Nikah Muda Atau Nunggu Mapan?

Urusan naksir cewek, saya sangat selektif. Semasa remaja, incaran saya selalu yang cantik. Good looking-lah. Namun ternyata, ini malah jadi masalah. Gimana enggak. Secara gadis primadona, yang naksir pasti bejibun. Dan bisa ditebak, saya dipecundangi oleh bucin-bucin lain. Sakit. Lebih pedih lagi karna terkadang saingan saya adalah teman karib.

Namun saya tetap bangga, karna gak pernah berantem gara-gara rebutan cewek. Sumpah, ini keren banget. Hanya yang berjiwa besar yang bisa melakukan ini.

Setelah beranjak dewasa, saya pun menyadari bahwa cantik saja tak cukup untuk jadi pendamping hidup. Tampang bukanlah prioritas utama.

Sebab cantik dan ganteng hanya menyumbang 20% bagi kebahagiaan hidup. Di balik paras cantik, bisa saja terdapat sifat pemarah, jutek, ceriwis, jorok dan pemalas.

Dengan tampang pas-pasan, malah akan menjadi beban jika punya pasangan terlalu cakep. Saat ngantar arisan, pasti dikira driver ojek online.

Wanita yang nikah-able tentu saja yang baik agama dan memiliki inner beauty. Yang punya unconditional love. Bisa menerima apa adanya. Mau mencintai saat keren, ketika susah, saat uban mulai menyeruak kemana-mana serta mau berbagi rasa bosan hingga usia senja. Soal cantik, kaya, pinter itu mah bonus. Toh yang cantik akan memudar dan menua. Wejangan ini saya dapat dari orang tua. Ustad juga pernah berpesan seperti itu.

Gambar : Pinterest

Seumpama saat ini keresahan datang mendera karna belum bertemu belahan jiwa, bersabarlah. Lebih baik memantaskan diri agar mendapatkan yang terbaik. Jodoh gak akan ketukar. Gak perlu buru-buru, gak juga menunda-nunda.

Nikmati saja masa jomblomu. Ada hal-hal yang bisa banget dikerjakan saat single, tapi kemudian akan sulit dilakukan saat sudah menikah. Main futsal sepulang kerja, naik gunung dan mengoleksi gundam adalah beberapa contoh kecil yang terenggut.

Niatkan menikah semata-mata mencari ridho Illahi. Jangan nikah kalo diri sendiri masih brengsek penuh masalah. Apalagi dengan harapan bisa selesai masalahnya setelah nikah. Menikah bukanlah pelarian karna tekanan ekonomi, kegagalan menempuh studi dan kandas melakoni usaha.

Jangan menikah hanya karna tertarik secara seksual, gak tahan bully-an tetangga, gelisah dikataian gak laku, karna takut kesepian di hari tua atau agar ada yang merawat saat renta.

Nikah itu sunnah. Teknisnya kita bisa atur, mau menikah di usia muda atau nunggu entar-entar sampai mapan. Mana yang lebih baik, tergantung masing-masing orang.

Cinta dan semangat saja tak cukup buat modal nikah. Setelah berumah tangga, punya pasangan dan buah hati; urusan akan lebih kompleks dan lebih unik dibanding saat sendiri. Mesti siap lahir batin dan juga finansial.

Pernah ngebayangin nggak, tengah malam si kecil pup, harus ganti diapers. Kran air kamar mandi patah, tanggal tua beras tinggal dikit, meteran listrik bunyi tit tit minta diisi.

Sebelum nikah, semua memang nampak indah. Setelah itu, banyak hal mencengangkan yang terkuak. Misalnya pasangan ternyata tidurnya ngiler, penghasilan suami habis buat bayar kartu kredit, istri pakai skin care yang mahalnya naudzubillah, lakinya suka naruh handuk di atas kasur dan makan nasi padang pakai kecap. Yakin dah siap?

For your information nih ya, kalau terlalu muda nikah biasanya emosi masih labil dan kondisi ekonomi belum mapan. Namun bila berhasil melaluinya, akan terbentuk mental yang kuat. Memutuskan nikahnya nanti-nanti, resikonya pas anak ngajak main lari-larian di taman, encok langsung kumat.

Jadi, ini bukanlah tentang adu cepat. Menikahlah dengan orang yang tepat dan pada saat yang tepat pula. Semoga Allah senantiasa memberkahi, saat suka maupun duka dan selalu mengumpulkan dalam kebaikan.

Iklan

Belajar Decluttering dan Minimalisme

Rumah selalu menjadi tempat ternyaman buat kami. Teduh, sejuk dan bersahabat. Tak besar namun tetap luas. Penuh cinta dan kehangatan. Apalagi jika kondisinya bersih, rapi dan gak awut-awutan. Akan menghadirkan efek positif dan kegembiraan bagi penghuninya.

“Konon katanya, ruangan yang amburadul adalah cerminan dari jiwa yang amburadul pula

Salah satu upaya untuk menghentikan kesemrawutan adalah dengan decluttering atau berbenah. Saya lagi belajar untuk mengendalikan kepemilikan barang-barang. Mengurangi sedikit demi sedikit agar rumah tak terasa sumpek. Belum minimalis-minimalis banget sih, tapi lumayanlah sudah mengarah ke simple living.

Gambar: Pinterest

Kebanyakan orang sering mengaitkan minimalis dengan sesuatu yang elegan, hunian berkelas, ruangan yang luas, interior keren dan serba putih. Padahal tidak seperti itu.

Gambar: Pinterest

“Minimalist is a person who knows what is truly essential for him – or herself, who reduces the number of possessions that they have for the sake of things that are really important to them” Fumio Sasaki

Menjadi minimalis berarti menghindari hal-hal yang tak penting, menyingkirkan yang tak dibutuhkan dan fokus pada yang bermakna. Bukan berarti gak berpunya sama sekali, menjadi kere gitu. Bukan seperti itu. Prinsipnya adalah merasa cukup.

Dan kadar kecukupan tiap orang tidaklah sama. Saya cukup punya tiga sepatu saja. Tapi bagi seorang entertainer, sepuluh pasang belumlah cukup untuk menunjang aktivitasnya. HP saya cuma satu dan gak pernah punya kartu kredit. Sementara bagi seorang pengusaha, sangat perlu hp banyak dan credit card.

Hasrat duniawi berbelanja pun sebetulnya masih menggebu, tapi saya coba untuk mengerem.

Saya senang saat mengenakan baju baru untuk pertama kalinya. Namun setelah lima kali pakai, akan terasa biasa. Seusai dipakai sepuluh kali, jadi bosan.

Pola yang sama akan selalu berulang terhadap barang yang kita miliki. Sampai akhirnya saya menyadari, jika bisa puas dengan apa yang kita miliki, maka kita tak harus membeli lebih banyak.

Sok-sokan minimalis. Bilang aja misqueen.

Whatever you say. Minimalisme membuat kita jadi lebih hemat, anti stress, gak banyak hutang dan ndak over thinking.

Gambar: Pinterest

Lanjut lagi nih soal bebenah. Saya mengira proses beres-beres rumah itu akan melelahkan dan membosankan. Ternyata tidak. Justru seru dan menantang. Langkah awal yang saya lakukan adalah menyisir seluruh ruangan. Mencari barang-barang yang nantinya akan saya simpan, buang atau sumbangkan.

Barang-barang layak dipertahankan adalah yang paling saya sukai dan butuhkan. Yang benar-benar sampah seperti pakaian sobek, botol bekas, kardus elektronik, koran lama, makanan basi dan barang rusak lainnya ya harus dibuang.

Coba deh cek isi kulkas. Sisa sayur kemarin, roti yang gak habis dimakan si kecil, es buah udah dua hari, lauk yang gak sempat diangetin; semuanya berkumpul di situ. Pas udah saya buang, istri ngambek. Hahaha.
Itu baru di kulkas lho. Di ruang lain seperti dapur, ruang keluarga dan kamar tidur, pasti ada juga barang yang tak berguna lagi yang mesti dibersihkan.

Sementara barang yang jumlahnya berlebih, gak pernah dipakai, namun kondisinya masih baik dan gak begitu bermanfaat, bisa disumbangkan ke orang lain. Seperti pakaian yang kesempitan, koper lusuh, givi box, kotak makan, tumbler, sepatu kekecilan, cd dan dvd film, kaos kaki dan sapu tangan yang terlalu banyak.

Namun ternyata tak mudah melepas barang-barang yang selama ini telah menemani kita. Entah mengapa muncul perasaan bersalah saat akan membuang barang-barang sentimental dan punya kenangan. Belum lagi godaan untuk menahan barang itu pergi.

“Kan belinya mahal.” “Sayang ah, jangan-jangan suatu saat bisa dipakai lagi.” “Mas, kamu cakep lho kalau pakai baju itu, gak usah disumbangin.” “Ini kan kenang-kenangan dari si A”
pilihan-kemeja-premium-berbagai-warna

Gambar: Pinterest

Kalau alasannya seperti itu, ya repot. Rumah kita luasnya gak nambah gede, tapi barang numpuk terus. Padahal saat kita mengikhlaskan sesuatu pergi dari genggaman, kita akan mendapatkan lebih baik dari yang hilang itu.

Saya tak mau terlalu ekstrem dalam melakukan decluttering. Takutnya malah anget-anget tahi ayam. Perlahan saja. Bertahap, hari demi hari. Karna ini adalah tentang perubahan gaya hidup. Yang penting sudah ada niat, kemauan untuk memulai.

Decluttering ini hanyalah langkah awal. Perlu komitmen lebih lanjut agar bisa mengendalikan barang yang kita miliki dan terbebas dari kondisi yang berantakan.

Beberapa tips sederhana yang bisa terus dicoba antara lain :

  • punya sedikit barang bukan berarti tak bisa bahagia
  • bedakan antara keinginan dan kebutuhan
  • jangan membeli sesuatu karna lagi diskon atau murah
  • jangan pula membawa pulang sesuatu barang karna gratis
  • membuang satu barang setiap hari
  • mengurangi apa pun, terutama jika kita punya barang dalam jumlah banyak
  • setiap kali ada satu barang baru, barang lama yang serupa harus dikeluarkan
  • sering-seringlah bertanya pada diri sendiri tentang arti kepemilikan. Apakah saya masih butuh ini? Kapan terakhir barang ini saya pakai?

Jika ingin merasa bahagia, lebih kreatif, dan percaya diri; tapi bingung harus ngapain dan mulai dari mana; cobalah melakukan perubahan. Sedikit perubahan eksternal di sekitar kita dapat memperbaiki mood.

Gambar : Pinterest

Ubahlah cara berpakaian, cara berbicara, cara menghabiskan waktu kita, cara mengawali rutinitas di pagi hari, lingkaran sosial kita, kebiasaan sehari-hari kita. Dan rasakan apa yang terjadi.

Menata rumah kita menjadi hunian yang rapi, tak penuh sesak, berisi barang-barang yang benar-benar kita butuhkan dan sukai, akan menjadikan hidup lebih tenteram dan menyenangkan.

Selamat mencoba.

Tegar Menerima Kenyataan

Saat pembagian raport semester lalu, anak saya gak masuk ranking tiga besar. Terbiasa langganan juara tiba-tiba terdepak dari podium, tentu ini sangat menyesakkan. Lalu ada awan kelam bergelayut di pelupuk matanya. Dan akhirnya, air mata berlinang membasahi pipinya.

Menghadapi hal-hal pelik seperti ini, saya langsung memeluknya erat. Saya pun tak buru-buru menyuruh menghentikan isak tangisnya. Biar saja. Toh nangisnya gak lebay, gak sampai histeris. Biarlah dia ekspresikan kesedihannya. Ini malah bagus, karna dia jujur. Tak berupaya mati-matian menyangkal emosi dan membohongi diri dengan pura-pura tegar.

Setelah agak baikan, saya mulai mengajaknya ngobrol. Ngomong biasa aja, bukan tentang sejuta motivasi semu untuk menyenangkan hatinya.

Saya katakan padanya “Santai aja nak, papa gak marah. Boleh sedih, tapi gak usah baper. Papa tetap bangga sama kamu karna kamu sudah berusaha keras”

Sebagai seorang ayah, saya begitu gatel pengen menceramahinya. Supaya dapat ranking tuh, kamu harus begini, kamu jangan begitu. Seolah-olah dulu saya adalah murid yang hebat.

Padahal apalah saya ini, malah lebih parah dari dia. Juara kelas gak pernah, ikutan lomba cerdas cermat kalah, ikut seleksi Paskibra gak pernah lolos, ikut Porseni antar sekolah juga keok. Baru ndeketin cewek, belum nembak sudah ditolak. Masa muda saya begitu pilu, akrab dengan kekalahan dan kekecewaan.

Tapi dari situlah saya mulai menemukan pembenaran menyadari bahwa inilah saya yang sesungguhnya. Saya belajar bahwa tak mengapa menjadi manusia biasa-biasa saja. Tidak apa-apa prestasi kita tidak sehebat yang lain. Tidak apa juga jalan jalan kita tak sejauh mereka. Tidak ada salahnya menjadi manusia biasa. Hidup memang gak harus baik-baik saja. Gagal bukanlah sebuah kehinaan.

Untunglah saat itu saya gak terpuruk. Saya yakin esok akan ada peluang lagi. Hanya perlu untuk terus bersabar dan berusaha lebih optimal.

Kisah itulah yang coba saya bagikan ke anak saya, agar dia bisa memetik hikmah. Saya berharap ia tak mudah limbung dihantam kerasnya kehidupan. Sebab dalam hidup akan selalu ada hal-hal yang tak sesuai dengan keinginan kita. Butuh jiwa besar untuk mau menerima. Hamdalah dia bisa memahami.

Dan yang membuat saya gembira, anak saya tak menyalahkan pihak lain atas rankingnya yang turun. Dia sportif mengakui, sempat kendor dalam belajar. Ada beberapa kawannya yang ngedumel nilainya merosot karna cara mengajar guru tidak asyik, materi yang belum tuntas, serta murid yang mencontek saat ulangan.

Sikap blaming others ini bahaya lho. Kalau dikit-dikit menyalahkan orang lain, kita tak bisa mengenali diri sendiri dan gak akan pernah berkembang. Kedewasaan akan mandek dan menjadikan kita seorang pengecut.

Peristiwa ini justru membuat dia mengerti dan mengevaluasi kekurangan dirinya. Makin semangat belajar dan gak malu bertanya pada temannya bila ada sesuatu yang tak ia mengerti.

Atas sikapnya itulah, saya beri dia hadiah sebuah jam tangan yang tlah lama diidamkan. Dia heran, ranking turun bukannya dimarahin malah dapet hadiah. Itu adalah wujud apresiasi saya atas keikhlasannya menerima kepedihan dengan lapang dada. Sebab kemampuan menyikapi kegagalan itu jauh lebih penting daripada sekadar merayakan kemenangan.

Kini tak ada lagi gurat kecewa di wajah cantiknya. Ia telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Excellence is not being the best, it is doing your best.

Think Before You Share

Tak perlu silau dengan gelar, jabatan dan pangkat orang lain. Sebab itu semua tak berbanding lurus dengan kecerdasan maupun tingkah lakunya. Media sosial telah membuktikannya.

Tokoh besar, berpendidikan tinggi, menjadi panutan umat; ternyata tak menjamin kualitas postingannya. Masih saja menebar hoaks. Jempolnya terlalu cepat dibanding akalnya. Setelah dibully oleh netizen yang terhormat, barulah kemudian menghapus postingan tersebut tanpa sepatah ungkapan maaf.

Ada beberapa sebab mengapa seseorang mudah sekali menyebarkan berita bohong.

Pertama, karena gak mau cross check suatu berita. Banyak yang merasa hebat ketika menjadi orang yang pertama kali mengabarkan, tak peduli itu benar atau bohong. Orang-orang tua yang baru main media sosial kerap kali melakukan hal seperti ini. Dan WhatsApp adalah sarangnya. Apa saja di-share. Parahnya lagi, berita negatif justru lebih mudah menyebar, lebih dipercaya dan meyakinkan warganet.

“Sebarkan, jangan berhenti di kamu. Agar yang lain mendapat hikmah”

Ada pula yang berharap menjadi viral. Lalu ke-pede-an, merasa dicintai oleh khalayak, karna banyak yang like dan retweet. Padahal itu semua adalah perangkap yang menjerumuskan pada kepongahan. Sungguh berbahagialah mereka yang tak ingin menjadi pesohor. Sebab mengelola ketenaran itu amatlah sulit.

Gambar: Pixabay

Ketika terkenal, kita akan jaim. Berupaya sekuat tenaga menjaga citra diri agar selalu nampak sebagai pribadi yang pintar, asyik, keren dan menyenangkan. Media sosial telah memberi panggung dan lampu sorot untuk para penggunanya. Semua pun terjangkit star syndrome, meskipun aslinya B aja.

Demi itu semua, kita rela melakukan apa saja. Awalnya dengan membuat konten yang menarik dan informatif. Bisa juga berupa humor segar maupun kisah inspiratif. Namun tatkala mentok, terpaksa bikin konten negatif, sensasional dan bombastis.

Kedua, memang sengaja mencari keributan. Diniatkan sebagai sarana panjat sosial, atau menyerang orang lain yang tidak satu gerbong dengannya. Siapa saja yang beda, dianggap lawan. Ini juga salah satu upaya untuk mendukung junjungannya.

Dulu saya berharap setelah Pilpres berlalu, kegaduhan ini akan usai juga. Ternyata justru makin berkembang. Semua merasa benar.

Kebenaran harus sesuai dengan imajinasimu, jika tidak maka itu bukan kebenaran. Ulama harus berada di pihakmu, jika tidak maka itu bukan ulama. Dan presiden harus sesuai dengan versimu, jika tidak maka bikinlah presiden versimu sendiri.

Inilah era post-truth, di mana kebenaran tak lagi absolut. Setiap orang hanya mempercayai apa yang mereka ingin percaya. Dan kadang hanya membenarkan yang dianggap benar.

Gambar: Pixabay

Ketiga, pertemanan. Jika circle-mu di dunia maya dipenuhi orang-orang yang gemar menebar kebohongan, maka kamu akan mudah ketularan. Paparan hoaks yang begitu masif, akan mematikan akal sehat. Untuk itu, jangan segan meng-unfriend, mute atau unfollow akun-akun yang toxic banget.

Agar tak menjadi penyebar hoaks, kita harus bisa mengendalikan diri. Sabar. Pikir baik-baik. Ini kalau saya posting, efeknya buat saya gimana ya? Ngrugiin orang lain gak ya? Ditangkap polisi gak ya?

Ingatlah, UU ITE bisa menjerat bila kita sembarangan di dunia maya. Sudah ratusan orang menjadi tersangka dan terpidana karena memproduksi dan menyebarkan hoaks serta ujaran kebencian.

Jika ingin selamat, gunakan rumus ini sebelum memposting sesuatu.

THINK. True. Helpful. Inspiring. Necessary. Kind

True. Informasi yang kita sampaikan haruslah benar. Rajin-rajinlah untuk cek dan ricek. Jangan asal baca judulnya saja, langsung sebar.
Helpful. Tak hanya bermanfaat buat diri, namun juga berguna buat orang lain. Jangan nyebar sampah digital.
Inspiring, bisa menginspirasi siapa saja.
Necessary. Kita harus mengunggah sesuatu seperlunya dan tidak berlebihan, yang penting-penting saja.
Kind. Setiap hal yang kita bagikan selaiknya tak menyinggung orang lain dan gak bikin kontroversial yang bersifat negatif.

Semoga tips ini bermanfaat. Agar kita tetap waras di tengah banjir informasi yang makin deras mengalir. Think before you share!

Gemukan Setelah Nikah

Tetap langsing setelah menikah itu ibarat berharap Jakarta nggak macet di Jumat sore yang sedang diguyur hujan deras. Sulit gaes. Terutama perempuan, karena mereka melahirkan dan menyusui.

Tapi yang laki banyak juga kok. Saya salah satunya. Setiap kali ketemu kawan lama atau saudara, pasti bilang saya gemukan. Ini karna dulunya saya kurus banget. Rasanya pengen marah, tapi saya tahan. Buat apa, toh segemuk apapun kita, di mata Allah tetaplah kecil. *benerin peci


saya nomor dua dari kiri

Tapi jangan bayangkan saya seperti om-om buncit yang perutnya six pack month atau onepack. Gak gitu-gitu amat sih. BMI saya masih normal; 24. Lingkar perut juga di bawah 90 cm. Pakai kemeja slim fit masih muat, tapi harus tahan nafas 🙂

Kenapa sih kok jadi mudah gendutan pasca menikah?

Banyak faktor yang mempengaruhi, yang paling utama tentu makanan. Saat masih single; diet ketat, pilih-pilih makanan dan menjaga bentuk tubuh agar tetap aduhai.

Dulu pas masih kuliah, malahan saya makan sehari hanya dua kali. Ini lebih karena jatah bulanan yang ngepres. Giliran udah nikah, udah laku juga kan, apa aja di hajar.

Belum lagi kalau anak gak ngabisin nasi, maka orang tuanya dengan senang hati yang ngabisin.

“Piringnya bawa sini dik, biar papa yang makan. Ada lagi gak?”

Malas bergerak juga bikin tubuh gampang melar. Sebenarnya ada niat, tapi kesibukan bekerja, gak ada waktu, trus si kecil gak mau ditinggal; menjadi alasan untuk mengabaikan olah raga.

“Gak papa gemuk, yang penting sehat”. That’s totally wrong and dangerous

Obesitas itu rawan dengan penyakit seperti diabetes militus, jantung, hipertensi dan stroke. Makanya penting banget buat kita untuk menjaga agar berat badan ideal. Bukan mengejar looks good, sebab ini hanyalah bonus.

Yang utama adalah supaya kita sehat, kuat ngejar saat anak-anak ngajak main lari-larian di lapangan dan bisa menemani mereka hingga kita menua tanpa sakit-sakitan. Dan gak ngantukan. Diajakin pillow talk sama bini, sudah buruan ngorok.

Trus gimana caranya?

Teman saya ngajakain diet keto. Berat badannya turun 10 kg dalam satu bulan. Dulunya endut nggemesin, sekarang kurus. Dia gak makan karbo dan gula. Gak ngopi, gak ngeteh. Yang dikonsumsi hanya protein dan lemak sehat. Jadi kalau dia sarapan, menunya telor 5 biji, minumnya santan. Buah yang dimakan cuma alpukat.

tinggal tuangin saus salad, nikmat

Karna tiap orang belum tentu cocok dengan diet tertentu, saya malah takut dengan sesuatu yang instant. Yang normal-normal aja deh. Dari dulu saya gak pernah diet. Sebab nggak terlalu mikirin angka di timbangan. Saya lebih fokus bagaimana komposisi tubuh, kesehatan, kebahagiaan dan timbangan amal. *ahelah

Yang saya lakukan saat adalah mindfulness eating. Tak hanya makan asal mengenyangkan dan membuat lidah menari. Makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Gak buru-buru ngunyahnya, gak sambil main hp. Menghindari lapar mata serta memperhatikan asupan yang masuk ke tubuh. Gak rakus. Kalau ada sisa ketering di kantor, gak rebutan bungkus bawa pulang.

IMG_20190409_070229_HDR-01-02.jpeg

buat camilan

Bukan makanan yang bikin endut, kita nya aja yang gak bisa jaga mulut. Ngunyah terus

Sehari makan tiga kali. Ngemilnya dua kali. Pagi jam sepuluhan dan sore habis ashar. Pernah juga kalap. Siang menunya nasi padang, minumnya es teh manis. Maka malamnya saya hanya konsumsi buah atau sayur. Kalau lagi kumpul sama teman-teman wisata kulineran, ayo aja. Intinya gak berlebihan.

ketergantungan saya terhadap tempe, sungguh sampai pada level mengkhawatirkan

porsinya gak usah banyak-banyak

IMG_20181129_130245-02.jpeg

akhir bulan, ada ikan berkepala dua

Selain mengontrol makanan, saya juga berusaha olah raga secara teratur. Sehari minimal 30 menit. Sepedaan dan lari-lari. Jika gak sempat olah raga, banyak cara kok biar tetap aktif bergerak. Mau pergi ke tempat yang deket, gak usah pakai motor. Ke masjid jalan kaki aja. Gunakan tangga, kurangi eskalator dan lift. Jangan males.

sehat dan gembira

IMG_20190131_074824_HDR-01.jpeg

sepeda kanggo nyambut gawe

sepedaan bareng anak

jogging pagi di tepi pelabuhan

Kalau udah jaga makanan dan olah raga rutin tapi masih saja endut, jangan menyerah. Tetaplah konsisten. Perhatikan juga pola istirahat dan pola pikir. Jangan stress. Hasil tak kan pernah mengkhianati usaha. Semua butuh proses. Lakukan terus hingga akhir hayat dengan penuh kegembiraan. Sebab hidup sehat adalah pilihan.

Mereguk Kesegaran Es Kopi Susu Racikan Sendiri

Segelas minuman dingin di tengah teriknya cuaca, tak hanya melepaskan dahaga. Namun juga membawa kesegaran bagi jiwa-jiwa penat yang dirundung aktivitas padat.

Es kopi susu menjadi pilihan saya. Selain nikmat, minuman yang lagi nge-hits di kalangan milineal bagai hujan bagi musim panas yang lengas. Nyess.

Kalau di StarBucks, es kopi ini seperti Asian Dolce Latte.  Harganya sekitar 42rb. Dolce kan artinya kental manis, kalau Latte tuh dalam bahasa Itali artinya susu segar. Nah, daripada jajan di luar, mending bikin sendiri. Gampang, murah dan rasanya tak kalah dengan es kopi buatan cafe.

 

Bahan-bahan yang diperlukan adalah:

  • Kopi 2 sendok teh. Kalau mau rasa kopi yang lebih nendang, bisa ditambahin lagi. Harusnya sih 2 shot espresso. Tapi kalau gak punya mesin espreso bisa diganti dengan kopi sachet yang rasanya strong. Nescafe classic.
  • Susu kental manis 2-4 sdm. Tergantung selera.
  • Susu cair full cream 150 ml. Kalau di Starbucks pakai non fat milk. Sudah beberapa merk saya coba, mulai Indomilk, Frisian Flag, Ultra. Namun saya lebih cocok Diamond.
  • Es batu

Cara membuatnya mudah aja kok.

  • Seduh kopi dengan 30 ml air panas. Untuk rasa yang lebih nikmat, sebaiknya gunakan air mendidih yang telah didiamkan selama satu menit. Suhunya sekitar 80°. Jangan yang 100° ya.
  • Masukkan es batu ke dalam gelas
  • Tuangkan 3 sdm susu kental manis

  • Masukkan susu full cream
  • Dan terakhir, tuangkan kopi. Lalu aduk

 

 

Mudah kan. Selamat mencoba ya.

Kebiasaan Sebelum Jalan-Jalan

Hari gini siapa sih yang yang seneng jalan-jalan? Apalagi dibayarin. Mau banget. Hamdalah saya sering dapat kesempatan seperti itu. Lebih karna urusan kerjaan, ditugasin ke luar kota untuk beberapa saat.

Paling suka bila tujuannya adalah kota yang belum pernah saya kunjungi. Semakin jauh semakin menantang. Apalagi harus gonta-ganti moda transportasi. Habis pesawat, trus naik bis, nyambung kereta dan ojek. Capek sih, tapi seru. Kudu matang ngerencanain gimana kesananya, naik apa, ntar nginep di mana, kapan ada waktu buat explore tempat wisata serta berburu kulinernya.

View this post on Instagram

Mari bergegas #commuter #commuterline

A post shared by Danang Budiarto (@bro_danang) on

Agar perjalanan tersebut lancar, saya berikhtiar merancang sebaik mungkin. Emang harus ada persiapan ya? Mau jalan-jalan kok malah bikin ribet. Ah gak juga. Malah di sinilah letak seninya, gimana perjalanan itu memberi kegembiraan. Gak ada aturan baku, jadi bebas terserah kita. Cocok buat saya, belum tentu pas buat orang lain.

Apa saja sih yang biasa saya lakukan sebelum memulai perjalanan? Ini dia.

Yang pertama adalah membuat itinerary. Ketika sampai di tempat tujuan, saya gak bingung lagi mau ngapain, pengen kemana. Tempat wisata sudah diurutin, mana duluan yang mesti didatangi, apa saja yang kudu diperhatikan saat di lokasi dan sebagainya. Itinerary ini saya buat sedetail mungkin mulai dari hari, jam, estimasi biaya dan cara menuju dan bahkan dress code-nya. Tidur pun pakai kaos yang mana sudah ketahuan. Kalau gini kan, gak ada ceritanya kebanyakan bawa baju. Haha, kurang kerjaan banget ya.

Berikutnya adalah mencatat seluruh barang dan perlengkapan yang perlu dibawa. Saya buatkan list. Ini memastikan agar tak ada yang ketinggalan atau berlebihan membawa barang.

Kelihatannya sederhana, namun ternyata tak banyak orang yang bisa menyiapkan bekal dengan baik. Liburan cuma dua hari, tapi bawaannya kayak mau transmigrasi. Dua koper besar, backpack dan tas jinjing. Pas udah nyampai di tempat tujuan, baru nyadar charger ketinggalan, lupa gak bawa handuk dan celana dalam kurang. Berabe kan. Saat berangkat, tas gak pernah saya penuhin. Selalu sediakan ruang kosong untuk beli oleh-oleh.

Ketiga, memfoto semua dokumen penting seperti KTP, SIM, NPWP. Tiket pesawat dan voucher hotel selain di-screenshot, juga saya catat di buku. Khawatirnya pas mau check in, HP eror atau low bat. Buat jaga-jaga aja. Bukannya meminta, ada kan yang dompetnya hilang di tengah perjalanan, entah karna kecopetan atau terjatuh.

Keempat, meninggalkan kartu atau dokumen yang tak perlu di bawa. Biasanya saya hanya bawa satu kartu ATM. *ngapain bawa banyak-banyak kalau gak ada saldonya.

STNK dan SIM juga saya tinggal. Kecuali emang nanti akan berkendara di tempat tujuan, maka saya bawa SIM. Dalam dompet juga saya simpan selembar catatan kecil tentang kontak darurat, tertulis nama istri, orang tua dan nomer yang bisa dihubungi.

Oh ya, saya juga bawa flas disk berisi lagu favorit. Sangat berguna saat mengendarai mobil agak lama. Tinggal colokin ke audio system nya. Lumayan buat hiburan di kala terjebak macet. Kalau gak gini, terkadang driver muter lagu yang gak asik. Merusak mood.

Terakhir adalah menyimpan uang di beberapa tempat. Tak hanya ditaruh di dompet, juga saya selipkan di tas dan kantong jaket. Intinya tidak menyimpan telur dalam satu keranjang yang sama. Lebih aman. Saya juga mengisi saldo dompet digital. Cashless dan yang bikin menarik adalah banyak promonya. Kemarin aja pas belanja dapat cash back 30%. Lumayan kan.

Itulah beberapa kebiasaan saya sebelum bepergian. Kalau kalian bagaimana?