Merantaulah Sejauh-Jauhnya, Engkau Akan Tahu Arti Mudik Yang Sebenarnya

Ramadhan hari ke 21. Delapan kali sahur lagi, kita akan meninggalkan bulan suci ini dan bertemu Idul Fitri. Entah harus sedih atau senang. Semoga ini bukan Ramadhan terakhir kita.

Dan saat ini sepertinya sudah boleh ngomongin mudik. Ritual tahunan yang selalu dinantikan semua orang. Ritual yang menyadarkan kita bahwa semua yang pergi harus kembali.

Sayangnya lebaran kali ini saya tak mudik. Bukan karna tak rindu. Bukan. Sungguh, sebagai lelaki pemuja rindu, hati saya sudah berdarah-darah dicabik-cabik kerinduan. Rindu bapak ibu, rindu adik-adik, rindu kehangatan rumah, rindu kuliner kampung, rindu sawah dan sungai-sungainya. Apa saja yang ada di desa, seolah melambai-lambai memanggil saya untuk pulang.

Saya tak pulang juga bukan karna malu.

Memang ada sebagian orang yang mengurungkan kepulangannya karna malu tak ada yang dipamerin. Malu tak bawa mobil. Malu pulang sendiri tanpa pasangan. Malu tak bawa oleh-oleh, malu karna belum sukses di tanah rantau. Saya tidak seperti itu. Pulang ke kampung halaman adalah sebuah perjalanan hati, tak perlu melibatkan gengsi.

Saya tak mudik bukan pula karna takut habis-habisan setelah lebaran. Habis dosanya, habis pula saldonya. Saya tak pernah merasa rugi mengeluarkan sejumlah uang untuk beli tiket pesawat. Saya yakin setiap rupiah yang dibelanjakan demi menyambung tali silaturahim, demi senyum orang tua tercinta, akan dibalas dengan keberkahan. Uang bukan masalah buat saya *sombong

Sedih memang, di hari nan fitri tak bisa berkumpul dengan handai taulan. Tapi berlebaran di tanah rantau juga bukanlah sebuah kesalahan. Toh di mana mana sama saja, yang penting maknanya kan. Kembali ke fitri, kembali pada kesucian. *cie…menghibur diri

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan jika tidak pulang kampung. Kalian bisa me time, main ke rumah teman, jalan-jalan, mencoba wisata kuliner, menata ulang kamar dan quality time bersama keluarga.

Meski lebaran tahun ini tak bisa pulang kampung, tak membuat saya murung. Sang Maha Pemberi Hidup melimpahkan begitu banyak kenikmatan untuk saya. Saya bisa setiap saat berkumpul dengan anak istri, bisa berbuka dan sahur bersama. Saya juga dianugerahi kesehatan, rejeki, keberkahan dan kebaikan hidup. Apalagi yang kurang. Tak sepantasnya bila saya harus meratapi nasib.

Buat yang mudik, saya ucapkan selamat mudik, hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa peluk dan cium ibu kalian sesampai di rumah. Yang ndak mudik, bisa main ke rumah saya. Saya akan open house. Lebaran nanti istri saya mau masak opor ayam. Ada juga orson dan biskuit Khong Guan. Mari kita rayakan kemenangan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

Iklan

Untuk Apa Mudik?

image

Lebaran sebentar lagi, aura mudik pun mulai terasa. Jika di awal Ramadhan masjid ramai penuh sesak, maka di penghujung bulan suci ini, keramaian itu berpindah ke bandara, stasiun, terminal dan pelabuhan.

Sebenarnya apa sih yang kita dapatkan dari mudik? Semua orang rela bermacet-macet ria, berdesak-desakkan, menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer demi mudik. Bahkan ada pula yang menghabiskan dana tidak sedikit demi mengunjungi kampung halaman.

Baca lebih lanjut