Bukan Karna Gaji Yang Kecil

Jika ingin melakukan terapi kesabaran, cobalah untuk ngurus E-KTP di kantor catatan sipil. Warga berjubel sedari pagi, antrian gak jelas dan prosesnya pun berbelit-belit. Sudah gitu blanko e-ktp kosong pula. Kosongnya berbulan-bulan. Capek deh 😛

Padahal ekspektasi saya, bakalan dapat kartu baru. Ternyata cuma selembar kertas A4 yang sangat tuiipis. Dan nggak tahu sampai kapan menunggu. Bikin ATM aja lima menit selesai, bikin e-ktp dari abad kejayaan sampai sekarang belum kelar. Urusan yang lain jadi sedikit terhambat gara-gara  E-KTP belum jadi.

Gantinya E-KTP

Semua pangkal masalah e-ktp ini adalah korupsi. Begitu kejamnya korupsi. Yang berbuat pejabat, rakyat yang jadi korban. Dari total proyek senilai 5,9 triliun, sebanyak 2,3 triliun dibuat bancaan para pejabat. Para pejabat yang terhormat, kaya dan berpendidikan tentunya.

Jadi, korupsi itu bukan hanya karna gaji yang kecil. Korupsi adalah fraud yang berkenaan dengan kekayaan negara, kekayaan yang sejatinya dimiliki oleh seluruh rakyat. Fraud terjadi karna tiga hal yang biasa disebut dengan Fraud Triangle.

The Fraud Triangle

Yang pertama karna Pressure atau tekanan.  Ini adalah sebuah syahwat yang mendorong seseorang untuk melakukan fraud. Biasanya sih karna masalah finansial atau kebutuhan. Hmm, bukan kebutuhan sih. Tapi keinginan duniawi yang tak bisa dikendalikan.  Gaya hidup mewah, pengen terlihat kaya, tagihan hutang sana sini, gaji masih receh tapi sok-sokan beli Fortuner, istri minta belikan tas hermes. Dipadu dengan keserakahan dan ketamakan. Lengkap sudah.

Penyebab berikutnya adalah Opportunity. Kalau kata bang Napi, korupsi terjadi bukan karna ada niat pelakunya, tapi karna adanya kesempatan. Kerja di bagian yang basah, trus sistem pengawasan internal yang longgar, bisa menjadi sebuah peluang emas untuk melakukan fraud. Atau pas jadi pejabat, mumpung lagi jadi anggota dewan. Pokoknya aji mumpung.

Penyebab terakhir adalah Rationalization. Ini adalah semacam pembenaran.

“Ah cuma nilep sedikit, yang lain juga ngambil kok”
“Gak papa…, kita kan dikasih bukannya minta secara paksa”
“Ini kan demi membahagikan keluarga, insya allah berpahala”
“Nanti kan buat nyumbang anak yatim juga” *emang malaikat bisa disuap

Ada fakta lain menarik tentang korupsi. Berdasarkan hasil survey :

*90% pelakunya adalah laki-laki. Kaum adam jangan berkecil hati. Ini kan dilakukan demi wanitanya. Wanita simpanan #eh

* 70% berpendidikan S1. Makanya jangan sekolah tinggi-tinggi. Buat apa gelar panjang kalau gak jujur.

* 50% lebih kasus korupsi terungkap bukan karna audit atau kontrol yang bagus. Tapi karna laporan dari rekan kerja, suplier ataupun klien. Ini biasanya karna barisan sakit hati yang berkoar-koar, pembagiannya gak rata sih.

*Setelah dua tahun, fraud baru terungkap. Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Tak akan pernah bisa menutupi bau busuk.

Daripada fraud, mending kerja yang bener. Bismillah saja, semua sudah diatur. Selama mau berusaha, kita gak bakal mati kelaparan. Hasil tak pernah mengkhianati usaha. Dan rejeki gak bakalan diambil orang lain kok. Tenang saja. 

Eh btw, kalau nyontek pas ujian, bohongin istri soal jumlah gaji, trus selingkuh juga; itu termasuk fraud gak ya? 😁

Konsumen Adalah Raja

Saya orangnya gak ribet. Lebih suka mengalah daripada harus  berdebat panjang. Kalau ada yang reseh, ngomong macem-macem, palingan saya iyain aja. Biar cepat selesai.

Meski suka mengalah, bukan berarti saya gak berani melawan. Jika diperlakukan tidak baik, pasti saya bereaksi. Ibarat ada yang jual, saya saya beli lah. Tapi tetep dengan cara yang elegan, gak marah-marah, pakai gebrak meja segala.

Seperti beberapa hari yang lalu, saat saya sedang tugas di Balikpapan. Saya sudah dibookingkan hotel sama teman. Pas nyampe hotel, dibilang resepsionisnya, kamar penuh.

“Lho gimana sih mbak, kan udah booking 2 hari lalu”

“Maaf mas, kami kedatangan rombongan tamu dari kementerian. Saya oper ke hotel depan saja ya. Masih satu manajemen dengan kami. Kamarnya sudah disiapkan”, kata mbak resepsionis.

Oh, jadi saya yang dikorbanin. Oke, fine. Saya terima tawaran itu, toh hotel yang baru gak jauh. Cuma sepelemparan batu. Dekat dengan lokasi acara saya juga.

Sayangnya, hotel yang baru ini kurang memuaskan. Pas mau masuk kamar, pintunya susah terbuka. Feeling saya mulai gak enak nih. Mau nonton tivi, remote gak berfungsi. Pas mau mandi airnya keruh, seperti air sungai. Hotel apaan nih.

Saya turun ke resepsionis, bilang mau check out, karna fasilitas hotelnya parah banget. Saya minta balikin duit saya. Lagian belum sejam di kamar. Tapi bilang resepsionis gak bisa. Kalau mau check out, duit yang kembali cuma 50%. Wuih enak saja.

Saya minta ketemu manajer hotel, tapi manajernya gak mau keluar nemuin saya. Ngajak berantem nih. Pengen marah rasanya.

Akhirnya saya bilang ke resepsionis. Ini kan kesalahan pihak hotel. Kalau uang saya gak dibalikin utuh, saya akan laporkan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Ombudsman RI. Saya juga akan buat pengaduan ke Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Dinas Pariwisata, Dinas Perijinan, Kaltim Post, Kompas. Saya akan tuntut karna perbuatan tidak menyenangkan.

Saya ngomong seperti itu dengan suara kalem tanpa emosi. Tapi sorot mata saya seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Raut wajah resepsionis seperti ketakutan dan langsung nemuin manajernya. Akhirnya duit saya bisa dikembalikan utuh. Ternyata harus digertak dulu, baru takut.

Akhirnya dapat hotel yang bagus, kamar yang nyaman. 

Sebagai konsumen, tak jarang kita diperlakukan seenaknya dan dirugikan. Padahal konsumen punya hak, dilindungi Undang-Undang pula. Makanya jangan takut untuk melawan. Lawanlah dengan cara yang cerdas. Tanpa kekerasan. Semua bisa diselesaikan dengan baik-baik.

Kalian pernah punya pengalaman tak menyenangkan sebagai konsumen? Apa yang kalian lakukan?

 

[Review] Sepatu Lari 910

“Jika kamu bisa rutin baca buku, lari dan bisa tidur nyenyak; itu artinya kamu tidak stress”

Selain bersepeda, saya juga suka lari. Lari sebenar-benar olahraga, bukan lari dari kenyataan atau lari dari tanggung jawab. Olahraga ini sangat gampang dan murah. Hanya butuh kemauan yang kuat dan sepasang sepatu.

Manfaatnya pun banyak. Berlari merupakan bentuk latihan terbaik untuk menjaga berat badan agar tetap ideal. Lari juga akan memperlancar aliran darah, meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh. Jika kamu sering kesepian, berlarilah. Berlari untuk mencintai sepi dan sendiri. #ihiiirr

Namun karna sekarang olahraga lari lagi hitzz di kalangan masyarakat, sebagian orang justru membuat olah raga ini jadi ribet. Sepatu harus branded, kostum harus yang keren, aksesoris lain seperti jam tangan Garmin, topi, kacamata, tas dan lain-lain mesti ada. Nah ini mau cari keringat atau mau mejeng?

Bahkan ada yang saking pengennya tampil modis saat lari, terpaksa beli sepatu bermerk, tapi KW. Biar kelihatan orang berduit. Padahal barang KW, replika ataupun semi ori adalah sebuah kebohongan dan pembajakan. KW adalah sebuah upaya menyamarkan produk palsu.

Saya justru lebih respek pada produk lain yang ori, meskipun harganya murah. Sepatu lari saya yang lama merk-nya Conae, produk lokal. Kualitas bagus, modelnya juga cakep dan harga bersahabat. Pengennya sih pakai Adidas, Nike, Puma, Diadora atau Reebok. Tapi karena harganya lebih dari satu jeti, gak jadi deh. sya cukup tahu diri.

Selama tiga tahun saya pakai sepatu Conae untuk lari. Bagian tumitnya agak rusak, karna jam terbangnya yang tinggi. Sudah saatnya ganti yang baru.

sepatu lama saya, Conae

Dan pilihan saya untuk sepatu lari yang baru adalah merk 910. Ini adalah produk baru yang dikembangkan dari perusahaan di Jepang. Nine Ten mempunyai konsultan design di kota Hanshin, Osaka, Jepang dan kantor cabang di Shenzhen, China.

dari Instagram @910shoes

warnanya ijo ngejreng

pilih model ini atas saran ponakan saya

Meski keren dan canggih, sepatu ini harganya sangat bersahabat. Mulai dari 179rb sampai 350rb. Selain murah dan berkualitas, sepatu 910 juga dilengkapi teknologi terkini.

coba hitung ada berapa lingkaran hitam di alas sepatu 910

joging pagi

Di sepatu 910 disematkan Insole Gel Technologi (IGT). Fungsi dari teknologi ini tidak lain agar kaki terhindar dari cedera panjang karena tumit sering menjadi tumpuan beban saat sedang melakukan aktivitas lari.

penampakan Insole Gel Technology (IGT)

Produsen sepatu 910 juga memanjakan konsumen dengan menghadirkan aplikasi di Android bernama Nine Ten Running Coach. Dengan aplikasi ini, kita bisa mengetahui jarak lari, ritme jantung dan kalori yang terbakar.

tersedia di Google Play

aplikasi NTRC

setengah jam lari, masa cuma 43 kalori yang terbakar?

Jadi gimana, kalian masih mau beli sepatu yang KW? Atau mulai tertarik dengan Nine Ten? Buruan beli deh, ntar kita lari bareng-bareng. Saya tunggu di Taman Cendana, setiap Sabtu pagi.

Sekolah Harus Mahal?

yourstory-education

Gambar dari sini

Sudah dua kali anak saya pindah sekolah, sewaktu TK dan SD. Ini terjadi karna saya pindah kerja ke kota lain. Membayangkan dia harus adaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi kurikulum yang tidak sama, serta harus meninggalkan teman-teman akrab di sekolah lama, saya jadi kasihan.

Tentu bukan hal mudah bagi anak sekecil itu. Namun kecemasan itu sirna, saat melihat  dia disambut teman-teman barunya dan pulang sekolah dengan wajah berseri. Sudah punya teman baru, kata anak saya. Hamdalah

Saya berharap, justru karna sering pindah-pindah inilah, anak saya bisa mendapatkan pelajaran baru dalam kehidupan yang mungkin tidak ia dapatkan di sekolah. Tentang bagaimana bersosialisasi, bertahan hidup dan memecahkan sebuah masalah. Sebab setiap orang adalah guru. Setiap tempat adalah sekolah dan setiap hari adalah proses belajar.

Sebelum memilih sekolah yang baru, saya berembuk dengan istri. Dan tentu saja dengan anak-anak. Saya tak mau asal memilih sekolah. Tugas orang tua memang memberikan yang terbaik buat anak. Terbaik bukan berarti mahal. Asal mahal, asal ikut-ikutan teman atau asal merknya bagus.

Ada mitos, semakin mahal sekolahan semakin bagus kualitasnya. Ini tak sepenuhnya benar. Saya justru percaya, semakin panjang titel sekolahannya, semakin besar iurannya. Tengok saja RSBI, sekolah alam, sekolah otak kanan, sekolah model, sekolah standar nasional atau sekolah terpadu.

Kenapa sih sekolah itu jadi mahal? Karna gaji gurunya tinggi, fasilitasnya lengkap, metodenya bagus, bukunya mahal…., atau karna gengsinya?

bydbsojcyaan5tn-jpg-large

ini bayarnya pakai duit atau daun?

Menurut saya, ada beberapa hal yang bikin sekolah mahal. Yang pertama karna para orang tua menganggap sekolah adalah penitipan anak. Anaknya full day school, ortunya full day at office. Orang tua gak perlu repot, malam tinggal nyuruh si anak tidur aja. Di mana peran orang tua dalam mendidik anak, jika semua dipasrahkan ke sekolah?

Berikutnya, karena orang tua menjadikan sekolah sebagai investasi yang diharapkan bisa balik modal bahkan untung. Kalau sekolah di sini, biar bisa jadi ini, bisa kerja di situ. Kalau anaknya malah tambah stress di sekolahan, ortunya juga makin pusing karena bayarnya mahal, ini kan malah berabe.

Pendidikan adalah kebutuhan, sekolah keren mahal hanyalah keinginan para orang tua. Keberhasilan anak bukan hanya ditentukan sekolah. Faktor lingkungan dan keluarga juga punya andil yang sangat besar. Harus ada sinergi yang baik antara ketiganya.

Yang masih menjadi pertanyaan saya sampai sekarang adalah, kenapa yang dulunya menempuh pendidikan di sekolah biasa, dan bahkan bandel, bawa buku cuma sebiji, ditaruh di belakang baju; justru “jadi orang”. Gak habis pikir saya. Itu karna hasil pendidikan, nasib atau takdir?

 

Kemana Kita Harus Pulang?

Kaos yang saya pakai saat pergi meninggalkan kota Palu, ternyata cukup menyita perhatian teman-teman yang mengantar ke bandara. T-shirt lengan panjang dengan paduan warna abu-abu dan merah maron. Di dada bagian depan terdapat sebuah tulisan “..sebab sebaik-baik tujuan perjalanan adalah pulang“.

img-20170205-wa0000

penampakan kaos

Mungkin tulisan itulah yang menggelitik mereka. Kaos ini sengaja saya design sendiri untuk perpisahan. Pilihan warnanya pun punya makna. Merah maron menggambarkan suasana hati yang berdarah-darah karna perpisahan.

Ehmm, sebenarnya bukan perpisahan yang menyedihkan, tapi kenangan tentangnya. Pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Namun, kenangan dan perasaannya tinggal terlalu lama. Itu yang membuat hati tercabik-cabik. Padahal perpisahan bukanlah segala-galanya. Ini adalah cara Tuhan menyayangi kita, lewat rindu yang semakin menjadi-jadi, lewat jarak yang tak lagi dekat. Tapi tetap saja saya sedih. Fix, saya lemah.

diantar sampai ke Bandara Mutiara Palu. Makasih man teman

“Wah mentang-mentang pindah”
“Artinya apa tuh bro?”
“Kan gak pulang kampung, kenapa tulisannya gitu mas?”

Itu sebagian pertanyaan yang muncul tentang tulisan di kaos saya. Belum sempat jawab, eh pesawat harus segera take off. Saya merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan hal ini pada khalayak, agar tak terjadi fitnah. *halah

Buat saya, bisa pulang atau tidak itu gak masalah. Yang penting kita sudah berkelana dan berjuang mencari jalan pulang. Karna pulang itu tidak mudah. Ini adalah perjalanan terberat seorang petualang kehidupan. Pulang yang sebenar-benar pulang, bukan di persinggahan sementara yang melenakan.

Lalu kemana seharusnya kita pulang? Ke kampung halaman, ke dekapan orang tua atau ke pangkuan Illahi? Pulang bisa kemana saja. Kepada orang-orang yang kita sayangi, menuju tempat melepas lelah setelah perjalanan panjang, atau menemukan lingkungan yang damai. Itu juga bagian dari pulang.

Saat kita tahu kemana sesungguhnya harus pulang, kita akan berhati-hati menapakkan langkah. Kita kan berusaha meninggalkan jejak yang bermakna. Karna sesungguhnya hidup hanyalah perjalanan panjang menuju pulang. Dari ketiadaan ke ketiadaan. Jika ada cahaya di hati, kan kautemukan jalan itu.

c360_2017-02-04-11-48-09-006

@ Bandara Sepinggan Balikpapan

Akhirnya Pindah [Juga]

Kantor saya punya kebiasaan aneh unik. Setiap beberapa tahun sekali, selalu memindahkan karyawannya. Pindahnya gak main-main, mulai dari kota kecil yang sering mati lampu sampai ke kota besar yang macet dan langganan banjir.

Dari ujung barat ke ujung timur Indonesia. Ada teman saya yang sudah merasakan lima pulau besar di Indonesia. Saya baru pernah di Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Jangan ditanya gimana rasanya. Campur aduk pokoknya. Ada senengnya, ada sedihnya. Serulah. Awalnya saya agak parno kalau dimutasi. Tapi lama kelamaan biasa juga.

Di manapun ditugaskan, saya berusaha untuk betah. Meski tinggal di kota yang biaya hidupnya mahal, sepi, gak ada hiburan atau di kota besar yang penuh dengan pusat keramaian.

Karna menurut saya, yang bikin betah atau seneng itu bukan kondisi kota, tapi hati kita. Mau di mana pun, kalau hati kita masih ngedumel, gak mau berdamai dengan diri sendiri, akan sulit menemukan bahagia.

Baca lebih lanjut

[Give Away] Oleh-Oleh Khas Palu

Dulu saya sangat malu kalau tulisan saya dibaca orang lain. Makanya pas pertama kali punya blog, sengaja gak saya tunjukin ke teman-teman. Saya yang nulis, saya sendiri pula yang membaca.

Sampai pada akhirnya saya punya keberanian untuk ngasih tahu ke khalayak, ini lho blog saya. Meski kualitas tulisan saya masih amburadul, biarin aja. Saya pasang muka tembok. Gak akan kecewa jika diolokin.

Keberanian itu muncul dengan sendirinya, bukan atas dorongan rasa pamer. Saya hanya ingin berbagi apa yang saya rasakan. Berbagi kisah, berbagi pengalaman dan berbagi keceriaan lewat sebuah tulisan.

Pengennya sih apa yang saya tulis ada manfaatnya dan bisa menjadi sarana mengalirkan energi kebaikan. Yang nulis hoax dan  berita provokatif aja pede, kita yang nulis bener kok malah minder. Ini juga yang membuat saya semakin semangat untuk menulis.

Tapi ternyata untuk konsisten menulis itu tidak mudah. Butuh nafas yang panjang untuk merawat sebuah blog. Kadang malas, kadang kehabisan ide. Tak jarang kesibukan sehari-hari jadi alasan untuk tak menengok blog kita. Rasanya saya mesti banyak belajar pada blogger lain, agar konsistensi dan kualitas tulisan saya semakin bagus.

Hampir tiga tahun blog ini hadir menyapa kalian. Sebagai wujud rasa terima kasih kepada teman-teman yang telah mampir, membaca dan ngasih komentar; saya akan bagikan oleh-oleh khas kota Palu berupa Bawang Goreng, Kopi Jahe, Abon Ikan Roa dan Sambel Roa. Hadiah ini hanya untuk satu orang ya.

dijamin rasanya maknyuuzzz. hadiah ini buat satu orang ya

Ini juga wujud apresiasi saya kepada sesama blogger yang sudah menghadirkan tulisan-tulisan menarik, informatif dan positif; di tengah gempuran berita hoax, provokatif dan berita-berita lain yang kontennya kurang mendidik.

Bagaimana syarat untuk mendapatkan hadiah give away? Mudah saja.

Pertama, jika kalian punya twitter, silakan follow saya @bro_danang

Kedua, jawab pertanyan ini : “Apa motivasi kalian menulis?”
Ketiga, “Bagaimana cara kalian mengatasi kejenuhan dan malas merawat sebuah blog?”

Gampang kan. Saya tunggu jawabannya sampai hari Senin tanggal 23 Januari 2017 jam 09.00 WIB. Tulis saja di kolom komentar. Selain buat seru-seruan, semoga give away ini bisa meningkatkan silaturahmi diantara kita. Makasih ya.

Sepiring Sukun Goreng dan Kenangan Masa Lalu

Sebagai pemuda desa yang kini terdampar jauh di pulau seberang, saya sering disergap rindu. Salah satu upaya saya menuntaskan rindu itu adalah dengan menikmati kuliner khas desa.

Sayangnya, di tempat perantauan sekarang agak sulit menemukan kuliner kampung halaman. Gempuran makanan modern mulai menjejali tiap sudut kota. Gerai-gerai fast food, cafe dan restoran anyar langsung merebut hati kawula muda yang ingin dianggap kekinian. Saya gak anti sama makanan modern, suka juga kok. Asal gak mahal aja 🙂

Kuliner yang ingin saya nikmati adalah sukun goreng. Nama latin buah sukun adalah Artocarpus Communis. Meski ada communis-nya, buah ini tetep halal dimakan. Kandungan karbohidrat dan proteinnya tinggi, namun rendah kalori. Cocok buat yang lagi diet. Baca Selengkapnya

Jangan Pernah Ragu Membuat Resolusi Baru

Waktu terasa cepat saat kita bahagia. Bener gak sih? Tak terasa si kecil sudah masuk SD, tiba-tiba sudah weekend lagi, tahu-tahu sekarang sudah Desember. Tahun baru sudah di depan mata. Sudah siap-siap liburan dan pesta kembang api merayakan pergantian tahun.

Tahun baru adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun serta membuat resolusi tahun depan. Seringnya sih bikin resolusi banyak banget, hanya di bibir saja, gak pernah ditulis. Dibuat dengan gagah perkasa tanpa komitmen, dan kemudian dilanggar tanpa rasa bersalah. *ini sih gue banget

Tapi tak apalah. Berani membuat resolusi saja itu sudah bagus. Artinya berani  bermimpi, berani melakukan sesuatu yang baru.  Setidaknya hidup menjadi lebih greget, karna ada target yang hendak dicapai. Melakukan sesuatu yang baru adalah salah satu bentuk kesuksesan. Mengubah kebiasaan buruk juga sebuah kesuksesan.

Tak punya resolusi pun keren juga. Artinya pasrah dengan nasib. Mengalir begitu saja, jadi gak kecewa saat menerima kegagalan. Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Toh hidup tak harus sempurna, tak mesti sesuai rencana. Kalau semuanya selalu perfect ; gak ada masalah, gak kena macet, gak pernah kecewa, gak ada konflik.., apakah hidup jadi lebih menyenangkan?

Lalu, bagaimana sebaiknya membuat resolusi agar tidak gagal total? Menurut para pakar, sebaiknya resolusi ditulis. Tulisan tangan akan lebih memberi kekuatan. Tulis apa yang ingin diraih dan bagaimana cara mencapainya. Akan lebih baik lagi jika diberi tanggal atau perkiraan waktu, biar tidak mengambang. Sertakan pula niat dan kesungguhan yang besar.  Ini yang tak kalah penting.

Pertama kali saya punya resolusi, tak ubahnya seperti daftar belanja. Pengen punya sepeda lipat, pengen punya smartphone, pengen beli ini beli itu. Ada juga yang lain sih seperti pengen jalan-jalan, pengen rajin ke masjid, pengen punya hobi baru, pengen giat olahraga, pengen sixpack, pengen menguruskan badan serta menggendutkan rekening.

Kenapa rajin olahraga saya masukkan dalam resolusi? Karena sebuah studi menemukan fakta menarik, orang yang rutin olahraga terbukti mampu mengendalikan diri dalam pengeluaran uang. Terjauh dari sifat konsumtif dan boros. Rajin olahraga juga membuat seseorang tidak mudah stress, lebih tangguh menghadapi kerasnya kehidupan dan lebih disiplin dan lebih termotivasi.

Semua keinginan dan rencana saya tulis di sebuah buku. Saya menyebutnya “Dream Book“. Ada yang tercapai, tapi lebih banyak yang enggak. Mungkin karna resolusinya buat tahun depan, jadinya ditunda-tunda. Setahun kan panjang. Padahal kalau mau olah raga, mau fitnes, mau rajin ke masjid, kenapa mesti nunggu tahun depan. Mendingan langsung saat itu juga dilakukan. Langsung berubah, gak pake lama.

Kini selain membuat resolusi, saya juga berusaha menyusun kelebihan dan  kekurangan diri. Mencari sepuluh kekurangan untuk diperbaiki dan sepuluh kelebihan untuk dieksplorasi. Ternyata tak mudah mencari kekurangan diri, karena kita selalu berusaha menutupinya. Manusia kan emang gitu. Kalau nyari kekurangan orang lain mah gampang. Jangankan sepuluh, limapuluh pun saya bisa. *tabok pake sandal

Misalnya selama ini saya gak rapi, berantakan banget. Maka resolusi tahun depan gak boleh berantakan, harus rapi dan rajin. Etapi kenapa mesti nunggu tahun depan, kenapa gak sekarang? Kalau gak mau berubah sekarang, berarti niatnya ndak besar.

Resolusi tahun baru itu cuma memanfaatkan momen saja. Kalau mau mengubah sesuatu bisa kapan saja. Lakukan sekarang atau tidak sama sekali. Ketika kita menunda besok, maka yang akan terjadi adalah, kita menunda selamanya.

If everyday is a new day, why wait for a new year?

Momong Anak

Saya pernah membaca sebuah cerita, tentang anak kecil yang menabung demi membeli waktu Ayahnya. Katanya sih Ayahnya sibuk sekali mencari nafkah, kejar setoran. Jadi gak ada waktu buat keluarga, gak sempat main sama anaknya. Singkat cerita, pas tabungannya sudah cukup, si anak minta waktu sejam agar Ayahnya mau menemani bermain.

Entah cerita ini beneran atau rekaan, tapi moral of the story nya; hadiah terbesar bagi anak adalah waktu yang kita luangkan untuknya. Buat anak-anak, cinta adalah kebersamaan.

Anak kecil itu sukanya kalau diajak main. Main apa saja pasti suka. Jangan salah, bermain itu ternyata sangat penting untuk perkembangan fisik dan mental.  Anak kecil kalau kurang main malah bahaya. Dampaknya bisa membuat si kecil tidak bahagia, kurang kreatif dan susah bergaul dengan yang lainnya. Makanya sesibuk apapun, luangkanlah waktu buat si kecil. Jangan sampai ntar nyesel deh.

Nah di Palu, ada satu tempat yang asyik buat momong anak-anak yaitu di anjungan Taman Ria. Lokasinya di jalan Raja Moili, depan TVRI Palu. Dijamin anak-anak kecil pasti suka kalau diajak main kesitu. Merasakan semilir angin laut, bermain odong-odong, skuter, sepatu roda, mancing ikan dan beli mainan. Mau wisata kuliner juga ada. Cobalah!

1

Anjungan Taman Ria

2

Kereta Mini. Sekali naik bayar 10rb

3

Siapa mau naik helikopter?

5

Emaknya pun ikutan mancing

6

Kalau anak-anak kelebihan energi, suruh main loncat-loncat di sini

4

Muter-muter naik doraemon

15

Anjungan Taman Ria berada tepat di tepi pantai.

8

Sewa skuter, motor-motoran. 25ribu / 30 menit

9

Mau main sepatu roda? Ada yang nyewain tuh

11

Di sini tempat ngumpulnya mahmud & pahmud

16

Pisss

7

Mainan anak, harga murah meriah. Jangan segen nawar

13

Dipilih…dipilih. Aksesoris cewek

14

Habis ashar sudah mulai rame

10

Mua ngopi atau saraba? Pesan di sini bisa lho

11

Haus, tinggal pilih

12

Wikennya lelaki sejati itu momong anak

The best gift you can give to someone is your time, because you’re giving them something you can never get back. – Unknown.