Kebaikan Tak Pernah Salah Sasaran

Mumpung lagi di Jakarta, saya nyobain ojek online Grab Bike. Jangan tanya kenapa ndak pakai Gojek, ini cuma masalah selera. Tak usah diperdebatkan. Kebetulan jarak yang akan saya tempuh tak terlalu jauh, dari Aston Marina Ancol menuju stasiun Jakarta Kota. Sekitar 3,4 km, masih nyamanlah kalau naik ojek.

maps

dari Google Maps

Saat order ojek via aplikasi, muncul beberapa nama driver yang berada di sekitar lokasi hotel. Saya memilih mas Faisal Aziz Suargono. Dari namanya, dugaan saya ia orang Jawa. Ternyata benar, ia berasal dari Slawi. Sebelum naik ojek, saya sempatkan foto-foto dulu, biar kekinian. Saya pesani juga agar ia tak ngebut. Dulu pernah juga naik ojek pengkolan, dari Tebet ke Lapangan Banteng. Karna saya minta cepet, si abang ojek ngebut bukan main, zig zag, masuk jalur busway, nerobos palang pintu kereta. Bener-bener uji nyali. Semenjak itu, saya kapok.

grab

Sambil menembus kemacetan Jakarta, mas Faisal mencoba membuka percakapan dengan saya. Orangnya ramah. Sepertinya dia berusaha memperlakukan penumpangnya dengan baik. Kami ngobrol. Mengalir. Cerita apa saja. Tentang temannya yang dipecat, tentang orderan yang gak seramai dulu dan tentang sidang MKD yang lucu.

Setelah lima belas menit, akhirnya saya tiba di stasiun kota. Ongkos ojek 25 ribu, tapi karna pakai kode promo, cuma bayar 15 ribu. Saya kasih mas Faisal 20 ribu. Sisanya ambil saja mas. Wuih, seneng sekali dia, sampai salaman dan mau meluk saya. Tapi saya gak mau, malu dilihatin orang. Makasih ya mas, semoga selamat sampai tujuan, katanya. Wajahnya sumringah. Dia gembira, saya juga. Bagi sebagian orang, uang lima ribu mungkin kecil, tapi sangat bernilai buat orang lain.

Ternyata berbagi kebaikan itu tidaklah sulit. Yang penting ada kemauan, pasti ada jalan. Bisa kapan saja, di mana saja dan dengan sarana apa saja yang kita miliki. Tersenyum pada orang lain, menolong teman, memuji rekan kerja, memberi uang lebih seribu dua ribu pada tukang parkir. Money can buy happiness sepanjang uang itu kita gunakan untuk amal kebaikan. Bisa juga dengan berbagi ilmu yang kita kuasai, tidak nawar pedagang sayur di pasar tradisional dengan sadis, mendoakan saudara dan sahabat, tidak berprasangka buruk dan tidak membenci pada siapapun.

Ketika kita rajin menebar kebaikan, maka keberkahan akan kita raih sepanjang hidup. Berbuat baik juga akan membentangkan pintu-pintu kebaikan. Mungkin tidak saat itu juga, tidak juga seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi atau berpuluh-puluh tahun lagi. Tapi percayalah kebaikan tak akan pernah salah sasaran. Yang penting harus ikhlas, bukan berbuat kebaikan demi mendapat balasan atau pujian dari orang lain. Jika kita gemar melakukan kebaikan, apapun itu, maka tingkat kebahagiaan dan produktivitas kita akan meningkat. Tak percaya? Coba saja!

Iklan

2 pemikiran pada “Kebaikan Tak Pernah Salah Sasaran

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s