Think Before You Share

Tak perlu silau dengan gelar, jabatan dan pangkat orang lain. Sebab itu semua tak berbanding lurus dengan kecerdasan maupun tingkah lakunya. Media sosial telah membuktikannya.

Tokoh besar, berpendidikan tinggi, menjadi panutan umat; ternyata tak menjamin kualitas postingannya. Masih saja menebar hoaks. Jempolnya terlalu cepat dibanding akalnya. Setelah dibully oleh netizen yang terhormat, barulah kemudian menghapus postingan tersebut tanpa sepatah ungkapan maaf.

Ada beberapa sebab mengapa seseorang mudah sekali menyebarkan berita bohong.

Pertama, karena gak mau cross check suatu berita. Banyak yang merasa hebat ketika menjadi orang yang pertama kali mengabarkan, tak peduli itu benar atau bohong. Orang-orang tua yang baru main media sosial kerap kali melakukan hal seperti ini. Dan WhatsApp adalah sarangnya. Apa saja di-share. Parahnya lagi, berita negatif justru lebih mudah menyebar, lebih dipercaya dan meyakinkan warganet.

“Sebarkan, jangan berhenti di kamu. Agar yang lain mendapat hikmah”

Ada pula yang berharap menjadi viral. Lalu ke-pede-an, merasa dicintai oleh khalayak, karna banyak yang like dan retweet. Padahal itu semua adalah perangkap yang menjerumuskan pada kepongahan. Sungguh berbahagialah mereka yang tak ingin menjadi pesohor. Sebab mengelola ketenaran itu amatlah sulit.

Gambar: Pixabay

Ketika terkenal, kita akan jaim. Berupaya sekuat tenaga menjaga citra diri agar selalu nampak sebagai pribadi yang pintar, asyik, keren dan menyenangkan. Media sosial telah memberi panggung dan lampu sorot untuk para penggunanya. Semua pun terjangkit star syndrome, meskipun aslinya B aja.

Demi itu semua, kita rela melakukan apa saja. Awalnya dengan membuat konten yang menarik dan informatif. Bisa juga berupa humor segar maupun kisah inspiratif. Namun tatkala mentok, terpaksa bikin konten negatif, sensasional dan bombastis.

Kedua, memang sengaja mencari keributan. Diniatkan sebagai sarana panjat sosial, atau menyerang orang lain yang tidak satu gerbong dengannya. Siapa saja yang beda, dianggap lawan. Ini juga salah satu upaya untuk mendukung junjungannya.

Dulu saya berharap setelah Pilpres berlalu, kegaduhan ini akan usai juga. Ternyata justru makin berkembang. Semua merasa benar.

Kebenaran harus sesuai dengan imajinasimu, jika tidak maka itu bukan kebenaran. Ulama harus berada di pihakmu, jika tidak maka itu bukan ulama. Dan presiden harus sesuai dengan versimu, jika tidak maka bikinlah presiden versimu sendiri.

Inilah era post-truth, di mana kebenaran tak lagi absolut. Setiap orang hanya mempercayai apa yang mereka ingin percaya. Dan kadang hanya membenarkan yang dianggap benar.

Gambar: Pixabay

Ketiga, pertemanan. Jika circle-mu di dunia maya dipenuhi orang-orang yang gemar menebar kebohongan, maka kamu akan mudah ketularan. Paparan hoaks yang begitu masif, akan mematikan akal sehat. Untuk itu, jangan segan meng-unfriend, mute atau unfollow akun-akun yang toxic banget.

Agar tak menjadi penyebar hoaks, kita harus bisa mengendalikan diri. Sabar. Pikir baik-baik. Ini kalau saya posting, efeknya buat saya gimana ya? Ngrugiin orang lain gak ya? Ditangkap polisi gak ya?

Ingatlah, UU ITE bisa menjerat bila kita sembarangan di dunia maya. Sudah ratusan orang menjadi tersangka dan terpidana karena memproduksi dan menyebarkan hoaks serta ujaran kebencian.

Jika ingin selamat, gunakan rumus ini sebelum memposting sesuatu.

THINK. True. Helpful. Inspiring. Necessary. Kind

True. Informasi yang kita sampaikan haruslah benar. Rajin-rajinlah untuk cek dan ricek. Jangan asal baca judulnya saja, langsung sebar.
Helpful. Tak hanya bermanfaat buat diri, namun juga berguna buat orang lain. Jangan nyebar sampah digital.
Inspiring, bisa menginspirasi siapa saja.
Necessary. Kita harus mengunggah sesuatu seperlunya dan tidak berlebihan, yang penting-penting saja.
Kind. Setiap hal yang kita bagikan selaiknya tak menyinggung orang lain dan gak bikin kontroversial yang bersifat negatif.

Semoga tips ini bermanfaat. Agar kita tetap waras di tengah banjir informasi yang makin deras mengalir. Think before you share!

Iklan

Jangan Jadi PNS

Selama masih suka ngeluh, terjebak pada besarnya nominal serta membandingkan diri dengan yang lain; maka kebahagiaan tak akan pernah singgah dalam relung jiwa kita. Meskipun sebenarnya pekerjaan yang kita raih sekarang cukuplah bonafit dan diidamkan orang lain. Kita tak akan pernah puas dengan yang kita miliki. Manusiawi.

Ditambah dengan omongan masyarakat yang bikin kuping jadi panas, membuat sebagian orang makin bimbang dengan profesi yang telah digelutinya.

Pas lagi rame-ramenya rekrutmen PNS, di sebuah angkringan ada yang ngomong begini, “Ngapain jadi PNS, gaji kecil, gak bisa kaya. Masih aja banyak yang daftar”

Ya Allah, itu mulut apa balsem. Pedes banget.

E tapi kata siapa PNS gak bisa kaya. Lihat aja kalau PNS ngajukan kredit di bank “Gaji emang 2 juta mbak. Tapi belum termasuk honor, perjalanan dinas dll. Kalau ditotal bisa XX juta” <<< *sok kaya beud

Giliran tetangga mau minjem duit, “Aduh gimana ya. Pengen bantuin, tapi gaji PNS kan kecil. Kudoain aja yang terbaik ya”

Yang gak kalah sadis lagi…

“Parah nih PNS. Kerjanya lemot, suka keluyuran saat jam kerja, mempersulit urusan, banyak KKN-nya pula”

Astaghfirullah…

Saya sih gak kaget, karena faktanya memang masih ada yang begitu. Wajar bila sebagian besar masyarakat memberi stigma buruk pada aparat pemerintah. Mereka mengalami sendiri ketika ngurus KTP, bikin sertifikat, buat ijin usaha, berobat ke Rumah Sakit dll.

Tapi percayalah, gak semua seperti itu. Masih ada PNS yang berintegritas, berdedikasi tinggi serta mencintai negeri ini.

Pemerintah gak berdiam diri kok. Ada upaya sungguh-sungguh melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja para ASN. Kita sedang berproses ke arah yang baik.

Ketika mendapat pelayanan yang tidak memuaskan dari aparat serta mengetahui ada indikasi fraud, kita bisa mengadukannya. Laporkan ke aparat pengawas dan Ombudsman Republik Indonesia. Bisa juga dengan mengirim surat pembaca di koran nasional. Gak perlu memaki, merendahkan profesi mereka. Trus ngomporin orang lain agar tak jadi PNS, agar tak jadi orang gajian seumur hidup. Menganjurkan anak-anak muda agar jadi enterpreneur aja.

Lha kalau semua jadi wirausaha, lebih memilih masuk perusahaan, gak ada yang mau jadi PNS; siapa yang bakal mengurus negri ini Maliih?

Justru negri ini butuh lebih banyak orang baik, orang-orang cerdas dan kreatif untuk menjadi PNS. Agar birokrasi menjadi lebih lincah, bersih dan gak bertele-tele. Supaya mereka tak kalah ketika menghadapi para mafia, politikus busuk dan pengusaha nakal.

Di Perancis dan Singapura, pegawai negeri adalah profesi elite. Selalu jadi rebutan lulusan terbaik. Alangkah sedihnya ketika PNS dijadikan pilihan karena kepepet. Karena punya canel orang dalam dan jatah jabatan.

Intinya, semua profesi itu sama. Mau jadi petani, nelayan, pedagang, pengusaha, dokter, tukang parkir, atau buruh pabrik. Tak ada yang lebih mulia, ataupun lebih hina. Tergantung bagaimana menjalani dengan penuh kesungguhan, jujur dan bertanggung jawab.

Dan gak perlu ngiri sama profesi orang lain. Kalau gak terima dengan kondisi saat ini, merasa penghasilan ala kadarnya, stuck; ya udah alih profesi aja.

Yang perlu disadari adalah, ada hal-hal lain yang tak bisa dinilai dengan materi. Mungkin gaji tak seberapa, tapi entah mengapa selalu cukup untuk kebutuhan keluarga, bisa bantu saudara, jiwa pun tenang karenanya. Lingkungan kerja yang nyaman, kesempatan belajar terbuka lebar, serta mampu mengoptimalkan diri; adalah beberapa alasan kenapa seseorang memilih sebuah pekerjaan.

Yang penting, cintai pekerjaanmu. Jangan pedulikan label yang orang lain berikan pada dirimu. Gak usah merasa paling berjasa, paling penting, atau paling apalah dibanding yang lain.

Kita berbeda jalan, beda profesi untuk saling melengkapi.

Sohiban Dengan Lawan Jenis

Idealnya, pasangan kita adalah sahabat terbaik kita. Diajak ngobrol nyambung, asyik buat curhat, kompak, ngangenin dan selalu nyenengin.

Namun nyatanya tak semua orang bisa seperti itu. Ada pria yang justru lebih betah ngobrol dengan wanita lain dibanding dengan istrinya. Biasanya sih pria paruh baya yang sedang puber. Ganjen. Ngakunya sahabatan, padahal TTM. Teman tapi mesra modus. Ngarepnya jadi friend with benefit.

Read More

Gaji Kok Kurang Terus Sih

Ketika sedang bokek, seseorang bisa berubah drastis. Tiba-tiba jadi reseh, mudah marah, nyinyir dan sinis pada orang lain. Wajar sih. Saat lagi gak punya duit, kemampuan untuk berpikir jernih dan kreatif hilang. Maklumin aja.

Bokek ini tak ada kaitannya dengan penghasilan besar maupun kecil. Sebesar apapun gaji, jika tak dikelola dengan baik akan selalu kekurangan. Tak perlu menunggu akhir bulan, seminggu setelah gajian pun; tak sedikit yang tongpes. Ironis kan. Padahal mengelola keuangan dengan baik itu bagian dari syukur lho.

Saya punya beberapa tips nih, agar berkecukupan dan gak selalu pusing saat tanggal tua. Bukan karna saya kaya banget. Bukan. Saya hanya amtenar biasa. Tapi terhadap apa yang telah Allah berikan, saya sungguh merasa kaya.
Read More

Menikmati Hidup Selow

Tahun dua ribu delapan belas sudah memasuki semester dua. Apa kabar resolusi yang dibuat di awal tahun? Sudah lupa atau menguap begitu saja? Dan kalau boleh nanya, apa pencapaianmu tahun ini yang bisa dibanggakan? Jangan bilang gak ada ya.

Andai apa yang kamu lakukan untuk mencapai impian masih gagal, ini adalah sebuah pengalaman berharga. Tak perlu bersedih dan membandingkan diri dengan orang lain.

Hidup bukan hanya tentang apa yang kita capai. Namun apa yang sudah kita berikan untuk sesama dari pencapain kita itu. Migunani tumraping liyan.

Read More

Duit Setan Dimakan Iblis

Pernah denger duit setan dimakan iblis gak? Istilah itu punya makna bahwa uang yang didapat dengan cara yang gak bener, bakalan raib begitu saja. Kalau kata orang Jawa, gak cementhel. Gak ketahuan juntrungannya.

Bukan hanya itu, harta ndak halal yang diperoleh dengan mengambil hak orang lain, nilep, nipu ataupun korupsi justru membawa petaka, bikin penyakit. Keluarga jadi berantakan, suami selingkuh, anak-anak sekolahnya ndak beres, terjerat narkoba dll. Macem-macem deh. Sebagian orang jadi percaya kalau karma emang dibayar kontan. Di dunia aja dihinakan, apalagi di kehidupan nanti. Bakalan merugi orang-orang yang ndak jujur.

Makanya mending gak usah neko-neko deh. Kerja yang bener dan perbanyak syukur. Sungguh, Tuhan memberi rizki berdasarkan kepantasan, bukan berdasarkan pekerjaan kita. Seharusnya kita percaya dan menyakini keterlibatan Tuhan dan pertolongan-Nya dalam urusan menjemput rizki .

Sebesar apapun penghasilan, kalau mentalnya miskin ya gak akan pernah merasa cukup. Cukup itu bukan karena banyaknya, tapi karena berkahnya. Yang membuat pusing manusia sebenarnya bukanlah pemberian rizki dari Tuhan, tapi banyaknya kebutuhan hidupnya sendiri. Kebutuhan hidup yang dibuat-buat, life style. Ini yang paling membebani.

Dan yang paling bikin sebel, kalau kita sudah kerja lurus, dibela-belain lembur sampai malem, trus hancur gara-gara ada teman satu departemen yang korupsi. Nyesek rasanya. Dianggapnya kita ini juga koruptor. Ayo lawan korupsi. Sebab sebenar-benarnya orang beragama adalah mereka yang tidak korupsi.

Selamat Hari Anti Korupsi Internasional 2016. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjauhi perilaku korupsi. Dan semoga Allah memberi kita hati yang tenang, dada yang lapang, pikiran terang dan rizki yang gampang.

Jangan Titipkan Nasibmu Pada Manusia

Cukuplah Allah sebagai penolongmu

Hidup terlalu sayang, jika hanya diukur dengan sesuatu yang kasat mata. Makanya jangan silau dengan jabatan, kekayaan, pendidikan atau gelar. Apa yang nampak, terkadang justru menipu. Dan adakalanya kegemerlapan merupakan cermin kepahitan yang gagal diredam.

Pendidikan setinggi langit tak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan ataupun kewarasan. Pelaku korupsi justru orang-orang dengan gelar berderet, yang tak perlu cemas esok makan apa. Seorang profesor pun bisa menjadi pengikut setia tukang sulap abal-abal yang katanya mampu menggandakan uang. Lha gimana nanti kalau dia ketemu Dajjal yang bisa menghidupkan orang mati. Bakalan jadi pengikutnya juga? Makanya, urip ojo gumunan, ojo kagetan.

Rupanya makin kesini, makin banyak orang orang yang gelisah dan penuh beban masalah. Dan karena kehilangan kesabaran pada Tuhan, akhirnya orang-orang itu mencari jalan pintas. Datang ke padepokan, menemui paranormal demi solusi semu. Bukannya selesai masalah, malah nambah masalah.

Ada yang pengen kaya dan terbebas dari hutang. Sebagian yang lain bermaksud mengamankan jabatannya agar tak diambil orang lain. Ada yang ingin dagangannya laris, ingin awet muda. Tak sedikit pula yang ingin sembuh dari penyakit yang diderita.

Karna peminatnya bejibun, maka banyak juga yang memilih jadi paranormal atau guru spiritual. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup cari wangsit di bawah pohon atau bertapa di gunung Kawi.

Kalau sudah sakti, uang akan datang sendiri. Sekali pasien konsultasi, maharnya bisa puluhan juta, lebih gede dari gaji PNS. Cepet kaya tanpa perlu korupsi. Pasiennya orang-orang terkenal, artis cantik dan pejabat.

Tapi ya itu tadi, kalau jadi dukun, berarti bersekutu dengan syetan. Musyrik. Dosa besar yang tak diampuni. Mendatangi dukun juga sama dosanya.

Jadi kalaupun saat ini hatimu kering kerontang butuh siraman rohani, butuh solusi atau teman bicara, jangan sekali-kali pergi ke padepokan. Sowan saja ke kyai di pesantren, kumpul sama orang-orang sholeh, ngaji yang bener dan minta tausiyahnya.

Jangan ke ustad seleb, seleb yang pura-pura jadi ustad atau ustad abal-abal. Mending nonton pengajian pagi di TVRI. Gak usah neko-neko.

Dan pada akhirnya, hidup memang tak bisa lepas dari masalah. Suatu ketika, beban hidup akan terasa berat. Meskipun kuat secara fisik, cerdas secara intelektual dan dewasa secara emosional, tetap saja akan kesulitan jika lemah secara spiritual.

You know, God works in mysterious ways. Dari arah yang tak disangka-sangka. Dari arah tak terduga. Mintalah pada-Nya agar diberi jalan keluar. Give your best effort. Pray. Jangan titipkan nasibmu pada manusia, meski ia kepala kantor, Gubernur ataupun Raja.