Telat Nakal

Setiap pulang kampung, saya selalu menyempatkan ketemu dengan teman lama. Meski terpisah jarak dan waktu, namun tetep bisa akrab dengan sahabat adalah sebuah anugrah yang layak disyukuri.

Kalau sampeyan mampu mempertahankan sebuah hubungan persahabatan lebih dari tujuh tahun, itu luar biasa. Jarang lho yang begini. Dan ini  bisa meningkat ke pelaminan jadi ikatan persaudaraan.

Seneng juga rasanya ngobrol panjang lebar, melepas kerinduan. Saking asyiknya cerita, sampai lupa waktu. Dan topik hangat yang gak ada habisnya adalah keseruan masa SMA. Tentang keluguan, keisengan dan kejahilan kala itu.

Dulu saya dan teman-teman bukan termasuk murid yang pendiam. Ada saja ulah kami yang membuat kawan-kawan dan para guru mengelus dada. Bolos, nyontek pas ulangan, ndak ngerjain PR, naruh permen karet di kursi guru;  itu mah hanya sebagian kecil. Kadang saya juga heran, setan mana yang merasuki kami. Kenapa kelakuan pas sekolah bisa kayak gitu. Tapi mending sih nakalnya pas jaman sekolah, kalau nakalnya pas jadi anggota DPR, malah nyusahin rakyat. Sudah tua-tua tapi suka bolos kerja, gak pernah hadir di sidang paripurna. 😂

Sebenarnya kami bukan bandel. Justru sekolah lah yang melabeli muridnya dengan kata bandel, pinter, bodoh, alim dan sebagainya. Padahal setiap anak murid itu istimewa. Kami hanya sekumpulan anak-anak yang dominan otak kanannya, anak-anak kreatif yang tak tersalurkan bakatnya. Anak-anak yang kelebihan energi, gemar bereksplorasi dan sedang mencari jati diri. Nakal kami pun beda, lebih elegan dan berbudaya, ndak sampai ke arah kriminal. Bukankah selalu ada sisi nakal pada tiap orang. 😁*halah pembenaran nih

Tapi sudahlah, masa lalu tak bisa dilupakan. Kami hanya bisa mengubah cara melihat dan merasakan masa lalu. Biarlah kenakalan kala itu menjadi pelajaran, agar lebih berhati-hati melangkah ke depan. Kisah itu sungguh memberi warna dan memperkaya khazanah kehidupan. Seandainya bisa terbang ke masa lalu, saya akan memperbaiki kesalahan itu.

Yang patut disyukuri sekarang ini adalah banyak teman-teman yang berubah menjadi lebih baik. Yang dulunya bandel, urakan; kini tuanya takut istri lebih matang dan dewasa menjalani kehidupan. Berubahnya karna banyak hal. Lewat sebuah kontemplasi diri, perenungan yang panjang, berjalan ke barat mencari kitab suci, mendapatkan hidayah, menikah, bertapa di tepi sungai ataupun karna faktor usia. Biasanya emang kalau usia sudah 25, seseorang akan lebih dewasa dalam berpikir dan mampu kendalikan emosi.

Nah yang disayangkan adalah yang dulunya pendiam, culun sekarang jadi nuakal. Telat nakal gitu. Ternyata tak semua orang yang masa kecilnya baik, masa depannya juga baik.

Dan ini yang justru membahayakan. Orang yang nakalnya telat, pas sudah tua baru nyobain nakal, itu lebih ngeri. Orang-orang tua yang kekanak-kanakan, pejabat yang menghambat karir anak buah, sikut kanan kiri, korupsi, minta komisi proyek, jual beli perkara, aparat yang mempersulit urusan rakyat, menjual bangsa demi ambisi pribadi, mengkhianati pasangan, selingkuh, merusak rumah tangga orang lain, bahkan ada yang jadi mafia dan teroris. Wajahnya santun, cerdas, berwibawa tapi ternyata pembuat vaksin palsu. Fix, nakal di saat muda itu wajar. Nakal pas sudah tua itu kurang ajar.

Mungkin mereka ini dulunya golongan anak-anak yang kurang hiburan, sibuk sekolah seharian, ditekan orang tua demi sebuah obsesi besar dan tercerabut dari dunia bermain. Atau mereka berada di lingkungan yang salah. The right man in the wrong place. Banyak hal yang mempengaruhi.

Semoga kita terhindar dari kenakalan dan keburukan. Tugas kita sekarang adalah menata masa kini serta menatap masa depan. Tetap berbuat baik, di mana pun dan kapan pun sembari memohon pada Dzat yang membolak-balikkan hati, agar kita selalu dalam bimbinganNya. Kalaupun dulu pernah bandel, semoga itu adalah kekhilafan terakhir dan tak kan terulang.

Iklan

5 pemikiran pada “Telat Nakal

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s