Menikahimu

Jika kita ingin selamat, tak cukup hanya dengan menjaga lisan, tapi juga jempol. Sebelum ngomong sesuatu, ada baiknya dipikir terlebih dahulu. Begitu juga jika ingin posting di medsos, kendalikan jempolnya. Jangan terlalu mudah nyinyir. Apalagi mengolok-ngolok.

Saya ingat beberapa waktu lalu, ketika anaknya Ustad Arifin Ilham menikah di usia yang masih sangat muda, 17 tahun. Nikahnya sama mualaf lagi. Jagat dunia maya dibuat heboh. Sebagian orang mencibir, mencemooh, tapi tak sedikit pula yang mendukung. Aneh ya, yang nikah orang lain, yang ribut malah kita. Jadi jombo salah, nikah muda salah, belum nikah-nikah disalahin juga. Pokoknya semua salah. Yang benar hanya netizen. Maha benar netizen dengan segala penghakimannya.

Kalau saya sih woles aja. Gak mau mencampuri urusan orang. Yang mau nikah muda, silakan. Mau entar-entar juga gak papa. Resiko ditanggung penumpang. Yang pasti, menikah itu sunah Rasul yang sangat dianjurkan. Nikah kan bukan untuk adu cepat. Ada juga yang punya prinsip, lebih baik terlambat daripada menikah dengan orang yang salah. Monggo, silakan. Masing-masing orang punya pilihan. Mau cepetan nikah, kalau belum jodoh ya gak bisa. Kalau sudah jodoh; meski masih muda dan beda etnis, ya bakalan bersatu. Meskipun semesta berusaha menghalangi. Baca Selengkapnya

Iklan

Sok Romantis

beibMembaca status, mention, postingan seperti ini

“Makasih ya sayang, sudah diajak candle light dinner”
“Beib…, aku kangen. Kamu sudah makan belum? Peluk dari jauh”
“Happy birthday honey,semoga cinta kita kekal abadi”

Wuek…..tiba-tiba saya enek, pusing-pusing, mau muntah. Mata berkunang-kunang, minus pun bertambah.

Saya bukan orang yang anti kemesraan atau benci hal-hal romantis. Hanya saja, memamerkan kemesraan di dunia maya itu kurang pantas. Merasa pasangan paling bahagia, paling serasi, sok romantis. Selain membuat iri  para jomblo, juga bakalan dinyinyirin yang lain. Baca Lebih Lanjut