Tentang Mengenang Seseorang

Minggu lalu saya pulang kampung. Eh enggak ding, lebih tepatnya singgah. Kebetulan ada tugas beberapa hari di Jawa. Cuma sebentar, tiba di rumah jam 10 malam dan harus kembali ke Palu jam 8 esok paginya. Buru-buru banget, takut ketinggalan pesawat.

Meski hanya sesaat di desa, tapi cukup berkesan. Bisa ketemu orang tua, saudara dan kerabat; memastikan mereka baik-baik saja, sudah menjadi kebahagian buat saya. Sempat juga bertegur sapa dengan tetangga, berbasa basi di warung kopi depan rumah malam itu dan saat subuhan di mushola.

Yang paling membekas sampai sekarang adalah ketika saya nyekar ke makam simbah; mbah kung dan mbah uti. Sudah lama tak berziarah, membuat saya agak canggung.

Pagi itu saya bergegas menuju makam, melawan sisa kantuk semalam dan hawa dingin yang menyergap. Tanpa membawa bunga, saya langsung menuju makam simbah. Rumput dan daun jati menutupi sebagian nisan yang mulai nampak kusam. Tulisan nama di nisan pun mulai tak jelas.

Saya ingin segera berdoa untuk mereka. Tapi apa daya, justru air mata menetes. Tak kuasa menahannya.

Selengkapnya

Iklan

Untuk Apa Mudik?

image

Lebaran sebentar lagi, aura mudik pun mulai terasa. Jika di awal Ramadhan masjid ramai penuh sesak, maka di penghujung bulan suci ini, keramaian itu berpindah ke bandara, stasiun, terminal dan pelabuhan.

Sebenarnya apa sih yang kita dapatkan dari mudik? Semua orang rela bermacet-macet ria, berdesak-desakkan, menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer demi mudik. Bahkan ada pula yang menghabiskan dana tidak sedikit demi mengunjungi kampung halaman.

Baca lebih lanjut