Ngebut Tanpa Otak

Selepas pulang kantor, saya tak langsung menuju rumah. Saya mampir beli kue buat anak-anak. Selalu senang setiap kali tiba di rumah disambut dengan senyum ceria dan teriakan manja anak-anak. Dan sebuah kejutan kecil berupa sebungkus jajanan membuat mereka makin girang.

Namun sore kemarin, saya agak telat nyampai rumah. Ada insiden kecil di jalanan. Di perempatan jalan, motor saya disenggol anak SMA yang menerjang lampu merah. Dugaan saya, anak SMA itu salah mengartikan warna lampu lalu-lintas. Harusnya merah itu berhenti. Tapi buat mereka, merah artinya berani. Berani nerobos, berani menantang maut.

Alhamdulillah saya ndak papa, ndak terluka. Mungkin ini berkat doa tulus istri yang selalu dilantunkan sebelum saya berangkat kerja. Doa orang tua juga tentunya. Tapi tetep, saya harus lebih hati-hati. Mungkin Tuhan sedang memperingatkan saya.

Mereka, anak SMA itu juga ndak terlalu parah, tapi motornya lebih bonyok. *Mampus loe

Kedua spion motor saya patah. Setelah saya pinggirkan, saya tanyain kedua anak SMA. Sambil menahan rasa sakit, mereka bilang motornya gak ada rem. Bukan cuma itu, mereka belum punya SIM dan gak bawa STNK. Duhh, jadi mereka naik motor, ngebut, tanpa membawa surat kendaran lengkap, tanpa plat kendaran, tanpa rem dan tanpa otak. Anaknya siapa ini? 😬

Beberapa orang yang melihat kejadian itu dan pengendara lain mulai berkerumun. “Pukul aja mas, kurang ajar tuh” seorang bapak-bapak marah karna ternyata dia juga hampir jatuh gara-gara anak SMA tadi.  Yang lain bukannya nolongin malah nendang-nendang motor anak SMA itu.

Saya kesel juga sih, pengennya saya gampar tuh anak. Cara berkendaranya membahayakan orang lain. Tapi kalau saya luapkan emosi, urusan makin panjang. Ya sudah, yang penting semua selamat, toh motor bisa dibaikin. Saya pergi saja. Sempat kepikiran mau nelpon polisi, tapi ntar motor malah diangkut ke polres. Harus nebus sekian ratus ribu buat ngambil motor, meskipun sebenarnya bukan saya yang salah. Malah runyam.

Jalanan memang kejam. Setiap hari ada sekitar 80-an orang tewas akibat kecelakaan di jalan raya, didominasi sepeda motor. Dan kebanyakan korbannya adalah anak-anak di bawah umur yang diijinkan berkendara oleh orang tuanya. Miris kan. Dalam setahun, produksi sepeda motor bisa mencapai 7,8 juta unit. Berarti potensi anak bangsa tewas di jalanan makin meningkat.

Selain itu, jalan raya adalah tempat paling pas untuk menguji kesabaran. Semua setan jalanan berkumpul di sini. Ibu-ibu berdaster naik matic ngebut nglawan arah, gak pakai helm. Bapak-bapak pun kini ada yang ngasih reting kiri tapi besoknya ke kanan. Dan mudah sekali orang membunyikan klakson. Baru sedetik lampu hijau, langsung klakson kencang-kencang. Bahkan sebagian pengendara mempercayai  klakson bisa mengurai kemacetan, bisa gantikan rem. Kepercayaan sesat nih.

Anak SD kelas empat, SMP atau SMA secara fisik memang sudah bisa mengendarai motor. Namun emosi mereka masih labil, mudah sekali kehilangan fokus dan kontrol keseimbangan. Anehnya, banyak orang tua justru bangga anaknya yang masih usia dini bisa naik motor. *bangga tuh kalau punya anak balita yang sudah apal mars Perindo.

Ini sih bukan kebanggaan, tapi kelalaian fatal. Ada anak kecil merokok, semua ribut. Tapi banyak anak kecil berkendara, ugal-ugalan di jalanan malah dibiarin. Ndak pernah ada larangan serius. Polisi kayaknya juga diam saja.

Anak saya pernah minta diajarin motor juga, tapi saya larang. Nanti deh kalau umur 17, baru saya ijinkan. Minta smartphone juga gak saya kasih. Saya janji, nanti di usia 13 akan belikan HP dan laptop yang  canggih. Sekarang, biarlah mereka bermain sesuai usianya, tanpa gadget, agar mereka menjadi manusia seutuhnya.

Yang perlu kita sadari, menyayangi anak bukan dengan membelikan motor di usia dini atau mengijinkan mereka berkendara. Itu adalah hadiah yang paling mematikan.

Iklan

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s