Hate Speech

Apa yang menyebabkan seseorang membenci orang lain? Banyak hal. Bisa karna pernah disakiti, karna gak suka saja, bisa juga karna perbedaan. Beda suku, beda agama, beda partai, beda pilihan sewaktu pilpres dan juga beda klub bola. Memang sebagian orang masih sulit menerima perbedaan. Siapa saja yang tak sejalan, tak sepaham dengan dirinya dianggap sebagai lawan yang harus dibenci. Kasihan.

Ada juga yang menjadi membenci karna sebelumya terlalu cinta. Rasa benci itu muncul setelah seseorang mengucapkan “Maaf ya, kamu terlalu baik buat aku”. Jleb banget. Seketika perasaan langsung berubah. Ternyata cinta yang tak berbalas berbuah benci.

Padahal hidup dengan kebencian itu berat. Melelahkan. Orang yang dibenci sudah tidur nyenyak, sang pembenci masih gelisah memikirkannya. Mencari-cari keburukannya seraya mendoakan semoga sesuatu yang buruk akan menimpanya. Jahat banget kan.

Jika setiap hari harus seperti itu, maka akan banyak energi yang terkuras. Kesehatan pun terganggu. Karna dendam, benci dan kemarahan memicu tekanan darah tinggi, stress dan membuat jantung berdetak lebih kencang.

Benci yang berlebihan juga mematikan nalar. Secara tidak sadar kita akan selalu menilai negatif orang yang kita benci, meskipun ia berbuat benar. Ibarat memakai kacamata hitam, langit yang cerah akan selalu nampak gelap. Bawaannya sebel terus sama orang itu. Saking sebelnya, bahkan tak segan-segan untuk memfitnah dan menghinakannya.

Belum berhenti sampai di situ, terkadang gara-gara benci seseorang, kita ngajak-ngajak orang lain untuk ikutan membenci. Istilahnya menghasut dan memprovokasi orang lain. Aneh, benci kok ngajak-ngajak, emang piknik.  Sudah gitu, kemarahan dan kebencian tersebut diumbar ke media sosial. Ini dosanya kuadrat. Ndak perlulah seperti itu, bisa kena pasal hate speech, ujaran kebencian. Kalau lagi marah, benci atau uring-uringan, sebaiknya jauhi gadget. Kemarahan dan kebencian yang diungkapkan di dunia maya, dampaknya lebih dasyat, bisa meningkat 30%.

Dan hal ini bisa bikin masalah baru. Orang yang  kita maki-maki, kita hina bisa saja tak terima dengan perlakuan kita, lalu melaporkan ulah kita dengan pasal pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan atau apa saja. Sudah banyak korban pasal karet UU ITE lho. Dari yang mengkritik pejabat maupun yang saling hina sesama warga. Masih ingat sama Prita Mulyasari dan Florence Sihombing kan? Gak mau kan kayak gitu.

Kritik sama hate speech itu beda banget lho ya. Kritik tuh begini, misal ada Bos yang ngambil keputusan ndak populis di mata karyawan. Kritik “Pak, kenapa keputusannya seperti itu. Apa nggak sebaiknya begini [nawarin solusi] saja. Mungkin rekan-rekan lebih bisa menerima.

Hate speech seperti ini : Dasar Bos goblok, mata duitan, bisanya cuma ngabisin duit kantor. Sekolah di luar negri tapi mental maling. Bangke, bangsat. Mending mati aja lu!

Tapi jangan khawatir. Selama yang sampayen pikirkan baik-baik, tutur kata sampeyan juga baik, berperilaku baik, sampeyan akan aman, ndak kena delik pidana. Apalagi kalau sampeyan menebar cinta untuk sesama.  Dijamin ndak bakalan punya musuh dan banyak saudara. Jangan kecewa juga ketika sampeyan sudah berbuat baik tapi tetep ada yang benci. Haters gonna hate. Ndak papa. Berbuat baik saja ada yang gak suka, apalagi kalau berlaku jahat.

****

Hate the behaviour, not the person

 

Iklan

3 pemikiran pada “Hate Speech

  1. Ping balik: Bekerja Adalah Wujud Religiusitas | …ingin mengatakan begini dengan cara begitu…

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s