Sensasi Berpetualang Seorang Diri

Salah satu hal yang saya sukai dari istri saya adalah sikapnya yang pengertian. Dia ngerti apa mau saya, gak melarang jika saya mau sesuatu. Istri saya percaya “makin dilarang, suami justru makin berontak”.

Makanya, asal keinginan saya positif, gak minta poligami, gak macem-macem, pasti dia dukung. Ada kan yang setelah menikah gak boleh ngapa-ngapain sama istrinya. Dilarang main futsal, gak boleh nongkrong sama teman-teman. Kasihan.

Yang masih saya lakukan meski sudah menikah adalah berpetualang sendirian. Ngebolang gitu. Gak ngajak istri ataupun anak-anak. Itung-itung me time nya lelaki lah. Istri kalau mau me time, juga saya bolehin kok.

Ya namanya juga manusia, pasti pernah merasa jenuh, suntuk dengan kerjaan, pengen refreshing seorang diri.

Ini saya lakukan bukan karena egois atau gak mau diganggu. Pengen sendiri aja. Kalau ngajak keluarga, belum tentu mereka suka. Nanti ada waktunya lah buat mereka.

Soalnya petualangan saya beda, lebih memilih ke tempat yang anti mainstream. Naik gunung, ke pantai, menyusuri ke kota yang belum pernah saya kunjungi dengan jalan kaki.

Baca Juga : Cerita Dari Gunung Matantimali Di Sini

Pernah juga saya sepedaan seharian. Berangkat habis subuh, sore baru nyampe rumah. Gak dimarahin sih, cuma didiemin. Trus malemnya saya tidur depan tivi. Hahaha.

Ini sebetulnya hobi lama sejak sebelum nikah. Kalau ada waktu luang, saya paling gak betah diem. Mending keluar dari kost-kostan, naik bus kota, pergi ke toko buku, ke pasar, mendatangi pameran, nonton pertunjukan atau apa saja.

Bebas rasanya kemana pun tanpa ada yang ngatur-ngatur. Mau makan apa, mau nginep di mana, saya tentukan sendiri. Gak ribet.

Dan menurut saya, kegiatan seperti ini bukan nir faedah lho. Justru banyak hal baru yang saya dapatkan dari berpetualang. Tatkala tersesat, linglung tak tahu mau kemana lagi, kemampuan adaptasi saya teruji. Inspirasi pun muncul. Sensasinya luar biasa.

Selain itu, berpetualang justru mengantarkan saya menemukan kejutan-kejutan hidup yang menggetarkan, menempa fisik dan juga mental. Interaksi sosial serta pengalaman hidup dijamin akan bertambah, karna bertemu berbagai watak manusia. Lalu saya pun menyadari bahwa masih banyak orang baik di negri ini.

Yang paling saya suka dari aktivitas ini adalah, saat sedang sendiri saya lebih menghargai arti kebersamaan, mengerti artinya sepi dan merindu. Betapa berharganya keluarga buat saya.

Yang perlu diperhatikan jika ingin melakukan solo traveling adalah menjalin komunikasi dengan anak istri. Jangan sampai memaksakan kehendak. Cermati pula kondisi keuangan, ingat tagihan dan kebutuhan lain yang lebih prioritas. Andai buat bayar cicilan aja masih ngos-ngosan, gak usah sok-sokan traveling. Kalau gak sanggup gak usah memaksakan diri. Toh jalan-jalan itu bukan kebutuhan pokok.

Some beautiful paths can’t be discovered without getting lost

Jadi, kalian suka berpetualang sendirian atau sukanya rame-rame?

Iklan

16 pemikiran pada “Sensasi Berpetualang Seorang Diri

  1. Kok sepintas sama kondisinya kayak saya, ahaha. Dulu jaman belum nikah itu ke sana sini seringnya sendiri,
    Akhir pekan mau naik gunung, naik subuh turun sore, istri ngebolehin, tapi gantinya harus mbayarin istri buat spa, ahaha

    Yup setuju, masing-masing memang harus punya waktu untuk me time. Biar sejenak lepas dari rutinitas.

    Lain kalo, tivinya pindah di kamar aja Mas, jadi kan kalau tidur di depan tivi gak masalah, ahahah

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s