Tegar Menerima Kenyataan

Saat pembagian raport semester lalu, anak saya gak masuk ranking tiga besar. Terbiasa langganan juara tiba-tiba terdepak dari podium, tentu ini sangat menyesakkan. Lalu ada awan kelam bergelayut di pelupuk matanya. Dan akhirnya, air mata berlinang membasahi pipinya.

Menghadapi hal-hal pelik seperti ini, saya langusng memeluknya erat. Saya pun tak buru-buru menyuruh menghentikan isak tangisnya. Biar saja. Toh nangisnya gak lebay, gak sampai histeris. Biarlah dia ekspresikan kesedihannya. Ini malah bagus, karna dia jujur. Tak berupaya mati-matian menyangkal emosi dan membohongi diri dengan pura-pura tegar.

Setelah agak baikan, saya mulai mengajaknya ngobrol. Ngomong biasa aja, bukan tentang sejuta motivasi semu untuk menyenangkan hatinya.

Saya katakan padanya “Santai aja nak, papa gak marah. Boleh sedih, tapi gak usah baper. Papa tetap bangga sama kamu karna kamu sudah berusaha keras”

Sebagai seorang ayah, saya begitu gatel pengen menceramahinya. Supaya dapat ranking tuh, kamu harus begini, kamu jangan begitu. Seolah-olah dulu saya adalah murid yang hebat.

Padahal apalah saya ini, malah lebih parah dari dia. Juara kelas gak pernah, ikutan lomba cerdas cermat kalah, ikut seleksi Paskibra gak pernah lolos, ikut Porseni antar sekolah juga keok. Baru ndeketin cewek, belum nembak sudah ditolak. Masa muda saya begitu pilu, akrab dengan kekalahan dan kekecewaan.

Tapi dari situlah saya mulai menemukan pembenaran menyadari bahwa inilah saya yang sesungguhnya. Saya belajar bahwa tak mengapa menjadi manusia biasa-biasa saja. Tidak apa-apa prestasi kita tidak sehebat yang lain. Tidak apa juga jalan jalan kita tak sejauh mereka. Tidak ada salahnya menjadi manusia biasa. Hidup memang gak harus baik-baik saja. Gagal bukanlah sebuah kehinaan.

Untunglah saat itu saya gak terpuruk. Saya yakin esok akan ada peluang lagi. Hanya perlu untuk terus bersabar dan berusaha lebih optimal.

Kisah itulah yang coba saya bagikan ke anak saya, agar dia bisa memetik hikmah. Saya berharap ia tak mudah limbung dihantam kerasnya kehidupan. Sebab dalam hidup akan selalu ada hal-hal yang tak sesuai dengan keinginan kita. Butuh jiwa besar untuk mau menerima. Hamdalah dia bisa memahami.

Dan yang membuat saya gembira, anak saya tak menyalahkan pihak lain atas rankingnya yang turun. Dia sportif mengakui, sempat kendor dalam belajar. Ada beberapa kawannya yang ngedumel nilainya merosot karna cara mengajar guru tidak asyik, materi yang belum tuntas, serta murid yang mencontek saat ulangan.

Sikap blaming others ini bahaya lho. Kalau dikit-dikit menyalahkan orang lain, kita tak bisa mengenali diri sendiri dan gak akan pernah berkembang. Kedewasaan akan mandek dan menjadikan kita seorang pengecut.

Peristiwa ini justru membuat dia mengerti dan mengevaluasi kekurangan dirinya. Makin semangat belajar dan gak malu bertanya pada temannya bila ada sesuatu yang tak ia mengerti.

Atas sikapnya itulah, saya beri dia hadiah sebuah jam tangan yang tlah lama diidamkan. Dia heran, ranking turun bukannya dimarahin malah dapet hadiah. Itu adalah wujud apresiasi saya atas keikhlasannya menerima kepedihan dengan lapang dada. Sebab kemampuan menyikapi kegagalan itu jauh lebih penting daripada sekadar merayakan kemenangan.

Kini tak ada lagi gurat kecewa di wajah cantiknya. Ia telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Excellence is not being the best, it is doing your best.

Iklan

Think Before You Share

Tak perlu silau dengan gelar, jabatan dan pangkat orang lain. Sebab itu semua tak berbanding lurus dengan kecerdasan maupun tingkah lakunya. Media sosial telah membuktikannya.

Tokoh besar, berpendidikan tinggi, menjadi panutan umat; ternyata tak menjamin kualitas postingannya. Masih saja menebar hoaks. Jempolnya terlalu cepat dibanding akalnya. Setelah dibully oleh netizen yang terhormat, barulah kemudian menghapus postingan tersebut tanpa sepatah ungkapan maaf.

Ada beberapa sebab mengapa seseorang mudah sekali menyebarkan berita bohong.

Pertama, karena gak mau cross check suatu berita. Banyak yang merasa hebat ketika menjadi orang yang pertama kali mengabarkan, tak peduli itu benar atau bohong. Orang-orang tua yang baru main media sosial kerap kali melakukan hal seperti ini. Dan WhatsApp adalah sarangnya. Apa saja di-share. Parahnya lagi, berita negatif justru lebih mudah menyebar, lebih dipercaya dan meyakinkan warganet.

“Sebarkan, jangan berhenti di kamu. Agar yang lain mendapat hikmah”

Ada pula yang berharap menjadi viral. Lalu ke-pede-an, merasa dicintai oleh khalayak, karna banyak yang like dan retweet. Padahal itu semua adalah perangkap yang menjerumuskan pada kepongahan. Sungguh berbahagialah mereka yang tak ingin menjadi pesohor. Sebab mengelola ketenaran itu amatlah sulit.

Gambar: Pixabay

Ketika terkenal, kita akan jaim. Berupaya sekuat tenaga menjaga citra diri agar selalu nampak sebagai pribadi yang pintar, asyik, keren dan menyenangkan. Media sosial telah memberi panggung dan lampu sorot untuk para penggunanya. Semua pun terjangkit star syndrome, meskipun aslinya B aja.

Demi itu semua, kita rela melakukan apa saja. Awalnya dengan membuat konten yang menarik dan informatif. Bisa juga berupa humor segar maupun kisah inspiratif. Namun tatkala mentok, terpaksa bikin konten negatif, sensasional dan bombastis.

Kedua, memang sengaja mencari keributan. Diniatkan sebagai sarana panjat sosial, atau menyerang orang lain yang tidak satu gerbong dengannya. Siapa saja yang beda, dianggap lawan. Ini juga salah satu upaya untuk mendukung junjungannya.

Dulu saya berharap setelah Pilpres berlalu, kegaduhan ini akan usai juga. Ternyata justru makin berkembang. Semua merasa benar.

Kebenaran harus sesuai dengan imajinasimu, jika tidak maka itu bukan kebenaran. Ulama harus berada di pihakmu, jika tidak maka itu bukan ulama. Dan presiden harus sesuai dengan versimu, jika tidak maka bikinlah presiden versimu sendiri.

Inilah era post-truth, di mana kebenaran tak lagi absolut. Setiap orang hanya mempercayai apa yang mereka ingin percaya. Dan kadang hanya membenarkan yang dianggap benar.

Gambar: Pixabay

Ketiga, pertemanan. Jika circle-mu di dunia maya dipenuhi orang-orang yang gemar menebar kebohongan, maka kamu akan mudah ketularan. Paparan hoaks yang begitu masif, akan mematikan akal sehat. Untuk itu, jangan segan meng-unfriend, mute atau unfollow akun-akun yang toxic banget.

Agar tak menjadi penyebar hoaks, kita harus bisa mengendalikan diri. Sabar. Pikir baik-baik. Ini kalau saya posting, efeknya buat saya gimana ya? Ngrugiin orang lain gak ya? Ditangkap polisi gak ya?

Ingatlah, UU ITE bisa menjerat bila kita sembarangan di dunia maya. Sudah ratusan orang menjadi tersangka dan terpidana karena memproduksi dan menyebarkan hoaks serta ujaran kebencian.

Jika ingin selamat, gunakan rumus ini sebelum memposting sesuatu.

THINK. True. Helpful. Inspiring. Necessary. Kind

True. Informasi yang kita sampaikan haruslah benar. Rajin-rajinlah untuk cek dan ricek. Jangan asal baca judulnya saja, langsung sebar.
Helpful. Tak hanya bermanfaat buat diri, namun juga berguna buat orang lain. Jangan nyebar sampah digital.
Inspiring, bisa menginspirasi siapa saja.
Necessary. Kita harus mengunggah sesuatu seperlunya dan tidak berlebihan, yang penting-penting saja.
Kind. Setiap hal yang kita bagikan selaiknya tak menyinggung orang lain dan gak bikin kontroversial yang bersifat negatif.

Semoga tips ini bermanfaat. Agar kita tetap waras di tengah banjir informasi yang makin deras mengalir. Think before you share!

Gemukan Setelah Nikah

Tetap langsing setelah menikah itu ibarat berharap Jakarta nggak macet di Jumat sore yang sedang diguyur hujan deras. Sulit gaes. Terutama perempuan, karena mereka melahirkan dan menyusui.

Tapi yang laki banyak juga kok. Saya salah satunya. Setiap kali ketemu kawan lama atau saudara, pasti bilang saya gemukan. Ini karna dulunya saya kurus banget. Rasanya pengen marah, tapi saya tahan. Buat apa, toh segemuk apapun kita, di mata Allah tetaplah kecil. *benerin peci


saya nomor dua dari kiri

Tapi jangan bayangkan saya seperti om-om buncit yang perutnya six pack month atau onepack. Gak gitu-gitu amat sih. BMI saya masih normal; 24. Lingkar perut juga di bawah 90 cm. Pakai kemeja slim fit masih muat, tapi harus tahan nafas ­čÖé

Kenapa sih kok jadi mudah gendutan pasca menikah?

Banyak faktor yang mempengaruhi, yang paling utama tentu makanan. Saat masih single; diet ketat, pilih-pilih makanan dan menjaga bentuk tubuh agar tetap aduhai.

Dulu pas masih kuliah, malahan saya makan sehari hanya dua kali. Ini lebih karena jatah bulanan yang ngepres. Giliran udah nikah, udah laku juga kan, apa aja di hajar.

Belum lagi kalau anak gak ngabisin nasi, maka orang tuanya dengan senang hati yang ngabisin.

“Piringnya bawa sini dik, biar papa yang makan. Ada lagi gak?”

Malas bergerak juga bikin tubuh gampang melar. Sebenarnya ada niat, tapi kesibukan bekerja, gak ada waktu, trus si kecil gak mau ditinggal; menjadi alasan untuk mengabaikan olah raga.

“Gak papa gemuk, yang penting sehat”. That’s totally wrong and dangerous

Obesitas itu rawan dengan penyakit seperti diabetes militus, jantung, hipertensi dan stroke. Makanya penting banget buat kita untuk menjaga agar berat badan ideal. Bukan mengejar looks good, sebab ini hanyalah bonus.

Yang utama adalah supaya kita sehat, kuat ngejar saat anak-anak ngajak main lari-larian di lapangan dan bisa menemani mereka hingga kita menua tanpa sakit-sakitan. Dan gak ngantukan. Diajakin pillow talk sama bini, sudah buruan ngorok.

Trus gimana caranya?

Teman saya ngajakain diet keto. Berat badannya turun 10 kg dalam satu bulan. Dulunya endut nggemesin, sekarang kurus. Dia gak makan karbo dan gula. Gak ngopi, gak ngeteh. Yang dikonsumsi hanya protein dan lemak sehat. Jadi kalau dia sarapan, menunya telor 5 biji, minumnya santan. Buah yang dimakan cuma alpukat.

tinggal tuangin saus salad, nikmat

Karna tiap orang belum tentu cocok dengan diet tertentu, saya malah takut dengan sesuatu yang instant. Yang normal-normal aja deh. Dari dulu saya gak pernah diet. Sebab nggak terlalu mikirin angka di timbangan. Saya lebih fokus bagaimana komposisi tubuh, kesehatan, kebahagiaan dan timbangan amal. *ahelah

Yang saya lakukan saat adalah mindfulness eating. Tak hanya makan asal mengenyangkan dan membuat lidah menari. Makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Gak buru-buru ngunyahnya, gak sambil main hp. Menghindari lapar mata serta memperhatikan asupan yang masuk ke tubuh. Gak rakus. Kalau ada sisa ketering di kantor, gak rebutan bungkus bawa pulang.

IMG_20190409_070229_HDR-01-02.jpeg

buat camilan

Bukan makanan yang bikin endut, kita nya aja yang gak bisa jaga mulut. Ngunyah terus

Sehari makan tiga kali. Ngemilnya dua kali. Pagi jam sepuluhan dan sore habis ashar. Pernah juga kalap. Siang menunya nasi padang, minumnya es teh manis. Maka malamnya saya hanya konsumsi buah atau sayur. Kalau lagi kumpul sama teman-teman wisata kulineran, ayo aja. Intinya gak berlebihan.

ketergantungan saya terhadap tempe, sungguh sampai pada level mengkhawatirkan

porsinya gak usah banyak-banyak

IMG_20181129_130245-02.jpeg

akhir bulan, ada ikan berkepala dua

Selain mengontrol makanan, saya juga berusaha olah raga secara teratur. Sehari minimal 30 menit. Sepedaan dan lari-lari. Jika gak sempat olah raga, banyak cara kok biar tetap aktif bergerak. Mau pergi ke tempat yang deket, gak usah pakai motor. Ke masjid jalan kaki aja. Gunakan tangga, kurangi eskalator dan lift. Jangan males.

sehat dan gembira

IMG_20190131_074824_HDR-01.jpeg

sepeda kanggo nyambut gawe

sepedaan bareng anak

jogging pagi di tepi pelabuhan

Kalau udah jaga makanan dan olah raga rutin tapi masih saja endut, jangan menyerah. Tetaplah konsisten. Perhatikan juga pola istirahat dan pola pikir. Jangan stress. Hasil tak kan pernah mengkhianati usaha. Semua butuh proses. Lakukan terus hingga akhir hayat dengan penuh kegembiraan. Sebab hidup sehat adalah pilihan.

Mereguk Kesegaran Es Kopi Susu Racikan Sendiri

Segelas minuman dingin di tengah teriknya cuaca, tak hanya melepaskan dahaga. Namun juga membawa kesegaran bagi jiwa-jiwa penat yang dirundung aktivitas padat.

Es kopi susu menjadi pilihan saya. Selain nikmat, minuman yang lagi nge-hits di kalangan milineal bagai hujan bagi musim panas yang lengas. Nyess.

Kalau di StarBucks, es kopi ini seperti Asian Dolce Latte.  Harganya sekitar 42rb. Dolce kan artinya kental manis, kalau Latte tuh dalam bahasa Itali artinya susu segar. Nah, daripada jajan di luar, mending bikin sendiri. Gampang, murah dan rasanya tak kalah dengan es kopi buatan cafe.

 

Bahan-bahan yang diperlukan adalah:

  • Kopi 2 sendok teh. Kalau mau rasa kopi yang lebih nendang, bisa ditambahin lagi. Harusnya sih 2 shot espresso. Tapi kalau gak punya mesin espreso bisa diganti dengan kopi sachet yang rasanya strong. Nescafe classic.
  • Susu kental manis 2-4 sdm. Tergantung selera.
  • Susu cair full cream 150 ml. Kalau di Starbucks pakai non fat milk. Sudah beberapa merk saya coba, mulai Indomilk, Frisian Flag, Ultra. Namun saya lebih cocok Diamond.
  • Es batu

Cara membuatnya mudah aja kok.

  • Seduh kopi dengan 30 ml air panas. Untuk rasa yang lebih nikmat, sebaiknya gunakan air mendidih yang telah didiamkan selama satu menit. Suhunya sekitar 80┬░. Jangan yang 100┬░ ya.
  • Masukkan es batu ke dalam gelas
  • Tuangkan 3 sdm susu kental manis

  • Masukkan susu full cream
  • Dan terakhir, tuangkan kopi. Lalu aduk

 

 

Mudah kan. Selamat mencoba ya.

Kebiasaan Kecil Sebelum Jalan-Jalan

Hari gini siapa sih yang yang seneng jalan-jalan? Apalagi dibayarin. Mau banget. Hamdalah saya sering dapat kesempatan seperti itu. Lebih karna urusan kerjaan, ditugasin ke luar kota untuk beberapa saat.

Paling suka bila tujuannya adalah kota yang belum pernah saya kunjungi. Semakin jauh semakin menantang. Apalagi harus gonta-ganti moda transportasi. Habis pesawat, trus naik bis, nyambung kereta dan ojek. Capek sih, tapi seru. Kudu matang ngerencanain gimana kesananya, naik apa, ntar nginep di mana, kapan ada waktu buat explore tempat wisata serta berburu kulinernya.

View this post on Instagram

Mari bergegas #commuter #commuterline

A post shared by Danang Budiarto (@bro_danang) on

Agar perjalanan tersebut lancar, saya berikhtiar merancang sebaik mungkin. Emang harus ada persiapan ya? Mau jalan-jalan kok malah bikin ribet. Ah gak juga. Malah di sinilah letak seninya, gimana perjalanan itu memberi kegembiraan. Gak ada aturan baku, jadi bebas terserah kita. Cocok buat saya, belum tentu pas buat orang lain.

Apa saja sih yang biasa saya lakukan sebelum memulai perjalanan? Ini dia.

Yang pertama adalah membuat itinerary. Ketika sampai di tempat tujuan, saya gak bingung lagi mau ngapain, pengen kemana. Tempat wisata sudah diurutin, mana duluan yang mesti didatangi, apa saja yang kudu diperhatikan saat di lokasi dan sebagainya. Itinerary ini saya buat sedetail mungkin mulai dari hari, jam, estimasi biaya dan cara menuju dan bahkan dress code-nya. Tidur pun pakai kaos yang mana sudah ketahuan. Kalau gini kan, gak ada ceritanya kebanyakan bawa baju. Haha, kurang kerjaan banget ya.

Berikutnya adalah mencatat seluruh barang dan perlengkapan yang perlu dibawa. Saya buatkan list. Ini memastikan agar tak ada yang ketinggalan atau berlebihan membawa barang.

Kelihatannya sederhana, namun ternyata tak banyak orang yang bisa menyiapkan bekal dengan baik. Liburan cuma dua hari, tapi bawaannya kayak mau transmigrasi. Dua koper besar, backpack dan tas jinjing. Pas udah nyampai di tempat tujuan, baru nyadar charger ketinggalan, lupa gak bawa handuk dan celana dalam kurang. Berabe kan. Saat berangkat, tas gak pernah saya penuhin. Selalu sediakan ruang kosong untuk beli oleh-oleh.

Ketiga, memfoto semua dokumen penting seperti KTP, SIM, NPWP. Tiket pesawat dan voucher hotel selain di-screenshot, juga saya catat di buku. Khawatirnya pas mau check in, HP eror atau low bat. Buat jaga-jaga aja. Bukannya meminta, ada kan yang dompetnya hilang di tengah perjalanan, entah karna kecopetan atau terjatuh.

Keempat, meninggalkan kartu atau dokumen yang tak perlu di bawa. Biasanya saya hanya bawa satu kartu ATM. *ngapain bawa banyak-banyak kalau gak ada saldonya.

STNK dan SIM juga saya tinggal. Kecuali emang nanti akan berkendara di tempat tujuan, maka saya bawa SIM. Dalam dompet juga saya simpan selembar catatan kecil tentang kontak darurat, tertulis nama istri, orang tua dan nomer yang bisa dihubungi.

Oh ya, saya juga bawa flas disk berisi lagu favorit. Sangat berguna saat mengendarai mobil agak lama. Tinggal colokin ke audio system nya. Lumayan buat hiburan di kala terjebak macet. Kalau gak gini, terkadang driver muter lagu yang gak asik. Merusak mood.

Terakhir adalah menyimpan uang di beberapa tempat. Tak hanya ditaruh di dompet, juga saya selipkan di tas dan kantong jaket. Intinya tidak menyimpan telur dalam satu keranjang yang sama. Lebih aman. Saya juga mengisi saldo dompet digital. Cashless dan yang bikin menarik adalah banyak promonya. Kemarin aja pas belanja dapat cash back 30%. Lumayan kan.

Itulah beberapa kebiasaan saya sebelum bepergian. Kalau kalian bagaimana?

Bohongi Istri Karna Hobi

Untuk menjaga keharmonisan keluarga, dibutuhkan keterbukaan dalam segala hal. Termasuk soal keuangan. Yang kadang dianggap sepele tapi ternyata bikin pasangannya uring-uringan adalah pengeluaran secara diam-diam. Bisa untuk hobi ataupun hal-hal remeh lainnya.

Berbagai modus agar tak disewotin istri.
Beli mainan, label harganya dicopot. Notanya diubah, dengan harga lebih murah. Dikirim ke kantor, biar gak ketahuan pasangan. Dititipin ke teman agar diberikan seolah-olah hadiah.

Sering kan kita lihat istri marah gara-gara suaminya suka jalan-jalan, olahraga extreme, beli gundam, modif kendaraan dan upgrade kamera. Atau sebaliknya, suami geram karna istri berkali-kali beli tas, sepatu, parfum dan sebagainya.

Padahal bagus aja lho, laki main action figure, upgrade sepeda. Daripada main cewek atau mabuk-mabukan. Hobi yang mahal tak jarang justru bikin semangat cari duit.

Yang bikin masalah kan ketika untuk kondisi keuangan belum stabil, buat kebutuhan pokok aja masih ngos-ngosan, lha kok malah beli macem-macem yang gak penting. Ini namanya gak bijak. Harus ada prioritas. Toh itu semua hanya kebutuhan tersier. Gak dipenuhi pun gak bikin kita mati.

View this post on Instagram

Beli mainan, alasannya buat si kecil. ­čśü

A post shared by Danang Budiarto (@bro_danang) on

Yang bikin nyesek lagi, untuk mendapatkan semua mainan atau hiburan itu terpaksa harus berdusta. Sedemikan galaknya kah pasangan kita, hingga harus kucing-kucingan. Apa bener dia gak pengertian, gak bisa memahami kita? Padahal kepercayaan adalah dasar terpenting dalam setiap hubungan.

Perempuan itu feelingnya kuat loh. Dia tahu bila sedang dibohongi, meski kita kaum lelaki sudah berusaha ngasih pembenaran penjelasan. Wanita punya 1001 cara untuk membuat pria merasa bersalah dan berdosa. Jangan coba-coba deh. Telat bales chat semenit aja udah ngamuk, apalagi dibohongi.

Saya yakin tidak seperti itu. Kalau sayang sama pasangan, niscaya kita berusaha membahagiakannya. Seumpama keinginan kita belum di-acc, pasti ada alasannya. Andai gak bisa saat itu juga, kan bisa nanti-nanti. Intinya bicarakan baik-baik. Nggak perlu berantem hanya karna sesuatu yang nilainya tak seberapa. Norak.

Duit ada, udah ngomong baik-baik, tapi kalau kamu gak adil ya bakal jadi masalah juga. Misalnya, kamu dibolehin beli ini itu sama pasanganmu. Tapi kamunya ngelarang pasanganmu. Terlalu perhitungan alias pelit. Itu namanya egois.

Dan yang gak kalah penting adalah jangan berlebihan. Wanita suka kesel kalau kita asyik ngurusin burung, nongkrong sama teman, haha hihi asyik dengan dunia kita sendiri hingga sedikit mengabaikannya. Hatinya perih.

Jadi ketika pasanganmu tidak mengijinkanmu untuk hal-hal yang saya ceritain di atas, sesungguhnya dia sedang menjaga hatimu agar tidak menduakannya. Dia ga mau ada yang lain di hatimu.

Kalau kamu gimana? Suka umpet-umpetan juga sama pasangan, atau lebih suka minta maaf dari pada minta ijin?

Jangan Jadi PNS

Selama masih suka ngeluh, terjebak pada besarnya nominal serta membandingkan diri dengan yang lain; maka kebahagiaan tak akan pernah singgah dalam relung jiwa kita. Meskipun sebenarnya pekerjaan yang kita raih sekarang cukuplah bonafit dan diidamkan orang lain. Kita tak akan pernah puas dengan yang kita miliki. Manusiawi.

Ditambah dengan omongan masyarakat yang bikin kuping jadi panas, membuat sebagian orang makin bimbang dengan profesi yang telah digelutinya.

Pas lagi rame-ramenya rekrutmen PNS, di sebuah angkringan ada yang ngomong begini, “Ngapain jadi PNS, gaji kecil, gak bisa kaya. Masih aja banyak yang daftar”

Ya Allah, itu mulut apa balsem. Pedes banget.

E tapi kata siapa PNS gak bisa kaya. Lihat aja kalau PNS ngajukan kredit di bank “Gaji emang 2 juta mbak. Tapi belum termasuk honor, perjalanan dinas dll. Kalau ditotal bisa XX juta” <<< *sok kaya beud

Giliran tetangga mau minjem duit, “Aduh gimana ya. Pengen bantuin, tapi gaji PNS kan kecil. Kudoain aja yang terbaik ya”

Yang gak kalah sadis lagi…

“Parah nih PNS. Kerjanya lemot, suka keluyuran saat jam kerja, mempersulit urusan, banyak KKN-nya pula”

Astaghfirullah…

Saya sih gak kaget, karena faktanya memang masih ada yang begitu. Wajar bila sebagian besar masyarakat memberi stigma buruk pada aparat pemerintah. Mereka mengalami sendiri ketika ngurus KTP, bikin sertifikat, buat ijin usaha, berobat ke Rumah Sakit dll.

Tapi percayalah, gak semua seperti itu. Masih ada PNS yang berintegritas, berdedikasi tinggi serta mencintai negeri ini.

Pemerintah gak berdiam diri kok. Ada upaya sungguh-sungguh melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja para ASN. Kita sedang berproses ke arah yang baik.

Ketika mendapat pelayanan yang tidak memuaskan dari aparat serta mengetahui ada indikasi fraud, kita bisa mengadukannya. Laporkan ke aparat pengawas dan Ombudsman Republik Indonesia. Bisa juga dengan mengirim surat pembaca di koran nasional. Gak perlu memaki, merendahkan profesi mereka. Trus ngomporin orang lain agar tak jadi PNS, agar tak jadi orang gajian seumur hidup. Menganjurkan anak-anak muda agar jadi enterpreneur aja.

Lha kalau semua jadi wirausaha, lebih memilih masuk perusahaan, gak ada yang mau jadi PNS; siapa yang bakal mengurus negri ini Maliih?

Justru negri ini butuh lebih banyak orang baik, orang-orang cerdas dan kreatif untuk menjadi PNS. Agar birokrasi menjadi lebih lincah, bersih dan gak bertele-tele. Supaya mereka tak kalah ketika menghadapi para mafia, politikus busuk dan pengusaha nakal.

Di Perancis dan Singapura, pegawai negeri adalah profesi elite. Selalu jadi rebutan lulusan terbaik. Alangkah sedihnya ketika PNS dijadikan pilihan karena kepepet. Karena punya canel orang dalam dan jatah jabatan.

Intinya, semua profesi itu sama. Mau jadi petani, nelayan, pedagang, pengusaha, dokter, tukang parkir, atau buruh pabrik. Tak ada yang lebih mulia, ataupun lebih hina. Tergantung bagaimana menjalani dengan penuh kesungguhan, jujur dan bertanggung jawab.

Dan gak perlu ngiri sama profesi orang lain. Kalau gak terima dengan kondisi saat ini, merasa penghasilan ala kadarnya, stuck; ya udah alih profesi aja.

Yang perlu disadari adalah, ada hal-hal lain yang tak bisa dinilai dengan materi. Mungkin gaji tak seberapa, tapi entah mengapa selalu cukup untuk kebutuhan keluarga, bisa bantu saudara, jiwa pun tenang karenanya. Lingkungan kerja yang nyaman, kesempatan belajar terbuka lebar, serta mampu mengoptimalkan diri; adalah beberapa alasan kenapa seseorang memilih sebuah pekerjaan.

Yang penting, cintai pekerjaanmu. Jangan pedulikan label yang orang lain berikan pada dirimu. Gak usah merasa paling berjasa, paling penting, atau paling apalah dibanding yang lain.

Kita berbeda jalan, beda profesi untuk saling melengkapi.