Gaji Kok Kurang Terus Sih

Ketika sedang bokek, seseorang bisa berubah drastis. Tiba-tiba jadi reseh, mudah marah, nyinyir dan sinis pada orang lain. Wajar sih. Saat lagi gak punya duit, kemampuan untuk berpikir jernih dan kreatif hilang. Maklumin aja.

Bokek ini tak ada kaitannya dengan penghasilan besar maupun kecil. Sebesar apapun gaji, jika tak dikelola dengan baik akan selalu kekurangan. Tak perlu menunggu akhir bulan, seminggu setelah gajian pun; tak sedikit yang tongpes. Ironis kan. Padahal mengelola keuangan dengan baik itu bagian dari syukur lho.

Saya punya beberapa tips nih, agar berkecukupan dan gak selalu pusing saat tanggal tua. Bukan karna saya kaya banget. Bukan. Saya hanya amtenar biasa. Tapi terhadap apa yang telah Allah berikan, saya sungguh merasa kaya.

Mental kaya ini membuat kita selalu merasa cukup, nggak merasa paling menderita, nggak merasa kehilangan tatkala berbagi dan menjauhkan diri dari sikap meminta-minta

Pilar utama agar keuangan kita sehat adalah jangan sampai besar pasak daripada tiang. Harus tahu diri. Kalau mampunya naik supra, gak usah beli Inova, biar dikira kaya. Toh transportasi online sudah banyak, murah pula. Soalnya kalau beli mobil harus dipertimbangkan antara harga dengan fungsi. Belum lagi bahan bakar dan perawatannya. Mobil kan liability, bukan aset.

Duit cukupnya cuma buat liburan ke Jogja, ya gak perlu maksain ke Eropa demi ngejar feed instagram keren dan banyak like. Sesuaikan gaya hidup dengan kemampuan.

Gaya hidup yang ketinggian malah membuat hidup tertekan. Saya kalau mau jalan-jalan atau pengen sesuatu ya harus nabung dulu. Harus ada effort. Ke kantor jangan malu bawa bekal. Ngopi fancy, juga gak sering. Sesekali untuk self reward atau selebrasi. Tiap tahun ganti hp mahal, nongkrong di Starbucks, beli baju branded, trus akhir bulan jadi sobat qismin…., gak lucu kan. *gak papa miskin asal Spotify premium 😚

Tips berikutnya, siapkan amplop untuk masing-masing pos pengeluaran. Urutkan sesuai prioritas. Prioritas tiap orang beda. Tapi kalau versi saya pay your God firts. Menunaikan zakat dan sedekah. Lalu bayar cicilan, investasi, tabungan, kebutuhan sehari-hari, sisanya buat hura-hura. Cicilan sepanjang gak lebih 30% masih aman. Jangan nunggu ada sisa baru nabung, gak bakalan bisa.

Nyimpan di amplop memang kesannya manual banget, tapi cukup efektif. Istri saya pakai cara ini. Duit buat infak, buat tabungan, buat belanja dapur, buat biaya sekolah, buat transportasi, buat cicilan, buat apa aja deh; simpan di amplop itu. Dan harus dispilin. Jatah buat sekolah gak boleh diambil buat hura-hura.

Setiap ngeluarin duit, usahakan untuk mencatatnya. Bahkan struk belanja pun saya simpan, diurutkan sesuai tanggal. Saya pakai aplikasi Money Lover. Istri saya nyatetnya di buku.

Ketika kita rutin mencatat, kita akan tahu sebenarnya duit itu larinya kemana, borosnya pos apa, hematnya di mana. Biar gak bingung. Dari situ kita bisa evaluasi dan mempertimbangkan berapa yang bisa buat investasi atau keperluan lain.

Baca Juga “Tips Hemat Ala Mamah Muda”

Tips selanjutnya, bawalah uang secukupnya. Nafsu berbelanja acap kali menyeruak tatkala dompet tebal. Dompet yang penuh dengan uang, secara tak sadar membuat kita mudah menghabiskannya. Tapi jangan sampai juga kosong blong. Kalau saya, gak lebih 500rb. Ntar kalau tinggal dikit, ambil lagi ke ATM.

Nah untuk ATM, sebaiknya pisahkan antara ATM untuk operasional dengan ATM tabungan. Lebih aman, titipkan ATM tabungan ke istri. Tapi jangan kasih tahu PIN nya 😁

Terakhir, bersikaplah sederhana dan jangan lupa selalu bersyukur. Wujudkan dengan berbagi pada sesama. Sederhana itu gaya hidup, bukan berarti tak berpunya. Sesekali kasih uang parkir lebih, jangan nawar jualan pedagang kecil atau kasih tips pada petugas cleaning servis. Besarnya mungkin gak seberapa, namun itu sangat berarti buat mereka. Bisa jadi, berlimpahnya rizki yang kita terima saat ini, salah satunya berkat lantunan doa mereka.

Itu tadi sekelumit cara mengelola keuangan versi saya. Kalau ada yang mau nambahin silakan. Semoga semuanya slalu diberi kecukupan. Jangan pernah takut lagi sama tanggal tua ya.

Iklan

Menikmati Hidup Selow

Tahun dua ribu delapan belas sudah memasuki semester dua. Apa kabar resolusi yang dibuat di awal tahun? Sudah lupa atau menguap begitu saja? Dan kalau boleh nanya, apa pencapaianmu tahun ini yang bisa dibanggakan? Jangan bilang gak ada ya.

Andai apa yang kamu lakukan untuk mencapai impian masih gagal, ini adalah sebuah pengalaman berharga. Tak perlu bersedih dan membandingkan diri dengan orang lain.

Hidup bukan hanya tentang apa yang kita capai. Namun apa yang sudah kita berikan untuk sesama dari pencapain kita itu. Migunani tumraping liyan.

Ngiri sama achievement orang lain tak akan membuat hidup menjadi lebih baik. Selow aja. Semua punya jalan masing-masing. Sudahlah, jangan takut sama omongan netizen saudara, teman dan tetangga yang ngremehin hanya karna pencapaian kita biasa saja. Kita makan nggak minta mereka, biaya hidup gak nebeng mereka; abaikan saja. Percayalah, bagaimana pun kondisi kita saat ini, hidup kita tetaplah berharga.

Lulus S1 di usia 29 bukanlah aib. Ini adalah prestasi. Umur 30 belum punya pasangan, namun bisa gembira, tetaplah indah. Atau menikah di usia 37, belum terlambat kok. Punya rumah di usia 40, tetaplah hebat. Jangan biarkan orang lain membuat kita terburu-buru. Kita tak sedang berlomba cepet-cepetan punya mobil, cepet-cepatan punya anak atau cepet-cepetan jadi eselon tiga. Mereka punya waktu sendiri, kita juga.

Lagian achievement tiap orang kan beda. Ini personal banget. Nggak perlu memaksakan definisi achievement? Bisa jadi buat si Iwan, achievement adalah kuliah S2. Bagi Agus, achievement adalah menikah di usia muda. Bagi Felika, achievement adalah kerja di perusahaan multinasinonal dengan gaji USD. Bagi Hanum, achievement adalah punya rumah mewah dan jalan-jalan ke Eropa. Bagi Kiwil, achievement adalah punya istri dua. Tetap hidup meski ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, ini juga achievement yang keren. Selama nggak saling ganggu, biarkan saja tiap orang dengan definisinya masing-masing.

Kita gak pernah tahu kehidupan orang lain yang sebenarnya.

Ada yang lulus sarjana usia 21 namun sampai umur 28 belum punya kerja. Ada yang telat lulus, tapi langsung kerja. Ada yang begitu lulus kuliah langsung bekerja, namun membenci pekerjaan mereka. Bahkan ada yang tak pernah mengenyam bangku kampus, namun telah menemukan passion dan tujuan hidupnya di umur 18.

Ada yang sudah menikah lebih dari 10 tahun namun belum dikarunia anak. Ada yang punya anak, tapi tak punya pasangan. Tak sedikit orang yang terikat sebuah hubungan, tapi ternyata mencintai orang lain. Sementara itu ada pula yang saling mencintai namun tak bisa bersama. #eaa

Lantas, masih pantaskah kita merisaukan hidup ini? Nikmati saja. Mungkin kita perlu mencoba menjalani slow life. Bukan untuk melambat, tapi untuk mengatur ritme, menyeimbang hidup agar tak berlebihan. Ada saatnya harus selow, ada kalanya harus gercep.

Selama kita terus berjuang menciptakan kehidupan yang bermakna dengan cara yang terhormat, sejatinya kita telah menempuh jalan kebahagiaan. Dan kesuksesan pasti tiba. Pencapaian hidup yang diraih dengan cara culas justru akan melahirkan kebahagiaan semu.

Ini hanya soal waktu. Waktu dari-Nya nggak pernah terlambat, nggak juga kecepetan. Bersabarlah. Tuhan pasti punya rencana.

****

“Sometimes what you want isn’t always what you get, but in the end what you get is so much better than what you wanted.”