Bekerja Adalah Wujud Religiusitas

Banyak cara untuk menebak kepribadian seseorang. Dengan melihat penampilannya, tutur katanya atau gesture tubuh. Walau tidak sepenuhnya benar dan kadang bisa menipu. Beberapa pakar mampu menilai karakter seseorang melalui sorot mata. Ada juga melalui tulisan tangan. Istilah kerennya grafologi, menganalisa tulisan seseorang untuk menguak kepribadiannya. Ilmu ini cabang dari psikologi. Tentu lebih sulit dan tak boleh sembarangan.

Namun buat saya, salah satu cara untuk mengetahui seseorang adalah dengan mengamati bagaimana ia bekerja. Saya selalu menganggap orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, amanah dan penuh tanggung jawab, bahkan di kantor yang amburadul dan suck; adalah pribadi yang relijius.

Pribadi yang menunjukkan bahwa kesholihan tak hanya ada di tempat ibadah, tapi juga perlu diaplikasikan ke tempat kerja. Bahwa religiusitas bukanlah simbol-simbol, tapi bukti nyata dalam semua lini kehidupan. Tidak mempersulit urusan orang lain yang berhubungan dengan kita, tidak mengambil aset kantor untuk dibawa pulang dan dikuasai seenak udelnya, seolah-olah milik sendiri. Atau memanfaatkan jabatan untuk kolusi, memasukkan koleganya yang dungu, pemalas dan tidak kompetan menjadi karyawan di instansinya.

Juga meyakini sepenuh hati bahwa bekerja adalah ibadah. Bukan berarti saatnya bekerja malah beribadah. Tidak dilarang, cuma ya harus tahu diri dan tahu waktu. Soalnya ada yang seperti itu. Mlipir ke mushola, alasannya mau ngaji dan sholat duha. Dari jam 8 sampai jam 11 siang. Lalu selepas istirahat hingga sore ninggalin kantor buat ikutan taklim. Pekerjaan utama malah terlantar. Atau pamit keluar buat sarapan sebentar. Tapi sarapannya ke Bekasi, naik roket. Esok hari baru kembali. Bukan seperti itu.  Hubungan vertikal dan horizontal seharusnya seimbang. Profesional gitu. Dan seandainya makin banyak orang-orang baik di semua tempat; di DPR, di pasar, di instansi pemerintahan, di dunia jurnalistik dan perfilman, tentu nasib bangsa kita lebih sejahtera.

Sayangnya, banyak orang baik yang disingkirkan dari posisinya karna dianggap sebagai ancaman yang bisa mengganggu kepentingan atasan atau kelompok tertentu. Sampeyan tahu Pak Hoegeng kan, mantan Kapolri jaman dahulu. Satu dari tiga polisi baik yang pernah dimiliki Indonesia. Dua polisi lainnya adalah patung polisi dan polisi tidur. Yang bilang begitu Gus Dur lho, bukan saya. Nanti dikira saya hate speech.

Beliau adalah sosok polisi yang jujur, tidak korup dan anti kompromi. Beberapa pihak menduga Pak Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus pemerkosaan Sam Kuning yang tengah ditangani serius. Dari kisah tersebut kita bisa belajar, berbuat baik saja banyak yang tak suka. Apalagi jika kita berperilaku buruk.

Jangan sampai pula, demi disukai kawan dan atasan lantas membuat kita mengikuti “arus” dan menjadi seorang penjilat. Bekerja cuma buat dilihat Bos. Bersemangat jika ada riuh tepuk tangan dan pujian. Mengira bahwa untuk mempertahankan dan mencapai jabatan tertentu harus dengan menjilat, menginjak bawahan, menyikut serta menelikung teman. Tidak, sekali-kali tidak. Justru hal ini akan membuat mudah kecewa. Menyandarkan harapan pada manusia. Cukuplah bekerja dengan jujur, gigih dan tekun. Somehow, semesta akan menuntun kita pada jalan kemuliaan.

Jadi, apapun pekerjaan sampeyan, tetaplah berlaku baik. Tapi tak tak perlu buang waktu untuk membuat orang lain percaya.

Iklan

5 pemikiran pada “Bekerja Adalah Wujud Religiusitas

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s