Untuk Para Istri, Kalian Semua Luar Biasa

Minggu kemarin istri saya ada kegiatan sama teman-temannya. Karena acaranya penting, anak-anak gak diajak. Saya merayunya agar si kecil (2 tahun) diajak saja, biarlah kakaknya di rumah sama saya gak papa.  Sebenarnya ini modus saya, karna si kakak lebih mudah dikendalikan daripada si adek. Etapi pas mau berangkat, si adek tertidur. Jadilah semua anak-anak ditinggal di rumah. Saya ndak bisa menolak tugas ini. Tantangan buat lelaki sejati seperti saya, weekend momong anak.

Ujian muncul saat si adek terbangun. Rupanya dia BAB. Saya harus mencucinya. Wah gimana nih, selama ini istri yang tangani beginian. Karna saya orangnya jijikan, maka saya pakai masker dan sarung tangan saat membersihkan kotorannya. Kalau gak gitu, bisa muntah-muntah saya. Bener-bener butuh perjuangan. Akhirnya saya jadi tahu begini toh rasanya mengurus anak-anak saat istri tak ada di rumah.

Tapi kalau istri saya mandiin atau nyuci si adek, kok kayaknya santai aja, seperti gak ada beban. Enjoy gitu. Belum lagi harus mengerjakan tugas rumah tangga lainnya. Mencuci, memasak dan bebenah rumah. Mungkin karna istri lebih ikhlas kali ya.

Padahal pas di awal menikah kemarin gak ada perjanjian lho istri harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Saya jadi malu sering ngeluh capek kalau pulang kerja. Minta dimasakin air panas buat mandi, minta dibikinin kopi, minta pijit, minta macem-macem lah pokoknya. Padahal jika dibandingkan dengan istri, peluh saya ndak ada apa-apanya. Saya pernah mendapatinya tertidur karna kecapekan. Saya ucap keningnya, saya merasa menjadi lelaki paling beruntung.

Kembali ke momong si adek, tugas pertama saya sudah beres. Lega. Saya pikir saya bisa santai-santai sambil nonton tivi. Eh si adek ngajakin main. Nyusun lego, lari-lari nendang bola dalam rumah, hambur-hamburin puzzle, nonton baby einstein dan coret-coret kertas. Sudah disediain kertas banyak, tapi si adek lebih suka menggambar di tembok. Belum lagi si kakak iseng godain adiknya. Jadilah suasana rumah makin riuh dengan teriakan. Fyuuh, sabar…sabar. Ini baru sehari loh, gimana rasanya istri saya yang tiap hari bergelut dengan mereka.

Ternyata jadi ibu rumah tangga itu berat. Selain mesti sabar, tlaten, tangguh dan pantang menyerah,  juga harus pandai bermain peran. Jadi manajer yang mengatur keuangan keluarga. Jadi koki yang mengolah masakan terlezat penuh gizi untuk keluarga. Harus jadi pendidik yang membentuk karakter anak. Jadi pendengar yang siap menampung curhatan. Juga menjadi teman dan kekasih buat pasangan. Tetap berusaha tertawa mesti saya bikin joke yang gak lucu, senantiasa menyemangati saat saya kehilangan motivasi, tetap percaya di kala yang lain meragukan saya.

Ini jelas butuh ilmu, ndak bisa asal-asalan. Makanya apabila ada yang mengatakan rugi sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya perempuan cuma berkarier di rumah saja, itu salah besar. Untuk mencetak anak-anak yang cerdas, soleh dan sehat diperlukan sentuhan tangan seorang ibu. Generasi yang tangguh, calon pemimpin masa depan hanya bisa lahir dari rumah tangga yang baik. Maka peran orang tua, utamanya seorang ibu tidak bisa dinafikan.

Saya sangat menghargai keputusan istri, ketika anak pertama kami lahir, dia resign dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Mengabdikan diri, mengurus anak-anak dan suami, walau tanpa gaji. Oh ya, sebuah survey mengungkapkan jika seluruh pekerjaan yang dilakukan ibu rumah tangga mendapat bayaran, maka penghasilan mereka bisa mencapai Rp 562 juta setahun atau Rp 47 juta per bulan. Bandingkan dengan jatah yang kita berikan buat mereka. *malu ah

Setidaknya para ibu menghabiskan 88 jam untuk menyelesaikan tugas rumah tangga. Wow, sangat melelahkan. Ini bisa memicu stress, depresi, kemarahan dan kesedihan. Maka, sesekali manjakanlah istri, ajak liburan, me time dan relaksasi diri.

Buat para suami, saya dan juga sampeyan, selain mencintai setulus hati, mari kita juga bantu istri. Wanita juga perlu dimengerti. Kalau istri lagi sibuk di dapur, jangan main gadget atau leyeh-leyeh di depan tivi. Itu namanya tak punya empati. Pura-puralah sibuk, megang sapu atau bantuin nyuci.

Iklan

4 pemikiran pada “Untuk Para Istri, Kalian Semua Luar Biasa

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s