Gak Usah Belagu

Gambar: Pixabay

Pesawat yang akan saya tumpangi menuju Solo ternyata delay. Kelamaan nunggu, bosen jadinya. Main HP sudah, baca buku juga sudah. Tetap saja tak bisa menghilangkan rasa suntuk. Di tengah kejenuhan itu, ada seorang lelaki di sebelahku ngajakin ngobrol. Usianya sekitar 45-50 tahunan.

Awal mula obrolan, hanya basa-basi. Bapak itu juga yang dominan bertanya dan bercerita. Aku hanya menimpali sekedarnya, gak enak lah kalau nyuekin. Saya masih bisa menjaga kesopanan, tahu tata krama dengan orang tua.

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba dia cerita segala pencapain hidupnya. Yang punya percetakan lah, punya ratusan karyawan, sering rapat keluar kota dan sebagainya. Macem-macem dia ceritain. Padahal saya gak nanya, kenapa dia nyerocos aja. Ngomongnya ndakik-ndakik, ntar kalau mulutnya kesampluk pesawat gimana?

Saya mau bilang HALAH MBEL, takut nanti dia kecewa. Jangan-jangan dia OKB (orang kaya baru). Tapi OKB gak gini-gini amat kok. Saya gak konsen lagi dengan apa yang dia omongin. Dia mau bilang punya private jet, pernah pergi ke Mars pun, saya iyain. Nyenengein orang kan berpahala. Saya justru berusaha mendengar apa-apa yang tidak dia katakan, sambil berpikir keras bagaimana mengakhiri percakapan omong kosong ini.

Dari sorot mata, gerak tubuh dan mimik wajahnya; saya yakin dia sedang berhalusinasi. Lha untuk apa dia cerita begituan ke saya? Demi apa coba? Mau nyari perhatian, butuh pengakuan? Salah banget kalau caper ke saya. Caper lah ke dedek-dedek gemez yang mudah dikibulin om-om.

Rupanya bapak itu belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Harusnya umur-umur segitu sudah fokus mencari jalan pulang, bukannya berkubang mencari ridho manusia.

Saya memang ndak berhak mengatur orang lain untuk pamer maupun tidak sombong. Tapi mbok ya tahu diri lah. Ngono yo ngono, ning ojo ngono. Kalau gitu malah bikin gak respek. Saya justru menaruh rasa hormat pada orang yang apa adanya. Ndak sok-sokan.

Banyak lho yang lebih berada tapi low profile. Orang-orang yang mengatur dunianya, bukan dunia yang mengatur mereka. Tidak hedon dan materialistis. Saya punya teman yang tajir melintir, yang kalau dia batuk aja bisa jadi duit. Orangnya malah kalem, gak neko-neko. Gak butuh pengakuan orang lain. Sungguh, kesederhanaan adalah kemewahan yang paling paripurna.

Jadi kalau pun hidup kita memang biasa-biasa saja, ya ngapain mesti malu. Tak ada gunanya pura-pura sukses dan kaya. Foto di depan rumah mewah milik orang lain dan selfie di mobil rental. Tidak semua cabang kehidupan harus kita menangkan. Nyantai saja. Yang penting kita sudah menempuh jalan yang jujur, lurus dan berlaku amanah.

Gusti Allah juga gak reseh kok. DIA gak bakalan murka hanya gara-gara rumah kita masih ngontrak, KPR belum lunas, gaji cuma satu digit dan pakai mobil seken. Itu duniawi banget.

Gusti Allah justru menilai bagaimana kerja keras, ikhtiar dan usaha kita untuk menggapai restu-NYA. Apa sudah sesuai dengan aturannya. Seandainya pintu-pintu kenikmatan dicurahkan kepada kita, semoga kita tak terlalu gembira terhadap apa yang tlah diraih. Dan tak terlalu sedih juga terhadap apa yang luput. Biasa saja. Tetep tawadhu’. Karna hidup ini hanya senda gurau belaka.

Andaikata ingin mengabarkan pada orang lain, semoga itu semata-mata tahadduts bi ni’matillah.

Eh, btw mau tahu bagaimana saya memutus obrolan dengan bapak itu? Saya ijin ke toilet, perut saya mules denger bualannya. ๐Ÿ˜‚

Iklan

11 pemikiran pada “Gak Usah Belagu

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s