Konsumen Adalah Raja

Saya orangnya gak ribet. Lebih suka mengalah daripada harus  berdebat panjang. Kalau ada yang reseh, ngomong macem-macem, palingan saya iyain aja. Biar cepat selesai.

Meski suka mengalah, bukan berarti saya gak berani melawan. Jika diperlakukan tidak baik, pasti saya bereaksi. Ibarat ada yang jual, saya saya beli lah. Tapi tetep dengan cara yang elegan, gak marah-marah, pakai gebrak meja segala.

Seperti beberapa hari yang lalu, saat saya sedang tugas di Balikpapan. Saya sudah dibookingkan hotel sama teman. Pas nyampe hotel, dibilang resepsionisnya, kamar penuh.

“Lho gimana sih mbak, kan udah booking 2 hari lalu”

“Maaf mas, kami kedatangan rombongan tamu dari kementerian. Saya oper ke hotel depan saja ya. Masih satu manajemen dengan kami. Kamarnya sudah disiapkan”, kata mbak resepsionis.

Oh, jadi saya yang dikorbanin. Oke, fine. Saya terima tawaran itu, toh hotel yang baru gak jauh. Cuma sepelemparan batu. Dekat dengan lokasi acara saya juga.

Sayangnya, hotel yang baru ini kurang memuaskan. Pas mau masuk kamar, pintunya susah terbuka. Feeling saya mulai gak enak nih. Mau nonton tivi, remote gak berfungsi. Pas mau mandi airnya keruh, seperti air sungai. Hotel apaan nih.

Saya turun ke resepsionis, bilang mau check out, karna fasilitas hotelnya parah banget. Saya minta balikin duit saya. Lagian belum sejam di kamar. Tapi bilang resepsionis gak bisa. Kalau mau check out, duit yang kembali cuma 50%. Wuih enak saja.

Saya minta ketemu manajer hotel, tapi manajernya gak mau keluar nemuin saya. Ngajak berantem nih. Pengen marah rasanya.

Akhirnya saya bilang ke resepsionis. Ini kan kesalahan pihak hotel. Kalau uang saya gak dibalikin utuh, saya akan laporkan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Ombudsman RI. Saya juga akan buat pengaduan ke Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Dinas Pariwisata, Dinas Perijinan, Kaltim Post, Kompas. Saya akan tuntut karna perbuatan tidak menyenangkan.

Saya ngomong seperti itu dengan suara kalem tanpa emosi. Tapi sorot mata saya seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Raut wajah resepsionis seperti ketakutan dan langsung nemuin manajernya. Akhirnya duit saya bisa dikembalikan utuh. Ternyata harus digertak dulu, baru takut.

Akhirnya dapat hotel yang bagus, kamar yang nyaman. 

Sebagai konsumen, tak jarang kita diperlakukan seenaknya dan dirugikan. Padahal konsumen punya hak, dilindungi Undang-Undang pula. Makanya jangan takut untuk melawan. Lawanlah dengan cara yang cerdas. Tanpa kekerasan. Semua bisa diselesaikan dengan baik-baik.

Kalian pernah punya pengalaman tak menyenangkan sebagai konsumen? Apa yang kalian lakukan?

 

Iklan

5 pemikiran pada “Konsumen Adalah Raja

    • Kalau mbak resepsionisnya bilang gitu, saya sudah siapin jawaban mas

      “Mbak, kalau ijin hotel ini dicabut, hotel bakalan tutup, karyawan diPHK.

      Kalau gak punya kerjaan, ntar gak bisa bayar SPP anak, trus bisa berantem sama suami. Ribut terus sama pasangan, bisa pisahan. Kan berabe mbak

      Penggangguran juga bakalan bertambah, kriminalitas bisa meningkat mbak”

      Udah balikin aja duitku 🙂

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s