Hore Gajian

KATA MUTIARA GUS MUS

Hari ini saya berangkat lebih awal ke tempat kerja. Bukan karna rajin sih, cuma mau mampir ATM, tarik uang tunai dan bayar ini itu, tagihan listrik, telpon, asuransi dll. Biasa lah awal bulan, gajian bro. Maklum buruh. Sudah terima SMS dari 3355 bawaannya senyum terus.  Saya yakin pagi ini banyak yang tersenyum manis -bukan hanya saya – setelah berjuang 33 hari melewati bulan Oktober.

Gak ada lagi yang I Hate Monday, karna ini Senin yang indah dan penuh semangat. Entah tiga minggu lagi, eh gak sampai ding, dua minggu lagi, atau bahkan seminggu lagi. Senyum manis berubah jadi senyum kecut saat baca buku tabungan. Perih…, sakitnya tuh di sini *nunjuk dompet

Sebenarnya bukan gajinya yang kurang sih, kalendernya saja yang kepanjangan. Coba sebulan cuma lima belas hari. Saya setuju kalau ada yang mau buat kalender tandingan. Baca Selengkapnya

Iklan

Cantik.., Alisnya Asli Atau Tatoan

Farhat-Abbas-pake-jaket-horz

Kita hidup dalam budaya timur yang katanya santun. Ada norma-norma dan nilai agama yang mengatur kita, dari cara berbusana, bertutur kata dan berperilaku. Tak heran jika ada orang yang gondrong, bertato, celana robek, dan merokok, maka akan dianggap sangar, nakal, garang atau apa lah. Pokoknya jelek. Apalagi kalau yang begitu tuh perempuan. Bakalan dikatain bejat, binal, jalang ,****#@$%!^*..”)!#&# Yakin deh.

Tunggu dulu…, benarkah penampilan selalu merefleksikan kepribadian seseorang? Bisa ya, bisa tidak. Kesan pertama yang “wow” memang bisa mencuri perhatian dan citra positif, tapi kadang juga menipu. Ada orang ketika pertama kali kenalan tuh dingin, cuek, tampang urakan. Tapi lama-kelamaan jadi asyik. Semakin mengenalnya semakin banyak kebaikan-kebaikan yang dirasakan. Ternyata hatinya tak seseram penampilannya.

Ada juga yang rapi, keren, perlente dan menyenangkan di awal. Lama kelamaan, makin kenal, sering interaksi jadinya malah ngeselin, makin nampak keburukan-keburukan yang selama ini disembunyikan. Idealnya sih mengesankan dari awal hingga akhir, mempesona secara lahir dan batin. Baca Selengkapnya

Sepele Sih, Tapi……

musik

Setiap hari, suasana tempat kerja selalu riuh. Selain menyelesaikan pekerjaan, masing-masing punya aktivitas tambahan. Ada yang nonton film, ada yang nge-game, ngopi, ngegosip atau dengerin musik. Musiknya pun beragam. Bila terdengar lagu-lagu mellow, berarti ada yang galau. Kalau musiknya ceria, nge-beat habis, berarti lagi tanggal muda semangat. Katanya sih gitu, tatkala sedih orang akan cenderung menghayati liriknya. Tapi saat hepi, yang dinikmati adalah setiap hentakan musiknya. Pokoknya seru. Ramai. Saya ikutan juga, dengerin musik, tapi pakai headphone, biar gak terlalu berisik kayak pasar malam.

Suatu waktu lagi pengen dengerin musik –demi menjaga mood– headphone yang biasa saya simpan di dekat PC  gak ada. Berkali-kali dicari belum ketemu. Mungkin ada yang minjem, cuma belum sempat ngomong. Dan benar, setelah tiga hari berlalu -ya tiga hari- saya liat ada OB yang lagi nonton sambil makai headphone saya. Tanpa ba bi bu…ya langsung saya minta.
“Nganu mas kemarin blaa…blaa..blaa..” si mas OB mencoba beralasan, dengan ekspresi datar dan tanpa rasa bersalah.
“Ya sudah gak papa.”

Sebenarnya saya enggak pernah mempermasalahkan orang lain mau pinjam apa. Kalau saya bisa, saya punya, ya pasti juga saya bantu, saya pinjemin. Saya orangnya baik kok. Asal ngomong dan minta ijin. Apa sih yang enggak buat kamu *eeaa
“Ah segitu aja marah, masalah sepele kok.”
Gak, saya gak marah, cuma….*ah sudahlah

Meski dianggap sepele, tapi tak seharusnya hal-hal seperti itu dibiarkan. Betapa banyak orang-orang tersandung justru karna kerikil kecil, bukan karna batu besar.

Ada yang menganggap hal-hal begini sepele :
Pas mau BAB ke toilet, sandal dipakai orang lain. Pas mau pergi naik motor, helm dibawa orang lain, tapi bilangnya belakangan. Mencontek pas ulangan. Ngurangin timbangan setengah ons. Nambahin satu angka nol di kuitansi. Janji sampai berbusa-busa ternyata gak ada yang ditepati. Meski sepele, namun sedikit banyak merugikan orang lain kan. Kalau sesekali…mungkin khilaf, kalau sering? Berarti ada yang perlu diperbaiki.

Mungkinkah ini terjadi karna kita hidup di jaman modern yang terlalu canggih. Atau karna saking pandainya, saking hebatnya kita sampai lupa caranya minta ijin, caranya antri dan caranya buang sampah pada tempatnya. Sepele tapi kok berat ya?