Terkadang Hobi Narsis Justru Membuat Kita Makin Menyebalkan

Tanpa ada Pilkada pun, sudut-sudut kota sudah sesak dengan spanduk, baliho dan billboard yang memajang foto para pejabat. Dengan pose yang ya gitu deh, mereka tersenyum, mengepalkan tangan, mengacungkan jempol, menyampaikan pesan-pesan yang sulit dimengerti masyarakat kecil.

Apalagi Desember nanti di sini ada Pilkada serentak. Wuiih makin riuh. Di pohon, di kaca belakang angkot, di tiang listrik, di jembatan, bahkan di bak sampah pun tepasang poster calon walikota dan gubernur. Ini jelas berlebihan. Selain mengganggu keindahan juga bikin eneg yang melihat. Memang mereka [para kontestan] berhak memasang poster di mana saja. Tapi kan rakyat juga punya hak untuk hidup tenang dan nyaman. Bayangkan kalau pas lagi asyik makan di warung, lagi santai di taman, tiba-tiba suasana menjadi rusak, trus muntah-muntah gara-gara ada poster yang kurang sedap dipandang. Kasihan kan.

Tapi saya yakin mereka gak peduli dengan hal ini. Yang ada di benak mereka adalah bagaimana caranya menang. Habis uang banyak pun gak masalah, asal bisa menjadi raja-raja kecil di daerah. Padahal kalau dipikir-pikir, gaji Walikota hanya 2,1 juta, tunjangan jabatan 3,7 juta. Sedang Gubernur gaji pokoknya 3 juta, tunjangan jabatan 5,4 juta.

Lima tahun menjabat, total penghasilannya gak sampai 1 milyar, tapi nekat berani menghabiskan dana hingga 20 milyar demi menjadi orang nomor satu di daerahnya. Kalau demi gaji yang cuma segitu, tentu Pilkada tak semeriah ini. Jadi sebenarnya ada hal-hal lain yang lebih menggiurkan di balik itu semua.

Tapi ah sudahlah. Saya hanya ingin menyoroti perilaku narsisnya saja. Bukan cuma buat mereka, tapi juga kita. Memang makin sering menyebar foto narsis atau pun selfie (di dunia nyata maupun maya) maka akan makin dikenal. Namun hal ini juga membawa dampak negatif.

Kita akan dianggap egois, menyebalkan dan kekanak-kanakan. Karna sesungguhnya foto narsis, selfie adalah sarana untuk pamer. Yang pantas pamer hanyalah single, jomblo, biar cepet dapat jodoh. Selfie/foto narsis hanya cocok disebarkan ke orang-orang terdekat. Apresiasi mereka jauh lebih tulus dibanding kenalan, ataupun teman jauh.

Terkadang demi memperoleh hasil foto narsis yang wow, mengundang decak kagum orang lain; sebagian orang rela melakukan hal-hal konyol, membahayakan diri sendiri dan merusak fasilitas umum. Selfie dengan binatang buas, berfoto di ujung tebing, memegang hewan hasil berburu yang sebenarnya dilindungi, dan yang terbaru -yang mengundang kritikan netizen- ada sekelompok anak muda yang berfoto di tengah kebun bunga Lili di kawasan Gunung Kidul Jogjakarta. Kebun bunga itu akhirnya rusak terinjak-injak para penghobi foto narsis.

Di balik kegemaran narsis/ selfie, ada sebuah krisis kepercayaan diri. Biasanya orang berselfie ria demi mendapatkan pengakuan di dunia maya yang sulit didapatkan di dunia nyata. Jika kegemaran bernarsis ria ini tidak segera diatasi, maka akan lahir sebuah penyakit Narcissistic Personality Disorder. Orang yang mengidap penyakit ini akan menunjukkan arogansi yang besar dan kebutuhan yang konstan untuk diperhatikan oleh orang lain, baik dalam kehiduan pribadi maupun profesional. Orang  yang narsis juga punya kesamaan dengan psikopat. Keduanya tidak memiliki empati dan hanya pada peduli diri sendiri.

Jadi kalau kita bukan artis seperti Raisa, Aliando Syarief atau Fadli Zon sebaiknya jangan terlalu sering menebar foto selfie. Ingat, tak semua yang kita lakukan, kita alami harus diketahui dunia. Orang lain pun sebenarnya tak terlalu peduli dengan kita.

Iklan

4 pemikiran pada “Terkadang Hobi Narsis Justru Membuat Kita Makin Menyebalkan

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s