Gemukan Setelah Nikah

Tetap langsing setelah menikah itu ibarat berharap Jakarta nggak macet di Jumat sore yang sedang diguyur hujan deras. Sulit gaes. Terutama perempuan, karena mereka melahirkan dan menyusui.

Tapi yang laki banyak juga kok. Saya salah satunya. Setiap kali ketemu kawan lama atau saudara, pasti bilang saya gemukan. Ini karna dulunya saya kurus banget. Rasanya pengen marah, tapi saya tahan. Buat apa, toh segemuk apapun kita, di mata Allah tetaplah kecil. *benerin peci

Tapi jangan bayangkan saya seperti om-om buncit yang perutnya six pack month atau onepack. Gak gitu-gitu amat sih. BMI saya masih normal; 24. Lingkar perut juga di bawah 90 cm. Pakai kemeja slim fit masih muat, tapi harus tahan nafas 🙂

Kenapa sih kok jadi mudah gendutan pasca menikah?

Banyak faktor yang mempengaruhi, yang paling utama tentu makanan. Saat masih single; diet ketat, pilih-pilih makanan dan menjaga bentuk tubuh agar tetap aduhai.

Dulu pas masih kuliah, malahan saya makan sehari hanya dua kali. Ini lebih karena jatah bulanan yang ngepres. Giliran udah nikah, udah laku juga kan, apa aja di hajar.

Belum lagi kalau anak gak ngabisin nasi, maka orang tuanya dengan senang hati yang ngabisin.

“Piringnya bawa sini dik, biar papa yang makan. Ada lagi gak?”

Malas bergerak juga bikin tubuh gampang melar. Sebenarnya ada niat, tapi kesibukan bekerja, gak ada waktu, trus si kecil gak mau ditinggal; menjadi alasan untuk mengabaikan olah raga.

“Gak papa gemuk, yang penting sehat”.

That’s totally wrong and dangerous

Obesitas itu rawan dengan penyakit seperti diabetes militus, jantung, hipertensi dan stroke. Makanya penting banget buat kita untuk menjaga agar berat badan ideal. Bukan mengejar looks good, sebab ini hanyalah bonus.

Yang utama adalah supaya kita sehat, kuat ngejar saat anak-anak ngajak main lari-larian di lapangan dan bisa menemani mereka hingga kita menua tanpa sakit-sakitan. Dan gak ngantukan. Diajakin pillow talk sama bini, sudah buruan ngorok.

Trus gimana caranya?

Teman saya ngajakain diet keto. Berat badannya turun 10 kg dalam satu bulan. Dulunya endut nggemesin, sekarang kurus. Dia gak makan karbo dan gula. Gak ngopi, gak ngeteh. Yang dikonsumsi hanya protein dan lemak sehat. Jadi kalau dia sarapan, menunya telor 5 biji, minumnya santan. Buah yang dimakan cuma alpukat.

tinggal tuangin saus salad, nikmat

Karna tiap orang belum tentu cocok dengan diet tertentu, saya gak mau latah ikut-ikutan.  Takut dengan sesuatu yang instant. Yang normal-normal aja deh. Dari dulu saya gak pernah diet. Sebab nggak terlalu mikirin angka di timbangan. Saya lebih fokus bagaimana komposisi tubuh, kesehatan, kebahagiaan dan timbangan amal. *ahelah

Yang saya lakukan saat adalah mindfulness eating. Menikmati makanan dengan menyadari bagaimana rasanya, aroma, serta tekstur makanan. Tak hanya makan asal mengenyangkan dan membuat lidah menari. Makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tapi gak harus nunggu sampai lapar banget. Kondisi seperti itu justru bikin kalap makan.

Gak buru-buru ngunyahnya, gak sambil main hp. Menghindari lapar mata serta memperhatikan asupan yang masuk ke tubuh. Gak rakus. Kalau ada sisa ketering di kantor, gak rebutan bungkus bawa pulang.

IMG_20190409_070229_HDR-01-02.jpeg

buat camilan

Bukan makanan yang bikin endut, kita nya aja yang gak bisa jaga mulut. Ngunyah terus

Sehari makan tiga kali. Ngemilnya dua kali. Pagi jam sepuluhan dan sore habis ashar. Pernah juga kalap. Siang menunya nasi padang, minumnya es teh manis. Maka malamnya saya hanya konsumsi buah atau sayur. Kalau lagi kumpul sama teman-teman wisata kulineran, ayo aja. Intinya gak berlebihan.

ketergantungan saya terhadap tempe, sungguh sampai pada level mengkhawatirkan

porsinya gak usah banyak-banyak

IMG_20181129_130245-02.jpeg

akhir bulan, ada ikan berkepala dua

Selain mengontrol makanan, saya juga berusaha olah raga secara teratur. Sehari minimal 30 menit. Sepedaan dan lari-lari. Jika gak sempat olah raga, banyak cara kok biar tetap aktif bergerak. Mau pergi ke tempat yang deket, gak usah pakai motor. Ke masjid jalan kaki aja. Gunakan tangga, kurangi eskalator dan lift. Jangan males.

sehat dan gembira

IMG_20190131_074824_HDR-01.jpeg

sepeda kanggo nyambut gawe

sepedaan bareng anak

jogging pagi di tepi pelabuhan

Kalau udah jaga makanan dan olah raga rutin tapi masih saja endut, jangan menyerah. Tetaplah konsisten. Perhatikan juga pola istirahat dan pola pikir. Jangan stress. Hasil tak kan pernah mengkhianati usaha. Semua butuh proses. Lakukan terus hingga akhir hayat dengan penuh kegembiraan. Sebab hidup sehat adalah pilihan.

12 pemikiran pada “Gemukan Setelah Nikah

  1. Aduh aduh para papa yang gemukan pada ngumpul, ahaha

    Saya masih segini-gini aja, istri yang melar tapi suami tetap sabar. 🙂
    Kata orang kan kalau udah nikah jadi gemukan, mungkin saya belum waktunya, gak papa kurus, yang penting sehat (pembenaran lagi) hihii

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s