Kebiasaan Kecil Sebelum Jalan-Jalan

Hari gini siapa sih yang yang seneng jalan-jalan? Apalagi dibayarin. Mau banget. Hamdalah saya sering dapat kesempatan seperti itu. Lebih karna urusan kerjaan, ditugasin ke luar kota untuk beberapa saat.

Paling suka bila tujuannya adalah kota yang belum pernah saya kunjungi. Semakin jauh semakin menantang. Apalagi harus gonta-ganti moda transportasi. Habis pesawat, trus naik bis, nyambung kereta dan ojek. Capek sih, tapi seru. Kudu matang ngerencanain gimana kesananya, naik apa, ntar nginep di mana, kapan ada waktu buat explore tempat wisata serta berburu kulinernya.

View this post on Instagram

Mari bergegas #commuter #commuterline

A post shared by Danang Budiarto (@bro_danang) on

Agar perjalanan tersebut lancar, saya berikhtiar merancang sebaik mungkin. Emang harus ada persiapan ya? Mau jalan-jalan kok malah bikin ribet. Ah gak juga. Malah di sinilah letak seninya, gimana perjalanan itu memberi kegembiraan. Gak ada aturan baku, jadi bebas terserah kita. Cocok buat saya, belum tentu pas buat orang lain.

Apa saja sih yang biasa saya lakukan sebelum memulai perjalanan? Ini dia.

Yang pertama adalah membuat itinerary. Ketika sampai di tempat tujuan, saya gak bingung lagi mau ngapain, pengen kemana. Tempat wisata sudah diurutin, mana duluan yang mesti didatangi, apa saja yang kudu diperhatikan saat di lokasi dan sebagainya. Itinerary ini saya buat sedetail mungkin mulai dari hari, jam, estimasi biaya dan cara menuju dan bahkan dress code-nya. Tidur pun pakai kaos yang mana sudah ketahuan. Kalau gini kan, gak ada ceritanya kebanyakan bawa baju. Haha, kurang kerjaan banget ya.

Berikutnya adalah mencatat seluruh barang dan perlengkapan yang perlu dibawa. Saya buatkan list. Ini memastikan agar tak ada yang ketinggalan atau berlebihan membawa barang.

Kelihatannya sederhana, namun ternyata tak banyak orang yang bisa menyiapkan bekal dengan baik. Liburan cuma dua hari, tapi bawaannya kayak mau transmigrasi. Dua koper besar, backpack dan tas jinjing. Pas udah nyampai di tempat tujuan, baru nyadar charger ketinggalan, lupa gak bawa handuk dan celana dalam kurang. Berabe kan. Saat berangkat, tas gak pernah saya penuhin. Selalu sediakan ruang kosong untuk beli oleh-oleh.

Ketiga, memfoto semua dokumen penting seperti KTP, SIM, NPWP. Tiket pesawat dan voucher hotel selain di-screenshot, juga saya catat di buku. Khawatirnya pas mau check in, HP eror atau low bat. Buat jaga-jaga aja. Bukannya meminta, ada kan yang dompetnya hilang di tengah perjalanan, entah karna kecopetan atau terjatuh.

Keempat, meninggalkan kartu atau dokumen yang tak perlu di bawa. Biasanya saya hanya bawa satu kartu ATM. *ngapain bawa banyak-banyak kalau gak ada saldonya.

STNK dan SIM juga saya tinggal. Kecuali emang nanti akan berkendara di tempat tujuan, maka saya bawa SIM. Dalam dompet juga saya simpan selembar catatan kecil tentang kontak darurat, tertulis nama istri, orang tua dan nomer yang bisa dihubungi.

Oh ya, saya juga bawa flas disk berisi lagu favorit. Sangat berguna saat mengendarai mobil agak lama. Tinggal colokin ke audio system nya. Lumayan buat hiburan di kala terjebak macet. Kalau gak gini, terkadang driver muter lagu yang gak asik. Merusak mood.

Terakhir adalah menyimpan uang di beberapa tempat. Tak hanya ditaruh di dompet, juga saya selipkan di tas dan kantong jaket. Intinya tidak menyimpan telur dalam satu keranjang yang sama. Lebih aman. Saya juga mengisi saldo dompet digital. Cashless dan yang bikin menarik adalah banyak promonya. Kemarin aja pas belanja dapat cash back 30%. Lumayan kan.

Itulah beberapa kebiasaan saya sebelum bepergian. Kalau kalian bagaimana?

Iklan

Konsumen Adalah Raja

Saya orangnya gak ribet. Lebih suka mengalah daripada harus  berdebat panjang. Kalau ada yang reseh, ngomong macem-macem, palingan saya iyain aja. Biar cepat selesai.

Meski suka mengalah, bukan berarti saya gak berani melawan. Jika diperlakukan tidak baik, pasti saya bereaksi. Ibarat ada yang jual, saya saya beli lah. Tapi tetep dengan cara yang elegan, gak marah-marah, pakai gebrak meja segala.

Seperti beberapa hari yang lalu, saat saya sedang tugas di Balikpapan. Saya sudah dibookingkan hotel sama teman. Pas nyampe hotel, dibilang resepsionisnya, kamar penuh.

“Lho gimana sih mbak, kan udah booking 2 hari lalu”

“Maaf mas, kami kedatangan rombongan tamu dari kementerian. Saya oper ke hotel depan saja ya. Masih satu manajemen dengan kami. Kamarnya sudah disiapkan”, kata mbak resepsionis.

Oh, jadi saya yang dikorbanin. Oke, fine. Saya terima tawaran itu, toh hotel yang baru gak jauh. Cuma sepelemparan batu. Dekat dengan lokasi acara saya juga.

Sayangnya, hotel yang baru ini kurang memuaskan. Pas mau masuk kamar, pintunya susah terbuka. Feeling saya mulai gak enak nih. Mau nonton tivi, remote gak berfungsi. Pas mau mandi airnya keruh, seperti air sungai. Hotel apaan nih.

Saya turun ke resepsionis, bilang mau check out, karna fasilitas hotelnya parah banget. Saya minta balikin duit saya. Lagian belum sejam di kamar. Tapi bilang resepsionis gak bisa. Kalau mau check out, duit yang kembali cuma 50%. Wuih enak saja.

Saya minta ketemu manajer hotel, tapi manajernya gak mau keluar nemuin saya. Ngajak berantem nih. Pengen marah rasanya.

Akhirnya saya bilang ke resepsionis. Ini kan kesalahan pihak hotel. Kalau uang saya gak dibalikin utuh, saya akan laporkan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Ombudsman RI. Saya juga akan buat pengaduan ke Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Dinas Pariwisata, Dinas Perijinan, Kaltim Post, Kompas. Saya akan tuntut karna perbuatan tidak menyenangkan.

Saya ngomong seperti itu dengan suara kalem tanpa emosi. Tapi sorot mata saya seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Raut wajah resepsionis seperti ketakutan dan langsung nemuin manajernya. Akhirnya duit saya bisa dikembalikan utuh. Ternyata harus digertak dulu, baru takut.

Akhirnya dapat hotel yang bagus, kamar yang nyaman. 

Sebagai konsumen, tak jarang kita diperlakukan seenaknya dan dirugikan. Padahal konsumen punya hak, dilindungi Undang-Undang pula. Makanya jangan takut untuk melawan. Lawanlah dengan cara yang cerdas. Tanpa kekerasan. Semua bisa diselesaikan dengan baik-baik.

Kalian pernah punya pengalaman tak menyenangkan sebagai konsumen? Apa yang kalian lakukan?

 

Piknik Asyik Di Bali; Ubud & Uluwatu

Sulit rasanya untuk tidak jatuh cinta pada Bali. Meski baru dua kali berkunjung ke Pulau Dewata, namun separuh hati saya sudah terpikat oleh pesona alam, budaya, adat istiadat dan keramahan warganya. Setiap sudut Bali menyuguhkan keindahan tiada tara. Bali adalah sekeping surga. Saya percaya, Tuhan menciptakan Bali saat sedang tersenyum.

Bagi sebagian orang liburan ke Bali itu menguras kantong. Padahal gak juga lho. Jika direncanakan dengan matang, nabung dulu dan pinter-pinter milih, kita tak harus merogeh kocek terlalu dalam. Tiket pesawat kan banyak yang promo, penginapan harga seratus ribuan pun ada. Dari yang murah sampai mahal ada.

Begitu juga dengan paket wisata. Ini ada beberapa brosur yang saya dapatkan di terminal kedatangan bandara I Gusti Ngurah Rai. Selama jalan-jalan di Bali, saya bersama Bayu & Nini menggunakan jasa Agus Kembar Transport. Mobilnya Inova, baru, bersih dan wangi. Drivernya Bli Agus. Saya sempat bertanya-tanya, orang Bali kok namanya Agus. Biasanya kan Made, Ketut atau Wayan. Bli Agus ini masih muda, ramah, dan teman perjalanan yang menyenangkan, sekalian jadi guide. Soal harga, cincai lah. Jika berminat, bisa hubungi nomer Bli Agus 0812 4656 5589 / 0878 6117 1356. Read More

Mengintip Keindahan Matahari Terbit Di Pantai Sanur

Bali memang unik dan menarik. Saking banyaknya objek wisata di sana, saya sempat bingung menentukan lokasi mana yang akan dikunjungi. Saya dan kawan-kawan cuma punya waktu dua hari untuk mengecap eksotisme Bali. Harus pinter-pinter mengatur jadwal, agar tak ada sesal di kemudian hari.

Kami ke Bali bukan sekedar jalan-jalan, tapi juga dalam rangka menuntaskan salah satu pekerjaan yang ada di Kabupaten Klungkung. Sambil menyelam minum air, bekerja sekaligus berwisata.

Selama di Bali, kami menginap di Sri Phala Resort & Villa yang berada di jalan By Pass Ngurah Rai Sanur Kaja. Selain tempatnya keren dan asyik, villa dengan dua kolam renang yang begitu cantik ini juga dekat dengan masjid. Jaraknya pun tak terlalu jauh dengan pantai Sanur, sekitar 300 meter. Pas banget.

sriphala1

Baca Selengkapnya

Monumen Tugu Pahlawan; Menyusuri Jejak Pertempuran 10 November

Selalu ada rasa haru setiap kali saya mengunjungi Surabaya. Kota ini telah menjadi salah satu bagian penting dari episode perjalanan kehidupan saya. Sehari menjelang puasa, saya menapakkan kaki di kota Pahlawan ini. Menyusuri setiap sudutnya, menghadirkan kembali kisah-kisah indah yang pernah terlewati. Saya seperti pulang pada kenangan, menuntaskan segenap rindu yang menggebu.

Saya datang bersama dua orang kawan dari Palu. Bukan untuk liburan, tapi karena urusan pekerjaan. Waktu yang terbatas, tak menghalangi untuk jalan-jalan. Dan pilihan kami adalah Monumen Tugu Pahlawan. Sebuah tugu yang dibangun untuk mengenang peristiwa pertempuran arek-arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945.

image

lapangannya hijau, asyik buat main bola

Baca lebih lanjut

Pesona Pantai Talise

Terkadang apa yang tak kita rencanakan justru berjalan dengan lancar. Termasuk dalam hal piknik. Awalnya gak ada niat mau jalan-jalan, pengennya di rumah saja. Nonton film, masak bareng, merenda kasih dan mengakrabkan diri dengan keluarga. Ini sudah sangat menyenangkan. Gimana gak menyenangkan, lha wong gak ngeluarin duit sama sekali 🙂

Tapi melihat langit yang cerah, gunung yang kebiruan, sayang rasanya hari libur cuma berdiam diri. Setelah diskusi singkat dengan istri, kita putuskan cus ke pantai Talise. Mau renang dan berjemur. *sok bule banget

Pantai Talise memang tak seterkenal Pantai Tanjung Karang di Donggala, tapi keindahannya tetap menawan hati dan menyejukkan jiwa. Cocok buat refreshing setelah seminggu bergulat dengan pekerjaan, terbelenggu dalam kubikel kantor dan berjam-jam duduk di depan komputer. Baca Selengkapnya

Snorkling Di Tanjung Karang

Kalau diajak jalan-jalan, saya ayo aja. Apalagi berwisata ke alam. Hiking gunung, masuk ke hutan, menyusuri sawah atau pun pantai. Mau banget. Walau sejujurnya saya lebih suka ke gunung daripada laut. Gak tahu kenapa. Katanya sih penyuka gunung itu orangnya realistis, kalau penyuka pantai itu romantis. Nah kalau suka semuanya?

Tapi gak apalah, ke pantai seru juga. Seperti akhir pekan lalu, saya ditantang snorkling di Pantai Tanjung Karang Kabupaten Donggala, 32 kilometer dari kota Palu. Sekitar satu jam lah. Sayangnya sepanjang perjalanan menuju Donggala banyak tambang galian C. Debu dan panasnya gak nguatin banget. Baca Selengkapnya