Pindahan Antar Kota Antar Propinsi

Sempat kepikiran untuk menjual seluruh perabotan rumah tangga ketika saya harus pindah dari Surabaya ke Palu. Namun karna para calon pembeli nawarnya sadis-sadis, niat itu saya urungkan. Masa tivi ditawar tiga ratus rebu, kulkas masih bagus cuma dihargai tujuh ratus ribu, motor pun ditawar dengan harga murah sekali. Piring dan barang pecah belah lainnya, gak mungkin dijual. Teflon, happycall, blender; kalau harus beli lagi ya lumayan tuh duitnya. Saya hitung-hitung justru bakalan rugi banyak. Ya udah, bawa aja deh nih barang.

Saya putar otak, nyari perusahaan ekspedisi jasa pindahan yang bisa angkut barang antar kota antar pulau. Akhirnya nemu juga. Semua barang saya diangkut dengan kontainer ukuran 20 feet, dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Pantoloan Palu. Kalau cuma port to port, tarifnya empat juta.  Teman yang pindah dari Surabaya ke Pangkal Pinang, kena tarif 14 juta.  Sementara yang pindah dari Surabaya ke Jakarta, cuma 2,5 juta diangkut pakai truk.

Karna saya ambil paket door to door, kena biaya 8,5 juta. Dengan biaya segitu, saya gak perlu lagi repot packing. Semua yang urus mereka. Barang-barang yang saya kirim pun sudah diasuransikan. Hari Minggu berangkat dari Tanjung Perak, hari Kamis sudah nyampai di Palu dengan selamat. Motor, sepeda, lemari, tempat tidur, alat-alat elektronik dll dalam keadaan baik. Hamdalah.

Emang ribet sih pindahan itu, tapi seru juga. Ngurus pindahan anak sekolah, sibuk ngangkutin barang. Ada yang menyarankan gak usah bawa barang, mending ngambil punya kantor saja. Saya gak mau seperti itu. Gara-gara gak mau keluar duit, aset kantor seperti mebelair dan alat elektronik dibawa ke rumah. Yang begini kebanyakan malah pejabat sih. Makin tinggi jabatan, makin gede gajinya, tapi makin pelit dan perhitungan. Mental miskin itu namanya. Gak berkah juga.

Sampai sekarang motor yang saya bawa dari Jawa masih saya pakai. Saya termasuk tipe  orang yang setia, ndak gampang ganti-ganti.  Beberapa barang pribadi saya, seperti jam tangan, sepatu, topi; sudah bertahun-tahun  dan masih saya pakai. Juga motor. Platnya AE, beda dengan kebanyakan nomor kendaraan yang ada di Sulawesi Tengah (DN). Plat kendaraan daerah lain yang banyak beredar di Palu adalah B (Jakarta), L (Surabaya), DD (Makassar), DB (Manado) dan DM (Gorontalo).

Ketika pergi ke warung kopi pakai motor, saya ditanyain pengendara lain. “AE mana ya mas? Jogja ya?” |”Bukan, AE Ngawi mas” |”Ngawi tu mana?  Lalu berlanjutlah obrolan kami. Pernah juga pas di pantai, ditanyain sesama orang Jawa. “Ponorogo ya mas? | Bukan, Ngawi mas” Lantas kenalan dan akhirnya jadi teman baik. AE memang nomor polisi untuk karisidenan Madiun yang meliputi Ngawi, Magetan, Ponorogo dan Madiun. Saya bersyukur, ternyata motor yang hampir saya jual ini, justru banyak menghadirkan kisah-kisah seru, memberi warna yang beda dalam kehidupan saya.

Kelak jika saya pindah dari Palu, (semoga tidak lama lagi), motor ini akan saya bawa. Tapi untuk barang-barang lain sepertinya akan saya hibahkan. Mbak jamu langganan sudah request, mas kalau pindah spring bednya buat saya ya. Teman yang lain juga sudah ngincer sepeda gunung. Tetangga juga pada mau.

Tunggu tanggal mainnya deh, ntar kalau saya mutasi, semua bakalan kebagian ghonimah. Doakan saja saya bisa pindah ke kampung halaman, dan semua urusan bisa lancar. Amiin. Amiin pake banget.


Iklan

8 pemikiran pada “Pindahan Antar Kota Antar Propinsi

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s