Pergi Untuk Kembali

September, empat tahun lalu; untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota Palu. Bukan piknik atau jalan-jalan, tapi tugas. Saya dapat SK Pindah. Untuk beberapa tahun ke depan, saya akan menjadi warga bumi Tadulako.

Ini artinya saya harus segera meninggalkan kampung halaman dan menempuh hidup baru. Bukan menikah, tapi hidup di kota yang baru saya kenal. Tak ada sanak saudara di sana. Jujur, ini tidak mudah. Saya akan direpotkan mencari tempat tinggal baru, sibuk mindahin sekolah anak-anak dan adaptasi dengan lingkungan baru. Belum lagi mikir biaya hidup yang mahal serta ongkos mudik yang akan membengkak berkali-kali lipat dari biasanya. Saya sempat tak bersemangat untuk berangkat, tapi sudahlah…, life must go on.

Akhirnya, berbekal restu orang tua dan keteguhan hati, saya langkahkan kaki menjelajahi bumi pertiwi ini. Ternyata apa yang saya khawatirkan sebelumnya -tentang beratnya hidup di perantauan- tidak sepenuhnya terbukti. Saya dan keluarga di sini baik-baik saja. Meski tidak gampang, ada kemudahan yang saya temukan selama di perantauan. Saya tinggal di lingkungan yang aman, anak-anak sekolah dengan riang, saya menemukan kerabat dan saudara baru, bisa menikmati keindahan alam yang luar biasa, pekerjaan pun lancar. Dan satu lagi, saya tetep bisa mudik.

Mudik memang menjadi sesuatu yang mewah buat para perantau seperti saya. Ada rindu, emosi dan gejolak jiwa yang hanya bisa dituntaskan dengan cara bertemu langsung orang-orang tercinta. Terutama di momen spesial, seperti Lebaran. Meski saat hari raya tiket pesawat harganya gila-gilaan, saya beruntung bisa merasakan mudik. Ternyata kalkulator Tuhan beda dengan kalkulator manusia. Dulu sempat kepikiran, duit dari mana buat pulang. Syukurlah ada rizki tak terduga, dari arah yang tak disangka-sangka.

Sebetulnya bukan seberapa jauh kita merantau, atau seberapa lama kita meninggalkan kampung halaman. Yang jauh lebih penting adalah, sebanyak apa kita belajar dari merantau. Selain memacu adrenalin, merantau akan memperkaya kita dengan pengalaman-pengalaman dashyat yang tak akan kita temukan di kampung halaman. Kita akan tahu rasanya berdarah-darah  dicabik-cabik kerinduan. Kita jadi mengerti betapa bahagianya saat bisa menaklukkan tantangan dan mengalahkan kesulitan. Kita akan terlatih menyembuhkan luka-luka kehidupan tanpa tangis sedu sedan. Kita pun mafhum, bahwa ada kehidupan lain di luar sana, yang lebih menggetarkan.

Di tanah rantau, saya membuktikan bahwa Indonesia itu luas, Indonesia itu indah, Indonesia itu subur dan penduduknya ramah. Di tanah rantau saya bisa meresapi berbagai hal yang asing, menjumpai keanekaragaman dan menghargai perbedaan. Membuka wawasan, terbebas dari pikiran-pikiran sempit. Di rantau, saya belajar arti perjuangan. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di rantau juga, akhirnya boso kromo inggil saya (bahasa jawa yang super duper halus) jadi berantakan, gara-gara jarang dipakai.

Terlepas dari itu semua, saya bermimpi suatu saat akan pulang kampung menghabiskan masa tua di desa, melepaskan diri dari hiruk pikuk kota. Karna hakekat merantau itu pergi untuk kembali. Tapi itu nanti. Saat ini saya masih terlalu muda, masih banyak rasa penasaran untuk mengenali negri ini.

Iklan

2 pemikiran pada “Pergi Untuk Kembali

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s