Memulai Obrolan Tanpa Basa-Basi Yang Menyakiti

Ada sebagian orang yang menganggap aku ini pendiam. Gak salah sih, tapi gak sepenuhnya bener. Kalau belum begitu akrab, aku memang gitu. Irit bicara. Karna aku penganut paham diam itu emas.

Namun bila sudah terlanjur deket sama seseorang, apa aja diomongin, gak pernah kehabisan bahan obrolan. Hingga tak ada rahasia lagi.

Nah, besok kan Lebaran. Kita bakalan ketemu banyak orang. Keluarga, sepupu dua kali, saudara jauh, tetangga dan teman sekolah. Biasanya malah sering ada reuni. Bagi sebagian orang, akan jadi sedikit masalah. Tatkala jarang bersua, trus harus memulai obrolan. Kikuk jadinya.

Mau sok akrab, kalau aslinya gak supel malah jadinya gak asik.
Kalau diem-dieman sambil maen hp, sungguh tak etis. Mari hargai orang lain. Tatap matanya saat sedang bicara. Read More

Iklan

Sensasi Berpetualang Seorang Diri

Salah satu hal yang saya sukai dari istri saya adalah sikapnya yang pengertian. Dia ngerti apa mau saya, gak melarang jika saya mau sesuatu. Istri saya percaya “makin dilarang, suami justru makin berontak”.

Makanya, asal keinginan saya positif, gak minta poligami, gak macem-macem, pasti dia dukung. Ada kan yang setelah menikah gak boleh ngapa-ngapain sama istrinya. Dilarang main futsal, gak boleh nongkrong sama teman-teman. Kasihan.

Yang masih saya lakukan meski sudah menikah adalah berpetualang sendirian. Ngebolang gitu. Gak ngajak istri ataupun anak-anak. Itung-itung me time nya lelaki lah. Istri kalau mau me time, juga saya bolehin kok. Read More

Selingkuh, Salah Siapa?

Gak harus ganteng, sick pack, tajir dan penuh pesona untuk memulai sebuah perselingkuhan. Kamu kere, tampang pas-pasan, gendut pun bisa melakukannya. Hanya butuh nyali dan ketegaan saja untuk mengkhianati pasangan.

Emang sih kalau lelaki udah mulai sukses, biasanya mulai banyak tingkah. Lirik kanan kiri, tambah genit, macam puber kedua gitu. Apalagi kalau tiap di rumah lihat istrinya pakai daster, tubuhnya bau minyak kampak, keningnya ditempeli koyok, gak mau dandan pula. Sebenarnya bukan gak mau dandan sih, lha uang belanja dikit kok minta istri harus slalu menarik.
Read More

Suami Takut Istri

Menikah benar-benar membawa perubahan yang luar biasa. Seorang lelaki menjadi lebih pemberani sekaligus lebih penakut saat sudah berkeluarga. Berani melakukan apa saja, cari nafkah, banting tulang, peras keringat, gak peduli omongan orang, yang penting dapur tetep ngebul.

Saya pernah jam setengah dua malam keluar nyari nasi goreng, karena istri lagi ngidam. Jalanan sepi, gelap, dingin, ada begal atau ketemu suster ngesot di tengah jalan, gak saya pedulikan. Demi istri.

Nah kalau soal takut, yang sering dialami bapak-bapak adalah takut istri. Antara takut dan sayang, bedanya memang tipis banget. Read More

Pura-Pura Kaya

Gambar: Pixabay

Pesawat yang akan saya tumpangi menuju Solo ternyata delay. Kelamaan nunggu, bosen jadinya. Main HP sudah, baca buku juga sudah. Tetap saja tak bisa menghilangkan rasa suntuk. Di tengah kejenuhan itu, ada seorang lelaki di sebelahku ngajakin ngobrol. Usianya sekitar 45-50 tahunan.

Awal mula obrolan, hanya basa-basi. Bapak itu juga yang dominan bertanya dan bercerita. Aku hanya menimpali sekedarnya, gak enak lah kalau nyuekin. Saya masih bisa menjaga kesopanan, tahu tata krama dengan orang tua.

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba dia cerita segala pencapain hidupnya. Yang punya percetakan lah, punya ratusan karyawan, sering rapat keluar kota dan sebagainya. Macem-macem dia ceritain. Padahal saya gak nanya, kenapa dia nyerocos aja. Ngomongnya ndakik-ndakik, ntar kalau mulutnya kesampluk pesawat gimana? Read More

Sebelum Semuanya Berlalu

suka terharu kalau lihat gambar ini [sumber : google]

Mengantar anak-anak berangkat sekolah sudah menjadi rutinitas saya setiap pagi. Seru dan menyenangkan. Namun masih ada yang lebih dahsyat lagi, yaitu tatkala membangunkan mereka, rebutan kamar mandi dan sarapan bareng. Kadang kocak namun tak jarang bikin dongkol.

Berbagai taktik sudah pernah saya lakukan untuk membangunkan anak-anak lebih awal. Didendangkan shalawat, digelitikin, dicipratin air sampai dimarahin. Tetep aja nyenyak tidurnya. Pernah suatu saat saking ngantuknya, anak saya ke kamar mandi sambil terpejam. Atau pas saya lagi asyik mandi, tiba-tiba si kakak gedor-gedor pintu kamar mandi karna sakit perut. Bener-bener pagi yang berwarna.

Setelah anak-anak mandi, sudah rapi sudah cakep, prosesi berikutnya adalah sarapan. Sembari menikmati masakan olahan istri, cerita-cerita tak henti mengalir dari buah hati saya. Tentang PR yang sulit, ngomongin bu guru yang galak, jajanan di kantin yang gak enak dan apa saja. Momen seperti inilah yang sangat saya sukai. Hangat, akrab dan penuh cinta. Bisa jadi momen seperti ini tak akan lama, karna anak-anak yang smakin beranjak remaja.

Sekarang anak saya sudah besar. Si sulung kelas 2 SMP. Bangun pagi gak pakai drama lagi. Sudah mulai bisa mengatur waktu. Untuk dicium dan dipeluk di depan gerbang sekolah pun mereka mulai enggan. Malu dilihat teman-teman, itu alasan mereka. Bahkan si sulung mulai minta dibelikan sepeda, mau berangkat sekolah sendiri. Duh saya belum siap.

Perasaan yang sama juga muncul saat anak saya ikut Persami (Perkemahan Sabtu Malam Minggu). Hanya dua malam, tapi saya begitu mengkhawatirkannya. Ada rindu yang menggebu saat dia tak ada di rumah. Saya dirundung kecemasan tingkat akut, sementara istri saya woles saja. Alhasil, setiap malam saya selalu mengunjunginya sambil bawa martabak, terang bulan dan beberapa camilan kesukaannya.

Memang akan tiba saatnya anak-anak mulai menemukan dunianya sendiri. Setelah bertahun-tahun kita membersamai mereka; menggendong, menatih, mandiin, memakaikan baju, ngajarin naik sepeda, melepas mereka sendirian ke sekolah dan pada akhirnya akan tiba waktunya untuk melepaskan pegangan tangan. Sedih.

Gimana ya rasanya jika kelak mereka menikah? Sekarang saja saya mulai galak sama cowok yang melirik anak saya. Haha, posesif banget.

Makanya jika kalian punya anak masih bayi atau balita, nikmati kebersamaan itu dengan baik. Nanti kalau anak-anak sudah gede dan gak mau dipeluk, kalian akan rasakan kesedihan itu. Tiap-tiap ayah akan kikuk menghadapi putrinya yang beranjak remaja. Pelukan tak lagi sama. Tak perlu kesal dengan rengekan, tangisan, keonaran atau tingkah mereka saat ngacak-ngacak rumah. Syukuri saja, itu artinya mereka sehat, aktif dan cerdas.

Enjoy parenthood, kita gak akan mengulangi momen seperti itu dengan mereka. Ngangenin banget. Apalagi jika mencium wangi shampo switzal, harum minyak telon cap lang usai anak-anak mandi. Bener-bener golden moment. Hadirlah, jangan sampai ada penyesalan. Ciumlah anak-anak setiap malam, meskipun mereka sudah terlelap tidur.

Suatu saat anak-anak akan dewasa, mandiri dan berkelana menemukan jalan hidupnya. Tugas kita adalah mengantar mereka, mengringinya dengan doa-doa indah, agar di setiap langkahnya selalu dalam perlindungan-Nya dan dinaungi keberkahan.

A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man ~ Don Corleone, the Godfather.

Menjadi Andalan

Gambar: Pixabay

Nggak adil rasanya, jika seorang suami menuntut istrinya bisa segalanya. Harus pinter masak, rajin beres-beres, sabar mendidik anak, cermat ngatur duit; sementara sang suami sendiri ternyata ndak bisa diandalkan. Pulang kerja, sampai rumah cuma main hp, nonton tv, makan, ngopi, lalu tidur. Gitu terus sampai lebaran kuda.

Malu dong kalau begitu. Makanya saya juga berusaha mengembangkan diri, bantuin merawat dan mengasuh anak-anak, juga nambah skill di bidang lain.

Misal nih kabel setrika putus, sepeda si kecil rusak atau tiba-tiba kran air di kamar mandi patah. Sebagai suami siaga, harusnya sih bisa beresin yang begituan. Gak harus manggil tukang.

Emang saya bisa? Pada mulanya sih gak bisa. Tapi dikit-dikit saya mulai belajar. Nanya teman dan cari info di internet. Untuk hal-hal yang tidak terlalu rumit, saya berhasil. Bangga rasanya bisa ngrakit meja belajar, benerin kunci pintu yang rusak.

Pernah juga saya benerin mesin cuci yang ngadat. Bukan karna saya ngerti soal elektronik. Nekat aja sih. Soalnya manggil tukang service mahal banget. Sekali tempo berhasil, karna cuma ngganti colokan kabel yang meleleh. Gampang.

Eh lain waktu, mesin cuci rusak lagi. Saya bongkar dengan rasa percaya diri. Dan hasilnya, mesin cuci saya makin hancur. Gak bisa diapa-apain. Ternyata tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan googling dan lihat YouTube.

Tapi istri saya gak marah. Dia tetep menghargai usaha keras saya. Dia cuma minta dibelikan yang baru. Kalau nggak, saya ya harus nyuci sendiri. Hahaha, pengen ngirit ongkos service, jadinya malah keluar duit banyak. Ternyata benar, jika sesuatu diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.

Sejak itu, untuk urusan yang ribet dan saya memang gak bisa, ya udah pasrahkan ke tukang. Anggap saja berbagi rejeki. Istri saya juga kapok barangnya saya rusakin lagi.

Ternyata jadi superdad yang bisa segalanya tuh gak mudah ya. Sebagai seorang suami dan ayah, yang penting kita mau berusaha dan gak hanya berdiam diri. Terus belajar. Belajar apa saja. Biar bisa jadi kebanggaan anak dan istri.

Sebab bermodalkan cinta saja, gak bakalan bisa nylesaiin masalah 😂