Lelaki Sejati Berani Ambil Raport

Kalau lagi pembagian raport anak, saya suka heran. Ini kondangan apa acara sekolahan sih. Ibu-ibu wali murid kok menor banget, dandan habis-habisan, full aksesoris. Apa mereka gak sadar, make up yang berlebihan justru bikin bapak-bapak undangan yang lain grogi dan keringetan. Sekalian mau pamer kekayaan? Mungkin juga sih. Wanita memang susah ditebak. Trus semuanya saling diam, sibuk dengan gawainya, sedikit sekali yang ngobrol.

Dan entah mengapa, jumlah bapak-bapak yang hadir selalu lebih sedikit dibanding ibu-ibu. Para ayah sedang larut dengan pekerjaannya hingga tak hadir di moment spesial sang anak. Dikiranya kalau sudah ngasih materi selesai urusan. Tidak, sekali-kali tidak. Justru ini akan menjadi sumber penyesalan terbesar kelak di kemudian hari. Makanya saya berusaha hadir meski sedang sibuk-sibuknya bekerja. Soalnya belum syah jadi ayah jika belum pernah ambilin raport.

Saat pembagian raport, ketika anak berprestasi dan unjuk kebolehan adalah goldent moment, dimana  anak benar-benar butuh kehadiran orang tua. Juga saat anak bersedih, ia butuh sandaran jiwa. Butuh ada yang memeluk dan mendengar curhatannya. Ketika para ayah abai akan hal ini, sedikit banyak akan mempengaruhi tumbuh kembangnya.

Saya ndak terlalu memusingkan nilai raport ataupun ranking anak saya. Selama dia sudah berusaha sungguh-sungguh dan jujur, apapun hasilnya saya tetep bangga. Perebutan ranking pada dasarnya berlomba dengan orang lain untuk saling mengalahkan. Padalah sebaik-baik perlombaan adalah mengalahkan diri sendiri.

Saya juga ndak terlalu ambisius, memaksa anak saya yang masih kecil untuk ikutan les ini itu. Bukannya malah pinter, nanti malah stress dan pusing karna terlalu banyak beban. Lagian masih mending anak saya dibanding bapaknya dulu.

Buat saya kecerdasan akademis bukan satu-satunya bekal untuk mengarungi kehidupan ini. Lihat saja, setiap tahun kurang lebih ada 400 ribu sarjana yang jadi pengangguran. Mereka pintar, kaum terdidik. Cerdas di atas kertas saja tak cukup. Soft skill, attitude juga sangat penting. Dan itu bisa didapatkan di kehangatan keluarga. Anak-anak yang mendapatkan limpahan kasih sayang dari ayah dan ibu, kecerdasan akademis, kecerdasan emosi serta kecerdasan spiritualnya akan bagus. Dan kita tak bisa melepas tanggung jawab mendidik ini hanya pada sekolah. Ayah dan ibu harus turut berperan dan bertanggung jawab.

Oh ya, anak yang cerdas itu biasanya nurun dari ibunya lho. Jadi buat yang belum menikah, pilihlah wanita yang cerdas. Dan sholihah. Syukur-syukur  cantik dan kaya pula.

Iklan

11 pemikiran pada “Lelaki Sejati Berani Ambil Raport

  1. Buahahahaha… Ni nyentil banget! Di sekolah anakku, alhamdulillah emaknya biasa2 ajaa.. Ga yg menor2 beud! Ustdz2nya malah polos, tanpa mekap.. Trus bapak2nya juga banyaak yg ambil rapor..

    Teruuus… Alhamdulillah rapornya si bocah baguuus.. Nilainya A semuaaa, kecuali kesenian dpt B.. Brarti niru emaknya yg cerdas ini dong yaa.. Hahaha *benerin konde*

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s