Ngobrol Sama Pasangan

Buat saya, healing itu gak harus liburan, belanja dan makan-makan mewah. Cukup ngobrol dengan istri, deep talk, ngobrolin tentang anak, tentang kerjaan, haha hihi bareng dan saling curhat. Gini aja rasanya udah luar biasa. Dunia seperti milik berdua.

Punya pasangan yang asyik diajak bercerita sungguh menyenangkan. Apalagi jika saling mendoakan dan saling melepas tawa. Ini akan jadi sumber energi yang tiada tara. Segala kegelisahan, drama kehidupan, office politic, kegaduhan dan carut marut yang terjadi di luar sana, akan luruh saat memasuki rumah.

Kalah menang dalam hidup ini, kita akan selalu menemukan tempat pulang yang penuh kedamaian. Hati pun akan tenang.

Untuk bisa klik [menyatu] dengan pasangan, harus ada upaya yang kita perjuangkan. Karena biasanya kalau udah lama nikah, akan muncul kebosanan. Rasa cinta memang masih ada. Tapi entah mengapa ngobrol gak nyambung, bertegur sapa cuma sekadarnya, chating gitu-gitu aja kalau pas ada perlunya. Bahaya banget nih kalau sampai males ngobrol dengan pasangan. Karna sejatinya pernikahan itu sebagian besar isinya adalah obrolan.

Ngobrol dengan orang yang sama; lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, berpuluh-puluh tahun lagi, bahkan seumur hidup. Kalau gak nyaman, kehampaan akan menerpa kita.

Sebenarnya hal seperti itu wajar terjadi, tapi gak boleh dibiarin. Cari tahu akar masalahnya, lalu temukan jalan keluar. Ada banyak faktor yang membuat kehampaan menerjang biduk rumah tangga.

mari ngeteh, mari bicara. Gambar IG: bro_danang

Pertama, kesibukan. Semua kesibukan itu membuat lupa bahwa sejatinya kita adalah pasangan kekasih. Suami sibuk cari nafkah, istri sibuk urus anak-anak. Biasanya pas baru punya anak atau saat nambah momongan. Masing-masing merasa paling berkeringat, lalu adu rayu capek. Suami mau diajak curhat, udah keburu ngorok. Padahal istri udah siap spill the tea. Atau sebaliknya; suami mau dengerin, tapi istrinya lebih memilih mengungkapkan segala kegundahannya lewat story.

Capernya justru ke orang lain. Atau sibuk cari kesenangan di luar, sibuk nongkrong sama teman-teman komunitas, akhirnya pulang ke rumah cuma buat tidur, mandi dan makan.

gak gitu juga kali

Terlalu sibuk jadi masalah, gak sibuk pun, bingung mau ngapain lagi juga bakalan jadi perkara. Saat semua sudah tercapai, KPR dah lunas, anak-anak sudah mentas semua, gak ada lagi adrenalin rush, kondisi seperti ini juga memicu kehampaan. Mengalir begitu saja, datar dan hambar.

Ikhtiar yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kondisi seperti itu, yang utama adalah senantiasa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar rumah tangga kita dinaungi keberkahan dan dilembutkan hati kita. Tanpa pertolongan dari-NYA, kita akan mudah limbung dihantam kerasnya kehidupan.

Berikutnya harus ada yang memulai untuk menghidupkan kembali relationship, mengembalikan romantisme dan mengembalikan kupu-kupu di perut. Berkomunikasilah secara dua arah, tidak ada yang mendominasi seperti guru yang sedang marahin muridnya.

Jangan lupa untuk switching peran. Mentang-mentang di kantor jadi bos, di rumah maunya diperlakukan gitu juga. Maen perintah-perintah, minta dihormati banget. Gak gitu juga.

Ngomong pun harus gantian, dengerinnya juga gantian. Kalau gak ada yang ngalah, jadinya malah kayak suasana gedung dewan berantem. Ada baiknya kalau mau ngobrol sama pasangan, kondisi perut tidak sedang lapar. Orang lapar kesenggol dikit mudah emosi.

Sereceh apa pun obrolan, kalau dengerinnya dengan antusias dan penuh minat, gak disambi maen hp; akan jadi sesuatu yang menarik.

Perlu diingat juga, komunikasi bukan sekadar kata. Bisa dicoba soul to soul communication. Di tempat tidur berdua, gak ngapa-ngapain, cuma cuddling, pegangan tangan pas tidur, biarkan hati kita yang bicara.

kurangi screen time. jangan acuhkan orang-orang tercinta di sekeliling kita

Pada akhirnya, gak ada rumus pasti untuk mengatasi kebuntuan komunikasi. Tiap orang punya cara yang unik untuk menyelesaikannya. Ini adalah bagian dari seni dalam sebuah pernikahan.

penyesan selalu datang belakangan

Semoga upaya-upaya baik yang kita lakukan untuk menuju rumah tangga yang harmonis senantiasa mendapat ridho dari-NYA.

Sulitkah Untuk Menabung?

Secara teori, menabung itu nampak mudah. Tinggal sisihkan sebagian uang dari penghasilan, lakukan secara rutin dan simpan di tempat yang aman. Selesai.

Tapi begitu dijalanin, susahnya minta ampun. Ada aja godaannya. Mulai jajan es kopi, promo di shopee, beli gadget baru, jalan-jalan, langganan Netflix, Spotify dan membership gym.

Padahal nonton film di TransTV udah bagus-bagus. Olahraga di taman juga bisa bikin sehat dan langsing.

Kita dikepung oleh konsumerisme. Hal-hal yang sebenarnya tak begitu penting pun seolah-olah menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi. Tak heran jika untuk menjadi kaum urban yang kekinian, dibutuhkan modal yang tak sedikit.

Ada duit pun jika tak disiplin, menabung hanya akan jadi angan-angan. Apalagi gak ada duitnya.

Saya pernah mengalami gaji kayak numpang lewat aja, bersih gak bersisa. Hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebagai anak muda usia 20-an kala itu, tentu ngerasa sedih dan lost banget. Yang lain bisa foya-foya, pundi-pundi uangnya makin bertambah; sementara saya masih tertatih-tatih berjuang melewati tanggal tua.

Saking penasarannya, saya coba meng-audit keuangan. Catetan pengeluaran saya pantengin satu-persatu, biar ketahuan boncosnya di mana.

Ternyata gaya hidup saya gak neko-neko. Duit larinya ke hal-hal esensial. Buat makan, beli susu anak, bayar kontrakan dan biaya kuliah. Penghasilan saya aja yang saat itu emang mepet banget.

Tak semua orang bisa menyisihkan uangnya untuk ditabung. Karna tiap orang beda tanggungannya, beda kebutuhannya, beda prioritasnya, beda pendapatannya, beda pula rejekinya. Jadi …gak harus banget, usia 25 punya tabungan 100 juta.

Untunglah kondisi prihatin itu tak membuat saya gelap mata. Jatah rejeki saya saat itu emang segitu. Ini di luar kendali saya.

Dalam hidup, akan banyak kejadian yang tak sesuai dengan harapan kita. Yang bisa dikendalikan adalah bagaimana respon menyikapi keadaan tersebut. Mau nyari solusi yang baik atau milih jalan pintas yang buruk. Prinsip saya, sebutuh-butuhnya sama duit, jangan sampai bikin kita jadi orang jahat.

Ada yang tega nikung teman, nipu sodara, korupsi, morotin mertua, ngambil yang bukan haknya dan terbelit hutang kartu kredit.

Pasang surut urusan finansial tuh hal biasa dalam kehidupan. Kita kan pengennya kalau lagi di bawah gak lama-lama. Maunya di atas terus.

Jangan takut gak dapat rejeki. Takutlah saat mencari rejeki justru menjauhkan kita dari Sang Maha Pemberi.

Bagaimana pun kondisi kita, yang terpenting adalah jangan denial. Terimalah dengan lapang dada. Bisikkan dalam hati “Ya Allah aku ikhlas dan ridho dengan takdirMu. Semua ini pasti yang terbaik untukku. Bantu aku ya Allah untuk melewati setiap episode kehidupan”.

Lalu perbesar kapasitas diri untuk layak menerima lebih dari Yang Maha Kuasa; dengan bekerja lebih giat, jujur, memuliakan orang tua, menolong orang lain serta berbagi pada sesama. Rejeki itu soal kepantasan.

Ya Allah, kami percaya bahwa harta benda adalah titipan dariMu. Titipin kami lebih ya Allah. Bismillah 30 triliun cair.

Nah kalau kondisi keuangan mulai membaik, jangan lupa untuk mengelolanya lebih baik lagi. Biasakan untuk menabung, bikin dana darurat dan investasi. Ingat kita tidak hidup untuk hari ini saja. Ada hari tua, ada biaya pendidikan anak-anak dll.

Kendalikan diri, sabar, tentukan prioritas dan jangan ragu untuk menunda kesenangan sementara untuk hari esok yang lebih baik.

Belanja, seneng-seneng atau pun self reward boleh-boleh saja. Gak tabu kok. Asal bijak dan tahu batasan diri.

Semoga upaya-upaya baik yang kita lakukan lekas mewujud. Mari saling bantu saling dukung. Siapa tahu kita bisa jadi jalan terbukanya rejeki orang lain.

Dan yang kondisi finansialnya lagi sempit, semoga segera dilapangkan. Diberi rezeki tak terduga dari arah yang tak disangka-sangka. Amiin

Empat Puluh

Bulan lalu, saya ulang tahun yang ke empat puluh. Perasaan sih kayak baru kemarin lulus kuliah. Ternyata sudah empat dekade mengarungi kehidupan ini. Tak bisa disangkal, saya emang gak muda lagi. Gampang capek, jam sembilan malam udah ngantuk. Udah mulai akrab dengan aneka balsem, bahkan mulai hapal.

Geliga tuh panas, tapi lengket. Hot in cream gak lengket, tapi kurang panas. Yang paling pas tuh counterpain, panas dan tidak lengket. Tapi mahal.

Namun saya tetap bersyukur, sampai saat ini masih hidup, sehat dan tak insecure.

Saya bisa banyak belajar dari hari-hari yang pernah saya lalui. Bergembira dan menikmati terhadap semua rizki yang diberikan Allah serta ikhlas menerima segala ujian. Ada sedihnya juga sih. Namun tak sekali pun kepikiran andai bisa kembali ke masa lalu, saya akan begini begitu. Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu.

Memasuki usia empat puluh adalah salah satu tahapan kehidupan yang krusial. Tak sedikit yang mengalami krisis paruh baya karna merasa khawatir dan menolak menjadi tua. Maunya merasa muda terus. Dari sinilah muncul puber kedua.

Gak cuma itu sih. Ada juga yang terbebani, karena anggapan orang usia empat puluhan adalah usia yang matang. Yang sering jadi sorotan adalah kematangan finansial, karna ini yang mudah dilihat orang. Sudah punya apa? Ini yang bikin overthinking.

Umur empat puluh kalau belum punya rumah, gak pernah jalan-jalan ke luar negeri, gak punya mobil, apalagi masih jadi beban keluarga; bakalan nangis bombay jadi bahan cibiran masyarakat. Inilah risiko hidup ditengah-tengah judgemental society.

Padahal bertambahnya usia tak selalu tentang pertumbuhan. Aset harus nambah, karir mesti moncer, jabatan mesti meningkat. Bisa jadi justru tentang sesuatu yang berkurang. Tentang mengurangi ego, mengurangi keserakahan, mengurangi kebiasaan buruk, mengurangi nafsu ingin selalu lebih hebat dari orang lain. Ini juga bagian dari growth.

Berapa pun usia kita; dua puluh lima, tiga puluh atau empat puluh; jangan pernah merasa gagal dengan kondisi yang kita alami saat ini. Setiap fase kehidupan, selalu beda tantanganya. Gak perlu iri dengan pencapaian orang lain. Selama kita sehat, punya iman dan takwa, kerjaan lancar, bisa bayar cicilan, dikelilingi orang-orang tercinta serta punya support system yang baik; hidup kita lebih dari cukup.

Kita hanya bisa merasa kalah, jika kita menganggap hidup ini sebagai sebuah perlombaan. Padahal sejatinya hidup ini tentang perjalanan. Hanya persinggahan.

Di usia empat puluh ini semoga saya makin sadar bahwa bisa jadi usia yang sudah dilalui jauh lebih banyak dibanding usia yang tersisa.

Mesti rajin-rajin mengevaluasi diri, berusaha jadi pribadi yang lebih baik, rajin bersyukur, berbagi dan jangan pernah berupaya menjadi orang lain. Gak papa medioker, yang penting jadi versi terbaik sesuai diri sendiri.

*menjadi medioker justru tanpa beban, tak harus jadi istimewa, tak perlu membuktikan diri pada siapa pun.

Bismillah aja, semoga usia saya makin berkah.

Tabik

Cuma Punya Satu

Saya punya beberapa barang pribadi yang jumlahnya dikit banget. Mungkin ada yang nganggep ini agak aneh, karna biasanya orang-orang pada punya lebih dari satu, alasannya sih untuk self reward.

Ini bukan tentang siapa yang paling banyak atau paling sedikit. Tapi tentang memaknai rasa cukup.

Gak tahu ini namanya apa; minimalis, hemat, pelit atau karna keterak kahanan. Tapi saya fine-fine aja sih.

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya memang mencoba belajar untuk tidak berlebihan dan mengurangi konsumerisme.

Persepsi orang tentang boros atau pun hemat tentu saja beda. Jadi gak ada yang salah atau pun benar.

Prinsipnya, jangan sampai membeli barang yang sebenarnya gak dibutuhkan, hanya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Lebih-lebih jika gak ada duitnya, sampai berhutang. Apesnya lagi, pas udah punya barangnya, eh gak diwaro sama orang lain. Gak di-notice. Perih.

Intinya sih, untuk bahagia gak harus berlebihan.

Hasilnya ya seperti ini, saya tidak terlalu mempunyai banyak barang. Nah ini dia sepuluh barang yang saya hanya punya satu.

Handphone

Kadang saya suka heran, kok ada orang sampai bawa tiga HP. Belum lagi power bank-nya.  Apa gak ribet ya. Gak mungkin kan tiga-tiganya dipakai bersamaan. Alasan yang pernah saya dengar sih, ini nomer hp khusus untuk keluarga, yang itu khusus rekan kerja. Satu lagi buat main game.

Kalau saya, hp cuma satu. Harganya gak pernah lebih dari dua juta. Yang penting bisa buat nelpon, foto-foto dan internetan.

Nomor pun juga satu. Dari tahun 2002 hingga sekarang nomor saya gak pernah ganti.

Sama nomer hp aja saya setia, apalagi sama pasangan.

Sepatu olah raga

Selain menyehatkan, sejatinya olah raga itu juga murah. Gengsi lah yang membuatnya jadi mahal. Sepatu harus merk ternama, jersey harus yang mahal. Kalau gak gitu takut gak diterima di komunitas. Akhirnya bela-belain beli yang kw. Sedihkan.

Buat saya, sepatu yang bagus tuh yang dipakai olah raga. Bukan cuma disimpan dijadikan koleksi.

Saya pakai sepatu nineteen. Selain buat lari, buat jalan-jalan keren juga.

Parfum

Bau harum memang bisa memberi efek positif dan meningkatkan kepercayaan diri. Tak heran jika banyak yang suka mengkoleksi parfum. Biasanya sih perempuan. Parfum untuk pergi kerja dengan pergi kondangan dibedakan. Tapi ternyata cowok ada juga yang seperti itu.

Saya prefer parfum dengan aroma lembut, yang aromanya gak nusuk hidung, gak mengganggu orang di sekitar. Beli parfum baru jika yang lama udah habis.

Jam tangan

Sempat tergoda untuk nambah jam tangan baru, smart watch. Buat keren-kerenan pas lagi lari, buat konten juga.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi ya buat apa. Toh sudah ada Strava di HP.

Ketenangan hati itu kan terletak pada sedikitnya keinginan.

Saya pakai Seiko 5 automatic. Diameternya gak terlalu besar, warna strap-nya cocok dengan kulit saya yang eksotis dan modelnya elegan. Sudah sepuluh tahun lebih dan masih saya pakai.

Kacamata

Dulu nyari kacamata yang harganya gak nguras kantong, dengan mengorbankan fungsi dan kenyamanannya. Akhirnya malah jarang dipakai. Minus pun jadi nambah.

Sejak saat itu, kalau nyari barang saya concern sama kualitas, kenyamanan dan efektivitas. Ada harga ada rupa.

Tumbler
Dengan membawa tumbler, kita bukan sekadar menghemat pengeluaran, namun juga turut menjaga alam agar tak tercemar dengan dengan sampah botol plastik.

Pilihan saya jatuh pada tumbler Eiger. Bisa diisi air panas atau dingin.

Dompet

Ini salah satu barang  yang cukup sentimental buat saya. Pertama kali punya dompet pas SMP, merk Dagadu. Kalau dibuka isinya dikit nyaring suaranya, karna ada perekatnya.

Saat ini saya pakai dompet kulit, modelnya sederhana. Yang istimewa adalah di dalam dompet itu ada foto orang-orang tercinta. Sebagai pengingat buat saya, agar selalu menyimpan uang halal di dompet itu.

Sepeda

Olahraga bersepeda makin ngetren di masa pandemi. Saking semangatnya, sampai ada yang ternak sepeda. Sudah punya road bike, nambah mountain bike, nambah lagi sepeda lipat. Ya gak papa sih.

Saya pakai ini aja THRILL Cleave 1.0.

Tas kerja

Sebenarnya punya banyak tas kerja, karna sering dapat gratisan dari kantor. Saya bagi-bagi ke saudara. Yang sering saya pakai tas slempang Kalibre. Simpel, gak terlalu besar.

Akun Medsos

Di IG, FB dan Twitter; saya hanya punya satu akun.

Paling tidak ini  mendorong saya untuk lebih bertanggung jawab saat buat postingan di medsos. Biasanya yang bikin akun anonim ini, orang yang pengen nyinyir, julid atau stalking tanpa takut ketahuan.

Lantas apakah tak boleh punya barang lebih dari satu? Tentu saja boleh banget. Pakaian kalau cuma satu, ya gak bakalan cukup. Buku tulis buat kuliah, pasti butuh lebih dari satu deh. Atlet sepak bola bisa punya lebih dari tiga sepatu, karna memang itu kerjaannya. Fotografer punya lebih dari lima kamera, karna nafkahnya di situ.

Jadi sesuaikan saja dengan keadaanmu. Kamu pasti tahu mana yang bener-bener kamu butuhkan.

Kalian punya barang apa aja yang cuma satu? Sini cerita yuk

Seragam Lebaran

Semenjak awal menikah hingga sekarang, belum sekali pun kami menggunakan baju seragam saat lebaran. Sebenarnya istri saya sudah pernah ngajakin, biar seru kayak orang-orang gitu. Saya nya aja yang keukeuh enggak mau.

Selama ini yang bajunya pernah kembar hanya anak-anak. Lucu aja lihat anak kecil pakai baju samaan. Imut dan gemesin. Pas anak-anak udah mulai gede, terserah pakai baju apa. Yang penting enak digunakan, pantas, sopan dan menutup aurat.

Meski begitu, saya gak pernah menghalangi jika istri pengen bikin seragam, dengan catatan saya nggak usah dibikinkan. Makasih banget deh.

Gak ada yang salah dengan seragam lebaran. Hanya saja tiap orang kan punya preferensi yang berbeda. Saya lebih suka keberagaman, kebebasan dalam berekspresi, termasuk dalam memilih pakaian.

Ada beberapa hal yang membuat saya no seragam-seragam club di hari lebaran. Pertama karena lebaran itu gak wajib baju baru. Banyak makna yang jauh lebih mendalam dibanding berlebih-lebihan dalam berbusana. Tentang kemenangan mengalahkan hawa nafsu, tentang menjalin silaturahim, tentang kebesaran jiwa untuk mau memaafkan.

Kesibukan kita dalam menyiapkan seragam lebaran, memilih bahan, mencari model yang bagus; jangan sampai membuat kita terjebak pada seremoni belaka, menjauhkan dari subtansi yang sebenarnya.

Hari raya lebaran memang layaknya pagelaran fashion show. Semua ingin mencuri perhatian tampil terbaik di hari fitri. Sayangnya tak sedikit yang terlalu memaksakan diri. Beli baju over budget, mentingin tren terbaru, tidak menyesuaikan dengan bentuk tubuh. Bahkan warna pilihan pun sering nabrak dengan warna kulit. *badan mungil tapi pakai kaftan yang rame, akhirnya malah terlihat semakin tenggelam.

Kedua, menurut saya ini termasuk pemborosan. Vibes-nya seragam lebaran biasanya formal banget, sulit dipadupadankan dengan pakaian lain dan gak cocok untuk baju harian.

Makainya hanya setahun sekali, itu pun hanya sebentar. Biasanya habis dhuhur udah ganti dengan baju kebesaran; daster, kaos oblong dan boxer. Ujung-ujungnya seragam lebaran hanya akan jadi pajangan di lemari.

Etapi ini hanya pendapat saya lho, belum tentu sejalan dengan pemikiran orang lain. Yang suka pakai seragam, silakan aja. Tetep keren kok.

Intinya pakaian apa pun yang digunakan harus bikin kita tenang, percaya diri, nyaman dan tidak insecure. Kita berdandan, memakai baju sejatinya untuk diri sendiri, bukan untuk menyenangkan orang lain.

Salam

Memilih Pasangan Dengan Tepat

Pasangan yang kita pilih akan menentukan bagaimana kehidupan selanjutnya. Jika dapat yang baik, setidaknya separuh kebahagiaan ada di genggaman. Kalau dapat yang buruk, bersiaplah berkawan dengan prahara.

Tentu saja tiap orang punya kriteria yang berbeda untuk menemukan belahan jiwanya.

Gambar dari IG @ bro_danang

Anak muda usia duapuluhan awal –yang gairah asmaranya sangat membara dan egonya tinggi– pasti maunya dapet paket lengkap. Detail banget.

Harus sedap dipandang mata, gak malu-maluin kalau diajak ke kondangan, body proporsional, gak seperti gapura selamat datang, tinggi semampai, bukan penganut bumi datar, kalau habis mandi handuk gak ditaruh di atas kasur, bisa masang galon dan LPG, preferensi politik sama, gak merokok, IP lebih dari 2.75, diajak ngobrol nyambung, dari keluarga baik-baik, penghasilan minimal 30 juta dan bukan Gemini.

Sementara mereka yang usia tigapuluhan, gak muluk-muluk lagi. Cukuplah baik, setia, penyayang dan punya kerjaan. Empat puluhan ke atas beda lagi, yang penting cocok dan ada yang mau aja deh.

Jika mencintai karena kecantikan dan kemolekan tubuh, akan selalu ada yang body-nya lebih bagus dari si dia. Jika memilihnya hanya karna kekayaannya, percayalah yang kita butuhkan tak sebanyak itu. Dunia dan seisinya, tak kan pernah memuaskan kita.

Lantas apa tolak ukur yang tepat untuk memilih pasangan? Kalau versi saya sih sebagai seorang muslim, agama menjadi pertimbangan utama. Ibadah formalnya bagus, akhlaknya pun terpuji. Ini tentang kesolehan dan keelokan hati. Setelah itu, boleh deh nambahin kriteria lainnya. Boleh kok milih yang cantik. Setidaknya cantik menurutmu.

Tapi ya tetep harus realistis dan sadar diri. Ngaca. Kalau standarnya tinggi banget, coba dipikir lagi deh kira-kira ada gak yang seperti itu. Mau gak orangnya sama kita, pantes gak dia buat kita. Dalam Islam, inilah yang disebut konsep sekufu, setara.

Ada beberapa value yang menjadi perhatian saya dalam memilih pasangan. Pertama, pinter. Gak harus punya gelar S2, dari kampus ternama. Gak gitu juga. Pinter menurut saya lebih dari itu. Ini tentang kemampuan dan kecerdasan dalam menghadapi lika-liku kehidupan. Pinter cari duit dan ngatur duit, pinter nyenengin pasangan dan mertua, pinter bergaul, pinter membawa diri serta pinter mengatasi konflik.

Value berikutnya adalah tentang sikap mental yang tahan banting, gak mudah menyerah, mau diajak hidup susah berjuang bersama. Memperjuangkan cinta, memperjuangkan impian dan harapan.

Soalnya setelah nikah, bukan berarti sudah selesai. Justru ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang.

Menikah memang indah, tapi tetep saja ada onak dan duri yang harus dihadapi. Mulai urusan finansial, karir pasangan, pendidikan anak, menghadapi puber kedua, melawan kebosanan, mengatasi krisis psikologis, menjaga hubungan dengan saudara, ipar maupun dengan tetangga. Pelik banget. Perlu saling mendukung dan saling menguatkan, agar semua rintangan bisa dilewati.

Yang jadi masalah adalah bagaimana kita tahu bahwa dia adalah yang terbaik buat kita. Gak mau dong kita beli kucing dalam karung.

Yang pacaran bertahun-tahun aja bisa dapat zonk, ketipu. Pas udah nikah mulai ketahuan semua belangnya.

Kepribadian orang memang susah ditebak. Tapi kita bisa menguliknya dari lingkungan pertemanannya, bagaimana tanggung jawabnya terhadap pekerjaan serta bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Ini urusan teknis banget. Pinter-pinternya kita aja lah.

Kita bisa minta bantuan orang tua, teman atau saudara untuk memberi masukan. Dan yang tak kalah penting adalah berdoa kepada Yang Maha Kuasa, agar kita diberi petunjuk. Shalat istikharah. Biasanya akan muncul kemantapan hati.

Dan pada akhirnya, kita harus mengakui dan menerima dengan lapang dada bahwa tak ada manusia yang sempurna. Masing-masing kita punya kekurangan. Sadari ini agar tidak demanding pada pasangan.

Pernikahan tak hanya tentang siapa pasangan kita, tapi juga tentang apa yang kita lakukan untuk pasangan kita.

Andil kita dalam membina keluarga sangat menentukan akan menjadi seperti apa pasangan kita. Ibarat membeli tanaman hias yang indah dan menawan, jika tak dirawat dengan baik, disiram, dipupuk; maka akan layu, menguning dan mati.

Begitu juga dengan pasangan hidup. Apakah setelah menikah dengan kita, ia menjadi lebih bahagia. Apakah ia tumbuh menjadi pribadi yang makin baik, makin dewasa dan matang, makin rajin beribadah serta makin bertanggung jawab.

Ini yang harus kita perjuangkan. Masing-masing harus berupaya memberikan yang terbaik untuk pasangan. Agar cinta makin bersemi indah, agar hari-hari yang dilalui makin penuh berkah dan bernilai ibadah.

Tabik.

Kalap Belanja

Tak hanya 12.12, di tanggal-tanggal cantik sebelumnya seperti 11.11 ataupun 10.10, saya berhasil menahan diri untuk tidak kalap belanja, meski banyak  promo dan diskon bertebaran.

Mumpung diskon 400ribu. Padahal kalau gak beli hematnya malah tiga juta.

Mending nyesel gak jadi beli daripada udah terlanjur beli trus kecele. Ternyata barangnya cuma gitu doang gak sesuai iklannya. Belum lagi nyesel karna kantong makin tipis, sementara gajian masih lama.

Ada lho yang seperti ini, bela-belain ngutang buat beli barang yang sebenarnya gak penting-penting banget demi pansos dan menaikkan citra diri. Padahal aslinya ya gitu deh.

Lihat barang lucu, bungkus. Ada gratis ongkir, langsung checkout. Promo cuma hari ini, langsung gaskeun, takut gak kebagian. Ngintip story teman punya ini itu, gak mau kalah juga, ikutan beli.

 

Mungkin karna sudah gak muda lagi kali ya, jadi banyak pertimbangan. Ingat anak, ingat cicilan, ingat kebutuhan lain yang lebih penting. Kan hidup bukan untuk hari ini saja. Kesannya malah seperti pelit ke diri sendiri ya, gak menikmati hidup.

Impulsive buying ini sebenarnya gak mandang usia. Tua muda bisa saja. Biasanya sih karna faktor kepribadian. Emang dari sononya demen tampil glamour, gayanya selangit. Bisa juga karna dulu pas kecil gak pernah dibeliin apa-apa, giliran udah dewasa dan mampu, akhirnya “balas dendam”. Apa saja dibeli.

Faktor lingkungan turut mempengaruhi juga. Jika berada di circle pertemanan yang penuh kompetisi, maka hobi belanja ikut meningkat. Di sebuah klub sepeda, jika ada teman pakai jersey baru, upgrade groupset dan frame; biasanya bakal mendorong yang lain untuk ikutan juga. Kejadian seperti ini juga dialami grup ibu-ibu arisan. Tentu dengan barang-barang khas bunda-bunda: tas, jilbab dan tupperware.

Agar nafsu belanja ini gak makin parah dan tak memperburuk kondisi keuangan, maka harus dikendalikan dengan baik. Harus ada kemauan kuat untuk melakukan perubahan. Misalnya kalau ada barang yang kita inginkan, jangan langsung dibeli.  Kasih jeda waktu sehari, dua hari atau seminggu untuk merenung, ini beneran penting atau tidak. Di situ kita akan menemukan jawabannya. Kalau di online shop, masukin keranjang belanja, tapi jangan buru-buru dibayar. Kadang gini aja udah bikin hati seneng.

Jika masih bimbang mau beli apa, Garmin atau Suntoo, mau pilih warna yang mana, seri berapa; sebenarnya ini sebuah pertanda bahwa barang tersebut gak perlu dibeli. Masalahnya, kita sering mengabaikan sinyal ini. Atau jika kita merasa barang itu masih terlalu mahal dan terpakasa harus nyicil, sejatinya barang itu pangsa pasarnya bukan buat kita.

Berikutnya, jangan jadikan belanja sebagai pelarian karna stress. Ini bahaya banget. Saldo bisa terkuras habis. Dan satu lagi, cobalah untuk menggunakan uang tunai saat berbelanja. Rasakan jeritan hati ketika melihat lembaran uang itu berpindah tangan ke orang lain. Beda banget ketika kita menggunakan mobile banking atau pakai kartu. Transfer kesana kemari, bayar ini itu, seolah gak berasa kehilangan uang. Tahu-tahu dah habis banyak. Cobain deh.

Masih ada sih tips lainnya, tapi ini extrim banget, hanya untuk lelaki pemberani. Titipkan kartu debit/kredit ke istri dan jangan pakai mobile banking.

Semoga tips ini bermanfaat ya. Kalau ada tambahan, silakan tulis di kolom komentar.

Salam

 

Ikan Bumbu Woku, Warisan Kuliner Nusantara Yang Istimewa

Jika tak ingat lingkar perut yang susah dikendalikan dan sering bikin malu saat sesi foto bersama, mungkin saya akan nambah sepiring nasi untuk menandaskan kepala ikan putih bumbu woku ini.

Ikan putih bumbu woku

Paduan ikan segar, cabai rawit, aroma daun pandan, kemangi dan serai serta aneka rempah-rempah khas seperti jahe, kunyit, kemiri; menghasilkan rasa yang istimewa. Gurih, manis dan pedas bersatu padu menari-nari di lidah. Tak hanya membuat liur menetes deras tapi juga sangat ampuh untuk membuat orang lupa diri.

bikin pengen nambah terus

Namun ini tak hanya soal rasa. Ikan bumbu woku adalah bagian dari perjalanan hidup saya ketika merantau di Palu.

Berkat kebiasaan saling berbagi makanan, saling mengantari bingkisan; hubungan kami dengan tetangga jadi makin akrab, jadi makin mengenal. Dan satu lagi, istri saya bisa mendapatkan bumbu rahasia masakan khas Sulawesi ini, dari tetangga dekat yang sudah seperti saudara.

Setelah berhasil mempraktekan salah satu warisan kuliner nusantara ini, kami sekeluarga jadi ketagihan. Ketika jenuh dengan menu ikan yang itu itu saja; dibakar, digoreng ataupun dibikin kuah asam manis, maka bumbu woku adalah oase di tengah gurun pasir.

Maknyuz. Endesss. Haoce

Salam

Beli Followers

Katanya sih kalau mau punya banyak follower di Instagram, kita harus rajin bikin postingan. Peduli amat kontennya bermutu atau tidak, pokoknya ngonten terus. Biar beken. Apapun kegiatannya, harus dikabarkan. Dunia harus tahu itu.

Dan saya termasuk orang yang gak terlalu aktif di medsos. Jadi ya jarang-jarang update konten. Makanya gak heran kalau dari dulu followers saya ya segitu-gitu aja.

Bagi sebagian orang, jumlah follower adalah harga diri. Ini menunjukkan tingkat ketenaran. Bahkan ada yang rela beli follower biar bisa jadi selebgram. Bisa untuk kepentingan bisnis juga sih.

Beberapa kali saya ditawarin jasa tambah follower dengan iming-iming harga murah, akun aktif dan garansi uang kembali. Namun selalu saya abaikan.

Follower bukanlah segalanya. Ada yang lebih bermakna dari sekadar statistik. Untuk apa banyak jika lancung.

Beli follower itu ibarat kita bikin konser, trus kita bayar orang-orang untuk datang dan bertepuk tangan. Padahal mereka sama sekali gak menikmati perform kita. Sebuah kepalsuan yang paripurna bukan?

Saya memilih untuk apa adanya saja. Gak perlu sok famous. Kalau konten kita bagus, tanpa disuruh pun orang akan dengan senang hati mengikuti. Kualitas sebuah akun tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pengikutnya. Tak sedikit akun-akun kecil yang kontennya mengesankan dan penuh faedah.

Tak hanya jumlah follower yang dikit, yang saya follow di medsos pun juga terbatas. Saya sengaja untuk selektif. Itu sebabnya gak semua teman di real life saya ikuti. Bukan karna gak suka atau musuhan. Di kehidupan nyata aja kita udah tahu, ngapain juga mesti kepo-in sampai dunia maya-nya.

Terkadang kita sungkan, gak enak hati karna sudah difollow seseorang, akhirnya follow balik. Padahal gak ada kewajiban seperti itu lho. Kita bebas memilih akun yang kita follow.

Ini juga salah satu trik biar gak lama-lama mantengin sosmed. Kalau yang kita follow dikit, pas buka sosmed pasti isinya itu-itu aja. Akhirnya bosen dan letakkan hp.

Semakin banyak yang kita follow, semakin banyak informasi tentang orang lain yang kita terima. Oh si A lagi begini, si B lagi jalan-jalan ke sana. Ini akan menggiring kita untuk terlalu ngurusin kehidupan orang lain. Bisa-bisa malah ngebandingin antara kita dengan orang lain. Hal ini bisa mengurangi tingkat kebahagiaan, menjauhkan kita dari orang terdekat dan mengurangi produktifitas kita.

Di medsos, semua orang nampak bahagia, keren, pinter dan sempurna. Dan banyak yang menyangka semua ini nyata. Padahal semua sudah dikurasi dan diedit. Kita hanya menampilkan sisi terbaik kita.

Jadi, santai aja main sosmed. Gak usah dibawa serius. Sosmed hanyalah selingan dan hiburan. Ada sisi positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana kita menggunakannya. Tetap kontrol diri dan gak berlebihan.

 

 Salam

Sandal Eiger, Teman Setia Perjalanan

Setelah lima tahun menemani, akhirnya sandal gunung ini tumbang juga. Sol bawahnya terkelupas dan patah. Yang sebelah kanan. Sebelah kiri masih kuat dan bagus. Agak menipis, tapi masih bisa digunakan.

IMG_20200808_070143-01

terima kasih telah menjadi kawan setia dalam perjalanan

IMG_6skjtq.jpg

selfoot dari ketinggian, paralayang dari Gunung Matantimali Palu

Banyak kenangan indah yang tertoreh, kala saya berpetualang dengan sandal ini. Bersepeda, menyusuri sudut kota, membelah langit, menembus kesunyian, menyibak pekatnya malam maupun mendaki.

me.jpg

topi dari 2006, kemeja dari 2011; dan sampai sekarang masih saya pakai

P1050622

my trip my sppd. upssss

100_8247-02

buat rafting asyik juga

Sandal ini layaknya sahabat setia yang bisa diandalkan. Selain tangguh dan nyaman, modelnya juga keren. Fashionable. Dipadukan dengan celana panjang slim fit, training, celana pendek maupun sarung juga pantes. Satu lagi, awet. Asal gak hilang, bakal bertahan lama.

Sandal gunung pertama saya hanya berumur setahun. Hilang pas di masjid.

Inilah yang menyebabkan saya jatuh hati padanya. Kecintaan ini bermula saat SMA. Seorang kawan mengajak saya jalan-jalan ke Madiun –satu jam perjalanan dari Ngawi– untuk beli celana gunung merk Alpina.

Alpina adalah brand adventure outdoor gear yang merajai di tahun 90-an, sebelum ada Eiger, Rei dan Consina.
IMG_yfk6fq.jpg

di air terjun Wera Donggala Sulawesi Tengah

Begitu masuk tokonya, saya langsung tercengang. Wow, ada sepatu, sandal, topi, botol minum, tali, tas dan perlengkapan outdoor lainnya. Sayangnya waktu itu saya gak punya duit. Jadi ya gak beli apa-apa, cuma lihat-lihat. Dalam hati saya bergumam, suatu saat pengen punya sandal gunung.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian akhirnya kesampaian juga keinginan saya punya sandal gunung, celana gunung dan juga carrier.

atas taman sari

penampakan sandal gunung & celana outdoor yang pertama kali saya miliki. 2002

Semenjak saat itu, saya mulai rajin mengoleksi perlengkapan outdoor dari berbagai merk. Gak pernah fanatik sama satu merk. Selama barangnya bagus, sesuai dengan selera, pasti saya pilih. Dan untuk menggantikan sandal yang telah rusak, saya memilih Eiger Caldera Men 1.0

IMG_20200805_175648_HDR-01

cakep gak?

Sebenarnya ini bukan pilihan pertama. Sempat melirik merk Rei maupun Consina, namun tak ada yang memikat hati. Yang paling banyak jenisnya ya Eiger. Setelah menyeleksi beberapa tipe yang ukuran 43, pilihan jatuh ke model Caldera.

IMG_20200805_175723_HDR-01

sol bawah Eiger Caldera

Sandal fleksibel ini dilengkapi fitur outsole rubber dan tali hook-and-loop yang mudah disesuaikan agar nyaman dan pas dipakai. Selain itu, designnya minimalis, warnanya kalem dan terasa ringan. Saat dipakai, tingkat kekerenan saya meningkat 67,38%.

IMG_20200812_095052_HDR-01.jpeg

teruslah melangkah, jangan takut pada jarak

Ada tips sederhana nih, biar sandal gunung awet dan tahan lama. Pertama, jangan suka nginjek tali belakangnya. Biasanya ini terjadi karna males melepas atau masang talinya. Akhirnya maen injek aja, biar cepet. Kedua, cuci sandal bila kotor. Percayalah, apa yang dirawat tak kan pernah khianat.

Semoga sandal ini akan jadi teman yang menyenangkan untuk memulai petualangan seru berikutnya.

Kalau kalian suka sandal yang seperti apa? Sini cerita yuk.

PS: Bonus lagu Mahameru Dewa 19

Salam lestari.