Gaji Kok Kurang Terus Sih

Ketika sedang bokek, seseorang bisa berubah drastis. Tiba-tiba jadi reseh, mudah marah, nyinyir dan sinis pada orang lain. Wajar sih. Saat lagi gak punya duit, kemampuan untuk berpikir jernih dan kreatif hilang. Maklumin aja.

Bokek ini tak ada kaitannya dengan penghasilan besar maupun kecil. Sebesar apapun gaji, jika tak dikelola dengan baik akan selalu kekurangan. Tak perlu menunggu akhir bulan, seminggu setelah gajian pun; tak sedikit yang tongpes. Ironis kan. Padahal mengelola keuangan dengan baik itu bagian dari syukur lho.

Saya punya beberapa tips nih, agar berkecukupan dan gak selalu pusing saat tanggal tua. Bukan karna saya kaya banget. Bukan. Saya hanya amtenar biasa. Tapi terhadap apa yang telah Allah berikan, saya sungguh merasa kaya.

Mental kaya ini membuat kita selalu merasa cukup, nggak merasa paling menderita, nggak merasa kehilangan tatkala berbagi dan menjauhkan diri dari sikap meminta-minta

Pilar utama agar keuangan kita sehat adalah jangan sampai besar pasak daripada tiang. Harus tahu diri. Kalau mampunya naik supra, gak usah beli Inova, biar dikira kaya. Toh transportasi online sudah banyak, murah pula. Soalnya kalau beli mobil harus dipertimbangkan antara harga dengan fungsi. Belum lagi bahan bakar dan perawatannya. Mobil kan liability, bukan aset.

Duit cukupnya cuma buat liburan ke Jogja, ya gak perlu maksain ke Eropa demi ngejar feed instagram keren dan banyak like. Sesuaikan gaya hidup dengan kemampuan.

Gaya hidup yang ketinggian malah membuat hidup tertekan. Saya kalau mau jalan-jalan atau pengen sesuatu ya harus nabung dulu. Harus ada effort. Ke kantor jangan malu bawa bekal. Ngopi fancy, juga gak sering. Sesekali untuk self reward atau selebrasi. Tiap tahun ganti hp mahal, nongkrong di Starbucks, beli baju branded, trus akhir bulan jadi sobat qismin…., gak lucu kan. *gak papa miskin asal Spotify premium 😚

Tips berikutnya, siapkan amplop untuk masing-masing pos pengeluaran. Urutkan sesuai prioritas. Prioritas tiap orang beda. Tapi kalau versi saya pay your God firts. Menunaikan zakat dan sedekah. Lalu bayar cicilan, investasi, tabungan, kebutuhan sehari-hari, sisanya buat hura-hura. Cicilan sepanjang gak lebih 30% masih aman. Jangan nunggu ada sisa baru nabung, gak bakalan bisa.

Nyimpan di amplop memang kesannya manual banget, tapi cukup efektif. Istri saya pakai cara ini. Duit buat infak, buat tabungan, buat belanja dapur, buat biaya sekolah, buat transportasi, buat cicilan, buat apa aja deh; simpan di amplop itu. Dan harus dispilin. Jatah buat sekolah gak boleh diambil buat hura-hura.

Setiap ngeluarin duit, usahakan untuk mencatatnya. Bahkan struk belanja pun saya simpan, diurutkan sesuai tanggal. Saya pakai aplikasi Money Lover. Istri saya nyatetnya di buku.

Ketika kita rutin mencatat, kita akan tahu sebenarnya duit itu larinya kemana, borosnya pos apa, hematnya di mana. Biar gak bingung. Dari situ kita bisa evaluasi dan mempertimbangkan berapa yang bisa buat investasi atau keperluan lain.

Baca Juga “Tips Hemat Ala Mamah Muda”

Tips selanjutnya, bawalah uang secukupnya. Nafsu berbelanja acap kali menyeruak tatkala dompet tebal. Dompet yang penuh dengan uang, secara tak sadar membuat kita mudah menghabiskannya. Tapi jangan sampai juga kosong blong. Kalau saya, gak lebih 500rb. Ntar kalau tinggal dikit, ambil lagi ke ATM.

Nah untuk ATM, sebaiknya pisahkan antara ATM untuk operasional dengan ATM tabungan. Lebih aman, titipkan ATM tabungan ke istri. Tapi jangan kasih tahu PIN nya 😁

Terakhir, bersikaplah sederhana dan jangan lupa selalu bersyukur. Wujudkan dengan berbagi pada sesama. Sederhana itu gaya hidup, bukan berarti tak berpunya. Sesekali kasih uang parkir lebih, jangan nawar jualan pedagang kecil atau kasih tips pada petugas cleaning servis. Besarnya mungkin gak seberapa, namun itu sangat berarti buat mereka. Bisa jadi, berlimpahnya rizki yang kita terima saat ini, salah satunya berkat lantunan doa mereka.

Itu tadi sekelumit cara mengelola keuangan versi saya. Kalau ada yang mau nambahin silakan. Semoga semuanya slalu diberi kecukupan. Jangan pernah takut lagi sama tanggal tua ya.

Iklan

Menikmati Hidup Selow

Tahun dua ribu delapan belas sudah memasuki semester dua. Apa kabar resolusi yang dibuat di awal tahun? Sudah lupa atau menguap begitu saja? Dan kalau boleh nanya, apa pencapaianmu tahun ini yang bisa dibanggakan? Jangan bilang gak ada ya.

Andai apa yang kamu lakukan untuk mencapai impian masih gagal, ini adalah sebuah pengalaman berharga. Tak perlu bersedih dan membandingkan diri dengan orang lain.

Hidup bukan hanya tentang apa yang kita capai. Namun apa yang sudah kita berikan untuk sesama dari pencapain kita itu. Migunani tumraping liyan.

Ngiri sama achievement orang lain tak akan membuat hidup menjadi lebih baik. Selow aja. Semua punya jalan masing-masing. Sudahlah, jangan takut sama omongan netizen saudara, teman dan tetangga yang ngremehin hanya karna pencapaian kita biasa saja. Kita makan nggak minta mereka, biaya hidup gak nebeng mereka; abaikan saja. Percayalah, bagaimana pun kondisi kita saat ini, hidup kita tetaplah berharga.

Lulus S1 di usia 29 bukanlah aib. Ini adalah prestasi. Umur 30 belum punya pasangan, namun bisa gembira, tetaplah indah. Atau menikah di usia 37, belum terlambat kok. Punya rumah di usia 40, tetaplah hebat. Jangan biarkan orang lain membuat kita terburu-buru. Kita tak sedang berlomba cepet-cepetan punya mobil, cepet-cepatan punya anak atau cepet-cepetan jadi eselon tiga. Mereka punya waktu sendiri, kita juga.

Lagian achievement tiap orang kan beda. Ini personal banget. Nggak perlu memaksakan definisi achievement? Bisa jadi buat si Iwan, achievement adalah kuliah S2. Bagi Agus, achievement adalah menikah di usia muda. Bagi Felika, achievement adalah kerja di perusahaan multinasinonal dengan gaji USD. Bagi Hanum, achievement adalah punya rumah mewah dan jalan-jalan ke Eropa. Bagi Kiwil, achievement adalah punya istri dua. Tetap hidup meski ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, ini juga achievement yang keren. Selama nggak saling ganggu, biarkan saja tiap orang dengan definisinya masing-masing.

Kita gak pernah tahu kehidupan orang lain yang sebenarnya.

Ada yang lulus sarjana usia 21 namun sampai umur 28 belum punya kerja. Ada yang telat lulus, tapi langsung kerja. Ada yang begitu lulus kuliah langsung bekerja, namun membenci pekerjaan mereka. Bahkan ada yang tak pernah mengenyam bangku kampus, namun telah menemukan passion dan tujuan hidupnya di umur 18.

Ada yang sudah menikah lebih dari 10 tahun namun belum dikarunia anak. Ada yang punya anak, tapi tak punya pasangan. Tak sedikit orang yang terikat sebuah hubungan, tapi ternyata mencintai orang lain. Sementara itu ada pula yang saling mencintai namun tak bisa bersama. #eaa

Lantas, masih pantaskah kita merisaukan hidup ini? Nikmati saja. Mungkin kita perlu mencoba menjalani slow life. Bukan untuk melambat, tapi untuk mengatur ritme, menyeimbang hidup agar tak berlebihan. Ada saatnya harus selow, ada kalanya harus gercep.

Selama kita terus berjuang menciptakan kehidupan yang bermakna dengan cara yang terhormat, sejatinya kita telah menempuh jalan kebahagiaan. Dan kesuksesan pasti tiba. Pencapaian hidup yang diraih dengan cara culas justru akan melahirkan kebahagiaan semu.

Ini hanya soal waktu. Waktu dari-Nya nggak pernah terlambat, nggak juga kecepetan. Bersabarlah. Tuhan pasti punya rencana.

****

“Sometimes what you want isn’t always what you get, but in the end what you get is so much better than what you wanted.”

Memulai Obrolan Tanpa Basa-Basi Yang Menyakiti

Ada sebagian orang yang menganggap aku ini pendiam. Gak salah sih, tapi gak sepenuhnya bener. Kalau belum begitu akrab, aku memang gitu. Irit bicara. Karna aku penganut paham diam itu emas.

Namun bila sudah terlanjur deket sama seseorang, apa aja diomongin, gak pernah kehabisan bahan obrolan. Hingga tak ada rahasia lagi.

Nah, besok kan Lebaran. Kita bakalan ketemu banyak orang. Keluarga, sepupu dua kali, saudara jauh, tetangga dan teman sekolah. Biasanya malah sering ada reuni. Bagi sebagian orang, akan jadi sedikit masalah. Tatkala jarang bersua, trus harus memulai obrolan. Kikuk jadinya.

Mau sok akrab, kalau aslinya gak supel malah jadinya gak asik.
Kalau diem-dieman sambil maen hp, sungguh tak etis. Mari hargai orang lain. Tatap matanya saat sedang bicara.

Makanya kita perlu mengasah skill memulai obrolan dengan orang lain. Obrolan yang bukan basa basi. Ini penting lo. Manfaatnya bisa kita rasakan saat bepergian, nunggu di bandara, menghadiri kondangan atau silaturahim ke rumah saudara.

Salah memulai percakapan, berpotensi menyakiti lawan bicara. Contohnya nih :
Kapan nikah
Kapan punya anak
Kok alismu miring
Ngomentarin berat badan
Nanyain gaji
Ngegosip
Dapet THR berapa?

Sebaiknya hindari ngomongin politik. Semenjak pilpres 2014, banyak yang gila. Kecuali yakin banget lawan bicara bakalan dewasa menyikapi perbedaan, oke lah.

Mending buka obrolan dengan sesuatu yang simpel :
– [ ] Hmmm, nastarnya enak nih. Bagi resepnya dong.
– [ ] Eh gimana perjalannya kemarin, lancar gak? Bisa disambung dengan cerita pengalaman naik kapal laut atau pesawat.
– [ ] Udah nyoba tol baru belum? Tapi jangan lanjutkan dengan itu tolnya Jokowi lho, ntar malah berantem.
– [ ] Piala dunia megang mana? Kalau dia anak bola, bakalan nyambung.
– [ ] Di sini nyari oleh-oleh dimana ya. Lanjut ngobrolin wisata kuliner.
– [ ] Liburnya lama nih, enaknya jalan-jalan kemana ya? Sekalian promosi wisata di daerah kamu.
– [ ] Ketupatnya bagus, siapa yang bikin? Susah lho. Trus cerita filosofi ketupat
– [ ] Cuacanya panas ya? Lalu bahas global warming.
– [ ] Ngomongin hobi. Olahraga, hewan peliharaan.
– [ ] Di WAG, dapat ucapan Idulfitri macam apa? Yang sebening embun, ketika tangan tak mampu menjabat, atau kalimat puitis lainnya. Ini bakalan seru dan lucu.
– [ ] Kuliah di mana? Ambil jurusan apa. Nanyainnya santai aja, gak usah nge-gas seperti interogasi.
– [ ] Kemarin ikut itikaf di mana?
– [ ] Pas lihat di ruangan ada tanaman, tanyain aja “Bro, aglonema tuh termasuk dikotil apa monokotil? Atau tanyain jalanan depan yang bikin Deandles atau Jan Pieterszoon Coen ya? *makin terdiam karna bingung
– [ ] Bicara apa saja deh, tentang harga sembako, film terbaru dan ikan paus di laut. Atau mungkin tentang bunga padi di sawah.

Kalau benar-benar canggung dan gak tahu harus ngomong apa lagi, tawarin aja makan kue. Bagus lagi kalau disediakan buku bacaan. Atau ajakin aja maen PS.

Atau mungkin kalian punya ide topik lain yang asik buat mengawali sebuah percakapan?

Btw, selamat Idulfitri ya. Semoga dengan berlalunya Ramadan, diampuni semua dosa kita. Diberi umur panjang bisa berjumpa Ramadan tahun depan.

Yang lagi mudik, selamat berkumpul dengan keluarga. Eratkan kembali jalinan silaturahim dengan berbagi cerita.

Sensasi Berpetualang Seorang Diri

Salah satu hal yang saya sukai dari istri saya adalah sikapnya yang pengertian. Dia ngerti apa mau saya, gak melarang jika saya mau sesuatu. Istri saya percaya “makin dilarang, suami justru makin berontak”.

Makanya, asal keinginan saya positif, gak minta poligami, gak macem-macem, pasti dia dukung. Ada kan yang setelah menikah gak boleh ngapa-ngapain sama istrinya. Dilarang main futsal, gak boleh nongkrong sama teman-teman. Kasihan.

Yang masih saya lakukan meski sudah menikah adalah berpetualang sendirian. Ngebolang gitu. Gak ngajak istri ataupun anak-anak. Itung-itung me time nya lelaki lah. Istri kalau mau me time, juga saya bolehin kok.

Ya namanya juga manusia, pasti pernah merasa jenuh, suntuk dengan kerjaan, pengen refreshing seorang diri.

Ini saya lakukan bukan karena egois atau gak mau diganggu. Pengen sendiri aja. Kalau ngajak keluarga, belum tentu mereka suka. Nanti ada waktunya lah buat mereka.

Soalnya petualangan saya beda, lebih memilih ke tempat yang anti mainstream. Naik gunung, ke pantai, menyusuri ke kota yang belum pernah saya kunjungi dengan jalan kaki.

Baca Juga : Cerita Dari Gunung Matantimali Di Sini

Pernah juga saya sepedaan seharian. Berangkat habis subuh, sore baru nyampe rumah. Gak dimarahin sih, cuma didiemin. Trus malemnya saya tidur depan tivi. Hahaha.

Ini sebetulnya hobi lama sejak sebelum nikah. Kalau ada waktu luang, saya paling gak betah diem. Mending keluar dari kost-kostan, naik bus kota, pergi ke toko buku, ke pasar, mendatangi pameran, nonton pertunjukan atau apa saja.

Bebas rasanya kemana pun tanpa ada yang ngatur-ngatur. Mau makan apa, mau nginep di mana, saya tentukan sendiri. Gak ribet.

Dan menurut saya, kegiatan seperti ini bukan nir faedah lho. Justru banyak hal baru yang saya dapatkan dari berpetualang. Tatkala tersesat, linglung tak tahu mau kemana lagi, kemampuan adaptasi saya teruji. Inspirasi pun muncul. Sensasinya luar biasa.

Selain itu, berpetualang justru mengantarkan saya menemukan kejutan-kejutan hidup yang menggetarkan, menempa fisik dan juga mental. Interaksi sosial serta pengalaman hidup dijamin akan bertambah, karna bertemu berbagai watak manusia. Lalu saya pun menyadari bahwa masih banyak orang baik di negri ini.

Yang paling saya suka dari aktivitas ini adalah, saat sedang sendiri saya lebih menghargai arti kebersamaan, mengerti artinya sepi dan merindu. Betapa berharganya keluarga buat saya.

Yang perlu diperhatikan jika ingin melakukan solo traveling adalah menjalin komunikasi dengan anak istri. Jangan sampai memaksakan kehendak. Cermati pula kondisi keuangan, ingat tagihan dan kebutuhan lain yang lebih prioritas. Andai buat bayar cicilan aja masih ngos-ngosan, gak usah sok-sokan traveling. Kalau gak sanggup gak usah memaksakan diri. Toh jalan-jalan itu bukan kebutuhan pokok.

Some beautiful paths can’t be discovered without getting lost

Jadi, kalian suka berpetualang sendirian atau sukanya rame-rame?

Selingkuh, Salah Siapa?

Gak harus ganteng, sick pack, tajir dan penuh pesona untuk memulai sebuah perselingkuhan. Kamu kere, tampang pas-pasan, gendut pun bisa melakukannya. Hanya butuh nyali dan ketegaan saja untuk mengkhianati pasangan.

Emang sih kalau lelaki udah mulai sukses, biasanya mulai banyak tingkah. Lirik kanan kiri, tambah genit, macam puber kedua gitu. Apalagi kalau tiap di rumah lihat istrinya pakai daster, tubuhnya bau minyak kampak, keningnya ditempeli koyok, gak mau dandan pula. Sebenarnya bukan gak mau dandan sih, lha uang belanja dikit kok minta istri harus slalu menarik.

Pensil alis aja 100rb, lipstik 350rb, bedak 600rb, krim siang, krim malam, facial dll butuh modal gede mas.

Pernikahan yang bahagia pun tak luput dari perselingkuhan. Punya istri cakep, seksi, pinter, pokoknya sempurna lah, gak jaminan juga untuk setia. Mungkin karna lelaki itu mudah bosan ya. Sebuah survey mengatakan, setelah tiga tahun menikah mulai muncul dorongan untuk selingkuh. Tak jarang perempuan yang memulai bermain api terlebih dulu. Urusan bermain hati, laki perempuan sama aja.

Trus kalau ada yang selingkuh, siapa yang mesti disalahkan. Lakinya, istrinya atau pelakornya? Si laki pasti berusaha mencari pembenaran dengan seribu satu alasan. Yang katanya khilaf lah, ujian dari Tuhan, tak kuat menahan godaan wanita atau karna terbujuk rayuan setan. Dia yang enak-enakan sama perempuan lain, setan yang disalahin. Dasar lelaki tak bertangggung jawab.

Pelakornya juga membela diri. Katanya bukan dia yang ngedeketin duluan, ngaku gak tahu kalau dia adalah suami orang, ngomong salah sendiri istrinya gak bisa menjaga dengan baik. Istrinya juga bakalan marah. Kurang apa lagi, sudah dicintai sepenuh hati, dilayani setulus jiwa, masih saja menelikung.

Tak perlu mencaci dan menghakimi siapa yang salah, karna kita bukan polisi moral. Biar masing-masing ngaca, instropeksi diri. Yang jelas selingkuh itu dosa besar, enaknya cuma sebentar. Rugi dah.

Gak ada ceritanya perselingkuhan yang gak ketahuan. Pasti kebongkar. Paling lambat lima belas bulan setelah memulai, pasangan bakal mengendus perbuatan bejat ini. Pak RT dan hansip kampung juga suka nangkep pasangan gak resmi yang lagi indehoi. Trus kalau udah ketahuan, minta dihalalin. Enak aja. * ini sih modusnya pak Dendy.

Makanya wajib hukumnya buat kita untuk menjadi lelaki setia. Karna ini adalah hadiah terbaik buat anak-anak kita. Mencintai ibu mereka, tidak menduakannya. Teguhkan hati. Jangan mudah tergoda dan tak perlu mencari kesempurnaan pada diri orang lain.

Selain itu juga harus saling percaya dan berbagi kebaikan pada pasangan, agar benih cinta makin bermekaran meski usia makin menua. Jangan lupa juga untuk selalu bersyukur. Maksudnya syukur banget dah ada yang mau sama kita. Bagaimana pun model dan bentuk pasangan kita, mungkin kita kurang puas atau gimana, tapi itulah yang terbaik yang Tuhan berikan untuk kita. Percayalah.

Janji ya, setia ya. Jangan pernah jadi pelakor atau pebinor. Semoga keluarga kita selalu rukun, penuh cinta, dinaungi keberkahan dan dijauhkan dari badai perselingkuhan. Amin dong.

****

a real man would never cheat on the one he truly love

Suami Takut Istri

Menikah benar-benar membawa perubahan yang luar biasa. Seorang lelaki menjadi lebih pemberani sekaligus lebih penakut saat sudah berkeluarga. Berani melakukan apa saja, cari nafkah, banting tulang, peras keringat, gak peduli omongan orang, yang penting dapur tetep ngebul.

Saya pernah jam setengah dua malam keluar nyari nasi goreng, karena istri lagi ngidam. Jalanan sepi, gelap, dingin, ada begal atau ketemu suster ngesot di tengah jalan, gak saya pedulikan. Demi istri.

Nah kalau soal takut, yang sering dialami bapak-bapak adalah takut istri. Antara takut dan sayang, bedanya memang tipis banget.

Saya termasuk tipe suami penyayang. Dan salah satu wujud rasa sayang itu, dengan membantu melakukan pekerjaan rumah tangga. Kasihanlah istri, sudah pontang panting dari pagi sampe malem.

Dengan sukarela saya nyuci piring, nyapu atau ngepel, meski gak tiap hari. Kalau pas datang rajinnya aja sih. Saya gak merasa menjadi hina hanya karena melakukan hal itu.

Namun, sepertinya masyakarat kita memandang, bahwa pekerjaan perempuan haram dilakukan laki-laki. Ketika diambil alih, kesannya suami gak punya harga diri, istri pemalas atau laki-laki di bawah ketiak istri.

Ini yang saya tangkap ketika lagi nyapu dan ngepel halaman, kemudian dilihat tetangga. Dari sorot matanya, seolah dia berkata “dasar suami penakut, mau-maunya disuruh istri. Pasti istrinya lagi main HP wasapan”.

istri main hp, suami nyuci. [gambar dari google]

Padahal istri saya sedang nyuci di belakang dan juga memasak. Tetangga mah emang gitu. Kadang ada yang mulutnya seperti nasi padang pake karet merah dua. Puedes.

Lagian saya ikhlas kok ngelakuin itu. Serius. Mencium aroma super pel serta menatap keramik yang kinclong, justru memunculkan endorfin buat saya. Rasul saja pernah menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri. Kenapa kita mesti malu, jaim dan gengsian.

Jadi gak perlu lah kita takut istri, atau istri yang takut suami. Masing-masing punya hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Jalankan saja sebaik mungkin, saling menghormati, saling menjaga dan merawat cinta kasih.

Selain itu, komunikasi juga menjadi hal yang penting. Semua bisa beres jika dibicarakan. Tapi jangan hobi ngobrol atau curhat sama istri orang. Bahaya. Awalnya sih hanya butuh teman bicara, lama kelamaan…kamu ketahuan…pacaran lagi.

Kalau pun pengen me time, nongkrong sama teman, ikutan futsal atau ngopi-ngopi cantik, bilang aja baik-baik. Asal tetep bisa atur waktu, gak macem-macem dan tahu diri, pasti diijinkan pasangan.

berani pulang malem? [gambar dari google]

Yang justru perlu kita takuti adalah jika istri tak bahagia, karna ulah kita. Takut apabila hatinya merintih terluka karna perbuatan suami yang gak bener.

Jadi kalian termasuk golongan suami takut istri gak? Beneran? Emang berani kalau HP mu diperiksa istri?

Gak Usah Belagu

Gambar: Pixabay

Pesawat yang akan saya tumpangi menuju Solo ternyata delay. Kelamaan nunggu, bosen jadinya. Main HP sudah, baca buku juga sudah. Tetap saja tak bisa menghilangkan rasa suntuk. Di tengah kejenuhan itu, ada seorang lelaki di sebelahku ngajakin ngobrol. Usianya sekitar 45-50 tahunan.

Awal mula obrolan, hanya basa-basi. Bapak itu juga yang dominan bertanya dan bercerita. Aku hanya menimpali sekedarnya, gak enak lah kalau nyuekin. Saya masih bisa menjaga kesopanan, tahu tata krama dengan orang tua.

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba dia cerita segala pencapain hidupnya. Yang punya percetakan lah, punya ratusan karyawan, sering rapat keluar kota dan sebagainya. Macem-macem dia ceritain. Padahal saya gak nanya, kenapa dia nyerocos aja. Ngomongnya ndakik-ndakik, ntar kalau mulutnya kesampluk pesawat gimana?

Saya mau bilang HALAH MBEL, takut nanti dia kecewa. Jangan-jangan dia OKB (orang kaya baru). Tapi OKB gak gini-gini amat kok. Saya gak konsen lagi dengan apa yang dia omongin. Dia mau bilang punya private jet, pernah pergi ke Mars pun, saya iyain. Nyenengein orang kan berpahala. Saya justru berusaha mendengar apa-apa yang tidak dia katakan, sambil berpikir keras bagaimana mengakhiri percakapan omong kosong ini.

Dari sorot mata, gerak tubuh dan mimik wajahnya; saya yakin dia sedang berhalusinasi. Lha untuk apa dia cerita begituan ke saya? Demi apa coba? Mau nyari perhatian, butuh pengakuan? Salah banget kalau caper ke saya. Caper lah ke dedek-dedek gemez yang mudah dikibulin om-om.

Rupanya bapak itu belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Harusnya umur-umur segitu sudah fokus mencari jalan pulang, bukannya berkubang mencari ridho manusia.

Saya memang ndak berhak mengatur orang lain untuk pamer maupun tidak sombong. Tapi mbok ya tahu diri lah. Ngono yo ngono, ning ojo ngono. Kalau gitu malah bikin gak respek. Saya justru menaruh rasa hormat pada orang yang apa adanya. Ndak sok-sokan.

Banyak lho yang lebih berada tapi low profile. Orang-orang yang mengatur dunianya, bukan dunia yang mengatur mereka. Tidak hedon dan materialistis. Saya punya teman yang tajir melintir, yang kalau dia batuk aja bisa jadi duit. Orangnya malah kalem, gak neko-neko. Gak butuh pengakuan orang lain. Sungguh, kesederhanaan adalah kemewahan yang paling paripurna.

Jadi kalau pun hidup kita memang biasa-biasa saja, ya ngapain mesti malu. Tak ada gunanya pura-pura sukses dan kaya. Foto di depan rumah mewah milik orang lain dan selfie di mobil rental. Tidak semua cabang kehidupan harus kita menangkan. Nyantai saja. Yang penting kita sudah menempuh jalan yang jujur, lurus dan berlaku amanah.

Gusti Allah juga gak reseh kok. DIA gak bakalan murka hanya gara-gara rumah kita masih ngontrak, KPR belum lunas, gaji cuma satu digit dan pakai mobil seken. Itu duniawi banget.

Gusti Allah justru menilai bagaimana kerja keras, ikhtiar dan usaha kita untuk menggapai restu-NYA. Apa sudah sesuai dengan aturannya. Seandainya pintu-pintu kenikmatan dicurahkan kepada kita, semoga kita tak terlalu gembira terhadap apa yang tlah diraih. Dan tak terlalu sedih juga terhadap apa yang luput. Biasa saja. Tetep tawadhu’. Karna hidup ini hanya senda gurau belaka.

Andaikata ingin mengabarkan pada orang lain, semoga itu semata-mata tahadduts bi ni’matillah.

Eh, btw mau tahu bagaimana saya memutus obrolan dengan bapak itu? Saya ijin ke toilet, perut saya mules denger bualannya. 😂

Sebelum Semuanya Berlalu

suka terharu kalau lihat gambar ini [sumber : google]

Mengantar anak-anak berangkat sekolah sudah menjadi rutinitas saya setiap pagi. Seru dan menyenangkan. Namun masih ada yang lebih dahsyat lagi, yaitu tatkala membangunkan mereka, rebutan kamar mandi dan sarapan bareng. Kadang kocak namun tak jarang bikin dongkol.

Berbagai taktik sudah pernah saya lakukan untuk membangunkan anak-anak lebih awal. Didendangkan shalawat, digelitikin, dicipratin air sampai dimarahin. Tetep aja nyenyak tidurnya. Pernah suatu saat saking ngantuknya, anak saya ke kamar mandi sambil terpejam. Atau pas saya lagi asyik mandi, tiba-tiba si kakak gedor-gedor pintu kamar mandi karna sakit perut. Bener-bener pagi yang berwarna.

Setelah anak-anak mandi, sudah rapi sudah cakep, prosesi berikutnya adalah sarapan. Sembari menikmati masakan olahan istri, cerita-cerita tak henti mengalir dari buah hati saya. Tentang PR yang sulit, ngomongin bu guru yang galak, jajanan di kantin yang gak enak dan apa saja. Momen seperti inilah yang sangat saya sukai. Hangat, akrab dan penuh cinta. Bisa jadi momen seperti ini tak akan lama, karna anak-anak yang smakin beranjak remaja.

Sekarang anak saya sudah besar. Si sulung kelas 2 SMP. Bangun pagi gak pakai drama lagi. Sudah mulai bisa mengatur waktu. Untuk dicium dan dipeluk di depan gerbang sekolah pun mereka mulai enggan. Malu dilihat teman-teman, itu alasan mereka. Bahkan si sulung mulai minta dibelikan sepeda, mau berangkat sekolah sendiri. Duh saya belum siap.

Perasaan yang sama juga muncul saat anak saya ikut Persami (Perkemahan Sabtu Malam Minggu). Hanya dua malam, tapi saya begitu mengkhawatirkannya. Ada rindu yang menggebu saat dia tak ada di rumah. Saya dirundung kecemasan tingkat akut, sementara istri saya woles saja. Alhasil, setiap malam saya selalu mengunjunginya sambil bawa martabak, terang bulan dan beberapa camilan kesukaannya.

Memang akan tiba saatnya anak-anak mulai menemukan dunianya sendiri. Setelah bertahun-tahun kita membersamai mereka; menggendong, menatih, mandiin, memakaikan baju, ngajarin naik sepeda, melepas mereka sendirian ke sekolah dan pada akhirnya akan tiba waktunya untuk melepaskan pegangan tangan. Sedih.

Gimana ya rasanya jika kelak mereka menikah? Sekarang saja saya mulai galak sama cowok yang melirik anak saya. Haha, posesif banget.

Makanya jika kalian punya anak masih bayi atau balita, nikmati kebersamaan itu dengan baik. Nanti kalau anak-anak sudah gede dan gak mau dipeluk, kalian akan rasakan kesedihan itu. Tiap-tiap ayah akan kikuk menghadapi putrinya yang beranjak remaja. Pelukan tak lagi sama. Tak perlu kesal dengan rengekan, tangisan, keonaran atau tingkah mereka saat ngacak-ngacak rumah. Syukuri saja, itu artinya mereka sehat, aktif dan cerdas.

Enjoy parenthood, kita gak akan mengulangi momen seperti itu dengan mereka. Ngangenin banget. Apalagi jika mencium wangi shampo switzal, harum minyak telon cap lang usai anak-anak mandi. Bener-bener golden moment. Hadirlah, jangan sampai ada penyesalan. Ciumlah anak-anak setiap malam, meskipun mereka sudah terlelap tidur.

Suatu saat anak-anak akan dewasa, mandiri dan berkelana menemukan jalan hidupnya. Tugas kita adalah mengantar mereka, mengringinya dengan doa-doa indah, agar di setiap langkahnya selalu dalam perlindungan-Nya dan dinaungi keberkahan.

A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man ~ Don Corleone, the Godfather.

Menjadi Andalan

Gambar: Pixabay

Nggak adil rasanya, jika seorang suami menuntut istrinya bisa segalanya. Harus pinter masak, rajin beres-beres, sabar mendidik anak, cermat ngatur duit; sementara sang suami sendiri ternyata ndak bisa diandalkan. Pulang kerja, sampai rumah cuma main hp, nonton tv, makan, ngopi, lalu tidur. Gitu terus sampai lebaran kuda.

Malu dong kalau begitu. Makanya saya juga berusaha mengembangkan diri, bantuin merawat dan mengasuh anak-anak, juga nambah skill di bidang lain.

Misal nih kabel setrika putus, sepeda si kecil rusak atau tiba-tiba kran air di kamar mandi patah. Sebagai suami siaga, harusnya sih bisa beresin yang begituan. Gak harus manggil tukang.

Emang saya bisa? Pada mulanya sih gak bisa. Tapi dikit-dikit saya mulai belajar. Nanya teman dan cari info di internet. Untuk hal-hal yang tidak terlalu rumit, saya berhasil. Bangga rasanya bisa ngrakit meja belajar, benerin kunci pintu yang rusak.

Pernah juga saya benerin mesin cuci yang ngadat. Bukan karna saya ngerti soal elektronik. Nekat aja sih. Soalnya manggil tukang service mahal banget. Sekali tempo berhasil, karna cuma ngganti colokan kabel yang meleleh. Gampang.

Eh lain waktu, mesin cuci rusak lagi. Saya bongkar dengan rasa percaya diri. Dan hasilnya, mesin cuci saya makin hancur. Gak bisa diapa-apain. Ternyata tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan googling dan lihat YouTube.

Tapi istri saya gak marah. Dia tetep menghargai usaha keras saya. Dia cuma minta dibelikan yang baru. Kalau nggak, saya ya harus nyuci sendiri. Hahaha, pengen ngirit ongkos service, jadinya malah keluar duit banyak. Ternyata benar, jika sesuatu diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.

Sejak itu, untuk urusan yang ribet dan saya memang gak bisa, ya udah pasrahkan ke tukang. Anggap saja berbagi rejeki. Istri saya juga kapok barangnya saya rusakin lagi.

Ternyata jadi superdad yang bisa segalanya tuh gak mudah ya. Sebagai seorang suami dan ayah, yang penting kita mau berusaha dan gak hanya berdiam diri. Terus belajar. Belajar apa saja. Biar bisa jadi kebanggaan anak dan istri.

Sebab bermodalkan cinta saja, gak bakalan bisa nylesaiin masalah 😂

Cinta Lama Bersemi Kembali [CLBK]

Saya punya grup WA baru, alumni SMP. Berisiknya minta ampun. Kalau mau diturutin, seharian bakalan mantengin HP. Ada aja yang diomongin. Nanyain kabar sekarang, kerja di mana, tinggal di mana, anak berapa, semalam sama siapa.

Tapi yang paling heboh adalah obrolan tentang kenangan masa silam. Waktu memang bisa mengubah segalanya, tapi tidak untuk kenangan. Kenangan anak-anak remaja kala itu yang ngehits ya seputar kisah percintaan.

Dan grup WA pun semacam jadi ajang pengakuan. Pengakuan dosa maupun pengungkapan perasaan yang dulu pernah terpendam. Gak ada lagi yang malu apalagi jaim. Yang dulu menjadi rahasia, perlahan-lahan mulai terungkap.

Mungkin karna kami semua sudah tak muda. Makin woles, ndak lebay dan tak suka drama lagi. Bisa jadi ini karna kematangan usia. Sudah lelah bertarung, saatnya menepi dan butuh hiburan untuk menertawakan kerasnya hidup.

Di WAG itu, ada teman sekelas yang dulu saya taksir. Saat masih sekolah, jika bertemu dengannya, hati selalu berkecamuk. Modus saya kala itu sering minjem catetan pelajaran, padahal sudah nyatet sendiri. Nanyain PR ke kostnya, meski saya bisa mengerjakan sendiri.

Kami begitu akrab, hingga banyak yang nuduh kami pacaran, padahal enggak. Dia baik ke saya, begitu juga sebaliknya. Apakah dia memendam perasaan yang sama, itu tak menjadi soal buat saya. Jalani saja. Akhirnya, hubungan kami tanpa status yang jelas. Itu karena saya tak cukup punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan.

Kejadian serupa pun terjadi di masa SMA, tapi dengan gadis idola yang berbeda. Saya selalu saja mencintai dalam diam dan entah mengapa justru nyaman dengan cara seperti itu. Semu dan tak berujung. Saya lemah. Terlalu lugu. Hanya mampu menjadi pemuja rahasia.

Lantas, apakah saya menyesal. Saat itu mungkin ya, tapi waktu telah menyembuhkan luka batin. Dan saya percaya, di setiap kehilangan, Tuhan selalu menyiapkan yang lebih baik untuk kita. Toh saat itu saya hanya anak ingusan yang belum tahu apa-apa. Yang mudah terpesona oleh makhluk Tuhan nan jelita.

Sekiranya waktu itu saya tahu harga beras, susu formula dan mahalnya angsuran KPR, tentu saya akan rajin belajar agar menjadi generasi muda harapan bangsa. Tidak berkubang dalam duka lara asmara. Tapi siapa yang bisa menolak hadirnya cinta. #tsurhat

Kini saya sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Sudah move on. Masing-masing kami pun sudah dewasa, menikah, sudah punya anak.

Meski kata orang, mantan makin cakep setelah jadi milik orang lain, saya ndak ada niatan untuk CLBK. Sekali-kali tidak. Lelaki sejati tak kan pernah sanggup mendua. Semua masa lalu itu saya anggap sebagai pelajaran hidup yang memperkaya jiwa.

Saya yakin, semua yang pernah muda, pasti punya rasa suka pada lawan jenis. Iya kan? Itu normal kok. Bayangkan seandainya waktu itu saya naksir Bambang atau Widodo, tentu ini pukulan berat bagi orang tua saya.

Dan pada akhirnya, pasangan yang kita miliki sekarang adalah yang terbaik. Harus dijaga, disyukuri dan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tak usah dibanding-bandingkan. Jangan terlalu tenggelam dengan masa lalu.

Kalau pun dulu gak jodoh, siapa tahu nanti bisa besanan 😁