Meredam Konflik, Merawat Cinta Kasih.

Rasanya tak ada biduk rumah tangga yang bebas dari konflik. Semesra dan seromantis apa pun pasangan, potensi munculnya perselisihan dengan pasangan selalu ada. Meski karena hal sepele.

Ini tak hanya menimpa pasangan yang sudah lama menikah. Mereka yang baru saja mengucap janji suci, yang sering pakai baju couple, yang manggilnya ayang sama bebeb, yang suka pamer kemesraan di medsos pun tak mampu mengelak dari prahara cinta ini.

Saya takut kesel kalau HP diinspeksi pasangan. Istri pun dongkol ketika saya nyuruh dia berhemat, eh saya nya malah upgrade sepeda. Saya gak ngapa-ngapin pun, kadang diomelin. Terutama saat PMS. Ternyata benar, a woman is always right.

Tak perlu risau dengan pertikaian yang datang silih berganti. Jika dikelola dengan tepat, hal tersebut justru menghadirkan dampak positif.

Setiap pasangan akan terpacu untuk melakukan perubahan, mencari solusi dan memperbaiki diri. Ujung-ujungnya malah bisa mempererat hubungan, jadi makin sayang. Beda ceritanya jika konflik dibiarkan begitu saja tanpa ada kemauan untuk menyelesaikan. Ini akan mengendurkan ikatan tali pernikahan.

Saat sedang marahan dengan istri, saya mencoba untuk nggak lama-lama ngambeknya. Sama orang lain saja kita berlaku lemah lembut dan mudah memaafkan.

Sama pasangan harusnya lebih dari itu. Paling tidak, sebelum tidur harus sudah akur. Biar tidur dengan nyenyak, tanpa dendam dan perasaan lain yang mengganjal di hati. Istri saya pun menerapkan pola yang sama. Ini adalah komitmen kami.

Sebanyak 80% lelaki akan menjadi stone waller saat sedang bertengkar, mendiamkan pasangannya. Padahal ini bukan solusi yang baik. Istri bisa makin kesel.

Ada pula yang makin cerewet saat sedang marah. Lebih julid dari lambe turah. Kekesalannya diungkapkan lewat kritikan, hinaan maupun kata-kata sarkas yang merendahkan pasangan. Saat sedang emosi, mulut sulit dikontrol. Nyeselnya belakangan.

Emang sih saat sedang bertengkar, kita cenderung menyalahkan pasangan. Reaksi negatif tersebut akan membuat pasangan kita merasa tak dicintai. Akibatnya, dia akan menjadi lebih agresif. Tambah runyam jadinya.

Ya namanya juga manusia, kadang kala berat untuk memaafkan. Jika seperti itu, saya mencoba mengingat semua kebahagiaan yang pernah kami rasakan bersama. Saya hadirkan kembali alasan yang membuat saya mencintainya. Dia baik, sederhana, rajin dan gak banyak tingkah. Sampai sekarang pun masih seperti itu.

Jangan-jangan saya yang berubah menjadi begitu demanding, hingga ketika dia gak sesuai dengan harapan saya, anger dalam diri muncul. Cara seperti ini cukup manjur untuk meruntuhkan ego saya.

Sebelum menuntut terlalu banyak pada pasangan, pastikan kita juga memantaskan diri terlebih dahulu.

Kita memang tak bisa untuk selalu romantis, senantiasa seia sekata tiap saat. Namun harus ada kemauan untuk memperjuangkan cinta agar hubungan dengan pasangan tetap terjaga. Ibarat grafik saham, naik turun selalu ada, yang penting trend-nya selalu menanjak ke araf positif.

Banyak cara yang bisa kita lakukan agar bisa fall back in love again and again with the same person. Jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.

Yang utama adalah harus ada kesadaran untuk menjadikan pernikahan sebagai prioritas utama. Punya cita-cita agar kelak bisa berkumpul di surgaNya, menjadikan dia bidadari tercantik kita.

Selanjutnya usahakan untuk saling menerima apa adanya. Gak usah fokus pada kekurangan pasangan. Kita juga banyak banget kurangnya.
Kalau ada yang buruk, saling bantulah memperbaiki diri. Jangan segan-segan untuk saling memuji.

Ingat, cuma istri kita yang mau sama kita saat kita susah. Hanya istri kita yang tetap setia meski kita gendut dan gak cakep-cakep banget. Bahkan istri kita juga bantuin cari duit buat bayar kreditan. Harus banyak-banyak syukur.

Carilah banyak kesamaan, seperti selera maupun life style. Misal nih, sama sama suka olah raga dan jalan-jalan, ya lakukan aktivitas bareng.

Hamdalah, anak-anak saya sudah bisa ditinggal di rumah sendirian. Ini saya manfaatkan untuk kencan berdua dengan istri tanpa mengajak anak-anak. Kadang istri merasa bersalah dan cemas saat ninggalin anak-anak. Mungkin karna naluri keibuannya. Tapi gak papa kok, aman saja.

Kegiatan kencan kami beragam. Mulai nongkrong di taman sambil bermanja-manjaan ataupun ngopi cantik di kedai kopi diselingi obrolan receh.

Kalau lagi ada rejeki, sekali-kali cobalah untuk liburan berdua. Staycation di hotel juga boleh. Lupakan urusan kerjaan maupun tetek bengek di rumah. Rasakan getaran di dada saat bersamanya. Bercintalah. Ini juga salah satu bumbu dalam pernikahan. Kilau api asmaramu akan berpendar kembali.

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s