Jumatan Biar Ganteng

Entah mengapa sampai sekarang saya masih sering mendengar ada yang mengatakan “Jumatan yuk biar ganteng”. Padahal gak ada dalilnya. Mungkin maksudnya bercanda. Tapi masa sih ibadah buat dibecandain. Khawatirnya nanti niat kita Jumatan malah salah. Ke masjid kan untuk beribadah, wujud penghambaan serta cinta kita pada Yang Maha Kuasa. Masjid bukanlah salon yang bisa mengubah penampilan seseorang. Lagi pula apalah artinya ganteng kalau tidak soleh.  #eh

Meski begitu, saya tetap berusaha tampil semaksimal mungkin saat Jumatan. Ini kan hari raya kecil. Saya menggunakan baju terbaik, potong kuku, rapikan kumis dan jenggot serta pakai parfum isi ulang yang saya beli dekat pasar. Rasanya ndak pantas menuju rumah Allah masih memakai baju olah raga senam Jumat pagi. Pergi ke kondangan saja pakai baju bagus.

Sambil menunggu khotib naik mimbar, saya perhatikan sekeliling. Hasil pengamatan saya, tujuh dari sepuluh jamaah menggunakan celana panjang, sisanya memakai sarung. Dan lebih dari 50% jamaah memakai sandal japit. Usut punya usut, sandal japit lebih aman dibanding sandal mahal, jarang sekali hilang. Seandainya bukan cuma sandal yang hilang, tapi juga rasa dendam, iri hati, sombong dan bakhil, tentu ini sebuah kehilangan yang indah.

Yang terlanjur membawa sandal bagus, akan menitipkan di tempat penitipan. Jika tak ada, maka akan berusaha mencari tempat yang aman. Kadang disimpan di dekat tong sampah, di pagar atau dimasukkan jok motor.

Saat khutbah berlangsung, saya berusaha untuk tidak tertidur. Kadang berhasil namun pernah juga gagal. Ternyata bukan cuma saya yang tak sengaja terlelap. Lebih dari 60% jamaah lainnya juga begitu. Tidur dengan posisi bersila. Ini sulit dilakukan di luar hari Jumat lho.

Bisa jadi para jamaah kecapekan, ngantuk atau jenuh mendengarkan ceramah khotib. Ada yang khutbahnya lama, menggebu-gebu, bahasanya terlalu tinggi serta sulit dipahami. Ada pula yang berusaha melucu serta mengundang gelak tawa jamaah. Model seperti inilah yang membuat jamaah selalu terjaga. Padahal gak boleh lho begitu. Kita bilang “ssstt” pada jamaah lain yang ribut saja tidak boleh, apalagi terbahak-bahak.

Khotib favorit saya ketika masih di Surabaya adalah Ust Muhammad Sholeh Drehem, Ust Syaukani Ong, Ust Akhmad Arqom dan Prof. Dr KH Ahmad Zahro. Banyak juga yang lainnya, tapi saya lupa namanya. Hampir di setiap masjid besar, khotibnya selalu bagus.

Kalau menurut saya, khutbah yang bagus itu yang tidak lama tidak juga pendek. Yang sedang-sedang saja. Sekitar 30 menit lah. Lebih dari itu kadang bisa membuat jamaah gelisah. Isi khutbah yang menyejukkan ditambah dengan bacaan Quran yang bagus akan membuat nyess di hati. Saya pernah merinding mendengar ayat yang dibaca imam, padahal tak tahu arti surat yang dibaca.

Yang ngebosenin itu ketika khotib asli berhalangan hadir dan tak ada yang menggantikan. Ini biasa terjadi di masjid kecil. Akhirnya semua saling tunjuk. Namun tetap tak ada yang mau jadi sukarelawan. Terpaksa takmir yang maju.

Bisa dipastikan isi khutbahnya dari buku kumpulan khotbah jumat terbitan tahun 2000 yang kondisinya sudah lecek. Khotib membaca dengan cepat, seolah berusaha segera mengakhiri. Saya salut pada mereka yang mau gantikan tugas berat ini. Kalau tak ada satupun yang bersedia, sholat Jumat bisa batal terlaksana.

Jadi apa isi khutbah Jumat siang tadi? Pernahkah sampeyan merenungkan nasehat khotib? Jangan-jangan sampeyan tertidur atau malah main HP.

Iklan

Satu pemikiran pada “Jumatan Biar Ganteng

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s