Masih Anggap Sepele?

Sesuatu yang besar selalu bermula dari yang kecil. Atau bahkan dari hal yang disepelekan. Seperti bencana kabut asap di Kalimantan dan Sumatra. Mungkin awalnya ada yang iseng buang puntung rokok, lalu terjadi kebakaran hutan. Ada juga yang sengaja membakar untuk kepentingan bisnis perusahaan, tapi pelakunya gak diapa-apain sama aparat. Dicuekin, disepelein dan dianggap biasa, gak diproses hukum. Kasusnya selalu mandeg di penegak hukum. Meski asap sudah sampai di negeri tetangga; Singapura dan Malaysia, penanganannya masih begitu-begitu saja. Mungkin lain ceritanya jika Jakarta yang dikepung asap. Pasti lebih cepat diatasi.

Padahal kesalahan-kesalahan kecil [sepele] yang dibiarkan akan mudah menular pada orang lain dan memicu pelanggaran-pelanggaran yang lebih besar. Dampaknya sangat sistemik. Coba saja sampeyan buang sampah sembarangan. Di ujung gang atau di sudut ruangan kantor. Dalam waktu yang tak terlalu lama semua orang bakalan ikut buang sampah di situ. Satu pelajaran kita dapat, perilaku buruk ternyata mudah menyebar dan menular. Baca Selengkapnya

Iklan

Sepele Sih, Tapi……

musik

Setiap hari, suasana tempat kerja selalu riuh. Selain menyelesaikan pekerjaan, masing-masing punya aktivitas tambahan. Ada yang nonton film, ada yang nge-game, ngopi, ngegosip atau dengerin musik. Musiknya pun beragam. Bila terdengar lagu-lagu mellow, berarti ada yang galau. Kalau musiknya ceria, nge-beat habis, berarti lagi tanggal muda semangat. Katanya sih gitu, tatkala sedih orang akan cenderung menghayati liriknya. Tapi saat hepi, yang dinikmati adalah setiap hentakan musiknya. Pokoknya seru. Ramai. Saya ikutan juga, dengerin musik, tapi pakai headphone, biar gak terlalu berisik kayak pasar malam.

Suatu waktu lagi pengen dengerin musik –demi menjaga mood– headphone yang biasa saya simpan di dekat PC  gak ada. Berkali-kali dicari belum ketemu. Mungkin ada yang minjem, cuma belum sempat ngomong. Dan benar, setelah tiga hari berlalu -ya tiga hari- saya liat ada OB yang lagi nonton sambil makai headphone saya. Tanpa ba bi bu…ya langsung saya minta.
“Nganu mas kemarin blaa…blaa..blaa..” si mas OB mencoba beralasan, dengan ekspresi datar dan tanpa rasa bersalah.
“Ya sudah gak papa.”

Sebenarnya saya enggak pernah mempermasalahkan orang lain mau pinjam apa. Kalau saya bisa, saya punya, ya pasti juga saya bantu, saya pinjemin. Saya orangnya baik kok. Asal ngomong dan minta ijin. Apa sih yang enggak buat kamu *eeaa
“Ah segitu aja marah, masalah sepele kok.”
Gak, saya gak marah, cuma….*ah sudahlah

Meski dianggap sepele, tapi tak seharusnya hal-hal seperti itu dibiarkan. Betapa banyak orang-orang tersandung justru karna kerikil kecil, bukan karna batu besar.

Ada yang menganggap hal-hal begini sepele :
Pas mau BAB ke toilet, sandal dipakai orang lain. Pas mau pergi naik motor, helm dibawa orang lain, tapi bilangnya belakangan. Mencontek pas ulangan. Ngurangin timbangan setengah ons. Nambahin satu angka nol di kuitansi. Janji sampai berbusa-busa ternyata gak ada yang ditepati. Meski sepele, namun sedikit banyak merugikan orang lain kan. Kalau sesekali…mungkin khilaf, kalau sering? Berarti ada yang perlu diperbaiki.

Mungkinkah ini terjadi karna kita hidup di jaman modern yang terlalu canggih. Atau karna saking pandainya, saking hebatnya kita sampai lupa caranya minta ijin, caranya antri dan caranya buang sampah pada tempatnya. Sepele tapi kok berat ya?