Belajar Decluttering dan Minimalisme

Rumah selalu menjadi tempat ternyaman buat kami. Teduh, sejuk dan bersahabat. Tak besar namun tetap luas. Penuh cinta dan kehangatan. Apalagi jika kondisinya bersih, rapi dan gak awut-awutan. Akan menghadirkan efek positif dan kegembiraan bagi penghuninya.

“Konon katanya, ruangan yang amburadul adalah cerminan dari jiwa yang amburadul pula

Salah satu upaya untuk menghentikan kesemrawutan adalah dengan decluttering atau berbenah. Saya lagi belajar untuk mengendalikan kepemilikan barang-barang. Mengurangi sedikit demi sedikit agar rumah tak terasa sumpek. Belum minimalis-minimalis banget sih, tapi lumayanlah sudah mengarah ke simple living.

Gambar: Pinterest

Kebanyakan orang sering mengaitkan minimalis dengan sesuatu yang elegan, hunian berkelas, ruangan yang luas, interior keren dan serba putih. Padahal tidak seperti itu.

Gambar: Pinterest

“Minimalist is a person who knows what is truly essential for him – or herself, who reduces the number of possessions that they have for the sake of things that are really important to them” Fumio Sasaki

Menjadi minimalis berarti menghindari hal-hal yang tak penting, menyingkirkan yang tak dibutuhkan dan fokus pada yang bermakna. Bukan berarti gak berpunya sama sekali, menjadi kere gitu. Bukan seperti itu. Prinsipnya adalah merasa cukup.

Dan kadar kecukupan tiap orang tidaklah sama. Saya cukup punya tiga sepatu saja. Tapi bagi seorang entertainer, sepuluh pasang belumlah cukup untuk menunjang aktivitasnya. HP saya cuma satu dan gak pernah punya kartu kredit. Sementara bagi seorang pengusaha, sangat perlu hp banyak dan credit card.

Hasrat duniawi berbelanja pun sebetulnya masih menggebu, tapi saya coba untuk mengerem.

Saya senang saat mengenakan baju baru untuk pertama kalinya. Namun setelah lima kali pakai, akan terasa biasa. Seusai dipakai sepuluh kali, jadi bosan.

Pola yang sama akan selalu berulang terhadap barang yang kita miliki. Sampai akhirnya saya menyadari, jika bisa puas dengan apa yang kita miliki, maka kita tak harus membeli lebih banyak.

Sok-sokan minimalis. Bilang aja misqueen.

Whatever you say. Minimalisme membuat kita jadi lebih hemat, anti stress, gak banyak hutang dan ndak over thinking.

Gambar: Pinterest

Lanjut lagi nih soal bebenah. Saya mengira proses beres-beres rumah itu akan melelahkan dan membosankan. Ternyata tidak. Justru seru dan menantang. Langkah awal yang saya lakukan adalah menyisir seluruh ruangan. Mencari barang-barang yang nantinya akan saya simpan, buang atau sumbangkan.

Barang-barang layak dipertahankan adalah yang paling saya sukai dan butuhkan. Yang benar-benar sampah seperti pakaian sobek, botol bekas, kardus elektronik, koran lama, makanan basi dan barang rusak lainnya ya harus dibuang.

Coba deh cek isi kulkas. Sisa sayur kemarin, roti yang gak habis dimakan si kecil, es buah udah dua hari, lauk yang gak sempat diangetin; semuanya berkumpul di situ. Pas udah saya buang, istri ngambek. Hahaha.
Itu baru di kulkas lho. Di ruang lain seperti dapur, ruang keluarga dan kamar tidur, pasti ada juga barang yang tak berguna lagi yang mesti dibersihkan.

Sementara barang yang jumlahnya berlebih, gak pernah dipakai, namun kondisinya masih baik dan gak begitu bermanfaat, bisa disumbangkan ke orang lain. Seperti pakaian yang kesempitan, koper lusuh, givi box, kotak makan, tumbler, sepatu kekecilan, cd dan dvd film, kaos kaki dan sapu tangan yang terlalu banyak.

Namun ternyata tak mudah melepas barang-barang yang selama ini telah menemani kita. Entah mengapa muncul perasaan bersalah saat akan membuang barang-barang sentimental dan punya kenangan. Belum lagi godaan untuk menahan barang itu pergi.

“Kan belinya mahal.” “Sayang ah, jangan-jangan suatu saat bisa dipakai lagi.” “Mas, kamu cakep lho kalau pakai baju itu, gak usah disumbangin.” “Ini kan kenang-kenangan dari si A”
pilihan-kemeja-premium-berbagai-warna

Gambar: Pinterest

Kalau alasannya seperti itu, ya repot. Rumah kita luasnya gak nambah gede, tapi barang numpuk terus. Padahal saat kita mengikhlaskan sesuatu pergi dari genggaman, kita akan mendapatkan lebih baik dari yang hilang itu.

Saya tak mau terlalu ekstrem dalam melakukan decluttering. Takutnya malah anget-anget tahi ayam. Perlahan saja. Bertahap, hari demi hari. Karna ini adalah tentang perubahan gaya hidup. Yang penting sudah ada niat, kemauan untuk memulai.

Decluttering ini hanyalah langkah awal. Perlu komitmen lebih lanjut agar bisa mengendalikan barang yang kita miliki dan terbebas dari kondisi yang berantakan.

Beberapa tips sederhana yang bisa terus dicoba antara lain :

  • punya sedikit barang bukan berarti tak bisa bahagia
  • bedakan antara keinginan dan kebutuhan
  • jangan membeli sesuatu karna lagi diskon atau murah
  • jangan pula membawa pulang sesuatu barang karna gratis
  • membuang satu barang setiap hari
  • mengurangi apa pun, terutama jika kita punya barang dalam jumlah banyak
  • setiap kali ada satu barang baru, barang lama yang serupa harus dikeluarkan
  • sering-seringlah bertanya pada diri sendiri tentang arti kepemilikan. Apakah saya masih butuh ini? Kapan terakhir barang ini saya pakai?

Jika ingin merasa bahagia, lebih kreatif, dan percaya diri; tapi bingung harus ngapain dan mulai dari mana; cobalah melakukan perubahan. Sedikit perubahan eksternal di sekitar kita dapat memperbaiki mood.

Gambar : Pinterest

Ubahlah cara berpakaian, cara berbicara, cara menghabiskan waktu kita, cara mengawali rutinitas di pagi hari, lingkaran sosial kita, kebiasaan sehari-hari kita. Dan rasakan apa yang terjadi.

Menata rumah kita menjadi hunian yang rapi, tak penuh sesak, berisi barang-barang yang benar-benar kita butuhkan dan sukai, akan menjadikan hidup lebih tenteram dan menyenangkan.

Selamat mencoba.

Iklan

Tegar Menerima Kenyataan

Saat pembagian raport semester lalu, anak saya gak masuk ranking tiga besar. Terbiasa langganan juara tiba-tiba terdepak dari podium, tentu ini sangat menyesakkan. Lalu ada awan kelam bergelayut di pelupuk matanya. Dan akhirnya, air mata berlinang membasahi pipinya.

Menghadapi hal-hal pelik seperti ini, saya langsung memeluknya erat. Saya pun tak buru-buru menyuruh menghentikan isak tangisnya. Biar saja. Toh nangisnya gak lebay, gak sampai histeris. Biarlah dia ekspresikan kesedihannya. Ini malah bagus, karna dia jujur. Tak berupaya mati-matian menyangkal emosi dan membohongi diri dengan pura-pura tegar.

Setelah agak baikan, saya mulai mengajaknya ngobrol. Ngomong biasa aja, bukan tentang sejuta motivasi semu untuk menyenangkan hatinya.

Saya katakan padanya “Santai aja nak, papa gak marah. Boleh sedih, tapi gak usah baper. Papa tetap bangga sama kamu karna kamu sudah berusaha keras”

Sebagai seorang ayah, saya begitu gatel pengen menceramahinya. Supaya dapat ranking tuh, kamu harus begini, kamu jangan begitu. Seolah-olah dulu saya adalah murid yang hebat.

Padahal apalah saya ini, malah lebih parah dari dia. Juara kelas gak pernah, ikutan lomba cerdas cermat kalah, ikut seleksi Paskibra gak pernah lolos, ikut Porseni antar sekolah juga keok. Baru ndeketin cewek, belum nembak sudah ditolak. Masa muda saya begitu pilu, akrab dengan kekalahan dan kekecewaan.

Tapi dari situlah saya mulai menemukan pembenaran menyadari bahwa inilah saya yang sesungguhnya. Saya belajar bahwa tak mengapa menjadi manusia biasa-biasa saja. Tidak apa-apa prestasi kita tidak sehebat yang lain. Tidak apa juga jalan jalan kita tak sejauh mereka. Tidak ada salahnya menjadi manusia biasa. Hidup memang gak harus baik-baik saja. Gagal bukanlah sebuah kehinaan.

Untunglah saat itu saya gak terpuruk. Saya yakin esok akan ada peluang lagi. Hanya perlu untuk terus bersabar dan berusaha lebih optimal.

Kisah itulah yang coba saya bagikan ke anak saya, agar dia bisa memetik hikmah. Saya berharap ia tak mudah limbung dihantam kerasnya kehidupan. Sebab dalam hidup akan selalu ada hal-hal yang tak sesuai dengan keinginan kita. Butuh jiwa besar untuk mau menerima. Hamdalah dia bisa memahami.

Dan yang membuat saya gembira, anak saya tak menyalahkan pihak lain atas rankingnya yang turun. Dia sportif mengakui, sempat kendor dalam belajar. Ada beberapa kawannya yang ngedumel nilainya merosot karna cara mengajar guru tidak asyik, materi yang belum tuntas, serta murid yang mencontek saat ulangan.

Sikap blaming others ini bahaya lho. Kalau dikit-dikit menyalahkan orang lain, kita tak bisa mengenali diri sendiri dan gak akan pernah berkembang. Kedewasaan akan mandek dan menjadikan kita seorang pengecut.

Peristiwa ini justru membuat dia mengerti dan mengevaluasi kekurangan dirinya. Makin semangat belajar dan gak malu bertanya pada temannya bila ada sesuatu yang tak ia mengerti.

Atas sikapnya itulah, saya beri dia hadiah sebuah jam tangan yang tlah lama diidamkan. Dia heran, ranking turun bukannya dimarahin malah dapet hadiah. Itu adalah wujud apresiasi saya atas keikhlasannya menerima kepedihan dengan lapang dada. Sebab kemampuan menyikapi kegagalan itu jauh lebih penting daripada sekadar merayakan kemenangan.

Kini tak ada lagi gurat kecewa di wajah cantiknya. Ia telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Excellence is not being the best, it is doing your best.

Think Before You Share

Tak perlu silau dengan gelar, jabatan dan pangkat orang lain. Sebab itu semua tak berbanding lurus dengan kecerdasan maupun tingkah lakunya. Media sosial telah membuktikannya.

Tokoh besar, berpendidikan tinggi, menjadi panutan umat; ternyata tak menjamin kualitas postingannya. Masih saja menebar hoaks. Jempolnya terlalu cepat dibanding akalnya. Setelah dibully oleh netizen yang terhormat, barulah kemudian menghapus postingan tersebut tanpa sepatah ungkapan maaf.

Ada beberapa sebab mengapa seseorang mudah sekali menyebarkan berita bohong.

Pertama, karena gak mau cross check suatu berita. Banyak yang merasa hebat ketika menjadi orang yang pertama kali mengabarkan, tak peduli itu benar atau bohong. Orang-orang tua yang baru main media sosial kerap kali melakukan hal seperti ini. Dan WhatsApp adalah sarangnya. Apa saja di-share. Parahnya lagi, berita negatif justru lebih mudah menyebar, lebih dipercaya dan meyakinkan warganet.

“Sebarkan, jangan berhenti di kamu. Agar yang lain mendapat hikmah”

Ada pula yang berharap menjadi viral. Lalu ke-pede-an, merasa dicintai oleh khalayak, karna banyak yang like dan retweet. Padahal itu semua adalah perangkap yang menjerumuskan pada kepongahan. Sungguh berbahagialah mereka yang tak ingin menjadi pesohor. Sebab mengelola ketenaran itu amatlah sulit.

Gambar: Pixabay

Ketika terkenal, kita akan jaim. Berupaya sekuat tenaga menjaga citra diri agar selalu nampak sebagai pribadi yang pintar, asyik, keren dan menyenangkan. Media sosial telah memberi panggung dan lampu sorot untuk para penggunanya. Semua pun terjangkit star syndrome, meskipun aslinya B aja.

Demi itu semua, kita rela melakukan apa saja. Awalnya dengan membuat konten yang menarik dan informatif. Bisa juga berupa humor segar maupun kisah inspiratif. Namun tatkala mentok, terpaksa bikin konten negatif, sensasional dan bombastis.

Kedua, memang sengaja mencari keributan. Diniatkan sebagai sarana panjat sosial, atau menyerang orang lain yang tidak satu gerbong dengannya. Siapa saja yang beda, dianggap lawan. Ini juga salah satu upaya untuk mendukung junjungannya.

Dulu saya berharap setelah Pilpres berlalu, kegaduhan ini akan usai juga. Ternyata justru makin berkembang. Semua merasa benar.

Kebenaran harus sesuai dengan imajinasimu, jika tidak maka itu bukan kebenaran. Ulama harus berada di pihakmu, jika tidak maka itu bukan ulama. Dan presiden harus sesuai dengan versimu, jika tidak maka bikinlah presiden versimu sendiri.

Inilah era post-truth, di mana kebenaran tak lagi absolut. Setiap orang hanya mempercayai apa yang mereka ingin percaya. Dan kadang hanya membenarkan yang dianggap benar.

Gambar: Pixabay

Ketiga, pertemanan. Jika circle-mu di dunia maya dipenuhi orang-orang yang gemar menebar kebohongan, maka kamu akan mudah ketularan. Paparan hoaks yang begitu masif, akan mematikan akal sehat. Untuk itu, jangan segan meng-unfriend, mute atau unfollow akun-akun yang toxic banget.

Agar tak menjadi penyebar hoaks, kita harus bisa mengendalikan diri. Sabar. Pikir baik-baik. Ini kalau saya posting, efeknya buat saya gimana ya? Ngrugiin orang lain gak ya? Ditangkap polisi gak ya?

Ingatlah, UU ITE bisa menjerat bila kita sembarangan di dunia maya. Sudah ratusan orang menjadi tersangka dan terpidana karena memproduksi dan menyebarkan hoaks serta ujaran kebencian.

Jika ingin selamat, gunakan rumus ini sebelum memposting sesuatu.

THINK. True. Helpful. Inspiring. Necessary. Kind

True. Informasi yang kita sampaikan haruslah benar. Rajin-rajinlah untuk cek dan ricek. Jangan asal baca judulnya saja, langsung sebar.
Helpful. Tak hanya bermanfaat buat diri, namun juga berguna buat orang lain. Jangan nyebar sampah digital.
Inspiring, bisa menginspirasi siapa saja.
Necessary. Kita harus mengunggah sesuatu seperlunya dan tidak berlebihan, yang penting-penting saja.
Kind. Setiap hal yang kita bagikan selaiknya tak menyinggung orang lain dan gak bikin kontroversial yang bersifat negatif.

Semoga tips ini bermanfaat. Agar kita tetap waras di tengah banjir informasi yang makin deras mengalir. Think before you share!

Gemukan Setelah Nikah

Tetap langsing setelah menikah itu ibarat berharap Jakarta nggak macet di Jumat sore yang sedang diguyur hujan deras. Sulit gaes. Terutama perempuan, karena mereka melahirkan dan menyusui.

Tapi yang laki banyak juga kok. Saya salah satunya. Setiap kali ketemu kawan lama atau saudara, pasti bilang saya gemukan. Ini karna dulunya saya kurus banget. Rasanya pengen marah, tapi saya tahan. Buat apa, toh segemuk apapun kita, di mata Allah tetaplah kecil. *benerin peci


saya nomor dua dari kiri

Tapi jangan bayangkan saya seperti om-om buncit yang perutnya six pack month atau onepack. Gak gitu-gitu amat sih. BMI saya masih normal; 24. Lingkar perut juga di bawah 90 cm. Pakai kemeja slim fit masih muat, tapi harus tahan nafas ­čÖé

Kenapa sih kok jadi mudah gendutan pasca menikah?

Banyak faktor yang mempengaruhi, yang paling utama tentu makanan. Saat masih single; diet ketat, pilih-pilih makanan dan menjaga bentuk tubuh agar tetap aduhai.

Dulu pas masih kuliah, malahan saya makan sehari hanya dua kali. Ini lebih karena jatah bulanan yang ngepres. Giliran udah nikah, udah laku juga kan, apa aja di hajar.

Belum lagi kalau anak gak ngabisin nasi, maka orang tuanya dengan senang hati yang ngabisin.

“Piringnya bawa sini dik, biar papa yang makan. Ada lagi gak?”

Malas bergerak juga bikin tubuh gampang melar. Sebenarnya ada niat, tapi kesibukan bekerja, gak ada waktu, trus si kecil gak mau ditinggal; menjadi alasan untuk mengabaikan olah raga.

“Gak papa gemuk, yang penting sehat”. That’s totally wrong and dangerous

Obesitas itu rawan dengan penyakit seperti diabetes militus, jantung, hipertensi dan stroke. Makanya penting banget buat kita untuk menjaga agar berat badan ideal. Bukan mengejar looks good, sebab ini hanyalah bonus.

Yang utama adalah supaya kita sehat, kuat ngejar saat anak-anak ngajak main lari-larian di lapangan dan bisa menemani mereka hingga kita menua tanpa sakit-sakitan. Dan gak ngantukan. Diajakin pillow talk sama bini, sudah buruan ngorok.

Trus gimana caranya?

Teman saya ngajakain diet keto. Berat badannya turun 10 kg dalam satu bulan. Dulunya endut nggemesin, sekarang kurus. Dia gak makan karbo dan gula. Gak ngopi, gak ngeteh. Yang dikonsumsi hanya protein dan lemak sehat. Jadi kalau dia sarapan, menunya telor 5 biji, minumnya santan. Buah yang dimakan cuma alpukat.

tinggal tuangin saus salad, nikmat

Karna tiap orang belum tentu cocok dengan diet tertentu, saya malah takut dengan sesuatu yang instant. Yang normal-normal aja deh. Dari dulu saya gak pernah diet. Sebab nggak terlalu mikirin angka di timbangan. Saya lebih fokus bagaimana komposisi tubuh, kesehatan, kebahagiaan dan timbangan amal. *ahelah

Yang saya lakukan saat adalah mindfulness eating. Tak hanya makan asal mengenyangkan dan membuat lidah menari. Makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Gak buru-buru ngunyahnya, gak sambil main hp. Menghindari lapar mata serta memperhatikan asupan yang masuk ke tubuh. Gak rakus. Kalau ada sisa ketering di kantor, gak rebutan bungkus bawa pulang.

IMG_20190409_070229_HDR-01-02.jpeg

buat camilan

Bukan makanan yang bikin endut, kita nya aja yang gak bisa jaga mulut. Ngunyah terus

Sehari makan tiga kali. Ngemilnya dua kali. Pagi jam sepuluhan dan sore habis ashar. Pernah juga kalap. Siang menunya nasi padang, minumnya es teh manis. Maka malamnya saya hanya konsumsi buah atau sayur. Kalau lagi kumpul sama teman-teman wisata kulineran, ayo aja. Intinya gak berlebihan.

ketergantungan saya terhadap tempe, sungguh sampai pada level mengkhawatirkan

porsinya gak usah banyak-banyak

IMG_20181129_130245-02.jpeg

akhir bulan, ada ikan berkepala dua

Selain mengontrol makanan, saya juga berusaha olah raga secara teratur. Sehari minimal 30 menit. Sepedaan dan lari-lari. Jika gak sempat olah raga, banyak cara kok biar tetap aktif bergerak. Mau pergi ke tempat yang deket, gak usah pakai motor. Ke masjid jalan kaki aja. Gunakan tangga, kurangi eskalator dan lift. Jangan males.

sehat dan gembira

IMG_20190131_074824_HDR-01.jpeg

sepeda kanggo nyambut gawe

sepedaan bareng anak

jogging pagi di tepi pelabuhan

Kalau udah jaga makanan dan olah raga rutin tapi masih saja endut, jangan menyerah. Tetaplah konsisten. Perhatikan juga pola istirahat dan pola pikir. Jangan stress. Hasil tak kan pernah mengkhianati usaha. Semua butuh proses. Lakukan terus hingga akhir hayat dengan penuh kegembiraan. Sebab hidup sehat adalah pilihan.

Bohongi Istri Karna Hobi

Untuk menjaga keharmonisan keluarga, dibutuhkan keterbukaan dalam segala hal. Termasuk soal keuangan. Yang kadang dianggap sepele tapi ternyata bikin pasangannya uring-uringan adalah pengeluaran secara diam-diam. Bisa untuk hobi ataupun hal-hal remeh lainnya.

Berbagai modus agar tak disewotin istri.
Beli mainan, label harganya dicopot. Notanya diubah, dengan harga lebih murah. Dikirim ke kantor, biar gak ketahuan pasangan. Dititipin ke teman agar diberikan seolah-olah hadiah.

Sering kan kita lihat istri marah gara-gara suaminya suka jalan-jalan, olahraga extreme, beli gundam, modif kendaraan dan upgrade kamera. Atau sebaliknya, suami geram karna istri berkali-kali beli tas, sepatu, parfum dan sebagainya.

Padahal bagus aja lho, laki main action figure, upgrade sepeda. Daripada main cewek atau mabuk-mabukan. Hobi yang mahal tak jarang justru bikin semangat cari duit.

Yang bikin masalah kan ketika untuk kondisi keuangan belum stabil, buat kebutuhan pokok aja masih ngos-ngosan, lha kok malah beli macem-macem yang gak penting. Ini namanya gak bijak. Harus ada prioritas. Toh itu semua hanya kebutuhan tersier. Gak dipenuhi pun gak bikin kita mati.

View this post on Instagram

Beli mainan, alasannya buat si kecil. ­čśü

A post shared by Danang Budiarto (@bro_danang) on

Yang bikin nyesek lagi, untuk mendapatkan semua mainan atau hiburan itu terpaksa harus berdusta. Sedemikan galaknya kah pasangan kita, hingga harus kucing-kucingan. Apa bener dia gak pengertian, gak bisa memahami kita? Padahal kepercayaan adalah dasar terpenting dalam setiap hubungan.

Perempuan itu feelingnya kuat loh. Dia tahu bila sedang dibohongi, meski kita kaum lelaki sudah berusaha ngasih pembenaran penjelasan. Wanita punya 1001 cara untuk membuat pria merasa bersalah dan berdosa. Jangan coba-coba deh. Telat bales chat semenit aja udah ngamuk, apalagi dibohongi.

Saya yakin tidak seperti itu. Kalau sayang sama pasangan, niscaya kita berusaha membahagiakannya. Seumpama keinginan kita belum di-acc, pasti ada alasannya. Andai gak bisa saat itu juga, kan bisa nanti-nanti. Intinya bicarakan baik-baik. Nggak perlu berantem hanya karna sesuatu yang nilainya tak seberapa. Norak.

Duit ada, udah ngomong baik-baik, tapi kalau kamu gak adil ya bakal jadi masalah juga. Misalnya, kamu dibolehin beli ini itu sama pasanganmu. Tapi kamunya ngelarang pasanganmu. Terlalu perhitungan alias pelit. Itu namanya egois.

Dan yang gak kalah penting adalah jangan berlebihan. Wanita suka kesel kalau kita asyik ngurusin burung, nongkrong sama teman, haha hihi asyik dengan dunia kita sendiri hingga sedikit mengabaikannya. Hatinya perih.

Jadi ketika pasanganmu tidak mengijinkanmu untuk hal-hal yang saya ceritain di atas, sesungguhnya dia sedang menjaga hatimu agar tidak menduakannya. Dia ga mau ada yang lain di hatimu.

Kalau kamu gimana? Suka umpet-umpetan juga sama pasangan, atau lebih suka minta maaf dari pada minta ijin?

Jangan Jadi PNS

Selama masih suka ngeluh, terjebak pada besarnya nominal serta membandingkan diri dengan yang lain; maka kebahagiaan tak akan pernah singgah dalam relung jiwa kita. Meskipun sebenarnya pekerjaan yang kita raih sekarang cukuplah bonafit dan diidamkan orang lain. Kita tak akan pernah puas dengan yang kita miliki. Manusiawi.

Ditambah dengan omongan masyarakat yang bikin kuping jadi panas, membuat sebagian orang makin bimbang dengan profesi yang telah digelutinya.

Pas lagi rame-ramenya rekrutmen PNS, di sebuah angkringan ada yang ngomong begini, “Ngapain jadi PNS, gaji kecil, gak bisa kaya. Masih aja banyak yang daftar”

Ya Allah, itu mulut apa balsem. Pedes banget.

E tapi kata siapa PNS gak bisa kaya. Lihat aja kalau PNS ngajukan kredit di bank “Gaji emang 2 juta mbak. Tapi belum termasuk honor, perjalanan dinas dll. Kalau ditotal bisa XX juta” <<< *sok kaya beud

Giliran tetangga mau minjem duit, “Aduh gimana ya. Pengen bantuin, tapi gaji PNS kan kecil. Kudoain aja yang terbaik ya”

Yang gak kalah sadis lagi…

“Parah nih PNS. Kerjanya lemot, suka keluyuran saat jam kerja, mempersulit urusan, banyak KKN-nya pula”

Astaghfirullah…

Saya sih gak kaget, karena faktanya memang masih ada yang begitu. Wajar bila sebagian besar masyarakat memberi stigma buruk pada aparat pemerintah. Mereka mengalami sendiri ketika ngurus KTP, bikin sertifikat, buat ijin usaha, berobat ke Rumah Sakit dll.

Tapi percayalah, gak semua seperti itu. Masih ada PNS yang berintegritas, berdedikasi tinggi serta mencintai negeri ini.

Pemerintah gak berdiam diri kok. Ada upaya sungguh-sungguh melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja para ASN. Kita sedang berproses ke arah yang baik.

Ketika mendapat pelayanan yang tidak memuaskan dari aparat serta mengetahui ada indikasi fraud, kita bisa mengadukannya. Laporkan ke aparat pengawas dan Ombudsman Republik Indonesia. Bisa juga dengan mengirim surat pembaca di koran nasional. Gak perlu memaki, merendahkan profesi mereka. Trus ngomporin orang lain agar tak jadi PNS, agar tak jadi orang gajian seumur hidup. Menganjurkan anak-anak muda agar jadi enterpreneur aja.

Lha kalau semua jadi wirausaha, lebih memilih masuk perusahaan, gak ada yang mau jadi PNS; siapa yang bakal mengurus negri ini Maliih?

Justru negri ini butuh lebih banyak orang baik, orang-orang cerdas dan kreatif untuk menjadi PNS. Agar birokrasi menjadi lebih lincah, bersih dan gak bertele-tele. Supaya mereka tak kalah ketika menghadapi para mafia, politikus busuk dan pengusaha nakal.

Di Perancis dan Singapura, pegawai negeri adalah profesi elite. Selalu jadi rebutan lulusan terbaik. Alangkah sedihnya ketika PNS dijadikan pilihan karena kepepet. Karena punya canel orang dalam dan jatah jabatan.

Intinya, semua profesi itu sama. Mau jadi petani, nelayan, pedagang, pengusaha, dokter, tukang parkir, atau buruh pabrik. Tak ada yang lebih mulia, ataupun lebih hina. Tergantung bagaimana menjalani dengan penuh kesungguhan, jujur dan bertanggung jawab.

Dan gak perlu ngiri sama profesi orang lain. Kalau gak terima dengan kondisi saat ini, merasa penghasilan ala kadarnya, stuck; ya udah alih profesi aja.

Yang perlu disadari adalah, ada hal-hal lain yang tak bisa dinilai dengan materi. Mungkin gaji tak seberapa, tapi entah mengapa selalu cukup untuk kebutuhan keluarga, bisa bantu saudara, jiwa pun tenang karenanya. Lingkungan kerja yang nyaman, kesempatan belajar terbuka lebar, serta mampu mengoptimalkan diri; adalah beberapa alasan kenapa seseorang memilih sebuah pekerjaan.

Yang penting, cintai pekerjaanmu. Jangan pedulikan label yang orang lain berikan pada dirimu. Gak usah merasa paling berjasa, paling penting, atau paling apalah dibanding yang lain.

Kita berbeda jalan, beda profesi untuk saling melengkapi.

Review: Sepeda Thrill Cleave 1.0

Membeli sepeda itu tak ubahnya menentukan pasangan. Tanpa pertimbangan yang matang, kita bisa salah pilih.

Hanya karena bentuknya cantik keren, warnanya lucu; lalu dengan mudahnya jatuh hati. Dan kita pun tertipu.

Faktor utama dalam menentukan sepeda yang bakal kita pakai adalah fungsinya. Mau buat gaya-gayaan, dipakai bike to work atau buat cross country.

Dari pilihan ini aja, kita udah dibuat bingung. Ada city bike, road bike dan mountain bike. Maka, kenali kebutuhanmu. Maunya yang gimana. Dari awal, saya naksir MTB. Buat main di lintasan tanah becek OK, di jalanan aspal juga gak masalah.

Berikutnya adalah soal harga. Yang duitnya segambreng, tentu gak masalah. Sepeda seharga 15 juta pun masih dirasa kurang. Tapi kalau kantong cekak, pilihan jadi terbatas.

Namun demikian, jangan berkecil hati. Sepeda dengan harga murah bukan berarti hina.

Yang jauh lebih penting adalah siapa di balik sepeda itu. Selama kamu jago di tanjakan, piawai di medan offroad, serta punya endurance kuat; kamu hebat.

Tak usah memaksakan diri demi gengsi hingga akhirnya kebablasan, melebihi budget yang disiapkan.

Dari beberapa pertimbangan di atas, akhirnya saya mantab meminang Thrill Cleave 1.0

Dengan frame alloy, sepeda ini kuat, tahan karat dan terasa ringan. Sangat nyaman dikendarai meski di rute menanjak. Saya memilih frame ukuran L, pas untuk postur tubuh yang tingginya 171 cm.

Bentuk frame yang sederhana dengan balutan cat hitam doff, serta permainan warna biru oranye; makin menguatkan kesan elegan dan agresif. Laki banget dah.

Pemindah gigi depan dan belakang adalah Shimano Tourney. Depan tiga speed, belakang ada delapan speed. Shimano merupakan spare part sepeda dari Jepang dengan mutu yang berkualitas.

Sistem pengoperan gigi mudah. Cukup dengan jari jempol dan telunjuk. Ada kan yang pemindah giginya seperti Vespa lama, harus diputar seperti gas.

Ban sepeda ini berukuran 27,5 x 2,10. Membuat sepeda ini nampak bongsor. Rem depan dan belakang sudah menggunakan hidrolik. Pakem, aman buat berkendara di turunan.

Meski sadelnya kecil, gak bikin pantat sakit kok. Agar lebih nyaman, saya biasa menggunakan celana sepeda yang ada busanya. Lebih empuk.

Overall, performa sepeda MTB hardtrail ini cukup impresif. Dengan harga 3,75 juta dan spek yang cukup memadai, sepeda ini siap untuk diajak bersenang-senang.

Salam gowes. Satu sepeda, sejuta sahabat.

SPESIFIKASI THRILL CLEAVE 1.o

Frame : Premium AluminiumW / Sport Trail Geometry, Internal Cable Routing
Fork : Zoom 525D-AMS-MLO 100MM Travel
Shifter : Shimano Altus SL-M310 3x8SP
Front Derailleur : Shimano FD-TY700
Rear Derailleur : Shimanao RD-TX800
Brake Set : Shimano Hydraulic BR-M315
Crank Set : Thrill CN60 42/32/22T x 170MM
Cassete : Shimano CS-HG31 11-32T 8 SP
Saddle : THRILL XC
RIMS : Alloy Double WAll
Tires : Thrill 27.5″ x 2.10″
Spokes : Stainless Steel
Extras : Centre Kickstand, Chainstay protector