Hampir Mati Diterkam Rindu

Ternyata jarak dan waktu tak hanya menciptakan kerinduan, tapi juga sebuah melodrama. Maksudnya begini, ada orang yang saking kangennya, tiap ketemu atau berpisah justru menangis. Macam film serial Korea. Drama banget kan. Masih mending sih cuma nangis, kalau ketambahan pakai joget-joget dan menari, bisa seperti film India.

Nah salah satu orang yang drama banget itu adalah ibu saya. Kalau saya pulang kampung, ibu menyambut dengan tangis bahagia. Seolah ndak percaya anak lanangnya yang ada nun jauh di sana bisa sowan. Saya yang awalnya cuma cium tangan dan memeluk ibu saat ketemu, terkadang ikut terbawa suasana haru. Pengen menangis, tapi saya tahan. Ribuan kubik air mata yang siap membanjiri pipi, berhasil saya bendung. Meski hampir mati diterkam rindu, saya ndak mau menambah dengan sedu sedan segala. Nanti kalau saya nangis; adik, ponakan, tetangga, teteh, pembantu bakal ikut-ikutan nangis. Saya memilih untuk terseyum. Karna itulah cara terbaik untuk menutupi rindu dalam dada.

Menjelang detik-detik keberangkatan kembali ke tanah rantau, suasana menjadi syahdu. Hening. Ibu tak bisa menyembunyikan raut cemas. Ada gurat kecewa di wajahnya, seolah tak mengijinkan saya cepat-cepat pergi. Begitu pula saya. Gelisah tak menentu. Berat rasanya meninggalkan orang tua dan kampung halaman tercinta.

Untuk meredam kondisi itu, biasanya saya ajak ngobrol ibu. Saya ceritakan kehidupan di luar Jawa, tentang pekerjaan, tentang teman-teman dan apa saja. Bahkan saya tak segan memohon nasehat jika ada masalah yang melanda. Seorang Ibu dengan sejuta cinta dan kasih sayang, selalu siap menjadi teman curhat yang asyik untuk anaknya. Kalau kalian sedang didera problematika hidup, bingung ndak tahu harus bagaimana; coba datangi Ibu. Peluk dan cium beliau, seraya minta maaf dan mohon restunya. Gak harus nunggu Lebaran. Jika ada kesempatan, bersegeralah. Doa tulus Ibumu itu akan diantar langsung malaikat, tembus ke langit ke tujuh. Kalau ndak sempat pulang ya telpon saja. Ndak papa.

Rasanya tak pernah ada kata cukup untuk berbincang dengan Ibu. Dua jam terasa cepat berlalu. Dan akhirnya saya harus benar-benar melangkahkan kaki keluar rumah. Ibu nangis lagi. Di situ emosi saya diaduk-aduk. Hati siapa yang tak tercabik-cabik melihatnya. Tapi sudahlah. Mungkin itu cara Ibu saya meluapkan ekspresinya. Semoga air mata Ibu menjadi hujan bagi musim panas yang lengas. Ibu, maafkan aku jika harus meninggalkanmu. Percayalah, aku akan pulang lagi untukmu.

Iklan

2 pemikiran pada “Hampir Mati Diterkam Rindu

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s