Hidup Yang Begini-Begini Saja

Pantry kantor selalu jadi tempat menyenangkan untuk berbagi cerita. Ada informasi A1 yang tak bisa didapatkan di tempat lain. 

Pas lagi asyik ngobrol sama teman-teman, sekretaris ngasih tahu kalau saya dicari Pak Bos. Disuruh menghadap ke ruangannya. Wah ada apa nih, jangan-jangan ada kesalahan yang saya buat.

Ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Pertemuan sore itu justru membawa kabar yang sangat krusial.

Saya ditawari untuk ikut promosi jabatan dan harus segera memberi keputusan, karena usulan akan segera dikirim ke kantor pusat. Lantaran masih gamang, saya minta waktu beberapa hari untuk memikirkannya.

Ini adalah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan. Sesuatu yang menyenangkan. Pengalaman baru, jabatan naik dan penghasilan bertambah.

Namun selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pilihan. Bagian tak enaknya adalah mau gak mau harus mutasi lagi, bahkan akan menjadi agenda rutin tiap beberapa tahun. Keliling nusantara.

Meninggalkan homebase, berjauhan dengan keluarga dan support system. 

Dari sekian banyak faktor yang jadi pertimbangan, ini yang paling berat buat saya. Saya punya prinsip jangan sampai mengorbankan keluarga dan kesehatan hanya demi mengejar mimpi. Apalagi kalau sampai menggadaikan idealisme dan agama.

Agar tak menyesal karena salah ambil keputusan, saya mencoba bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya saya kejar dalam hidup? Apa yang benar-benar berharga dalam hidup ini dan apa tujuan hidup saya sesungguhnya?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, menjadi kompas yang menuntun dalam mengambil keputusan. 

Dan setelah melalui perenungan yang panjang, memohon petunjuk Yang Maha Kuasa, diskusi dengan keluarga serta masukan dari beberapa pihak; saya memutuskan untuk skip program ini. Untuk sementara waktu, ini adalah pilihan terbaik buat saya.

Saya terjebak pada situasi dilematis. Memilih bertumbuh atau mempertahankan kenyamanan. Dan akhirnya saya lebih memilih meniti karir seperti ini saja. Jadi kaum semenjana, bertumbuh di tempat yang nyaman.

If it cost your peace, it’s too expensive.

Bagi sebagian orang, keputusan ini patut disayangkan. Tak mau ikut promosi adalah sikap pecundang, seolah hitup tanpa ambisi. Imbasnya adalah kesuksesan akan menjauh, hidup akan begini-begini saja.

Boleh saja ada yang berpendapat seperti itu. Namun bagaimana jika hal tersebut justru sebuah wujud dari kematangan jiwa, sebuah refleksi tentang makna cukup yang sebenarnya. 

Dan buat saya, hidup yang begini-begini saja adalah hidup yang menyenangkan. Bisa jadi, ini adalah hidup yang diimpikan orang lain.

Penghasilan cukup, ada tempat bernaung, kerja teng go, gak terjebak macet dan bisa kumpul keluarga setiap hari; adalah sebuah kemewahan yang tak semua orang bisa merasakan. 

Soal kesuksesan, tiap orang memaknainya berbeda-beda.

Apakah untuk disebut sukses, harus punya jabatan tinggi? Apakah untuk bisa dikatakan kaya harus punya tabungan satu milyar? Apakah untuk bahagia harus jalan-jalan ke luar negeri? Apakah hidup harus selalu lebih tinggi dari orang lain? 

Memaknai Kesuksesan

Sukses itu relatif. Ini tentang sudut pandang. Kita bisa nampak sukses di mata satu orang, namun di mata yang lain kita nampak biasa saja, bahkan bisa dianggap gagal. 

Di depan seekor semut, kita nampak bagaikan raksasa. namun di hadapan gunung, kita kerdil. 

Jadi PPPK, mungkin gak keren. Namun di kondisi ekonomi seperti ini, di saat sembilan belas juta lapangan kerja tak kunjung ada; ini adalah capaian yang luar biasa, apalagi buat seseorang yang berasal dari keluarga sederhana. 

Sebaliknya, jika anak crazy rich hanya jadi PNS kelurahan, mobil pun cuma Agya; bisa saja ini dianggap sebuah kegagalan.

Wheel of life

Selain itu, rasanya terlalu naif jika menjadikan jabatan sebagai tolok ukur sebuah kesuksesan. Hidup tak hanya tentang pekerjaan.

Hidup adalah keseimbangan antara karir, keluarga, kesehatan, pengembangan diri, hubungan sosial dan spiritualitas.

Prioritas Tiap Orang Berbeda

Kita tidak bisa mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Maka sah-sah saja jika ada orang yang mati-matian mengejar puncak karir dan ada yang selow menikmati perannya sebagai medioker. 

Apa pun yang kita pilih dalam hidup ini, selalu ada konsekuensinya. Maka pahami dengan baik, agar tak ada penyesalan di kemudian hari. Yang perlu diperhatikan adalah jangan mengambil keputusan penting saat emosi.

Hadirkan kesadaran penuh, gak usah buru-buru. Pikirkan secara matang dan jangan sampai tekanan dari lingkungan sosial mengambil alih akal nurani kita.

Hidup Memang Seperti Itu

Akan ada masanya, kita melihat orang lain melesat lebih cepat, tumbuh lebih hebat dan lebih sukses dari kita. Padahal start-nya sama atau bahkan jauh di belakang kita. 

Begitulah kehidupan, penuh misteri. Tak perlu berkecil hati, apalagi sampai membandingkan diri dengan orang lain.

Jangan terlalu keras pada diri sendiri, upayakan untuk selalu mengapresiasi diri. Di negara seperti ini, hebat lho sudah berjuang dan bertahan sampai sejauh ini. 

Hidup bukanlah perlombaan. Tak semua cabang kehidupan harus kita menangkan.

Maka apa pun posisi kita saat ini, jalani dengan sebaik-baiknya. Banyak-banyak bersyukur, terus perbaiki diri dan jangan pernah iri hati. Ikutlah senang saat orang lain bahagia. Dengan begitu, ketenangan hati akan menghampiri. Inilah kemenangan sejati. 

Tabik

Review Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Berkali-kali saya menghela nafas panjang saat membaca novel ini, ada rasa hangat di dada saat merasakan kepedihan hidup yang dialami Ale, si tokoh utama.

Koleksi pribadi

Bagaimana tidak; Ale punya segudang masalah yang sempurna. Secara perawakan, ia sangat tak menarik. Tinggi, besar, berkulit legam dan bau badan yang tak sedap. Tak heran jika orang-orang sering mengoloknya Genderuwo dan Babon. Sejak kecil hingga dewasa, ia kerap jadi korban perundungan.

Tak ada satu pun rekan kerja yang akrab dengannya. Bahkan orang tuanya pun tak menyukainya.

Ale adalah sosok yang tertekan, terlantar, kesepian dan tidak dipedulikan.

Semua terasa begitu menyakitkan. Sampai pada akhirnya ia merasa tak  pantas lagi untuk melanjutkan hidup. Ale berencana bunuh diri.

Namun sebelum mati, ia ingin menghadiahi dirinya dengan seporsi mie ayam, sarapan khas warga Jakarta.

Rencananya untuk mengakhiri hidup ternyata tidaklah mulus. Penjual mie ayam langganannya justru terlebih dahulu meninggal dunia. Bermula dari perjalanan mencari mie ayam inilah, akhirnya Ale bertemu banyak orang dengan berbagai latar belakang. Pertemuan yang mengubah pandangannya tentang makna kehidupan.

Saya membeli novel ini karna sebelumnya pernah membaca “Sisi Tergelap Surga” karya Brian Khrisna yang begitu memikat hati. Boleh dibilang, novel Brian yang ini tak kalah menarik juga.

Secara garis besar, novel ini bercerita tentang kesehatan mental. Tentang luka batin seseorang yang sering diremehkan, dibandingkan dan tidak dicintai sejak kecil.

Walaupun percapakannya kasar dan vulgar, namun banyak petuah bijak yang terlontar dari tokoh-tokoh novel ini.

Ada bandar sabu, bos perek, PSK, office boy, penjual layangan dan pedagang kerupuk yang begitu filosofis dalam memandang kehidupan.

“Bung, kunci bertahan hidup itu bukan selalu berpikir positif, melainkan kemampuan untuk menerima keadaan” ~ Pak Uju, penjual layangan.

Seolah tokoh-tokoh di novel ini sedang menjadi Mario Teguh. Kentara sekali dipaksakan, namun masih OK lah.

“Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat, lo gak perlu memohon apa-apa”. ~ Mami Louisse, bos para PSK.

Membaca novel ini membuat kita tersadar, bahwa sebrengsek apa pun hidup, tetaplah layak untuk disyukuri dan dirayakan. Kita berhak bahagia, apa pun dan bagaimana pun kondisi kita. Dan menyerah bukanlah pilihan.

Bintang empat untuk novel ini.

Agar Tak Bimbang Memilih Calon Pemimpin

Entah karena pesimis atau karna udah gedeg sama carut marut perpolitikan di negeri ini, tak sedikit warga yang punya anggapan bahwa siapa pun pemimpinnya, ya bakalan begini-gini aja.

Gak ngaruh dan gak akan kemana-mana. Tetep harus kerja banting tulang dan bayar cicilan.

Saya kok kepikiran, sejatinya kita ini sekrup kecil di sebuah mekanisme yang besar. Sedikit banyak, pilihan kita akan berdampak. Kita berkesempatan untuk berkontribusi menghadirkan Indonesia yang lebih baik, dengan cara cara memilih pemimpin yang tepat.

Walaupun demokrasi itu tentang banyak-banyakan suara, bukan tentang benar atau salah; namun setidaknya kita sudah menunjukkan keberpihakan pada nilai-nilai luhur yang kita yakini.

Di lingkup kecil, kehadiran pemimpin yang baik sangat berarti. Misalnya di tempat kerja. Kita gak bisa milih siapa bos kita. Dapat yang bagus alhamdulillah, dapat yang bapuk, innalillah.

Punya bos yang baik, bisa kerja, pinter, berwibawa dan tak emosional; tentu akan membuat suasana kerja jadi menyenangkan dan semangat karyawan akan terus membara.

Sebaliknya jika atasan tidak cakap dan pola komunikasinya buruk, kita jadi serba salah. Diam aja nunggu arahan, dibilang pasif. Terlalu aktif, inisiatif dianggap lancang dan gak sopan. Banyak nanya memastikan agar sesuai dengan selera bos, dianggap bodoh.

Ini hanya contoh di level kecil lho. Apalagi untuk memimpin negeri ini, gak boleh main-main. Kita upayakan yang terbaik.

Harus bijak saat memilih. Singkirkan sejenak ego dan emosi. Kalau sudah fanatik sama calon A, B atau C, tentu tak akan objektif menilai. Disodori beragam fakta pun tak akan mengubah pilihan.

Tiga orang yang tak bisa dinasehati ; orang yang sedang jatuh cinta, fans bola dan buzzerp

Lantas, bagaimana kita memilih di antara sekian banyak calon pemimpin yang mendaku merekalah yang terbaik. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan agar tak bimbang lagi menjatuhkan pilihan.

Yang pertama adalah kenali calon pemimpin tersebut dengan baik. Apakah dia memiliki kompetensi yang mumpuni serta bisa berpikir dan bekerja dengan baik?

Apakah nilai-nilai dan prioritas calon pemimpin tersebut sejalan dengan nilai yang kita anut.

Apakah orang tersebut benar-benar baik, baiknya pas mau coblosan, sekadar pencitraan atau tipe orang yang sudi melacurkan diri demi kekuasaan. Pilihlah yang mempunyai banyak kesamaan nilai dengan kita.

Selanjutnya kita bisa menelisik rekam jejak calon pemimpin, baik karir profesional maupun kehidupan pribadinya.

Media sosial bisa menjadi lumbung informasi untuk mengumpulkan berbagai informasi dan jejak digital para calon pemimpin. Makin dikulik, makin mencengangkan.

Pelajari juga visi misi, program kerja dan janji kampanye-nya. Demi memikat pemilih, banyak yang obral janji manis, gratis ini itu. Tak ada salahnya jika kita skeptis. Tanyakan realistis gak, relevan dengan kebutuhan masyarakat atau tidak? Jangan-jangan hanya gimmick.

Dan yang terakhir, perbanyak informasi dari berbagai sumber yang terpercaya. Cobalah berdiskusi dengan orang lain untuk mendapatkan perspektif yang berbeda.

Nongkrong di warung kopi bisa menjadi salah satu pilihan. Obrolan di situ lebih seru dari acara debat politik di TV One.

Jadi, apa pun pilihan kita, selama sudah dipikirkan secara rasional, ditimbang dengan baik dari segi karakter, rekam jejak, integritas dan visi misinya; maka itu adalah pilihan terbaik yang bisa dipertanggungjawabkan.

Ironis sekali, jika kita tahu ada yang lebih baik, tak bermasalah, sehat lahir batin, emosi stabil, cerdas, egaliter, tidak anti kritik; namun kita tetap milih calon problematik nir-etika yang menghalalkan segala cara, hanya karena iming-iming materi atau keuntungan sesaat.

Kita selalu punya seni untuk menghindar dari kebenaran yang tidak kita suka. Kita hanya percaya dengan orang-orang di satu barisan. Hanya mau mendengarkan yang senada.

Tentu kita tak bisa memaksa semua orang untuk mengikuti pilihan kita karena perbedaan adalah fitroh-nya kehidupan. Kita hanya bisa mengajak untuk membuka mata dan membuka hati, memilih dengan penuh kesadaran dan tidak asal-asalan.

Sebagai rakyat jelata, rugi banget jika hiruk pikuk politik ini bikin kita berantem sama saudara, kehilangan teman atau bahkan tersandung kasus hukum karna postingan di internet. Kita gak dapet duit dari situ, gak cari nafkah di situ, gak dapat jabatan juga. Ingat, politik secukupnya, persahabatan selamanya.

Semoga semua ikhtiar yang kita upayakan, bisa melahirkan pemimpin yang membawa kebaikan untuk negeri ini.

Panjang umur perjuangan, panjang umur upaya-upaya baik.

POV Seorang Ayah Ketika Merelakan Putrinya Pergi Mengejar Mimpi

Tak ada perpisahan yang tak menggoreskan luka. Kali ini saya merasakannya kembali, ketika putri kedua saya meninggalkan rumah untuk menempuh kuliah.

Karna ini bukanlah hal pertama, saya pikir saya akan lebih tegar menghadapinya. Ternyata justru sebaliknya, hati ini rasanya seperti dicabik-cabik, perih.

Rumah jadi lebih sepi, kehampaan pun menghampiri relung jiwa

Sebagai seorang ayah, ini adalah salah satu moment dalam hidup yang mengaduk-aduk emosi. Gadis kecil yang dulu sering minta didongengin sebelum tidur, yang sering main gulat-gulatan di kasur, yang suka loncat-loncat kegirangan menyambut ayahnya pulang kerja, yang tawa rekah dan tangis kecilnya selalu menghiasi hari-hari kami; kini telah beranjak dewasa, siap berkelana mengejar cita-cita.

Perasaan saya pun berkecamuk. Antara bahagia, bangga, khawatir kesepian dan kerinduan. Semua bercampur jadi satu

Terlepas dari semua perasaan-perasaan mellow tersebut, saya menghaturkan rasa terima kasih yang tak terkira pada Yang Maha Kuasa atas karunia ini. Anak bisa ketrima di kampus negri, masih dimampukan untuk support anak-anak melanjutkan pendidikan; adalah kemenangan-kemenangan kecil dalam hidup yang layak untuk disyukuri dan dirayakan.

Saat anak-anak berprestasi, orang tualah yang merasa pintar. Ketika anak-anak makan dengan lahap, orang tualah yang merasa kenyang. Di kala anak bersedih, orang tualah yang ingin menangis. Begitulah, gambaran betapa besar kasih sayang orang tua pada anak-anaknya

Buat bapak-bapak yang senasib sama saya, atau yang sebentar lagi bakalan menghadapi kejadian seperti ini, ijinkan saya berbagi beberapa tips yang mungkin bisa membantu.

Yang pertama adalah beri dukungan yang penuh pada anak. Seaneh apa pun jurusannya, di mana pun kampusnya, berapa pun besar UKT-nya; katakan Bapak tak akan gentar. Bapak akan mendukung penuh keputusan ini.

Jangan segan-segan untuk memujinya, sampaikan juga kalau Bapak bangga dan percaya bahwa dia bisa menjalani tantangan baru ini dengan baik.

Setelah anak kuliah di luar kota, jarak akan jadi musuh utama. Jarang ketemu. Jangan sampai kalah. Jaga komunikasi dan tetaplah terlibat dalam kehidupannya. Rajin-rajin aja video call, buat jadwal yang pas agar bisa saling berbagi cerita. Ini adalah bentuk kepedulian seorang Ayah yang ingin menjadi bagian dari kehidupan anaknya.

Anak yang dekat dengan Ayahnya akan tumbuh menjadi pribadi yang berani, percaya diri, merasa cukup serta tidak butuh validasi dari luar. Jika dekat dengan Ibunya, mereka akan punya sifat penyayang, peka dan mengayomi

Sambil ngobrol nanyain kabar, boleh juga selipkan nasehat-nasehat bijak. Pesenin agar jaga kesehatan, atur uang bulanan dengan baik dan rukun sama teman kuliah. Jika anak menemukan masalah di tanah rantau, biarkan dia belajar mengatasinya sendiri.

Percayalah pada kemampuannya. Jangan buru-buru untuk selalu membantu, agar anak bisa mandiri dan bertumbuh dengan baik.

Ada bapak-bapak saking pengen membantu anaknya, satu negara dibikin repot

Dan yang paling penting adalah saling menjaga hati. Segala rindu dan kecemasan yang muncul, harus disikapi dengan bijak. Emosi harus tetap stabil.

Biarlah jarak menumbuhkan rindu dan rasa khawatir menumbuhkan doa

Semoga segenap dukungan dan cinta yang kita berikan kepada anak-anak, akan meringankan langkah mereka meraih cita-cita.

Rumah Dulu Atau Nikah Dulu?

Gambar dari Pixabay

Jika ada pertanyaan nikah dulu atau punya rumah dulu, maka jawaban saya adalah menikah dulu. Mengapa? Karena sudah terlanjur kejadian 😂

Pengennya sebelum nikah punya penghasilan gede, punya rumah dan kendaraan. Mapan banget dah. Tapi sepertinya itu mimpi yang terlalu sempurna buat saya.

Sebagai fresh graduate yang baru kerja, berat bagi saya untuk mewujudkan semuanya. Saya lebih memilih untuk menikah. Secara usia, sudah matang, punya penghasilan dan yang paling penting ada yang mau sama saya. Maka tak ada alasan untuk menundanya. Bismillah, diniatkan ibadah, semoga berkah. Soal rumah, bisa dipikir sambil jalan.

“Bersama belahan jiwa, tak ada persoalan yang tak bisa diselesaikan bersama” prinsip saya kala itu.

Namun ternyata, semua tak seindah harapan. Banyak yang harus dipikirkan setelah menikah. Bayar kontrakan, beli susu anak, belanja bulanan, tiket mudik ke kampung halaman dan segala tetek bengek lainnya. Impian untuk memiliki rumah harus bertarung dengan kebutuhan hidup lainnya.

Tiap tahun belum tentu ada kenaikan penghasilan, namun harga rumah naiknya ugal-ugalan. Ditambah dengan belum adanya aturan pembatasan kepemilikan properti. Ini bikin orang kaya yang kelebihan duit memborong rumah dan tanah kaplingan, merebut pasar kaum menengah.

Memiliki Rumah Adalah Hal Yang Tak Mudah

Selain karna harga yang mahal, ada beberapa alasan lain mengapa jalan untuk memiliki hunian yang layak sering terjal dan berliku. Diantaranya adalah karena belum nemu yang sesuai selera.  Biasanya ini karna mempertimbangkan harga, lokasi dan model/tipe rumah.

Harga terjangkau, luas bangunan oke, tapi lokasi di antah berantah. Atau sebaliknya, lokasi strategis, ukuran besar, tapi harganya selangit. Maka sebuah keberuntungan besar jika ketiga kriteria tersebut bisa terpenuhi.

Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan saat akan meminang rumah impian, seperti mau milih tinggal di perkampungan penduduk atau di cluster one gate system tengah kota, kawasan rawan banjir atau tidak, tempat jin buang anak apa gak, trus nanti tetangganya seperti apa?

Tinggal di mana saja, peluang ketemu tetangga yang julid, suka buang sampah sembarangan, parkir kendaraan seenaknya, siram-siram jalanan pakai air got, nyetel musik sampai malam, pokoknya yang ya gitu deh; akan selalu ada.

Berikutnya karna gak bisa ngatur duit. Penghasilan sebenarnya cukup, namun gaya hidup terlalu tinggi. Duit larinya buat senang-senang aja gak ada prioritas hidup.

Betapa pun banyak kendala, memiliki rumah adalah impian yang harus tetap diperjuangkan, meski harus bercucuran peluh dan air mata. Kalau udah punya tempat berteduh yang tetap, hati rasanya lebih tenang. Gak kepikiran untuk ngontrak seumur hidup.

Rumah Yang Diidamkan

Sembari berusaha dan terus memupuk harapan, saya mulai ngobrol serius sama istri, mikirin mau homebase di mana, nanti pengen punya rumah seperti apa, bangun sendiri atau beli.

Buat kami, tak ada tempat sebaik dan senyaman rumah. Oleh sebab itu bukan hanya fisik rumah yang diutamakan, namun isinya juga. Harus penuh cinta dan kehangatan.

Ada beberapa kriteria rumah idaman versi kami. Yang pertama adalah lokasinya tidak jauh dari tempat kerja. Maksimal 30 menit lah. Lebih dari itu, gak deh. Bakalan capek dan tua di jalan. Tak ada lagi kesempatan untuk bercengkerama dengan keluarga. Tahu-tahu anak udah gede aja.

Gak bisa bayangin berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang ke rumah habis magrib, dengan durasi perjalanan lebih dari dua jam pulang pergi. Dan entah mengapa hal ini dianggap normal oleh khalayak.

Makanya paling enak tinggal di kota kecil yang gak desa-desa banget seperti Ngawi, Tulungagung, Salatiga, Klaten. Fasilitas lengkap, akses ke kota tetangga juga oke. Gak ada macet, udara bersih, langit biru dan ke mana-mana dekat. Ke sekolahan, ke pasar, ke fasilitas kesehatan dan ke kantor pemerintahan bisa dijangkau dengan mudah.

Di kota mana pun, selama berkumpul bersama orang-orang terkasih, tentu akan terasa sangat menyenangkan

Berikutnya, rumah idaman kami adalah rumah yang kualitas bangunannya kuat, strukturnya gak kaleng-kaleng. Karna ini menyangkut keselamatan penghuninya. Apa jadinya jika rumah kualitas proyek, mau masang paku di tembok, malah runtuh dindingnya.

Selain itu rumah juga harus punya ventilasi yang baik, cukup kena sinar matahari dan punya ruangan yang lega, bersih dan rapi. Gak harus gede banget, yang penting gak berasa penuh sesak untuk beraktivitas. Ada kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi dan ruang servis. Sedikit taman kecil atau kolam ikan, tentu akan membuat suasana rumah menjadi sejuk dan teduh.

Semua kriteria tentang rumah yang kami idamkan tersebut kami masukkan ke wishlist. Dan hamdalah, atas perkenan dan pertolongan Yang Maha Kuasa, kami bisa berteduh di rumah yang hangat, nyaman dan menyenangkan.

Apa saja yang kita impikan, akan disiapkan menjadi kenyataan di masa depan. Maka impikanlah, terutama kebaikan.

Rumah vs Nikah

Balik lagi ke pertanyaan di awal, mau nikah dulu atau punya rumah dulu, tak ada jawaban yang mutlak benar atau salah. Karena kondisi finansial, emosional dan prioritas tiap orang beda-beda. Masing-masing pilihan ada kelebihan dan kekurangannya.

Yang terpenting, kita sudah memikirkan dengan baik-baik sebelum mengambil keputusan besar tersebut.

Semoga selalu ada jalan dan kemudahan untuk memiliki tempat tinggal yang layak dan pasangan yang baik.

Tabik

Mengukur Kebahagiaan; Lebih dari Sekadar Materi

Ada pertanyaan yang cukup menarik ketika saya mengikuti self assessment tingkat kesejahteraan mental:

“Apakah kehidupan Anda terasa membahagiakan?”

Jadi mikir, bahagia yang seperti apa nih? Kalau bahagia itu harus punya aset miliaran, sering jalan-jalan ke luar negeri, punya rumah mewah, kendaraan mahal, jabatan tinggi dan gak pernah ada kesedihan; saya mundur deh.

“Set point (level) kebahagiaan tiap orang berbeda. Ada yang diajak ke angkringan, pesan mie rebus dan gorengan aja udah puas. Namun ada yang mesti ke cafe instagramable, pesan menu kekiniaan agar bisa bahagia

Tapi kalau bahagia itu makan apa aja terasa enak, tidur nyenyak, gak banyak pikiran, tenang, tenteram, gak menyesali masa lalu, gak cemas dan khawatir; saya berani tunjuk tangan.

“Betapa pun penuh lika-liku, saya tetap menganggap kehidupan ini membahagiakan”

Masalah yang kerap datang memang membuat hati terluka. Namun saya percaya, segala luka tersebut adalah jalan cahaya untuk masuk ke jiwa.

Ketika saya diberi sakit, diberi kekurangan, merasakan kegagalan dan berbagai cobaan hidup; sejatinya itu adalah cara agar saya berhenti sejenak, merenung, sadar dan mendekat pada Sang Maha Kuasa.

“Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta, hidup dalam kebajikan dan segala sesuatu yang mendekatkan kita pada Tuhan adalah jalan kebahagiaan”

Memang tidak mudah untuk tetap tegar saat sedang terpuruk. Fitrahnya manusia seperti itu. Bahagia jika keinginannya terpenuhi, kecewa di saat harapan tak sesuai kenyataan.

Maka agar bahagia mudah menghampiri, kita harus tahu diri dan tahu batasan, ngerti kapan waktunya harus injak gas, kapan harus nge-rem. Bisa juga dengan melatih diri ini untuk merayakan kemenangan-kemenangan kecil setiap hari. Kita bisa menulis hal-hal menyenangkan yang kita alami pada hari itu. Hal-hal kecil yang dicatat dan diingat akan membuat kita menghargai yang selama ini lupa untuk kita syukuri.

“Semakin tak mudah tersakiti dengan nasib buruk, kita akan semakin mudah untuk bahagia”

Selain itu kita juga berupaya untuk menata hati, ikhlas, sabar dan berprasangka baik. Hindari sikap perfeksionis, menyimpan dendam, menyesali masa lalu, membandingkan diri dan selalu ingin lebih bahagia dari orang lain.

“Butuh pengalaman getir agar lebih bisa menghargai makna kebahagiaan”

Sepanjang gak bikin syarat yang aneh-aneh, insya allah bisa kok kita ketemu bahagia. Dan satu lagi yang perlu diingat, kebahagiaan dan kesedihan itu silih berganti.

“Tidak ada manusia yang lepas dari kesulitan, yang membedakan adalah bagaimana cara mengatasinya. Ada yang mampu melewati, ada pula yang gagal”

Jadi kalau lagi bahagia luapkan secukupnya, kalau lagi sedih gak perlu berlama-lama. Karna makin pekat malam, itu artinya fajar kian dekat.

Melepas Anak Kuliah

Tahun ini anak saya masuk kuliah. Ia diterima di salah satu kampus negeri di kota Malang. Saya bersyukur, semuanya berjalan dengan lancar. Mulai dari milih jurusan, ngurus pendaftaran hingga masuk asrama kampus.

Hamdalah, banyak kemudahan yang saya temui. Semua ini tak lepas dari bantuan pihak sekolah, guru-guru, saudara dan handai taulan yang turut mendukung anak saya melanjutkkan studi.

Berkaca dari pengalaman tersebut, saya mencoba merangkum beberapa hal yang perlu disiapkan ketika anak-anak akan mememasuki dunia perkuliahan.

1. SIAPKAN DANA

Sebenarnya bukan saat kuliah saja kita sebagai orang tua harus nyiapain ini. Masuk TK, SD pun, tetep butuh. Nominalnya relatif, bisa mahal atau murah. Mau murah pun, jika gak punya duit ya bakalan bingung. Mahal pun, akan lebih terasa ringan jika disiapkan jauh-jauh hari. Kalau dadakan, bakalan pusing deh, mau nyari kemana.

Oleh sebab itu, ada baiknya jika kita lebih bijak dalam melakukan pengeluaran dan mulai menabung. Mau dalam bentuk tabungan pendidikan, beli saham, beli sapi dan kambing, atau inves tanah; terserah. Intinya kita harus membangun kesadaran dan lebih peduli dengan pendidikan anak kita.

Ada beberapa orang tua yang tidak mendukung anaknya untuk melanjutkan pendidikan dengan alasan terkendala biaya. Padahal ketika dicek, motor di ruang tamu ada tiga, kursi di rumah modelnya seperti sofa di sinetron Indosiar, langanan wifi, hand phone canggih, dan punya burung murai. Ini sebenarnya masalah prioritas.

Biaya kuliah memang mahal, namun jangan pernah takut kesulitan untuk pendidikan anak. Inilah jihadnya orang tua, siap jungkir balik demi kebaikan anak-anak. Insya allah kita akan dimampukan. Jalan rizki akan terbuka, jika semangat dan kemauan kita besar, serta setia pada kebenaran.

2. KUMPULKAN INFORMASI

Ketika duduk di bangku SMA, saya menggali lebih dalam bakat dan minatnya, nanyain nanti mau ambil jurusan apa dan kuliah di mana, menganalisa nilai raportnya, mencari tahu kuota dan jumlah pendaftar dan segala seluk beluk tentang dunia kampus. Orang tua juga harus update informasi, biar nyambung ketika diskusi dengan anak.

Selain itu saya juga memberi kebebasan padanya untuk memilih, tak pernah memaksakan.

Terkadang anak jadi ajang balas dendam orang tua untuk mewujudkan ambisi dan cita-citanya. Saya tak kecewa ketika ia tak berminat masuk sekolah kedinasan seperti bapaknya. Saya tak mengharuskan anak-anak mengikuti jejak orangtuanya. Saya ingin ia menjadi dirinya sendiri, mengikuti panggilan jiwanya, menjalani pilihan hidupnya dengan bahagia.

3. SIAPKAN MENTAL & TATA HATI

Tingkat polah anak-anak terkadang mengejutkan orang tuanya. Dan kita harus siap dengan itu.

Bagaimana jika pilihan anak tak sejalan dengan harapan kita? Orang tua ingin anaknya jadi dokter, anaknya malah milih jurusan filsafat.

Bagaimana jika anak memilih universitas yang jaraknya ribuan kilometer dari rumah? Siapkah kita melepasnya?

Atau bagaimana jika anak tak punya kemauan untuk melanjutan kuliah, lebih tertarik untuk jualan pop ice.

Saat mengantarnya masuk asrama, saya mencoba untuk tegar, janji gak bakalan nangis. Namun tetap saja, perpisahan dengan anak gadis selalu emosional.

Pelukannya menyiratkan ia tak ingin ditinggalkan. Isak tangisnya menggambarkan rasa cinta pada orang tuanya. Suasana pun makin sendu.

Sejatinya saya pun tak ingin berpisah dengannya. Namun inilah hidup, hal-hal baik harus diperjuangkan. Kami orangtuanya harus ikhlas, melepasnya terbang tinggi, bertarung menaklukkan dunia demi meraih impiannya. Anak pun juga harus siap, perihnya menahan rindu, bersusah payah belajar demi hari esok yang lebih baik. Perpisahan ini tak akan lama. Ini adalah cara Tuhan agar kami saling menguatkan dan saling mendukung.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi yang cerdas dan bertakwa.

Etika Bermedia Sosial

Beberapa kali saya menemukan orang yang nampak kalem di dunia nyata; namun ketika di media sosial berubah jadi gahar, beringas dan mudah tersulut emosi. Apa saja dikomentarin, semuanya di-nyinyir-in.

Mungkin orang tersebut punya kepedulian yang tinggi terhadap sebuah isu, ingin meluapkan kekecewaannya; atau memang seorang buzzerp yang suka cari ribut. Dan mohon maaf nih ya, tak sedikit yang kelakuannya seperti itu adalah ibu-ibu.

Wanita memang cenderung lebih ekspresif dibanding pria; bahkan suka kebablasan dalam mengungkapkan sesuatu. Lihat saja story ibu-ibu, apa saja di-konten-in. Mulai jalan-jalan, piknik, acara kantor, ngantri minyak goreng, masalah rumah tangga; hingga nerima hampers dari seseorang.

Tentang hampers, ini juga bikin saya heran. Sejak kapan kalau kita menerima bingkisan dari orang lain harus distatusin. Siapa yang memulai budaya seperti ini.

Tanpa disadari, ada sisi lain dari hampers yang bisa memicu over thinking dan perasaan membandingkan diri. Terkadang muncul pertanyaan: hampers-ku kok gak di-share di medsos ya; kenapa cuma aku yang gak dapat hampers; duh sedih nih aku gak punya duit buat balas hampers dari dia.

Sepertinya, kebiasaan tersebut mulai muncul saat ada media sosial. Padahal, jika ingin memberi ucapan selamat, melakukan selebrasi maupun mengungkapkan rasa terima kasih kepada seseorang; maka lakukanlah di ruang privat. Datangi orangnya atau telpon secara langsung. Jika diseret ke ranah publik (media sosial), jatuhnya malah seperti gimmick, riya dan hambar tak bermakna.

Balik lagi ke perilaku kita di dunia maya. Sejatinya ada etika yang perlu diperhatikan, tak bisa seenaknya sendiri. Hal-hal yang tak baik dilakukan di dunia nyata, jangan dilakukan di dunia maya. Seperti mengolok-ngolok, marah-marah gak jelas, ghibah, menyebarkan berita bohong dan melakukan perundungan.

Jika ingin melontarkan kritik, maka lakukanlah secara cerdas dan elegan. Kepleset sedikit saja, kita bisa terjerat masalah. Jejak digital kita tak akan hilang. Selalu saja ada netizen yang gercep men-screenshot.

Untuk itu, kita harus bijak dalam menggunakan media sosial. Beberapa kaidah yang bisa dicoba, diantaranya adalah; kalau lagi marah, kesel sama seseorang; sebaiknya hindari HP. Saat emosi memuncak, kita gak bisa berpikir jernih, jempol kita susah dikendalikan. Pas udah sadar, baru nyesel deh.

Kita memang tak bisa menyenangkan semua orang di dunia maya, namun kita tetap bisa sopan kepada siapa pun. Jika ingin diperlakukan baik, ya jangan suka nyakitin orang lain. Jangan pernah menyalahgunakan wewenang meskipun kita punya kekuasaan.

Jangan lupa, lapangkan hati agar kita gak membenci orang yang beda dengan kita. Dan semoga kita mudah memaafkan orang lain yang sedang tergelincir di dunia maya.

Terakhir, ada baiknya kita merenungkan petuah dari almarhum Om Nukman Luthfie: “Media sosial itu jendela kecil untuk menafsir siapa kita. Rawatlah demi masa depan yang lebih baik

Tabik

Ngobrol Sama Pasangan

Buat saya, healing itu gak harus liburan, belanja dan makan-makan mewah. Cukup ngobrol dengan istri, deep talk, ngobrolin tentang anak, tentang kerjaan, haha hihi bareng dan saling curhat. Gini aja rasanya udah luar biasa. Dunia seperti milik berdua.

Punya pasangan yang asyik diajak bercerita sungguh menyenangkan. Apalagi jika saling mendoakan dan saling melepas tawa. Ini akan jadi sumber energi yang tiada tara. Segala kegelisahan, drama kehidupan, office politic, kegaduhan dan carut marut yang terjadi di luar sana, akan luruh saat memasuki rumah.

Kalah menang dalam hidup ini, kita akan selalu menemukan tempat pulang yang penuh kedamaian. Hati pun akan tenang.

Untuk bisa klik [menyatu] dengan pasangan, harus ada upaya yang kita perjuangkan. Karena biasanya kalau udah lama nikah, akan muncul kebosanan. Rasa cinta memang masih ada. Tapi entah mengapa ngobrol gak nyambung, bertegur sapa cuma sekadarnya, chating gitu-gitu aja kalau pas ada perlunya. Bahaya banget nih kalau sampai males ngobrol dengan pasangan. Karna sejatinya pernikahan itu sebagian besar isinya adalah obrolan.

Ngobrol dengan orang yang sama; lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, berpuluh-puluh tahun lagi, bahkan seumur hidup. Kalau gak nyaman, kehampaan akan menerpa kita.

Sebenarnya hal seperti itu wajar terjadi, tapi gak boleh dibiarin. Cari tahu akar masalahnya, lalu temukan jalan keluar. Ada banyak faktor yang membuat kehampaan menerjang biduk rumah tangga.

mari ngeteh, mari bicara. Gambar IG: bro_danang

Pertama, kesibukan. Semua kesibukan itu membuat lupa bahwa sejatinya kita adalah pasangan kekasih. Suami sibuk cari nafkah, istri sibuk urus anak-anak. Biasanya pas baru punya anak atau saat nambah momongan. Masing-masing merasa paling berkeringat, lalu adu rayu capek. Suami mau diajak curhat, udah keburu ngorok. Padahal istri udah siap spill the tea. Atau sebaliknya; suami mau dengerin, tapi istrinya lebih memilih mengungkapkan segala kegundahannya lewat story.

Capernya justru ke orang lain. Atau sibuk cari kesenangan di luar, sibuk nongkrong sama teman-teman komunitas, akhirnya pulang ke rumah cuma buat tidur, mandi dan makan.

gak gitu juga kali

Terlalu sibuk jadi masalah, gak sibuk pun, bingung mau ngapain lagi juga bakalan jadi perkara. Saat semua sudah tercapai, KPR dah lunas, anak-anak sudah mentas semua, gak ada lagi adrenalin rush, kondisi seperti ini juga memicu kehampaan. Mengalir begitu saja, datar dan hambar.

Ikhtiar yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kondisi seperti itu, yang utama adalah senantiasa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar rumah tangga kita dinaungi keberkahan dan dilembutkan hati kita. Tanpa pertolongan dari-NYA, kita akan mudah limbung dihantam kerasnya kehidupan.

Berikutnya harus ada yang memulai untuk menghidupkan kembali relationship, mengembalikan romantisme dan mengembalikan kupu-kupu di perut. Berkomunikasilah secara dua arah, tidak ada yang mendominasi seperti guru yang sedang marahin muridnya.

Jangan lupa untuk switching peran. Mentang-mentang di kantor jadi bos, di rumah maunya diperlakukan gitu juga. Maen perintah-perintah, minta dihormati banget. Gak gitu juga.

Ngomong pun harus gantian, dengerinnya juga gantian. Kalau gak ada yang ngalah, jadinya malah kayak suasana gedung dewan berantem. Ada baiknya kalau mau ngobrol sama pasangan, kondisi perut tidak sedang lapar. Orang lapar kesenggol dikit mudah emosi.

Sereceh apa pun obrolan, kalau dengerinnya dengan antusias dan penuh minat, gak disambi maen hp; akan jadi sesuatu yang menarik.

Perlu diingat juga, komunikasi bukan sekadar kata. Bisa dicoba soul to soul communication. Di tempat tidur berdua, gak ngapa-ngapain, cuma cuddling, pegangan tangan pas tidur, biarkan hati kita yang bicara.

Pada akhirnya, gak ada rumus pasti untuk mengatasi kebuntuan komunikasi. Tiap orang punya cara yang unik untuk menyelesaikannya. Ini adalah bagian dari seni dalam sebuah pernikahan.

Semoga upaya-upaya baik yang kita lakukan untuk menuju rumah tangga yang harmonis senantiasa mendapat ridho dari-NYA.

Sulitkah Untuk Menabung?

Secara teori, menabung itu nampak mudah. Tinggal sisihkan sebagian uang dari penghasilan, lakukan secara rutin dan simpan di tempat yang aman. Selesai.

Tapi begitu dijalanin, susahnya minta ampun. Ada aja godaannya. Mulai jajan es kopi, promo di shopee, beli gadget baru, jalan-jalan, langganan Netflix, Spotify dan membership gym.

Padahal nonton film di TransTV udah bagus-bagus. Olahraga di taman juga bisa bikin sehat dan langsing.

Kita dikepung oleh konsumerisme. Hal-hal yang sebenarnya tak begitu penting pun seolah-olah menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi. Tak heran jika untuk menjadi kaum urban yang kekinian, dibutuhkan modal yang tak sedikit.

Ada duit pun jika tak disiplin, menabung hanya akan jadi angan-angan. Apalagi gak ada duitnya.

Saya pernah mengalami gaji kayak numpang lewat aja, bersih gak bersisa. Hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebagai anak muda usia 20-an kala itu, tentu ngerasa sedih dan lost banget. Yang lain bisa foya-foya, pundi-pundi uangnya makin bertambah; sementara saya masih tertatih-tatih berjuang melewati tanggal tua.

Saking penasarannya, saya coba meng-audit keuangan. Catetan pengeluaran saya pantengin satu-persatu, biar ketahuan boncosnya di mana.

Ternyata gaya hidup saya gak neko-neko. Duit larinya ke hal-hal esensial. Buat makan, beli susu anak, bayar kontrakan dan biaya kuliah. Penghasilan saya aja yang saat itu emang mepet banget.

Tak semua orang bisa menyisihkan uangnya untuk ditabung. Karna tiap orang beda tanggungannya, beda kebutuhannya, beda prioritasnya, beda pendapatannya, beda pula rejekinya. Jadi …gak harus banget, usia 25 punya tabungan 100 juta.

Untunglah kondisi prihatin itu tak membuat saya gelap mata. Jatah rejeki saya saat itu emang segitu. Ini di luar kendali saya.

Dalam hidup, akan banyak kejadian yang tak sesuai dengan harapan kita. Yang bisa dikendalikan adalah bagaimana respon menyikapi keadaan tersebut. Mau nyari solusi yang baik atau milih jalan pintas yang buruk. Prinsip saya, sebutuh-butuhnya sama duit, jangan sampai bikin kita jadi orang jahat.

Ada yang tega nikung teman, nipu sodara, korupsi, morotin mertua, ngambil yang bukan haknya dan terbelit hutang kartu kredit.

Pasang surut urusan finansial tuh hal biasa dalam kehidupan. Kita kan pengennya kalau lagi di bawah gak lama-lama. Maunya di atas terus.

Jangan takut gak dapat rejeki. Takutlah saat mencari rejeki justru menjauhkan kita dari Sang Maha Pemberi.

Bagaimana pun kondisi kita, yang terpenting adalah jangan denial. Terimalah dengan lapang dada. Bisikkan dalam hati “Ya Allah aku ikhlas dan ridho dengan takdirMu. Semua ini pasti yang terbaik untukku. Bantu aku ya Allah untuk melewati setiap episode kehidupan”.

Lalu perbesar kapasitas diri untuk layak menerima lebih dari Yang Maha Kuasa; dengan bekerja lebih giat, jujur, memuliakan orang tua, menolong orang lain serta berbagi pada sesama. Rejeki itu soal kepantasan.

Ya Allah, kami percaya bahwa harta benda adalah titipan dariMu. Titipin kami lebih ya Allah, 30 milyar boleh

Nah kalau kondisi keuangan mulai membaik, jangan lupa untuk mengelolanya lebih baik lagi. Biasakan untuk menabung, bikin dana darurat dan investasi. Ingat kita tidak hidup untuk hari ini saja. Ada hari tua, ada biaya pendidikan anak-anak dll.

Kendalikan diri, sabar, tentukan prioritas dan jangan ragu untuk menunda kesenangan sementara untuk hari esok yang lebih baik.

Belanja, seneng-seneng atau pun self reward boleh-boleh saja. Gak tabu kok. Asal bijak dan tahu batasan diri.

Semoga upaya-upaya baik yang kita lakukan lekas mewujud. Mari saling bantu saling dukung. Siapa tahu kita bisa jadi jalan terbukanya rejeki orang lain.

Dan yang kondisi finansialnya lagi sempit, semoga segera dilapangkan. Diberi rezeki tak terduga dari arah yang tak disangka-sangka. Amiin