Beberapa Fakta Unik Yang Hanya Terjadi Saat Lebaran

Idulfitri tlah tiba. Semua orang bersuka cita. Ada yang memaknai Lebaran itu makan-makan, baju baru, maaf-maafan atau hari kemenangan. Apapun itu, saya cuma mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1437 H. Semoga kita layak jadi pemenang di hari suci ini. Yang menang, merasa menang atau bahkan yang merasa kalah tetap boleh merayakan.

Sekalian mau ngasih tahu , ternyata ada beberapa fakta unik dan menarik yang hanya terjadi saat Lebaran. Ini dia :

1. Jumlah orang yang melantunkan takbir di malam Lebaran agak berkurang. Banyak yang lebih sibuk dengan gadget-nya.

2. Pada saat Lebaran, mendadak muncul pujangga-pujangga baru yang mengucapkan permohonan maaf secara puitis. Sekedar saran, permintaan maaf & ucapan Idulfitri akan lebih berkesan jika dilakukan secara langsung, bertemu dengan orangnya. Kalaupun tak bisa berjumpa dan terpaksa via HP sebaiknya jangan brodkes, jangan copy paste dan jangan garing.

3. Setelah ramai ucapan Lebaran di FB, Path, WA dan BBM; selanjutnya dunia Maya akan riuh dengan foto makanan khas Lebaran dan foto-foto selfie, wefie maupun groufie.
Read More

Iklan

Merantaulah Sejauh-Jauhnya, Engkau Akan Tahu Arti Mudik Yang Sebenarnya

Ramadhan hari ke 21. Delapan kali sahur lagi, kita akan meninggalkan bulan suci ini dan bertemu Idul Fitri. Entah harus sedih atau senang. Semoga ini bukan Ramadhan terakhir kita.

Dan saat ini sepertinya sudah boleh ngomongin mudik. Ritual tahunan yang selalu dinantikan semua orang. Ritual yang menyadarkan kita bahwa semua yang pergi harus kembali.

Sayangnya lebaran kali ini saya tak mudik. Bukan karna tak rindu. Bukan. Sungguh, sebagai lelaki pemuja rindu, hati saya sudah berdarah-darah dicabik-cabik kerinduan. Rindu bapak ibu, rindu adik-adik, rindu kehangatan rumah, rindu kuliner kampung, rindu sawah dan sungai-sungainya. Apa saja yang ada di desa, seolah melambai-lambai memanggil saya untuk pulang.

Saya tak pulang juga bukan karna malu.

Memang ada sebagian orang yang mengurungkan kepulangannya karna malu tak ada yang dipamerin. Malu tak bawa mobil. Malu pulang sendiri tanpa pasangan. Malu tak bawa oleh-oleh, malu karna belum sukses di tanah rantau. Saya tidak seperti itu. Pulang ke kampung halaman adalah sebuah perjalanan hati, tak perlu melibatkan gengsi.

Saya tak mudik bukan pula karna takut habis-habisan setelah lebaran. Habis dosanya, habis pula saldonya. Saya tak pernah merasa rugi mengeluarkan sejumlah uang untuk beli tiket pesawat. Saya yakin setiap rupiah yang dibelanjakan demi menyambung tali silaturahim, demi senyum orang tua tercinta, akan dibalas dengan keberkahan. Uang bukan masalah buat saya *sombong

Sedih memang, di hari nan fitri tak bisa berkumpul dengan handai taulan. Tapi berlebaran di tanah rantau juga bukanlah sebuah kesalahan. Toh di mana mana sama saja, yang penting maknanya kan. Kembali ke fitri, kembali pada kesucian. *cie…menghibur diri

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan jika tidak pulang kampung. Kalian bisa me time, main ke rumah teman, jalan-jalan, mencoba wisata kuliner, menata ulang kamar dan quality time bersama keluarga.

Meski lebaran tahun ini tak bisa pulang kampung, tak membuat saya murung. Sang Maha Pemberi Hidup melimpahkan begitu banyak kenikmatan untuk saya. Saya bisa setiap saat berkumpul dengan anak istri, bisa berbuka dan sahur bersama. Saya juga dianugerahi kesehatan, rejeki, keberkahan dan kebaikan hidup. Apalagi yang kurang. Tak sepantasnya bila saya harus meratapi nasib.

Buat yang mudik, saya ucapkan selamat mudik, hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa peluk dan cium ibu kalian sesampai di rumah. Yang ndak mudik, bisa main ke rumah saya. Saya akan open house. Lebaran nanti istri saya mau masak opor ayam. Ada juga orson dan biskuit Khong Guan. Mari kita rayakan kemenangan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

Sedih dan Bahagia Di Hari Kemenangan

Sedih dan bahagia terkadang hadir berbarengan, termasuk saat ini. Sedih karna Ramadhan telah berlalu, sementara amalan ibadah saya di bulan nan agung ini kurang optimal. Ibarat kesempatan emas, banyak yang terlewatkan  begitu saja. Sekarang hanya bisa memohon semoga masih diberi umur panjang dan kesehatan agar bisa berjumpa dengan Ramadhan berikutnya.

Eh tapi saya masih mending lho, ada juga yang sedih karna hal lain, seperti gak bisa mudik, kangen keluarga. Yang bisa mudik pun tak luput dari kesedihan. Sedih karna ketika bertemu sanak saudara, tetangga dan kawan lama diberondong pertanyaan kayak gini

Kapan nikah?
Kapan kamu lulus?
Kamu kok belum hamil sih?
Eh sekarang gendut subur ya, bagi resepnya dong. Bla…bla…

Tiap Lebaran ditanyain itu terus, perihnya luar biasa, nyesek. Gak tahu juga sih apa maksud mereka nanya kayak gitu. Iseng kah, ngledek kah, membully atau apalah…, gak jelas. Bisa jadi basa-basi, mencairkan suasana karna lama gak ketemu. Saran saya, gak usah dimasukin ke hati. Jawab aja insyaallah sambil melotot. Pasti langsung terdiam.

Selain sedih, ada pula kebahagiaan terpancar di hari ini. Bahagia bukan karena pakaian baru, sandal baru, pasangan baru. Bukan juga karna banyaknya makanan lezat yang bisa disantap.

Bahagia itu hadir karna kita kembali ke fitri, kembali pada kesucian, seperti bayi yang lahir, tanpa dosa. Bersih, tak ada lagi perasaan benci, iri hati dan dendam.

Semoga di hari Idul Fitri ini, kita semua layak menang. Mengalahkan setan dan hawa nafsu.

Amiin.