Makan Gaji Buta, BERANI?

gaji buta

Dengan berat hati, saya harus menyampaikan sebuah fakta yang menyesakkan dada, bahwa masih buuuanyak ada aparat pemerentah yang makan gaji buta. Bukan men-generalisir ya, bukan gebyah uyah. CATAT, tidak semua, hanya sebagian, cuma oknum. Populasi mereka sekitar 67,235879% dan belum punah.

Mereka ini datang ke kantor agak siangan, trus ngisi daftar hadir yang masih manual. Kadang malah nitip absen. Sesekali bolos. Ketemu rekan kerja, ngobrol ngalor ngidul, ngegosip, ngomongin yang gak jelas dilanjutkan dengan main zuma. Jam sepuluh pamit keluar buat ngopi dan sarapan. Lalu gak balik ke kantor, karna sekalian istirahat siang. Nongol lagi ke kantor sore hari, menjelang absen pulang. Ini potret kemalasan, mau enaknya saja. Pengen sejahtera tapi tak mau berkarya. Mau kaya tapi tak mau berusaha. Persis mental koruptor.

Di perusahaan swasta gak ada yang kayak gitu. Macem-macem, kerja gak beres, susah diatur ya di buang ke laut, buat makan ikan lebih bermanfaat. Pecat. Kalau pegawainya pemerentah,ย  susah dipecat bro, meskipun produktivitasnya mengenaskan. Makanya, karyawan swasta terkesan lebih profesional dibanding pegawai pemerentah.

Kalau gak percaya, sampeyan bisa membuktikannya sendiri. Silakan berkunjung ke kantor pelayanan milik pemerentah. Coba ngurus KTP, ngurus sertifikat, buat IMB atau apalah. Kurang lebih pemandangannya mirip seperti yang saya ceritakan di atas. Kalau pun mereka -para aparat pemerentah- stand by di kantor, dalam melayani masyarakat masih setengah hati. Muka manyun, gak ada senyum dan males-malesan. Prinsipnya masih sama, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah. Tak ada pelayanan prima. Mungkin ini adalah salah satu potret reformasi birokrasi yang tidak berhasil. Dan ini merupakan bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap rakyat.

Para oknum pegawai itu ndak sadar, kalau yang menggaji mereka adalah rakyat. Rakyat yang dipaksa membayar pajak. Belanja di swalayan kena pajak, makan di restoran kena pajak, penghasilan pun kena pajak. Sekedar info, tahun 2014 lalu, ada Rp. 270 trilyun yang digunakan untuk membayar gaji dan tunjangan pegawai di seluruh negeri ini. Jumlah yang fantastis. Duit segitu, 270 trilyun, dibelikan rumah yang harganya 150 juta, dapat 1.800.000 unit. Wow.

Jika sampeyan juga pegawainya pemerentah, semoga tidak seperti itu. Saya yakin sampeyan bertanggung jawab. Kalaupun saat ini lingkungan kerja sampeyan tidak kondusif, ada rekan kerja yang kerjanya asal-asalan, suka menghilang dan tak peduli dengan kerjaan, ndak usah ikut-ikutan jadi pemalas. Malu dong sama monyet. Memang berat sih, kadang kita malah ngiri. Enakan dia dong, gak kerja tapi tetep dapat gaji. *tuh kan, ternyata aura negatif bisa menular.

monyet

Monyet saja rajin kerja cari nafkah

Ini justru tantangan buat sampeyan. Buktikan bahwa masih ada pegawai baik, keren, yang suka menolong, gemar menabung dan tidak sombong. Jangan putus asa. Tetaplah bekerja dengan rajin dan hebat. Semesta tak akan pernah diam. Alam akan menuntunmu pada jalan kemuliaan menemukan pintu rezeki. Akan ada invisible hand yang membantumu menyongsong kesejahteraan. Kalau kita ikut larut dalam permainan buruk mereka, rugilah kita. Potensi kita tak akan bersinar, kreativitas mati, tak bisa berkembang dan keahlian kita tak akan meningkat. Ini berarti menyia-nyiakan bakat yang telah diberikan Tuhan.

Memang setiap orang bekerja dengan tujuan yang berbeda. Yang pasti demi materi. Buat makan, belanja pakaian, jalan-jalan dan bayar cicilan. Tapi tentu kita ingin rejeki yang kita bawa pulang berkah, jadi daging. Bukannya malah jadi penyakit. Bekerja bukan karna uang semata tapi juga bekerja agar bisa menebar manfaat pada sesama. Dan akan lebih membahagiakan lagi ketika bekerja demi mengembangkan diri, demi panggilan hidup.

Yakinlah, saat sampeyan merasakan kelelahan di malam hari karna bekerja di siang hari, pada malam hari itu dosa-dosa sampeyan di ampuni Sang Maha Kuasa. Jadi kalau begini, sampeyan masih berani makan gaji buta?

Iklan

9 pemikiran pada “Makan Gaji Buta, BERANI?

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s