Pantry kantor selalu jadi tempat menyenangkan untuk berbagi cerita. Ada informasi A1 yang tak bisa didapatkan di tempat lain.
Pas lagi asyik ngobrol sama teman-teman, sekretaris ngasih tahu kalau saya dicari Pak Bos. Disuruh menghadap ke ruangannya. Wah ada apa nih, jangan-jangan ada kesalahan yang saya buat.
Ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Pertemuan sore itu justru membawa kabar yang sangat krusial.
Saya ditawari untuk ikut promosi jabatan dan harus segera memberi keputusan, karena usulan akan segera dikirim ke kantor pusat. Lantaran masih gamang, saya minta waktu beberapa hari untuk memikirkannya.
Ini adalah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan. Sesuatu yang menyenangkan. Pengalaman baru, jabatan naik dan penghasilan bertambah.
Namun selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pilihan. Bagian tak enaknya adalah mau gak mau harus mutasi lagi, bahkan akan menjadi agenda rutin tiap beberapa tahun. Keliling nusantara.
Meninggalkan homebase, berjauhan dengan keluarga dan support system.
Dari sekian banyak faktor yang jadi pertimbangan, ini yang paling berat buat saya. Saya punya prinsip jangan sampai mengorbankan keluarga dan kesehatan hanya demi mengejar mimpi. Apalagi kalau sampai menggadaikan idealisme dan agama.
Agar tak menyesal karena salah ambil keputusan, saya mencoba bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya saya kejar dalam hidup? Apa yang benar-benar berharga dalam hidup ini dan apa tujuan hidup saya sesungguhnya?
Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, menjadi kompas yang menuntun dalam mengambil keputusan.
Dan setelah melalui perenungan yang panjang, memohon petunjuk Yang Maha Kuasa, diskusi dengan keluarga serta masukan dari beberapa pihak; saya memutuskan untuk skip program ini. Untuk sementara waktu, ini adalah pilihan terbaik buat saya.
Saya terjebak pada situasi dilematis. Memilih bertumbuh atau mempertahankan kenyamanan. Dan akhirnya saya lebih memilih meniti karir seperti ini saja. Jadi kaum semenjana, bertumbuh di tempat yang nyaman.
If it cost your peace, it’s too expensive.
Bagi sebagian orang, keputusan ini patut disayangkan. Tak mau ikut promosi adalah sikap pecundang, seolah hitup tanpa ambisi. Imbasnya adalah kesuksesan akan menjauh, hidup akan begini-begini saja.
Boleh saja ada yang berpendapat seperti itu. Namun bagaimana jika hal tersebut justru sebuah wujud dari kematangan jiwa, sebuah refleksi tentang makna cukup yang sebenarnya.
Dan buat saya, hidup yang begini-begini saja adalah hidup yang menyenangkan. Bisa jadi, ini adalah hidup yang diimpikan orang lain.
Penghasilan cukup, ada tempat bernaung, kerja teng go, gak terjebak macet dan bisa kumpul keluarga setiap hari; adalah sebuah kemewahan yang tak semua orang bisa merasakan.
Soal kesuksesan, tiap orang memaknainya berbeda-beda.
Apakah untuk disebut sukses, harus punya jabatan tinggi? Apakah untuk bisa dikatakan kaya harus punya tabungan satu milyar? Apakah untuk bahagia harus jalan-jalan ke luar negeri? Apakah hidup harus selalu lebih tinggi dari orang lain?
Memaknai Kesuksesan
Sukses itu relatif. Ini tentang sudut pandang. Kita bisa nampak sukses di mata satu orang, namun di mata yang lain kita nampak biasa saja, bahkan bisa dianggap gagal.
Di depan seekor semut, kita nampak bagaikan raksasa. namun di hadapan gunung, kita kerdil.
Jadi PPPK, mungkin gak keren. Namun di kondisi ekonomi seperti ini, di saat sembilan belas juta lapangan kerja tak kunjung ada; ini adalah capaian yang luar biasa, apalagi buat seseorang yang berasal dari keluarga sederhana.
Sebaliknya, jika anak crazy rich hanya jadi PNS kelurahan, mobil pun cuma Agya; bisa saja ini dianggap sebuah kegagalan.
Selain itu, rasanya terlalu naif jika menjadikan jabatan sebagai tolok ukur sebuah kesuksesan. Hidup tak hanya tentang pekerjaan.
Hidup adalah keseimbangan antara karir, keluarga, kesehatan, pengembangan diri, hubungan sosial dan spiritualitas.
Prioritas Tiap Orang Berbeda
Kita tidak bisa mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Maka sah-sah saja jika ada orang yang mati-matian mengejar puncak karir dan ada yang selow menikmati perannya sebagai medioker.
Apa pun yang kita pilih dalam hidup ini, selalu ada konsekuensinya. Maka pahami dengan baik, agar tak ada penyesalan di kemudian hari. Yang perlu diperhatikan adalah jangan mengambil keputusan penting saat emosi.
Hadirkan kesadaran penuh, gak usah buru-buru. Pikirkan secara matang dan jangan sampai tekanan dari lingkungan sosial mengambil alih akal nurani kita.
Hidup Memang Seperti Itu
Akan ada masanya, kita melihat orang lain melesat lebih cepat, tumbuh lebih hebat dan lebih sukses dari kita. Padahal start-nya sama atau bahkan jauh di belakang kita.
Begitulah kehidupan, penuh misteri. Tak perlu berkecil hati, apalagi sampai membandingkan diri dengan orang lain.
Jangan terlalu keras pada diri sendiri, upayakan untuk selalu mengapresiasi diri. Di negara seperti ini, hebat lho sudah berjuang dan bertahan sampai sejauh ini.
Hidup bukanlah perlombaan. Tak semua cabang kehidupan harus kita menangkan.
Maka apa pun posisi kita saat ini, jalani dengan sebaik-baiknya. Banyak-banyak bersyukur, terus perbaiki diri dan jangan pernah iri hati. Ikutlah senang saat orang lain bahagia. Dengan begitu, ketenangan hati akan menghampiri. Inilah kemenangan sejati.
Tabik





















