan cupang, praktek bikin es kopi, bikin sushi atau sekadar nulis puisi gak jelas.

Dan awal tahun ini, tingkat kerecehan saya tak juga surut. Bahkan kian menjadi. Kali ini saya bikin celengan syukur. Istilah kerennya Gratitude Journal. Ide ini bermula ketika saya men-challenge diri sendiri untuk tidak mengeluh terhadap apa pun yang terjadi.

No complain week. Selama seminggu berusaha gak ngeluh apa pun yang terjadi. Ngendaliin mulut biar gak julid, sama ngejaga hati biar gak gampang dongkol. Berat sih, harus dipaksa. Tapi bisa kok.

Dikasih panas, ngeluh kegerahan. Dikasih hujan, sambat cucian gak kering. Kerjaan numpuk pusing, gak ada kerjaan bingung.

Setiap hari saya rutin menuliskan hal-hal yang layak disyukuri di secarik kertas, lalu memasukkanya dalam toples. Bersyukurnya pun gak harus karna dapat sesuatu yang gede atau wow. Bisa buang air besar dengan lancar adalah nikmat yang tiada tara.

Nemu warung rawon yang rasanya namaste. Rebahan di kasur, scroll hape. Gowes bareng istri. Buka lemari, baju udah disetrika rapi. Bikin indomie tengah malam. Panen jagung di kebun mertua. Servis motor gak pake antri. Beli gorengan dibonusin tiga biji. Punya grup WA yang santuy, gak suka syar syer howaks. Libur gak ada lembur. Nanem bunga, tumbuh subur dan bermekaran. Nonton spongebob. Nelpon ortu di kampung. Pulang teng go. Maen layangan. Ambil uang di atm bank lain gak kena charge. Motong rumput di taman. Beli pentol di depan SD, bungkus plastik, ikat, gigit dari ujung plastiknya. Berhasil benerin sepeda si kecil. Nongkrong di tepian, menatap langit senja yang sedang cantik-cantiknya.

Langkah ini saya lakukan untuk melatih diri agar tidak menjadi pribadi yang kufur nikmat. Biasanya kita ini lebih ingat kejadian buruk yang menimpa kita daripada kejadian positif yang menyenangkan.

Duit yang raib gara-gara dipinjem orang masih saja terngiang di ingatan, meskipun setelah itu dapat rejeki yang lebih gede.
Hinaan guru SMA begitu menggores kalbu daripada sanjungan yang diterima dari orang-orang tercinta di sekitar kita
Kepedihan menjalani masa sulit terkenang sangat dalam dibanding hari-hari penuh keceriaan.

Jika hal-hal seperti itu yang harus dikenang, tentu tak baik untuk kesehatan jiwa karna akan menjadi sumber nestapa. Padahal kalau dihitung-hitung, nikmat yang diberikan Tuhan itu sangat banyak. Makanya saya belajar fokus pada hal-hal kecil yang membahagiakan, mensyukurinya dengan tulus tanpa harus membandingkan.

Orang-orang yang jiwanya diliputi kebahagiaan, tak akan banyak tingkah. Tak sempat membenci orang lain atau mencari aibnya. Tak akan mengambil yang bukan haknya dan tak haus berburu pengakuan.

Membaca kembali tulisan-tulisan yang ada di celengan syukur, seolah membuka mata hati saya bahwa masih banyak sisi keindahan dalam hidup ini. Jika dihitung-hitung, prosentase kesulitan hidup palingan gak sampai 20%. Tetep masih banyak kenikmatan yang dicurahkan untuk kits. Kesadaran inilah yang nantinya akan menjadi energi kita untuk selalu ingat dan bersyukur pada Yang Maha Kuasa.

Tertarik cobain gak? Nulisnya bisa di notebook atau pakai aplikasi gratitude journal yang ada di Play Store. Kalau gak bisa tiap hari, bisa dimulai dari yang sederhana aja deh. Tulis lima momen paling membahagiakan yang pernah kamu rasakan. Nanti saat kamu ingin menangis karna merasa dunia tak begitu adil, baca kembali tulisan itu. Dan rasakan apa yang terjadi.