Sawang Sinawang

Saat pulang kampung, selain berkumpul dengan keluarga, saya juga menyempatkan menemui tetangga dan beberapa kawan lama. Kerinduan dengan mereka sedikit terobati lewat obrolan-obrolan ringan sembari menyesap kopi di angkringan depan rumah. Meski lama tak bersua, obrolan kami tetap hangat dan akrab. Apa saja kami gunjingkan, termasuk tentang kondisi kami saat ini. Sampai pada akhirnya terlontar sebuah tanya dari tetangga saya.

“Kamu kerja kok pindah-pindah terus Nang? Sudah jadi Bos? Enak ya, bisa keliling Indonesia. Aku pengen juga bisa ke Kalimantan atau Sulawesi. Bosen di kampung terus” ujarnya

Deg, hampir saja saya tersedak mendengar kalimat itu. Saya memang sudah beberapa kali dipindahtugaskan, hijrah dari satu kota ke kota lain. Namanya juga kerja ikut orang, harus nurut.

“Oalah mas mas, aku lho malah pengen seperti sampeyan. Di kampung halaman, dekat orang tua dan keluarga. Ayem tentrem. Dikapak-kapakno tetep enak ning Jowo mas”

“Mosok sih”
“Iya, bener”

Lalu  kami pun sama-sama tertawa. Menertawakan kedunguan kami. Ternyata kami saling memandang. Sawang sinawang. Saling iri dengan kehidupan yang lain. Enak ya dia bisa begitu, saya kok cuma begini saja.

Saya melihat hidup orang lain begitu menyenangkan, padahal tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Beneran nikmat atau hanya menutupi. Saya terlalu sibuk memandang orang lain, sampai lupa dengan kenikmatan yang dilimpahkan Tuhan untuk saya dan keluarga. Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau daripada rumput sendiri.

sawang sinawang

Sumber : @Powerful_Pics

Kini saya belajar untuk tidak gelisah menyaksikan kebahagiaan dan kesuksekan orang lain. Justru berusaha turut gembira atas itu semua, meski ini sungguh berat. Ada lho yang tetangganya beli kulkas, langsung panas dingin. Saudara pakai perhiasan baru, badan jadi meriang. Teman seangkatan sudah promosi jadi pejabat, langsung ilfil. Ada yang seperti itu.

Saya mencoba berdamai dengan keadaan, meluaskan pandangan dan menatap kehidupan dari sisi yang berbeda. Di situ saya temukan betapa berharganya hidup kita masing-masing.

Apapun yang kita miliki saat ini; karir, pasangan, keluarga dan apa saja; tak perlu dibanding-bandingkan dengan kepunyaan orang lain. Bagaimanapun kondisi kita, selalu ada celah untuk merayakan syukur.

BedaLuarBedaDalem_14September2014_KompasMinggu-581x434

Kadang apa yang tampak dari luar tidak selalu menyenangkan. Sumber : http://www.micecartoon.co.id

Iklan

3 pemikiran pada “Sawang Sinawang

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s