Memaafkan dan Melupakan

maafkan

Jadilah orang pertama yang memaafkan

Libur Lebaran sudah usai. Saatnya kembali bekerja, kembali pada kehidupan nyata. Di hari pertama kerja, semua orang memasang muka manis. Saling berjabat tangan  bermaaf-maafan atas dosa-dosa yang sengaja maupun tidak. Sembari mengucap minal aidzin, lahir batin ya, kosong-kosong ya. Entah apa maksudnya, kosong dosanya atau kosong dompetnya.

Secara teori, memohon maaf itu lebih mudah dibanding memaafkan. Apalagi jika dilakukan di suasana Idul Fitri. Maklum, semua orang pada hari itu sedang bergembira. Lebaran telah memberi kita jalan, berbondong-bondong minta maaf. Minta maafnya pakai brodkes copas-an pula, “Jika hati sebening air jangan biarkan ia keruh bla…bla…bla”

Sebagai insan yang lemah dan tak berdaya, kita sering melakukan kesalahan pada orang lain. Bisa juga sebaliknya. Kita yang dikhianati orang lain, diremehkan, diduakan, ditelikung, digosipin atau apa ajalah. Itu sih gak seberapa.

Paling menyakitkan adalah ketika ada yang mengatakan “maaf kamu terlalu baik buat aku“.  Bahkan ATM pun turut melengkapi penderitaan dengan mengatakan “Maaf saldo Anda tidak mencukupi”. Seketika bumi terasa berhenti berputar, jantung pun berhenti berdegup. Pedih dan pilu. Wajar jika kita punya keinginan untuk membalasnya. Manusiawi. Namun kita punya pilihan, memaafkan atau menyimpan dendam. Memberi maaf, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar.

Meski sulit dan berat, memaafkan tetaplah menjadi pilihan terbaik. Terlepas setelah Lebaran orang lain melakukan kesalahan lagi itu beda urusan. Setidaknya kita pernah merasakan nikmatnya memaafkan.

Karna memaafkan itu melegakan. Memaafkan itu menenangkan dan menyehatkan. Pemaaf cenderung tidak mengalami lonjakan tekanan darah, tidak mudah cemas, depresi dan juga meningkatkan respon imun. Memaafkan itu melepas banyak hal buruk. Memaafkan akan meringankan langkah kita menyongsong hari esok yang lebih baik.

Untuk apa menyimpan dendam berkepanjangan. Buat apa merawat luka dalam jiwa. Karna bukanlah memaafkan jika masih ada bekas luka. Maka memaafkan juga sekaligus melupakan orangnya kesalahannya.

Mari kita belajar menjadi yang pertama dalam memaafkan. Karna seberapa kali engkau memaafkan seseorang, sebanyak itulah Allah akan memaafkanmu.

Iklan

4 pemikiran pada “Memaafkan dan Melupakan

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s