Perlu Gak Upgrade Sepeda?

bro

Semenjak pertama kali beli, sepeda saya tak pernah di-upgrade.
Kenapa? Karna buat saya, segitu aja udah cukup. Bahkan lebih. Framenya kuat dan lumayan ringan, speednya juga gak jelek-jelek banget.

Rasa cukup inilah yang akhirnya membentengi saya dari segala godaan untuk ingin lebih. Ganti groupset lah, sadel, ban atau pun hub jangkrik. Tahu sendiri kan, ongkos upgrade kalau diturutin bisa lebih mahal dari harga sepeda itu sendiri.

“Keinginan adalah sumber penderitaan”

Ya, sejatinya kita memang tak pernah puas dengan yang sudah kita miliki. Kita memandang apa yang ada pada orang lain, nampak lebih indah. Gak cuma urusan sepeda sih. Soal asmara, harta atau pun karir . Makanya tak sedikit orang yang akhirnya selingkuh, korupsi, dan menjilat demi memperturutkan hawa nafsunya.

Maka hamdalah banget jika kita bisa mengendalikan diri. Tahu kapan saatnya harus berhenti. Tahu apa saja yang esensial dan bernilai yang layak diperjuangkan. Ngerti mana yang tak relevan, yang nantinya justru akan menjadi beban.

Saat hasrat untuk nambah sepeda atau upgrade begitu menggebu, biasanya saya salurkan dengan nonton Youtube yang isinya dunia pergowesan. Tentang review sepeda serta kisah-kisah seru gowes bareng komunitas. Paling mentok, checkout spare part sepeda di toko online, tapi gak pernah dibayar. Gini aja udah seneng.

Jadi gimana nih, boleh upgrade gak?
Boleh banget, asal ada duitnya dan ntu sepeda bakalan rajin dipakai. Ya buat olahraga ataupun sebagai alat transportasi. Bukan hanya disimpan. Bukan hobi sesaat yang anget-anget tai ayam.

Jangan pernah upgrade hanya karna gak kuat sama omongan teman komunitas atau demi pansos. Gak perlu sok-sokan. Jadilah dirimu sendiri tanpa berpura-pura. Belajar menerima diri apa adanya.

Salam gowes. Satu sepeda, sejuta sahabat.

Edz-1EBUwAApzzB

Benarkah Semua Lelaki Tak Setia?

Di salah satu episode A World Of Married Couple, Jae Hyuk pernah ngomong sama Ji Sun Woo kalau lelaki di dunia ini ada dua tipe. Yang tak setia dan yang tak ketahuan.

Duh…, seolah-olah semua lelaki itu brengsek, otaknya hanya mikirin selangkangan aja. Padahal gak semuanya seperti itu.

Masih banyak lelaki baik-baik yang mencintai keluarga, setia pada pasangan, punya kerjaan, bertanggung jawab, gak dugem dan gak mabuk-mabukan. Jika sulit menemukan lelaki seperti ini, bisa jadi karna kita berada di circle pertemanan yang tidak tepat.

Meski A World of Married Couple hanyalah drama bertabur konflik kehidupan, namun kita bisa mengambil hikmah bahwa problematika dalam pernikahan amatlah pelik. Selalu ada onak dan duri yang merintangi.

Salah satunya adalah perselingkuhan. Ini bukanlah satu-satunya hal yang bisa menghancurkan mahligai rumah tangga. Di balik perselingkuhan, sejatinya terpendam seabrek permasalahan yang tak terselesaikan.

Tentang ke-egois-an Sun Woo yang tenggelam dalam pekerjaannya, sering pulang larut malam dan secara emosional tak begitu dekat dengan anaknya.Tentang tersumbatnya komunikasi antar anggota keluarga, semua bersikap dingin, asyik dengan dunia masing-masing. Dan ketidakjujuran antar pasangan.

Tega-teganya Tae Oh berhutang menggadaikan rumah tanpa sepengetahuan istrinya dan menggunakan dana pendidikan anaknya hanya untuk bersenang-senang dengan gundiknya.

Ngomongin perselingkuhan emang tak akan pernah ada habisnya. Kadang gak masuk akal, masa iya sih sebuah keluarga yang nampak sempurna; kaya, sukses, cerdas, pasangan cantik ganteng; ternyata tak bisa bertahan dari prahara ini.

Penasaran deh, sebenarnya apa sih yang mendorong seseorang sampai hati mengkhianati pasangannya?

Makin menua, hasrat berselingkuh kaum lelaki justru kian membuncah. Dan meski berselingkuh, sesungguhnya mereka masih mencintai pasangannya. Maruk aja.

Berdasakan survey, alasan terkuat seseorang menduakan pasangannya bukanlah karna ketidakpuasan seksual atau jenuh dengan pasangan. Bukan pula karna merasa tak dicintai atau karna faktor ekonomi. Tapi lebih karna sering berantem dengan pasangannya

Terlalu banyak konflik. Hal-hal kecil diributin. Dikit-dikit ngambek dan merajuk. HP dicek istri, marah. Suami ngilangin tuperware, marah. Kalau beneran cinta, seharusnya kita tak mudah naik pitam.

Lalu bagaimana caranya agar keluarga kita bisa rukun, saling setia hingga akhir? Tak ada rumus baku, namun setidaknya beberapa cara ini bisa dicoba.

Pertama. Mungkin ini terdengar klise, yaitu menjadikan nilai-nilai religi sebagai patokan. Jangankan Tuhan, selihai-lihainya selingkuh, istri pasti bakalan tahu. Dan kau akan mampus dikoyak-koyak amukannya.

Belum lagi jika perbuatan tercela ini langsung dapat balasan di dunia. Bisa-bisa kelak akan ada FTV Azab judulnya “Perebut Suami Orang Mati Dengan Perut Membengkak Disengat Ribuan Tawon, Keranda Jenazahnya Terkena Badai dan Terjebur ke Adukan Semen”.

Berikutnya adalah meluangkan waktu untuk keluarga. Boleh sibuk urusan masing-masing, namun harus ada komitmen untuk memberi perhatian pada keluarga. Sempatkan makan bersama, ngantar anak sekolah, main bareng, bantuin bikin PR dan liburan.

Hal-hal kecil seperti ini ternyata sangat berarti buat mereka. Jadikan keberadaan kita sebagai penyejuk pandangan untuk orang-orang tercinta.

Ketiga, jalin komunikasi dengan baik. Saling terbuka dengan pasangan, jangan ada yang disembunyikan. Bayangkan saat di tempat kerja, kita begitu sopan, lembut dengan klien, hormat pada atasan. Harusnya saat di rumah lebih dari itu dong. Sebelum nikah mesra, habis nikah ketahuan belangnya deh.

Namun, ada penghalang yang tanpa disadari ternyata menjauhkan kita dengan pasangan. Gadget. Benda itu justru membuat kita lebih asyik dan mudah akrab dengan orang lain yang jauh dari kita dibanding dengan pasangan kita.

Keempat, yang perlu dicoba adalah, saling memberi penghargaan dan pujian pada pasangan. Jangan pelit memuji. Bagi orang yang love language-nya word affirmation, pasti seneng disanjung-sanjung.

Masakan kamu enak dek, kamu cantik deh hari ini, makasih ya udah ngedukung aku selama ini. I love you. Ditambah lagi dengan sentuhan mesra, pasangan akan merasa diapresiasi banget.

Tapi ya harus hati-hati juga, karna kalau pasangan mendadak jadi romantis, tiba-tiba baik; pasti ada yang disembunyikan atau ada maunya.

Dan terakhir, sebagai sebuah renungan. Tuhan telah memberi hal-hal baik dalam hidup ini. Pekerjaan yang bonafid, pasangan ideal, anak-anak yang cerdas dan sehat serta kualitas hidup yang layak. So, gak usahlah macem-macem pengen nyobain ini itu. Nanti malah bisa kehilangan banyak hal.

Dah segini aja dulu, silakan ditambahin kalau punya tips lain. Semoga selalu rukun dan bahagia.

Caper Di Jagat Maya

Di dunia maya, kelakuan kita semua tak jauh beda, sama-sama berebut perhatian orang lain. Kadarnya saja yang berbeda. Ada yang capernya kebangetan, ada yang sedang, ada yang biasa-biasa saja. Ada yang capernya bermanfaat, ada pula yang nyusahin orang lain.

Caper dengan pamer karya, pamer kemesraan, pamer kerjaan, pamer liburan adalah hal yang lumrah. Mendapatkan atensi dari orang lain adalah kemewahan delusional yang melahirkan hormon dopamin. Kan ego juga butuh diberi makan.

Masa-masa pandemi yang berat seperti saat ini ternyata tak menyurutkan tingkat kecaperan. Media caper dengan membanjiri kita berita clikbait, anggota grup WA berlomba syar syer berita terkini yang sanadnya meragukan dan media sosial pun memunculkan berbagai ahli karbitan yang menyesatkan karna pernyataan sembrononya.

Selain mempengaruhi mood, berlimpahnya informasi yang kita terima justru memicu kecemasan dan overthinking. Agar tak berlanjut menjadi panik dan takut, ada baiknya kita tak menelan mentah-mentah semua informasi yang beredar.

Cobalah untuk selalu bertanya dan jangan redam rasa penasaranmu untuk mencari bukti. Tak ada salahnya untuk menggunakan kacamata skeptis.

Bener gak nih beritanya, tuh orang siapa ya, sudah ada hasil penelitiannya belum, ini media kredibel tidak, jangan-jangan dia buzerp

Jika tidak berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi, maka kita akan mudah terombang-ambing, gampang terprovokasi dan terpancing emosi.

Baca Juga: THINK Before You Share

Dan yang cukup parah menurut saya sih grup WA. Ya grup alumi, grup arisan maupun grup kelurga besar. Semua ngumpul di situ. Ada om tante, paman bibi, pakde bude, sepupu, ipar dan saudara jauh. Segala macam isi kepala dengan berbagai latar belakang tumpah ruah di grup.

Maka tak berlebihan jika ada yang mengatakan WA adalah gudang segala macam hoax dan informasi tak penting dari orang-orang sok informatif.

Resep masakan, info cegatan, lowongan kerja, joke khas bapak-bapak, info pemadaman listrik, situasi ipoleksosbud hankamnas terkini, hingga tips kesehatan. Ada info yang benar, ada yang masih abu-abu, tak sedikit pula yang tingkat keabsahannya sangat meragukan.

Segunung informasi yang dijejalkan tersebut tak lantas membuat kita langsung paham dalam sehari dua hari. Ini butuh proses yang panjang.

Lantas bagaimana jika anggota WAG keluarga besar ternyata ada yang nyebar informasi nir-verifikasi? Mau negur, pasti ewuh pakewuh kan. Khawatir kalau tersinggung , keluar grup dan hubungan pun jadi renggang. Kalau dibiarin kok ya gimana gitu, gemes deh. Serba salah kan.

Saya yakin mereka nyebar ini itu bukan bermaksud jelek ingin ngehoak. Mungkin karna belum baca isinya, sekadar meneruskan dari grup sebelah. Bisa jadi karena gegar budaya para boomers yang baru mengenal gawai serta karna ketidaktahuan. Entah tak tahu atau tak mau tahu, bedanya emang tipis.

Sekali lagi bukan ada niatan buruk. Beda dengan howaks yang dilakukan pelaku profesional, yang melakukannya sebagai pekerjaan rutin dan dilakukan berulang-ulang.

Yang bisa kita lakukan adalah dengan membuka ruang dialog. Ngobrol baik-baik tanpa perlu menghakimi. Ini adalah salah satu wujud cinta kita pada mereka yang lebih tua, agar tak linglung terjebak dalam belantara digital.

Dan yang tak kalah penting, kita gak perlu latah. Ndak semua-semua harus disyer. Kendalikan jempol dan egomu, mulai dari diri sendiri dan keluarga terdekat.

Celengan Syukur

Saking selownya, saya suka melakukan hal-hal receh. Pernah ngumpulin uang dua puluh ribuan di toples bekas kacang , iseng bikin aquarium ikan cupang, praktek bikin es kopi, bikin sushi atau sekadar nulis puisi gak jelas.

Dan awal tahun ini, tingkat kerecehan saya tak juga surut. Bahkan kian menjadi. Kali ini saya bikin celengan syukur. Istilah kerennya Gratitude Journal. Ide ini bermula ketika saya men-challenge diri sendiri untuk tidak mengeluh terhadap apa pun yang terjadi.

No complain week. Selama seminggu berusaha gak ngeluh apa pun yang terjadi. Ngendaliin mulut biar gak julid, sama ngejaga hati biar gak gampang dongkol. Berat sih, harus dipaksa. Tapi bisa kok.

Dikasih panas, ngeluh kegerahan. Dikasih hujan, sambat cucian gak kering. Kerjaan numpuk pusing, gak ada kerjaan bingung.

Setiap hari saya rutin menuliskan hal-hal yang layak disyukuri di secarik kertas, lalu memasukkanya dalam toples. Bersyukurnya pun gak harus karna dapat sesuatu yang gede atau wow. Bisa buang air besar dengan lancar adalah nikmat yang tiada tara.

Nemu warung rawon yang rasanya namaste. Rebahan di kasur, scroll hape. Gowes bareng istri. Buka lemari, baju udah disetrika rapi. Bikin indomie tengah malam. Panen jagung di kebun mertua. Servis motor gak pake antri. Beli gorengan dibonusin tiga biji. Punya grup WA yang santuy, gak suka syar syer howaks. Libur gak ada lembur. Nanem bunga, tumbuh subur dan bermekaran. Nonton spongebob. Nelpon ortu di kampung. Pulang teng go. Maen layangan. Ambil uang di atm bank lain gak kena charge. Motong rumput di taman. Beli pentol di depan SD, bungkus plastik, ikat, gigit dari ujung plastiknya. Berhasil benerin sepeda si kecil. Nongkrong di tepian, menatap langit senja yang sedang cantik-cantiknya.

Langkah ini saya lakukan untuk melatih diri agar tidak menjadi pribadi yang kufur nikmat. Biasanya kita ini lebih ingat kejadian buruk yang menimpa kita daripada kejadian positif yang menyenangkan.

Duit yang raib gara-gara dipinjem orang masih saja terngiang di ingatan, meskipun setelah itu dapat rejeki yang lebih gede.
Hinaan guru SMA begitu menggores kalbu daripada sanjungan yang diterima dari orang-orang tercinta di sekitar kita
Kepedihan menjalani masa sulit terkenang sangat dalam dibanding hari-hari penuh keceriaan.

Jika hal-hal seperti itu yang harus dikenang, tentu tak baik untuk kesehatan jiwa karna akan menjadi sumber nestapa. Padahal kalau dihitung-hitung, nikmat yang diberikan Tuhan itu sangat banyak. Makanya saya belajar fokus pada hal-hal kecil yang membahagiakan, mensyukurinya dengan tulus tanpa harus membandingkan.

Orang-orang yang jiwanya diliputi kebahagiaan, tak akan banyak tingkah. Tak sempat membenci orang lain atau mencari aibnya. Tak akan mengambil yang bukan haknya dan tak haus berburu pengakuan.

Membaca kembali tulisan-tulisan yang ada di celengan syukur, seolah membuka mata hati saya bahwa masih banyak sisi keindahan dalam hidup ini. Kesadaran inilah yang nantinya akan menjadi energi kita untuk selalu ingat dan bersyukur pada Yang Maha Kuasa.

Tertarik cobain gak? Kalau gak bisa tiap hari, bisa dimulai dari yang sederhana aja deh. Tulis lima momen paling membahagiakan yang pernah kamu rasakan. Nanti kalau kamu merasa lagi sedih atau galau, baca kembali tulisan itu. Dan rasakan apa yang terjadi.

Meredam Konflik, Merawat Cinta Kasih.

Rasanya tak ada biduk rumah tangga yang bebas dari konflik. Semesra dan seromantis apa pun pasangan, potensi munculnya perselisihan dengan pasangan selalu ada. Meski karena hal sepele.

Ini tak hanya menimpa pasangan yang sudah lama menikah. Mereka yang baru saja mengucap janji suci, yang sering pakai baju couple, yang manggilnya ayang sama bebeb, yang suka pamer kemesraan di medsos pun tak mampu mengelak dari prahara cinta ini.

Saya takut kesel kalau HP diinspeksi pasangan. Istri pun dongkol ketika saya nyuruh dia berhemat, eh saya nya malah upgrade sepeda. Saya gak ngapa-ngapin pun, kadang diomelin. Terutama saat PMS. Ternyata benar, a woman is always right.

Tak perlu risau dengan pertikaian yang datang silih berganti. Jika dikelola dengan tepat, hal tersebut justru menghadirkan dampak positif.

Setiap pasangan akan terpacu untuk melakukan perubahan, mencari solusi dan memperbaiki diri. Ujung-ujungnya malah bisa mempererat hubungan, jadi makin sayang. Beda ceritanya jika konflik dibiarkan begitu saja tanpa ada kemauan untuk menyelesaikan. Ini akan mengendurkan ikatan tali pernikahan.

Saat sedang marahan dengan istri, saya mencoba untuk nggak lama-lama ngambeknya. Sama orang lain saja kita berlaku lemah lembut dan mudah memaafkan.

Sama pasangan harusnya lebih dari itu. Paling tidak, sebelum tidur harus sudah akur. Biar tidur dengan nyenyak, tanpa dendam dan perasaan lain yang mengganjal di hati. Istri saya pun menerapkan pola yang sama. Ini adalah komitmen kami.

Sebanyak 80% lelaki akan menjadi stone waller saat sedang bertengkar, mendiamkan pasangannya. Padahal ini bukan solusi yang baik. Istri bisa makin kesel.

Ada pula yang makin cerewet saat sedang marah. Lebih julid dari lambe turah. Kekesalannya diungkapkan lewat kritikan, hinaan maupun kata-kata sarkas yang merendahkan pasangan. Saat sedang emosi, mulut sulit dikontrol. Nyeselnya belakangan.

Emang sih saat sedang bertengkar, kita cenderung menyalahkan pasangan. Reaksi negatif tersebut akan membuat pasangan kita merasa tak dicintai. Akibatnya, dia akan menjadi lebih agresif. Tambah runyam jadinya.

Ya namanya juga manusia, kadang kala berat untuk memaafkan. Jika seperti itu, saya mencoba mengingat semua kebahagiaan yang pernah kami rasakan bersama. Saya hadirkan kembali alasan yang membuat saya mencintainya. Dia baik, sederhana, rajin dan gak banyak tingkah. Sampai sekarang pun masih seperti itu.

Jangan-jangan saya yang berubah menjadi begitu demanding, hingga ketika dia gak sesuai dengan harapan saya, anger dalam diri muncul. Cara seperti ini cukup manjur untuk meruntuhkan ego saya.

Sebelum menuntut terlalu banyak pada pasangan, pastikan kita juga memantaskan diri terlebih dahulu.

Kita memang tak bisa untuk selalu romantis, senantiasa seia sekata tiap saat. Namun harus ada kemauan untuk memperjuangkan cinta agar hubungan dengan pasangan tetap terjaga. Ibarat grafik saham, naik turun selalu ada, yang penting trend-nya selalu menanjak ke araf positif.

Banyak cara yang bisa kita lakukan agar bisa fall back in love again and again with the same person. Jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.

Yang utama adalah harus ada kesadaran untuk menjadikan pernikahan sebagai prioritas utama. Punya cita-cita agar kelak bisa berkumpul di surgaNya, menjadikan dia bidadari tercantik kita.

Selanjutnya usahakan untuk saling menerima apa adanya. Gak usah fokus pada kekurangan pasangan. Kita juga banyak banget kurangnya.
Kalau ada yang buruk, saling bantulah memperbaiki diri. Jangan segan-segan untuk saling memuji.

Ingat, cuma istri kita yang mau sama kita saat kita susah. Hanya istri kita yang tetap setia meski kita gendut dan gak cakep-cakep banget. Bahkan istri kita juga bantuin cari duit buat bayar kreditan. Harus banyak-banyak syukur.

Carilah banyak kesamaan, seperti selera maupun life style. Misal nih, sama sama suka olah raga dan jalan-jalan, ya lakukan aktivitas bareng.

Hamdalah, anak-anak saya sudah bisa ditinggal di rumah sendirian. Ini saya manfaatkan untuk kencan berdua dengan istri tanpa mengajak anak-anak. Kadang istri merasa bersalah dan cemas saat ninggalin anak-anak. Mungkin karna naluri keibuannya. Tapi gak papa kok, aman saja.

Kegiatan kencan kami beragam. Mulai nongkrong di taman sambil bermanja-manjaan ataupun ngopi cantik di kedai kopi diselingi obrolan receh.

Kalau lagi ada rejeki, sekali-kali cobalah untuk liburan berdua. Staycation di hotel juga boleh. Lupakan urusan kerjaan maupun tetek bengek di rumah. Rasakan getaran di dada saat bersamanya. Bercintalah. Ini juga salah satu bumbu dalam pernikahan. Kilau api asmaramu akan berpendar kembali.

Bekerja Dengan Bahagia

Secapek-capeknya kerja, lebih capek lagi bila tak punya kerjaan.

Namun sebenarnya yang bikin kita cepat kehabisan energi saat bekerja, bukanlah tumpukan deadline, teman yang reseh, bos yang ngeselin atau pun macet berjam-jam menuju tempat kerja yang harus ditebus dengan umur. Bukan itu.

Suasana hatilah yang sangat mempengaruhi. Dongkol, penuh keluh kesah, ngiri sama yang lain, gak fokus; justru membuat pekerjaan yang mudah menjadi begitu pelik.

Emosi-emosi negatif ini secara perlahan akan menggerus semangat, optimisme, kreativitas dan daya juang dalam bekerja.

Lantas, bagaimana agar bisa menikmati pekerjaan yang kita miliki? Pertama, apapun profesimu, bekerjalah dengan bahagia. Mensyukuri karna punya kerjaan bisa menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa bahagia. Di luar sana, masih banyak orang yang pontang-panting mengais rejeki.

Disuruh-suruh, dimarahin bos, diajak lembur, mau absen pulang malah diajak rapat; tentu bete dong. Udah ngerasa paling didholimi dan dieksploitasi sama atasan. Namun kita bisa memilih, mau terus menggerutu atau berupaya merawat kegembiraan agar tidak stress menjalaninya.

Gimana mau gembira jika tak sesuai passion. Eits jangan salah. Kerjaan yang sesuai passion sekalipun, sebagai entrepreneur maupun karyawan; akan tetap ketemu yang namanya lelah, jenuh, dan permasalahan-permasalahan lain.

Kuliah di pertanian aja banyak yang jadi teller bank. Gak masalah, gak harus resign. Toh perusahaan gak peduli dengan passion kita. Mereka hanya peduli dengan kerja dan karya kita.

IMG_20190707_142513.jpg

Dapat gambar ini dari twitter

Bekerja tanpa gairah tentu akan cepat menimbulkan kejemuan, namun bisa kok dibikin nyaman. Bawa bekal dari rumah, siapin camilan, kerja sambil dengerin musik, menghias ruang kerja dengan pernak pernik lucu, membina hubungan baik dengan rekan kerja, main futsal selepas kerja, arisan dan masak bareng di akhir pekan.

Saya dulu juga gak tahu, apakah profesi ini sesuai dengan passion. Pokoknya jalani aja, daripada gak bisa makan. Meski penuh lika-liku, lama-kelamaan asyik juga dan saya merasa ini gue banget. Saya merasa lebih berdaya, dimampukan, dibisakan, dikuatkan dan dikerenkan. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya tetap bertahan sampai sekarang, meskipun harus mengabdi di ujung negri ini.

Susah senang di kerjaan akan selalu ada. Kalau ada yang bikin suka, ya alhamdulillah. Jika ada yang gak ngenakin, ya gimana lagi. Terima saja, itu di luar kendali kita. Gak usah baperan. Ditegur bos karna kerjaan ada yang gak beres, langsung depresi mutung berhari-hari.

Tak perlu merespon berlebihan, mikir macem-macem:

“Wah, Bos pasti benci gue nih”
“Bentar lagi aku dipecat”
“Aku emang goblok”
“Payah nih, ada yang bawel nglaporin gue”

Itu namanya lebay. Emosi-emosi itu muncul karna pikiran kita sendiri. Yang bisa kita kendalikan adalah respon kita menyikapi segala peristiwa hidup. It is not things that disturb us, but our opinion about them.

Jika kamu bersusah hati karena hal-hal eksternal, kesusahan itu bukan datang dari hal tersebut, tapi dari opinimu sendiri tentang hal itu. Dan kamu mempunyai kemampuan mengubah opini itu kapan saja. ~ Marcus Aurelius

Berikutnya, jangan pernah membandingkan penghasilanmu dengan penghasilan orang lain. Pada mulanya kita semua baik-baik saja, bahagia, damai, makan nyenyak tidur enak; sampai akhirnya negara api menyerang kita mulai lirik kiri kanan.

Itu tetangga gak pernah kelihatan kerja, tapi kok mobilnya dua ya. Teman kantor yang gak lebih rajin dari kita, tapi dapat bonus lebih gede. Pangkat sama, kok dia sering liburan ke luar negeri.  Itu adik kelas tiap hari jajan es kopi, apa gak bangkrut. Apa yang dimiliki orang lain selalu nampak lebih menarik dibanding kepunyaan kita.

Namun kita tak pernah tahu di balik semua itu. Bisa jadi mereka memang anak sultan, bekerja lebih giat, bangun lebih pagi dan pulang lebih larut dari kita dan rajin investasi.

Atau mungkin ada hal lain yang sebetulnya ironi.  Semua kegemerlapan itu ternyata dibiayai hutang, tagihan kartu kreditnya segambreng, masih pakai LPG 3 kg, shampoo kalau habis diisi air trus dikocok-kocok dan nyuci pakai ember bekas kaleng cat. Who know.

Ini seperti jebakan 99. Ketika diberi uang dalam amplop bertulis 100 juta, pas dibuka cuma 99 juta. Kaget dong. Kita sibuk nyari yang sejuta sehingga galau dan senewen. Lupa jika di genggaman ada 99 juta untuk disyukuri.

Jika ingin membandingkan diri, bandingkanlah kondisi saat ini dengan kondisi dahulu. Apakah jauh lebih baik, berkembang atau justru stagnan. Ketika financial envy ini bisa disingkirkan dari pikiran, maka ketenangan akan singgah. Kita tak akan minder, sedih, dan demotivasi karna orang lain lebih dari kita.

Percayalah, jalan rizki tiap orang sudah ada yang mengatur. Kita hanya butuh untuk terus melipatgandakan ihktiar dan doa serta  kegigihan dalam menjemputnya.

Selamat bekerja, semoga selalu bahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar Decluttering dan Minimalisme

Rumah selalu menjadi tempat ternyaman buat kami. Teduh, sejuk dan bersahabat. Tak besar namun tetap luas. Penuh cinta dan kehangatan. Apalagi jika kondisinya bersih, rapi dan gak awut-awutan. Akan menghadirkan efek positif dan kegembiraan bagi penghuninya.

“Konon katanya, ruangan yang amburadul adalah cerminan dari jiwa yang amburadul pula

Salah satu upaya untuk menghentikan kesemrawutan adalah dengan decluttering atau berbenah. Saya lagi belajar untuk mengendalikan kepemilikan barang-barang. Mengurangi sedikit demi sedikit agar rumah tak terasa sumpek. Belum minimalis-minimalis banget sih, tapi lumayanlah sudah mengarah ke simple living.

Gambar: Pinterest

Kebanyakan orang sering mengaitkan minimalis dengan sesuatu yang elegan, hunian berkelas, ruangan yang luas, interior keren dan serba putih. Padahal tidak seperti itu.

Gambar: Pinterest

“Minimalist is a person who knows what is truly essential for him – or herself, who reduces the number of possessions that they have for the sake of things that are really important to them” Fumio Sasaki

Menjadi minimalis berarti menghindari hal-hal yang tak penting, menyingkirkan yang tak dibutuhkan dan fokus pada yang bermakna. Bukan berarti gak berpunya sama sekali.  Prinsipnya adalah merasa cukup.

Dan kadar kecukupan tiap orang tidaklah sama. Cukupnya orang beduit 100 milyar sangat beda dengan cukupnya seorang PNS rendahan. Saya cukup punya tiga sepatu saja. Tapi bagi seorang entertainer, sepuluh pasang belumlah cukup untuk menunjang aktivitasnya. HP saya cuma satu dan gak pernah punya kartu kredit. Sementara bagi seorang pengusaha, sangat perlu hp banyak dan credit card.

Hasrat duniawi berbelanja pun sebetulnya masih menggebu, tapi saya coba untuk mengerem.

Saya senang saat mengenakan baju baru untuk pertama kalinya. Namun setelah lima kali pakai, akan terasa biasa. Seusai dipakai sepuluh kali, jadi bosan.

Pola yang sama akan selalu berulang terhadap barang yang kita miliki. Sampai akhirnya saya menyadari, jika bisa puas dengan apa yang kita miliki, maka kita tak harus membeli lebih banyak.

Sok-sokan minimalis. Bilang aja misqueen.

Whatever you say. Minimalisme membuat kita jadi lebih hemat, anti stress, gak banyak hutang dan ndak over thinking.

Gambar: Pinterest

Lanjut lagi nih soal bebenah. Saya mengira proses beres-beres rumah itu akan melelahkan dan membosankan. Ternyata tidak. Justru seru dan menantang. Langkah awal yang saya lakukan adalah menyisir seluruh ruangan. Mencari barang-barang yang nantinya akan saya simpan, buang atau sumbangkan.

Barang-barang layak dipertahankan adalah yang paling saya sukai dan butuhkan. Yang benar-benar sampah seperti pakaian sobek, botol bekas, kardus elektronik, koran lama, makanan basi dan barang rusak lainnya ya harus dibuang.

Coba deh cek isi kulkas. Sisa sayur kemarin, roti yang gak habis dimakan si kecil, es buah udah dua hari, lauk yang gak sempat diangetin; semuanya berkumpul di situ. Pas udah saya buang, istri ngambek. Hahaha.
Itu baru di kulkas lho. Di ruang lain seperti dapur, ruang keluarga dan kamar tidur, pasti ada juga barang yang tak berguna lagi yang mesti dibersihkan.

Sementara barang yang jumlahnya berlebih, gak pernah dipakai, namun kondisinya masih baik dan gak begitu bermanfaat, bisa disumbangkan ke orang lain. Seperti pakaian yang kesempitan, koper, givi box, kotak makan, tumbler, sepatu kekecilan, cd dan dvd film, kaos kaki dan sapu tangan yang terlalu banyak.

Namun ternyata tak mudah melepas barang-barang yang selama ini telah menemani kita. Entah mengapa muncul perasaan bersalah saat akan membuang barang-barang sentimental dan punya kenangan. Belum lagi godaan untuk menahan barang itu pergi.

“Kan belinya mahal.” “Sayang ah, jangan-jangan suatu saat bisa dipakai lagi.” “Mas, kamu cakep lho kalau pakai baju itu, gak usah disumbangin.” “Ini kan kenang-kenangan dari si A”

pilihan-kemeja-premium-berbagai-warna

Gambar: Pinterest

Kalau alasannya seperti itu, ya repot. Rumah kita luasnya gak nambah gede, tapi barang numpuk terus. Padahal saat kita mengikhlaskan sesuatu pergi dari genggaman, kita akan mendapatkan lebih baik dari yang hilang itu.

Saya tak mau terlalu ekstrem dalam melakukan decluttering. Takutnya malah anget-anget tahi ayam. Perlahan saja. Bertahap, hari demi hari. Karna ini adalah tentang perubahan gaya hidup. Yang penting sudah ada niat, kemauan untuk memulai.

Decluttering ini hanyalah langkah awal. Perlu komitmen lebih lanjut agar bisa mengendalikan barang yang kita miliki dan terbebas dari kondisi yang berantakan.

Jika ingin merasa bahagia, lebih kreatif, dan percaya diri; tapi bingung harus ngapain dan mulai dari mana; cobalah melakukan perubahan. Sedikit perubahan eksternal di sekitar kita dapat memperbaiki mood.

Gambar : Pinterest

Ubahlah cara berpakaian, cara berbicara, cara menghabiskan waktu kita, cara mengawali rutinitas di pagi hari, lingkaran sosial kita, kebiasaan sehari-hari kita. Dan rasakan apa yang terjadi.

Menata rumah kita menjadi hunian yang rapi, tak penuh sesak, berisi barang-barang yang benar-benar kita butuhkan dan sukai, akan menjadikan hidup lebih tenteram dan menyenangkan.

Selamat mencoba.

Tegar Menerima Kenyataan

Saat pembagian raport semester lalu, anak saya gak masuk ranking tiga besar. Terbiasa langganan juara tiba-tiba terdepak dari podium, tentu ini sangat menyesakkan. Lalu ada awan kelam bergelayut di pelupuk matanya. Dan akhirnya, air mata berlinang membasahi pipinya.

Menghadapi hal-hal pelik seperti ini, saya langsung memeluknya erat. Saya pun tak buru-buru menyuruh menghentikan isak tangisnya. Biar saja. Toh nangisnya gak lebay, gak sampai histeris. Biarlah dia ekspresikan kesedihannya. Ini malah bagus, karna dia jujur. Tak berupaya mati-matian menyangkal emosi dan membohongi diri dengan pura-pura tegar.

Setelah agak baikan, saya mulai mengajaknya ngobrol. Ngomong biasa aja, bukan tentang sejuta motivasi semu untuk menyenangkan hatinya.

Saya katakan padanya “Santai aja nak, papa gak marah. Boleh sedih, tapi gak usah baper. Papa tetap bangga sama kamu karna kamu sudah berusaha keras”

Sebagai seorang ayah, saya begitu gatel pengen menceramahinya. Supaya dapat ranking tuh, kamu harus begini, kamu jangan begitu. Seolah-olah dulu saya adalah murid yang hebat.

Padahal apalah saya ini, malah lebih parah dari dia. Juara kelas gak pernah, ikutan lomba cerdas cermat kalah, ikut seleksi Paskibra gak pernah lolos, ikut Porseni antar sekolah juga keok. Baru ndeketin cewek, belum nembak sudah ditolak. Masa muda saya begitu pilu, akrab dengan kekalahan dan kekecewaan.

Tapi dari situlah saya mulai menemukan pembenaran menyadari bahwa inilah saya yang sesungguhnya. Saya belajar bahwa tak mengapa menjadi manusia biasa-biasa saja. Tidak apa-apa prestasi kita tidak sehebat yang lain. Tidak apa juga jalan jalan kita tak sejauh mereka. Tidak ada salahnya menjadi manusia biasa. Hidup memang gak harus baik-baik saja. Gagal bukanlah sebuah kehinaan.

Untunglah saat itu saya gak terpuruk. Saya yakin esok akan ada peluang lagi. Hanya perlu untuk terus bersabar dan berusaha lebih optimal.

Kisah itulah yang coba saya bagikan ke anak saya, agar dia bisa memetik hikmah. Saya berharap ia tak mudah limbung dihantam kerasnya kehidupan. Sebab dalam hidup akan selalu ada hal-hal yang tak sesuai dengan keinginan kita. Butuh jiwa besar untuk mau menerima. Hamdalah dia bisa memahami.

Dan yang membuat saya gembira, anak saya tak menyalahkan pihak lain atas rankingnya yang turun. Dia sportif mengakui, sempat kendor dalam belajar. Ada beberapa kawannya yang ngedumel nilainya merosot karna cara mengajar guru tidak asyik, materi yang belum tuntas, serta murid yang mencontek saat ulangan.

Sikap blaming others ini bahaya lho. Kalau dikit-dikit menyalahkan orang lain, kita tak bisa mengenali diri sendiri dan gak akan pernah berkembang. Kedewasaan akan mandek dan menjadikan kita seorang pengecut.

Peristiwa ini justru membuat dia mengerti dan mengevaluasi kekurangan dirinya. Makin semangat belajar dan gak malu bertanya pada temannya bila ada sesuatu yang tak ia mengerti.

Atas sikapnya itulah, saya beri dia hadiah sebuah jam tangan yang tlah lama diidamkan. Dia heran, ranking turun bukannya dimarahin malah dapet hadiah. Itu adalah wujud apresiasi saya atas keikhlasannya menerima kepedihan dengan lapang dada. Sebab kemampuan menyikapi kegagalan itu jauh lebih penting daripada sekadar merayakan kemenangan.

Kini tak ada lagi gurat kecewa di wajah cantiknya. Ia telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Excellence is not being the best, it is doing your best.

Think Before You Share

Tak perlu silau dengan gelar, jabatan dan pangkat orang lain. Sebab itu semua tak berbanding lurus dengan kecerdasan maupun tingkah lakunya. Media sosial telah membuktikannya.

Tokoh besar, berpendidikan tinggi, menjadi panutan umat; ternyata tak menjamin kualitas postingannya. Masih saja menebar hoaks. Jempolnya terlalu cepat dibanding akalnya. Setelah dibully oleh netizen yang terhormat, barulah kemudian menghapus postingan tersebut tanpa sepatah ungkapan maaf.

Ada beberapa sebab mengapa seseorang mudah sekali menyebarkan berita bohong.

Pertama, karena gak mau cross check suatu berita. Banyak yang merasa hebat ketika menjadi orang yang pertama kali mengabarkan, tak peduli itu benar atau bohong. Orang-orang tua yang baru main media sosial kerap kali melakukan hal seperti ini. Dan WhatsApp adalah sarangnya. Apa saja di-share. Parahnya lagi, berita negatif justru lebih mudah menyebar, lebih dipercaya dan meyakinkan warganet.

“Sebarkan, jangan berhenti di kamu. Agar yang lain mendapat hikmah”

Ada pula yang berharap menjadi viral. Lalu ke-pede-an, merasa dicintai oleh khalayak, karna banyak yang like dan retweet. Padahal itu semua adalah perangkap yang menjerumuskan pada kepongahan. Sungguh berbahagialah mereka yang tak ingin menjadi pesohor. Sebab mengelola ketenaran itu amatlah sulit.

Gambar: Pixabay

Ketika terkenal, kita akan jaim. Berupaya sekuat tenaga menjaga citra diri agar selalu nampak sebagai pribadi yang pintar, asyik, keren dan menyenangkan. Media sosial telah memberi panggung dan lampu sorot untuk para penggunanya. Semua pun terjangkit star syndrome, meskipun aslinya B aja.

Demi itu semua, kita rela melakukan apa saja. Awalnya dengan membuat konten yang menarik dan informatif. Bisa juga berupa humor segar maupun kisah inspiratif. Namun tatkala mentok, terpaksa bikin konten negatif, sensasional dan bombastis.

Kedua, memang sengaja mencari keributan. Diniatkan sebagai sarana panjat sosial, atau menyerang orang lain yang tidak satu gerbong dengannya. Siapa saja yang beda, dianggap lawan. Ini juga salah satu upaya untuk mendukung junjungannya.

Dulu saya berharap setelah Pilpres berlalu, kegaduhan ini akan usai juga. Ternyata justru makin berkembang. Semua merasa benar.

Kebenaran harus sesuai dengan imajinasimu, jika tidak maka itu bukan kebenaran. Ulama harus berada di pihakmu, jika tidak maka itu bukan ulama. Dan presiden harus sesuai dengan versimu, jika tidak maka bikinlah presiden versimu sendiri.

Inilah era post-truth, di mana kebenaran tak lagi absolut. Setiap orang hanya mempercayai apa yang mereka ingin percaya. Dan kadang hanya membenarkan yang dianggap benar.

Gambar: Pixabay

Ketiga, pertemanan. Jika circle-mu di dunia maya dipenuhi orang-orang yang gemar menebar kebohongan, maka kamu akan mudah ketularan. Paparan hoaks yang begitu masif, akan mematikan akal sehat. Untuk itu, jangan segan meng-unfriend, mute atau unfollow akun-akun yang toxic banget.

Agar tak menjadi penyebar hoaks, kita harus bisa mengendalikan diri. Sabar. Pikir baik-baik. Ini kalau saya posting, efeknya buat saya gimana ya? Ngrugiin orang lain gak ya? Ditangkap polisi gak ya?

Ingatlah, UU ITE bisa menjerat bila kita sembarangan di dunia maya. Sudah ratusan orang menjadi tersangka dan terpidana karena memproduksi dan menyebarkan hoaks serta ujaran kebencian.

Jika ingin selamat, gunakan rumus ini sebelum memposting sesuatu.

THINK. True. Helpful. Inspiring. Necessary. Kind

True. Informasi yang kita sampaikan haruslah benar. Rajin-rajinlah untuk cek dan ricek. Jangan asal baca judulnya saja, langsung sebar.
Helpful. Tak hanya bermanfaat buat diri, namun juga berguna buat orang lain. Jangan nyebar sampah digital.
Inspiring, bisa menginspirasi siapa saja.
Necessary. Kita harus mengunggah sesuatu seperlunya dan tidak berlebihan, yang penting-penting saja.
Kind. Setiap hal yang kita bagikan selaiknya tak menyinggung orang lain dan gak bikin kontroversial yang bersifat negatif.

Semoga tips ini bermanfaat. Agar kita tetap waras di tengah banjir informasi yang makin deras mengalir. Think before you share!

Gemukan Setelah Nikah

Tetap langsing setelah menikah itu ibarat berharap Jakarta nggak macet di Jumat sore yang sedang diguyur hujan deras. Sulit gaes. Terutama perempuan, karena mereka melahirkan dan menyusui.

Tapi yang laki banyak juga kok. Saya salah satunya. Setiap kali ketemu kawan lama atau saudara, pasti bilang saya gemukan. Ini karna dulunya saya kurus banget. Rasanya pengen marah, tapi saya tahan. Buat apa, toh segemuk apapun kita, di mata Allah tetaplah kecil. *benerin peci

Tapi jangan bayangkan saya seperti om-om buncit yang perutnya six pack month atau onepack. Gak gitu-gitu amat sih. BMI saya masih normal; 24. Lingkar perut juga di bawah 90 cm. Pakai kemeja slim fit masih muat, tapi harus tahan nafas 🙂

Kenapa sih kok jadi mudah gendutan pasca menikah?

Banyak faktor yang mempengaruhi, yang paling utama tentu makanan. Saat masih single; diet ketat, pilih-pilih makanan dan menjaga bentuk tubuh agar tetap aduhai.

Dulu pas masih kuliah, malahan saya makan sehari hanya dua kali. Ini lebih karena jatah bulanan yang ngepres. Giliran udah nikah, udah laku juga kan, apa aja di hajar.

Belum lagi kalau anak gak ngabisin nasi, maka orang tuanya dengan senang hati yang ngabisin.

“Piringnya bawa sini dik, biar papa yang makan. Ada lagi gak?”

Malas bergerak juga bikin tubuh gampang melar. Sebenarnya ada niat, tapi kesibukan bekerja, gak ada waktu, trus si kecil gak mau ditinggal; menjadi alasan untuk mengabaikan olah raga.

“Gak papa gemuk, yang penting sehat”.

That’s totally wrong and dangerous

Obesitas itu rawan dengan penyakit seperti diabetes militus, jantung, hipertensi dan stroke. Makanya penting banget buat kita untuk menjaga agar berat badan ideal. Bukan mengejar looks good, sebab ini hanyalah bonus.

Yang utama adalah supaya kita sehat, kuat ngejar saat anak-anak ngajak main lari-larian di lapangan dan bisa menemani mereka hingga kita menua tanpa sakit-sakitan. Dan gak ngantukan. Diajakin pillow talk sama bini, sudah buruan ngorok.

Trus gimana caranya?

Teman saya ngajakain diet keto. Berat badannya turun 10 kg dalam satu bulan. Dulunya endut nggemesin, sekarang kurus. Dia gak makan karbo dan gula. Gak ngopi, gak ngeteh. Yang dikonsumsi hanya protein dan lemak sehat. Jadi kalau dia sarapan, menunya telor 5 biji, minumnya santan. Buah yang dimakan cuma alpukat.

tinggal tuangin saus salad, nikmat

Karna tiap orang belum tentu cocok dengan diet tertentu, saya gak mau latah ikut-ikutan.  Takut dengan sesuatu yang instant. Yang normal-normal aja deh. Dari dulu saya gak pernah diet. Sebab nggak terlalu mikirin angka di timbangan. Saya lebih fokus bagaimana komposisi tubuh, kesehatan, kebahagiaan dan timbangan amal. *ahelah

Yang saya lakukan saat adalah mindfulness eating. Menikmati makanan dengan menyadari bagaimana rasanya, aroma, serta tekstur makanan. Tak hanya makan asal mengenyangkan dan membuat lidah menari. Makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tapi gak harus nunggu sampai lapar banget. Kondisi seperti itu justru bikin kalap makan.

Gak buru-buru ngunyahnya, gak sambil main hp. Menghindari lapar mata serta memperhatikan asupan yang masuk ke tubuh. Gak rakus. Kalau ada sisa ketering di kantor, gak rebutan bungkus bawa pulang.

IMG_20190409_070229_HDR-01-02.jpeg

buat camilan

Bukan makanan yang bikin endut, kita nya aja yang gak bisa jaga mulut. Ngunyah terus

Sehari makan tiga kali. Ngemilnya dua kali. Pagi jam sepuluhan dan sore habis ashar. Pernah juga kalap. Siang menunya nasi padang, minumnya es teh manis. Maka malamnya saya hanya konsumsi buah atau sayur. Kalau lagi kumpul sama teman-teman wisata kulineran, ayo aja. Intinya gak berlebihan.

ketergantungan saya terhadap tempe, sungguh sampai pada level mengkhawatirkan

porsinya gak usah banyak-banyak

IMG_20181129_130245-02.jpeg

akhir bulan, ada ikan berkepala dua

Selain mengontrol makanan, saya juga berusaha olah raga secara teratur. Sehari minimal 30 menit. Sepedaan dan lari-lari. Jika gak sempat olah raga, banyak cara kok biar tetap aktif bergerak. Mau pergi ke tempat yang deket, gak usah pakai motor. Ke masjid jalan kaki aja. Gunakan tangga, kurangi eskalator dan lift. Jangan males.

sehat dan gembira

IMG_20190131_074824_HDR-01.jpeg

sepeda kanggo nyambut gawe

sepedaan bareng anak

jogging pagi di tepi pelabuhan

Kalau udah jaga makanan dan olah raga rutin tapi masih saja endut, jangan menyerah. Tetaplah konsisten. Perhatikan juga pola istirahat dan pola pikir. Jangan stress. Hasil tak kan pernah mengkhianati usaha. Semua butuh proses. Lakukan terus hingga akhir hayat dengan penuh kegembiraan. Sebab hidup sehat adalah pilihan.