Sepiring Sukun Goreng dan Kenangan Masa Lalu

Sebagai pemuda desa yang kini terdampar jauh di pulau seberang, saya sering disergap rindu. Salah satu upaya saya menuntaskan rindu itu adalah dengan menikmati kuliner khas desa.

Sayangnya, di tempat perantauan sekarang agak sulit menemukan kuliner kampung halaman. Gempuran makanan modern mulai menjejali tiap sudut kota. Gerai-gerai fast food, cafe dan restoran anyar langsung merebut hati kawula muda yang ingin dianggap kekinian. Saya gak anti sama makanan modern, suka juga kok. Asal gak mahal aja 🙂

Kuliner yang ingin saya nikmati adalah sukun goreng. Nama latin buah sukun adalah Artocarpus Communis. Meski ada communis-nya, buah ini tetep halal dimakan. Kandungan karbohidrat dan proteinnya tinggi, namun rendah kalori. Cocok buat yang lagi diet.

pohon sukun dekat rumah saya

itu buah sukunnya sudah bisa digoreng. mau minta sungkan

Di Palu memang banyak yang jual gorengan, tapi sampai saat ini saya belum pernah nemu yang jual sukun goreng. Yang sering dijual di sini adalah pisang goreng, tempe, tahu isi dan singkong goreng.

Sekedar informasi, masyarakat Sulawesi terbiasa makan gorengan dengan sambal. Pisang goreng pun dinikmati dengan sambal. Pisangnya yang masih mengkal pula. Agak aneh buat saya.

Karna kebelet makan sukun goreng dan demi mencegah air liur semakin menetes, akhirnya istri saya membeli buah sukun di tukang sayur langganan. Harganya cuma lima ribu. Ukuran sedang, sebesar bola futsal.

yang ukuran segini, setelah digoreng jadi empat piring

Kalau di kampung saya sih gak usah beli. Ada tetangga punya pohon sukun yang tak keberatan jika diminta. Misalkan beli di pasar, harganya paling dua ribuan.

Cara mengolahnya cukup gampang. Kupas lalu cuci bersih dan potong sesuai selera. Setelah itu rendam ke dalam bumbu bawang putih dan garam. Bisa juga digoreng dengan tepung. Goreng hingga warna keemasan. Dan sukun pun siap disantap.

rendam sukun yang sudah dipotong ke dalam larutan bumbu

Ditemani secangkir kopi, sukun goreng ini berhasil mengantar saya pada kenangan. Mengingatkan saya akan masakan orang tua, kehangatan rumah, kasih sayang, keakraban dengan saudara dan tetangga. Saya seperti diantar terbang ke kampung halaman.

warnanya kuning keemasan, begitu menggoda

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Adakah kuliner khas kampung yang lama tak kalian santap dan sangat dirindukan?

Iklan

9 pemikiran pada “Sepiring Sukun Goreng dan Kenangan Masa Lalu

  1. alhamdulillah sukun byk yg jual kalo di bangko, tp mentah, org sini sukanya bikin kripik sukun.. di sala3 juga byk yg jual sukun goreng mas.. kuliner daerah yg kurindu nasi jagung komplit, gak ada yg jual disini #syedih

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s