Semua Akan Lebay Pada Waktunya

Salah satu ujian kehidupan yang kelihatannya sepele, tapi ternyata sangat menguras kesabaran adalah, dipertemukan dengan orang-orang yang menyebalkan. Pengendara motor yang ugal-ugalan; petugas kelurahan yang mempersulit urusan kita, penyerobot antrian pom bensin dan tetangga yang lebay. Itulah sebabnya kenapa Tuhan menciptakan jari tengah 😛 *becanda gais*

Tak hanya itu, kadang kita juga disakiti sama orang lain. Ditelikung, diomongin dari belakang, dicuekin, di-PHP-in bahkan dibully. Dan itu juga sangat menyebalkan. Tapi itu semua sebenarnya bukan alasan buat kita untuk membalasnya dengan ikut-ikutan bertingkah menyebalkan juga.

Mari berkaca pada kasus Florence Sihombing. Flo diprotes sama banyak orang karna menyerobot antrian di SPBU. Lantaran emosi, Florence menumpahkan kekesalannya dengan memaki-maki warga Jogja di akun Path miliknya. Dasar apes, ada yang menyebarkan sumpah serapahnya itu dan kemudian mengadukan Flo ke polisi dengan delik pelanggaran UU ITE. Akhirnya ditahanlah dia sekarang.

Andai Florence bisa menahan amarahnya tentu ceritanya tidak runyam seperti ini. Kalau pun Flo ingin mengumpat, jangan di dunia maya. Tulis saja di buku diary. Lebih aman. Gak ada yang nyebarin, kecuali ada yang nemu gembok buku diary-nya.
Gak ada yang tersakiti. Gak urusan sama polisi.
Atau jika ingin menumpahkan segala uneg-uneg, mending curhat di atas sajadah. Mengadu pada-Nya. *eh si Flo pake sajadah gak sih*

Tapi menurut saya kasus ini bermula dari ke-lebay-an sih.
Flo lebay.
Warga pun lebay, mudah terprovokasi. Urusan kecil dibesar-besarkan. Padahal Flo sudah minta maaf tetap saja  dilaporin ke aparat berwajib.

Di zaman sekarang apakah memaafkan adalah pekerjaan yang begitu sulit?
Memaafkan bukan berarti kalah. Memaafkan adalah tentang kebesaran hati.
Berat rasanya kalau harus hidup penuh dengan kebencian dan dendam dengan sesama.

Polisi juga lebay. Masak gitu aja dipenjara. Bandingkan dengan kasus lain. Ada anak pejabat nabrak orang sampai meninggal, gak dipenjara. Ada koran dan tabloid Obor Rakyat yang isinya fitnah, menebar kebencian; pemrednya gak dipenjara. Ada sastrawan menghamili mahasiswi gak dipenjara. Tersangka korupsi milyaran rupiah, sampai sekarang pun gak ditahan juga. Lebay kan.

Karna lebay tak mengenal usia, tak pandang kasta, maka semua akan lebay pada waktunya.
Ya, aku dan kamu L3b4y.

Iklan

Objek Penderita

sekolah-anak-sd

Di setiap episode pertemanan, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, selalu saja ada kawan yang menjadi objek penderita, jadi bahan olok-olokan, di-bully, di-ceng-cengin. Apapun itu, pokoknya dia selalu jadi bahan kalah-kalahan. Kamu punya teman yang kayak gitu gak?
Kasihan ya.
Kenapa hidup ini begitu kejam, mungkin itu pertanyaan yang muncul dari si objek penderita.

Kalau menurut penerawanganku, ada beberapa hal yang membuat seseorang itu jadi Objek Penderita. Ini dia :

Pendiam
Terlalu pendiam, kuper, gak berani melawan, akhirnya ya diisengin teman-teman. Coba kalau yang ngebully dilawan habis-habisan, hajar, banting, pasti besok gak digangguin lagi. Atau bisa-bisa gantian dia yang jadi pembully

Lebay
Orang sering gregetan liat tingkah yang lebay, maka membully adalah cara untuk ngasih pelajaran si anak lebay ini. Biar tahu rasa, biar gak belagu lagi.

Kutukan
Sebenarnya orangnya baik, gawul, asyik diajak ngobrol dan berteman, tapi tetap saja jadi korban bullying. Nah mungkin ini adalah kutukan, bawaan orok.

Itu sih menurutku, kalau menurut kalian ada lagi gak?