Gaji Kok Kurang Terus Sih

Ketika sedang bokek, seseorang bisa berubah drastis. Tiba-tiba jadi reseh, mudah marah, nyinyir dan sinis pada orang lain. Wajar sih. Saat lagi gak punya duit, kemampuan untuk berpikir jernih dan kreatif hilang. Maklumin aja.

Bokek ini tak ada kaitannya dengan penghasilan besar maupun kecil. Sebesar apapun gaji, jika tak dikelola dengan baik akan selalu kekurangan. Tak perlu menunggu akhir bulan, seminggu setelah gajian pun; tak sedikit yang tongpes. Ironis kan. Padahal mengelola keuangan dengan baik itu bagian dari syukur lho.

Saya punya beberapa tips nih, agar berkecukupan dan gak selalu pusing saat tanggal tua. Bukan karna saya kaya banget. Bukan. Saya hanya amtenar biasa. Tapi terhadap apa yang telah Allah berikan, saya sungguh merasa kaya. Read More

Iklan

Duit Setan Dimakan Iblis

Pernah denger duit setan dimakan iblis gak? Istilah itu punya makna bahwa uang yang didapat dengan cara yang gak bener, bakalan raib begitu saja. Kalau kata orang Jawa, gak cementhel. Gak ketahuan juntrungannya.

Bukan hanya itu, harta ndak halal yang diperoleh dengan mengambil hak orang lain, nilep, nipu ataupun korupsi justru membawa petaka, bikin penyakit. Keluarga jadi berantakan, suami selingkuh, anak-anak sekolahnya ndak beres, terjerat narkoba dll. Macem-macem deh. Sebagian orang jadi percaya kalau karma emang dibayar kontan. Di dunia aja dihinakan, apalagi di kehidupan nanti. Bakalan merugi orang-orang yang ndak jujur.

Makanya mending gak usah neko-neko deh. Kerja yang bener dan perbanyak syukur. Sungguh, Tuhan memberi rizki berdasarkan kepantasan, bukan berdasarkan pekerjaan kita. Seharusnya kita percaya dan menyakini keterlibatan Tuhan dan pertolongan-Nya dalam urusan menjemput rizki .

Sebesar apapun penghasilan, kalau mentalnya miskin ya gak akan pernah merasa cukup. Cukup itu bukan karena banyaknya, tapi karena berkahnya. Yang membuat pusing manusia sebenarnya bukanlah pemberian rizki dari Tuhan, tapi banyaknya kebutuhan hidupnya sendiri. Kebutuhan hidup yang dibuat-buat, life style. Ini yang paling membebani.

Dan yang paling bikin sebel, kalau kita sudah kerja lurus, dibela-belain lembur sampai malem, trus hancur gara-gara ada teman satu departemen yang korupsi. Nyesek rasanya. Dianggapnya kita ini juga koruptor. Ayo lawan korupsi. Sebab sebenar-benarnya orang beragama adalah mereka yang tidak korupsi.

Selamat Hari Anti Korupsi Internasional 2016. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjauhi perilaku korupsi. Dan semoga Allah memberi kita hati yang tenang, dada yang lapang, pikiran terang dan rizki yang gampang.

Jangan Titipkan Nasibmu Pada Manusia

Cukuplah Allah sebagai penolongmu

Hidup terlalu sayang, jika hanya diukur dengan sesuatu yang kasat mata. Makanya jangan silau dengan jabatan, kekayaan, pendidikan atau gelar. Apa yang nampak, terkadang justru menipu. Dan adakalanya kegemerlapan merupakan cermin kepahitan yang gagal diredam.

Pendidikan setinggi langit tak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan ataupun kewarasan. Pelaku korupsi justru orang-orang dengan gelar berderet, yang tak perlu cemas esok makan apa. Seorang profesor pun bisa menjadi pengikut setia tukang sulap abal-abal yang katanya mampu menggandakan uang. Lha gimana nanti kalau dia ketemu Dajjal yang bisa menghidupkan orang mati. Bakalan jadi pengikutnya juga? Makanya, urip ojo gumunan, ojo kagetan.

Rupanya makin kesini, makin banyak orang orang yang gelisah dan penuh beban masalah. Dan karena kehilangan kesabaran pada Tuhan, akhirnya orang-orang itu mencari jalan pintas. Datang ke padepokan, menemui paranormal demi solusi semu. Bukannya selesai masalah, malah nambah masalah.

Ada yang pengen kaya dan terbebas dari hutang. Sebagian yang lain bermaksud mengamankan jabatannya agar tak diambil orang lain. Ada yang ingin dagangannya laris, ingin awet muda. Tak sedikit pula yang ingin sembuh dari penyakit yang diderita.

Karna peminatnya bejibun, maka banyak juga yang memilih jadi paranormal atau guru spiritual. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup cari wangsit di bawah pohon atau bertapa di gunung Kawi.

Kalau sudah sakti, uang akan datang sendiri. Sekali pasien konsultasi, maharnya bisa puluhan juta, lebih gede dari gaji PNS. Cepet kaya tanpa perlu korupsi. Pasiennya orang-orang terkenal, artis cantik dan pejabat.

Tapi ya itu tadi, kalau jadi dukun, berarti bersekutu dengan syetan. Musyrik. Dosa besar yang tak diampuni. Mendatangi dukun juga sama dosanya.

Jadi kalaupun saat ini hatimu kering kerontang butuh siraman rohani, butuh solusi atau teman bicara, jangan sekali-kali pergi ke padepokan. Sowan saja ke kyai di pesantren, kumpul sama orang-orang sholeh, ngaji yang bener dan minta tausiyahnya.

Jangan ke ustad seleb, seleb yang pura-pura jadi ustad atau ustad abal-abal. Mending nonton pengajian pagi di TVRI. Gak usah neko-neko.

Dan pada akhirnya, hidup memang tak bisa lepas dari masalah. Suatu ketika, beban hidup akan terasa berat. Meskipun kuat secara fisik, cerdas secara intelektual dan dewasa secara emosional, tetap saja akan kesulitan jika lemah secara spiritual.

You know, God works in mysterious ways. Dari arah yang tak disangka-sangka. Dari arah tak terduga. Mintalah pada-Nya agar diberi jalan keluar. Give your best effort. Pray. Jangan titipkan nasibmu pada manusia, meski ia kepala kantor, Gubernur ataupun Raja.

Bekerja Adalah Wujud Religiusitas

Banyak cara untuk menebak kepribadian seseorang. Dengan melihat penampilannya, tutur katanya atau gesture tubuh. Walau tidak sepenuhnya benar dan kadang bisa menipu.

Beberapa pakar mampu menilai karakter seseorang melalui sorot mata. Ada juga melalui tulisan tangan. Istilah kerennya grafologi, menganalisa tulisan seseorang untuk menguak kepribadiannya. Ilmu ini cabang dari psikologi. Tentu lebih sulit dan tak boleh sembarangan.

Namun buat saya, salah satu cara untuk mengetahui seseorang adalah dengan mengamati bagaimana ia bekerja. Saya selalu menganggap orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, amanah dan penuh tanggung jawab, bahkan di kantor yang amburadul dan suck; adalah pribadi yang relijius.

Baca Selengkapnya

Berdua Saja

Menjadi seorang suami sekaligus ayah itu gampang-gampang susah. Apalagi jika masih muda seperti saya, yang belum banyak pengalaman. Mau digampangin, ternyata ada tanggung jawab besar yang harus dipikul. Dibuat susah, nanti malah susah beneran. Ya dinikmati saja. Pokoknya harus rajin-rajin belajar, nambah pengetahuan tentang parenting dan jangan segan nanya sama yang lebih senior. Yang tak kalah penting juga adalah kemauan kita untuk selalu memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh.

Sebab anak adalah cerminan orang tua. Kalau anak suka bersikap kasar, teriak-teriak dan susah dikendalikan; berarti ia meniru orang tuanya. Anak malas ibadah, tandanya orang tua begitu juga. Anak kan refleksi orang tua. Orang lain bisa tahu lho siapa sesungguhnya diri kita dari tingkah laku anak-anak. Makanya orang tua harus baik dulu, biar anaknya juga ikut baik. Jangan terlalu nuntut supaya anak begini begitu, tapi orang tuanya malah….ya gitu deh.

Baca Selengkapnya

Lelaki Sejati Berani Ambil Raport

Kalau lagi pembagian raport anak, saya suka heran. Ini kondangan apa acara sekolahan sih. Ibu-ibu wali murid kok menor banget, dandan habis-habisan, full aksesoris. Apa mereka gak sadar, make up yang berlebihan justru bikin bapak-bapak undangan yang lain grogi dan keringetan. Sekalian mau pamer kekayaan? Mungkin juga sih. Wanita memang susah ditebak. Trus semuanya saling diam, sibuk dengan gawainya, sedikit sekali yang ngobrol.

Dan entah mengapa, jumlah bapak-bapak yang hadir selalu lebih sedikit dibanding ibu-ibu. Para ayah sedang larut dengan pekerjaannya hingga tak hadir di moment spesial sang anak. Dikiranya kalau sudah ngasih materi selesai urusan. Tidak, sekali-kali tidak. Justru ini akan menjadi sumber penyesalan terbesar kelak di kemudian hari. Makanya saya berusaha hadir meski sedang sibuk-sibuknya bekerja. Soalnya belum syah jadi ayah jika belum pernah ambilin raport.
Baca Selengkapnya

Terkadang Hobi Narsis Justru Membuat Kita Makin Menyebalkan

Tanpa ada Pilkada pun, sudut-sudut kota sudah sesak dengan spanduk, baliho dan billboard yang memajang foto para pejabat. Dengan pose yang ya gitu deh, mereka tersenyum, mengepalkan tangan, mengacungkan jempol, menyampaikan pesan-pesan yang sulit dimengerti masyarakat kecil.

Apalagi Desember nanti di sini ada Pilkada serentak. Wuiih makin riuh. Di pohon, di kaca belakang angkot, di tiang listrik, di jembatan, bahkan di bak sampah pun tepasang poster calon walikota dan gubernur.

Ini jelas berlebihan. Selain mengganggu keindahan juga bikin eneg yang melihat. Memang mereka [para kontestan] berhak memasang poster di mana saja. Tapi kan rakyat juga punya hak untuk hidup tenang dan nyaman.

Bayangkan kalau pas lagi asyik makan di warung, lagi santai di taman, tiba-tiba suasana menjadi rusak, trus muntah-muntah gara-gara ada poster yang kurang sedap dipandang. Kasihan kan.
Baca Selengkapnya