Mengapa Saya Berlari

Saya gak tahu pasti sejak kapan suka lari. Sepertinya barengan dengan hobi bersepeda. Ya, saya menjadikan lari sebagai selingan bersepeda. Kalau bosen gowes, ya lari. Gak lama, palingan setengah jam. Seminggu tiga kali.

Biasanya saya lakukan sebelum ngantar anak-anak ke sekolah. Rasanya seneng gitu. Olah raga sambil menikmati segarnya udara pagi, melihat pemandangan sekitar dan bertemu banyak orang.

Niat utama lari sih pengen cari keringat sekaligus jaga kesehatan. Kalau cuma diem aja, gak banyak gerak, tubuh malah cepet capek dan gampang sakit. Saya memilih lari karna olahraga ini gampang dan murah. Hanya butuh kemauan yang kuat serta sepasang sepatu.

Manfaatnya pun banyak. Selain memperlancar aliran darah, meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh, lari juga bisa mencegah kegemukan. Perut yang suka off side bisa disingkirkan dengan rutin berlari. Kita pun gak bakalan takut ketika nimbang badan.

Makin sering berlari, saya jadi kepikiran suatu saat pengen ikutan lomba. Bukan untuk ngejar prestasi. Kalau nyari juara, pasti kalah karna saya bukan atlit. Pengen seneng-seneng aja. Ketemu sesama runners, juga untuk mengukur kemampuan, ngetes sepatu 910, cari pengalaman dan tantangan baru. Biar hidup makin greget.

Selama di Palu, sebenarnya ada beberapa kali event lomba lari, tapi saya tak cukup berani untuk mencoba. Takut gak kuat, takut kenapa-napa. Cemen banget dah, padahal cuma 5 km.

Sekarang gak ada lagi rasa takut untuk ikutan race. Dengan mengucap bismillah dan persiapan yang matang, saya nekat ikutan Keraton To Keraton Run Berau 2017 yang jaraknya 15km.

Program latihan

Target saya gak muluk-muluk. Bisa finish dengan selamat tanpa cedera, dan di bawah cut off time, sudah syukur alhamdulillah. Istri saya mewanti-wanti agar saya tak maksain diri. Kalau di tengah lomba gak kuat, disuruh lapor panitia biar diangkut ambulance. Ih, amit-amit deh. Saya jadi mikir, ia benar-benar khawatir atau menyangsikan kemampuan saya.

rute K2K Run 2017

Dan akhirnya, saya berhasil menyelesaikan lomba meski dengan penuh perjuangan. Di kilometer tujuh, betis saya seperti mau kram. Sakitnya melebihi sakitnya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya. Untungnya ada panitia yang bawa chlor etil. Setelah disemprot spray dingin, rasa sakit berkurang. Lanjuuut.

Finisher [Foto: Berau Runners]

Di kilometer sembilan, rasa haus tak tertahankan. Pengen banget minum isotonik. Pas di water station, eh saya salah ambil minuman. Yang keminum air mineral. Duh, harus nunggu di km dua belas baru bisa merasakan isotonik.

Perjalanan menuju garish finish kian berat. Rasanya pengen udahan saja. Tapi saya mencoba bertahan. Sambil dengerin musik, saya terus berlari. Meski kecepatannya makin melambat.

Don’t stop until you are proud

Menjelang garis finish, panitia bersorak-sorai memberi semangat pada para runners. Saya mau sprint, tapi kaki saya terlalu berat untuk diajak berlari kencang. Tenaga saya sudah terkuras.

Namun segala kelelahan itu sirna saat panitia mengalungkan medali. Hati saya berbunga-bunga. Susah diungkapkan dengan kata-kata. Hamdallah, race pertama saya lancar, tanpa hambatan berarti.

momen yang mengharukan. [Foto : Berau Runners]

mencoba tersenyum, padahal kaki rasanya mau copot

” It does not matter how slowly you go as long as you do not stop” ~ Confucius

Iklan

15 pemikiran pada “Mengapa Saya Berlari

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s