Tentang Mengenang Seseorang

Minggu lalu saya pulang kampung. Eh enggak ding, lebih tepatnya singgah. Kebetulan ada tugas beberapa hari di Jawa. Cuma sebentar, tiba di rumah jam 10 malam dan harus kembali ke Palu jam 8 esok paginya. Buru-buru banget, takut ketinggalan pesawat.

Meski hanya sesaat di desa, tapi cukup berkesan. Bisa ketemu orang tua, saudara dan kerabat; memastikan mereka baik-baik saja, sudah menjadi kebahagian buat saya. Sempat juga bertegur sapa dengan tetangga, berbasa basi di warung kopi depan rumah malam itu dan saat subuhan di mushola.

Yang paling membekas sampai sekarang adalah ketika saya nyekar ke makam simbah; mbah kung dan mbah uti. Sudah lama tak berziarah, membuat saya agak canggung.

Pagi itu saya bergegas menuju makam, melawan sisa kantuk semalam dan hawa dingin yang menyergap. Tanpa membawa bunga, saya langsung menuju makam simbah. Rumput dan daun jati menutupi sebagian nisan yang mulai nampak kusam. Tulisan nama di nisan pun mulai tak jelas.

Saya ingin segera berdoa untuk mereka. Tapi apa daya, justru air mata menetes. Tak kuasa menahannya.

Kenangan akan simbah, terutama simbah putri begitu terpatri di sanubari. Bagi saya, simbah putri adalah orang tua kedua. Selain membesarkan tujuh anak-anaknya, simbah putri juga merawat cucunya dengan penuh kasih sayang.

Di tengah keterbatasan ekonomi, simbah putri tetap tak kenal menyerah. Membantu mbah kung di sawah, menjahit, menjadi juru masak di hajatan orang-orang kampung. Asal halal, apa saja dilalukan demi bertahan hidup. Beliau adalah teladan bagi saya dalam hal kesederhanaan, kegigihan, ketulusan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Belum sempat membalas semua kebaikannya, simbah putri meninggal dunia pada tahun 2002. Dan saya tak ada di sampingnya, tak bisa mengantarkan ke peristirahatan terakhir. Saya sedang di tanah rantau, tak ada biaya untuk pulang, karna waktu itu belum ada tiket pesawat murah. Inilah penyesalan terbesar saya.

Meski sudah lama meninggalkan kami, tak akan pernah bisa saya melupakannya. Karna di setiap jejak langkah kaki saya ada peran beliau. Saya berusaha membalas kebaikan-kebaikannya dengan cara lain.

Kini saya hanya bisa mengenang kebaikan-kebaikannya, sembari memohon semoga Allah mengampuni kesalahannya, menyayanginya, menerangi kuburnya dan memberi tempat terbaik untuk beliau. Dan semoga Allah mengumpulkan kami kembali di surganya kelak. Amin.

Saya yakin, Anda juga punya orang-orang seperti itu. Orang-orang dekat yang sangat berjasa serta mewarnai kehidupan Anda. Entah orang tua, pasangan, simbah, paklik, bulik, bude, om, tante, kakak, adik atau teman. Jika masih hidup, ini kesempatan Anda untuk membalas kebaikannya. Membuat mereka tersenyum dan bangga dengan kehadiran Anda.

Jika sudah tiada, Anda akan seperti saya. Mengenang dan mendoakannya atau bahkan menitikkan air mata.

Sekecil apapun, jangan pernah melupakan kebaikan seseorang.

Iklan

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s