Sedikit Kerja, Banyak Liburnya

Paling enak hidup pas-pasan. Pas pengen piknik, pas ada uang, ada waktu, ada yang menemani, kondisi sehat dan tak ada halangan. Karna tak sedikit lho yang punya dana berlimpah, tapi jatah cutinya habis, sedang sakit pula. Atau sebaliknya, waktu luang banyak tapi bokek.

Piknik memang perlu. Memberi jeda, mengistirahatkan jiwa dan raga dari belenggu rutinitas. Ibarat mesin yang dipaksa kerja terus-terusan, tentu akan jebol. Yang penting jangan sampai memaksakan diri. Karna ada orang yang rela berhutang demi liburan, traveling dan bersenang-senang. Ironis kan, usai bersenang-senang malah bingung bayar cicilan. Sebagian yang lain menggunakan dana tabungan untuk liburan, berharap dari bonus akhir tahun atau menyisihkan dari gajinya. Namun tak semua bisa menganggarkan penghasilannya untuk berlibur. Apalagi yang berpendapatan 15 koma, tanggal lima belas sudah koma.

Harusnya liburan itu menyenangkan. Tapi kalau lagi long week end atau musim libur sekolah seperti sekarang ini, liburan malah bikin bete. Tempat wisata penuh, berdesak-desakan, jalanan macet, biaya pun membengkak. Maksud hati pengen rileks, jadinya malah stres dan capek.

Ini semua terjadi karna lonjakan kaum menengah. Tingkat kesehteraan masyarakat membaik justru membuat bingung cara menghabiskan uang. Salah satu caranya ya dengan jalan-jalan. Kini liburan, pulsa dan internet telah menjadi sebuah kebutuhan.

Demam traveling yang disiarkan di televisi juga turut mempengaruhi. Semua orang berbondong-bondong bepergian, mengunjungi destinasi wisata terbaik, terkeren, terjauh dan terheboh.

wisata

Kalau seperti ini, nyaman gak? Gambar dari Google

Hal itu dilakukan bukan semata untuk refreshing. Tapi juga demi status sosial, pengakuan dan berburu like di jejaring sosial ketika memajang foto ataupun video traveling. Saat berada di sebuah lokasi wisata, semua sibuk mengabadikan moment, memotret dan merekam video. Tak sempat menikmati, menghayati dan meresapi dengan penuh kesungguhan. Sesekali perlu dicoba juga berwisata, bepergian tanpa membawa kamera. Menyimpan kisah perjalanan itu dalam relung sanubari terdalam. Mungkin dengan cara seperti itu kita bisa fokus, tidak kehilangan makna.

Sebab liburan, traveling bukan hanya perkara bersenang-senang. Jika dimaknai dengan tepat, banyak hal positif bisa didapatkan dari aktivitas itu. Bepergian dan berpetualang, akan mengantarkan kita menemukan kejutan-kejutan hidup yang bisa menggetarkan dan mendewasakan, menempa fisik dan juga mental. Bertemu banyak orang, mengasah kemampuan interaksi sosial serta menambah pengalaman. Apalagi jika menyatu dengan alam, maka rasa syukur kita akan semakin besar.

Namun liburan juga tak melulu tentang bepergian. Jangan mengira orang yang hanya di rumah mengabiskan waktu untuk keluarga kecilnya tak bisa bahagia. Memasak bersama, momong si kecil, bebenah rumah, main sama tetangga juga bisa menjadi salah satu alternatif mengisi liburan. Ketahuilah liburan itu bukan kemananya, tapi juga bagaimana cara menikmatinya. Selamat berlibur, semoga berbahagia

Iklan

3 pemikiran pada “Sedikit Kerja, Banyak Liburnya

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s