Hampir Mati Diterkam Rindu

Ternyata jarak dan waktu tak hanya menciptakan kerinduan, tapi juga sebuah melodrama. Maksudnya begini, ada orang yang saking kangennya, tiap ketemu atau berpisah justru menangis. Macam film serial Korea. Drama banget kan. Masih mending sih cuma nangis, kalau ketambahan pakai joget-joget dan menari, bisa seperti film India.

Nah salah satu orang yang drama banget itu adalah ibu saya. Kalau saya pulang kampung, ibu menyambut dengan tangis bahagia. Seolah ndak percaya anak lanangnya yang ada nun jauh di sana bisa sowan. Saya yang awalnya cuma cium tangan dan memeluk ibu saat ketemu, terkadang ikut terbawa suasana haru. Pengen menangis, tapi saya tahan. Ribuan kubik air mata yang siap membanjiri pipi, berhasil saya bendung. Meski hampir mati diterkam rindu, saya ndak mau menambah dengan sedu sedan segala. Nanti kalau saya nangis; adik, ponakan, tetangga, teteh, pembantu bakal ikut-ikutan nangis. Saya memilih untuk terseyum. Karna itulah cara terbaik untuk menutupi rindu dalam dada. Baca Selengkapnya

Iklan

Kangen

friends-forever-92371

gambar dari Google

Saya pernah menemukan kalimat seperti ini di dunia maya : “Sahabat itu laksana bintang, walau jauh dia bercahaya. Meski kadang menghilang dia tetap ada. Tak mungkin dimiliki, tapi tak bisa dilupakan”

Tiba-tiba saya jadi kangen. Bukan sama kekasih, bukan pula sama gebetan. Saya kangen teman-teman yang kini terpisah jauh. Tapi saya nggak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Malu. Mau ngomong langsung ke teman yang cewek “eh aku kangen kamu lho” , nanti dikira modus. Ngomong begitu ke teman cowok, nanti dikira maho. Padahal saya normal, lelaki jantan. Lebih malu lagi kalau  yang saya kangenin ternyata gak kangen sama saya. Kalau cuma sepihak, kan sia-sia. Serba salah jadinya.

Saya heran, kenapa tiba-tiba disergap rindu. Ada saja yang membuat ingat mereka lalu memikirkannya, seperti saat mencium sekelebat aroma parfum dan saat mendengar lantunan lagu di radio. Pas lagi makan ingat mereka, lagi kerja kebayang mereka, lagi tidur mimpiin mereka, ngapa-ngapain ingat mereka. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak *lalu galau Baca Selengkapnya

Tentang Mengenang Seseorang

Minggu lalu saya pulang kampung. Eh enggak ding, lebih tepatnya singgah. Kebetulan ada tugas beberapa hari di Jawa. Cuma sebentar, tiba di rumah jam 10 malam dan harus kembali ke Palu jam 8 esok paginya. Buru-buru banget, takut ketinggalan pesawat.

Meski hanya sesaat di desa, tapi cukup berkesan. Bisa ketemu orang tua, saudara dan kerabat; memastikan mereka baik-baik saja, sudah menjadi kebahagian buat saya. Sempat juga bertegur sapa dengan tetangga, berbasa basi di warung kopi depan rumah malam itu dan saat subuhan di mushola.

Yang paling membekas sampai sekarang adalah ketika saya nyekar ke makam simbah; mbah kung dan mbah uti. Sudah lama tak berziarah, membuat saya agak canggung.

Pagi itu saya bergegas menuju makam, melawan sisa kantuk semalam dan hawa dingin yang menyergap. Tanpa membawa bunga, saya langsung menuju makam simbah. Rumput dan daun jati menutupi sebagian nisan yang mulai nampak kusam. Tulisan nama di nisan pun mulai tak jelas.

Saya ingin segera berdoa untuk mereka. Tapi apa daya, justru air mata menetes. Tak kuasa menahannya.

Selengkapnya