Berbuka Di Mall

Tanpa disadari, mall telah menjadi rumah kedua bagi sebagian kalangan. Jalan-jalan, cuci mata di mall. Beli baju, beli sembako di mall. Ngopi di mall, makan di mall. Nyalon di mall. Karaoke di mall. Ngadem di mall. Rekreasi dan olahraga juga di mall. Bahkan ada yang dari pagi hingga malam hari di mall terus. *itu sih karyawan mall keles

Bisakah kita hidup tanpa mall? Jawabnya bisa banget. Ini bukan kampanye anti mall lho. Ngemall syah-syah saja, asal tak berlebihan. Kalau seminggu sampai 2 kali, ini tak baik untuk kesehatan kantong. Ingat, tidak semua persoalan hidup bisa diselesaikan dengan belanja.

Mall mendorong kita untuk lebih konsumtif. Tadinya gak niat beli apa-apa, cuma window shopping, pulang ke rumah malah bawa banyak tentengan. Agar tidak lebih boros saat di mall, berjalanlah lebih cepat dari biasanya dan bawalah daftar belanja. Gak usah tengok kanan kiri, jangan mampir-mampir ke etalase. Pokoknya harus fokus. Fokus.

Tatkala Ramadhan tiba, saya menduga jumlah kunjungan ke mall akan berkurang. Masjid yang bakalan lebih ramai. Ternyata tidak. Pengunjung mall justru meningkat. Banyak diskon, sale gede-gedean serta pas gajian membuat orang makin berbondong-bondong belanja persiapan lebaran.

Makin sore suasana mall kian ramai. Anak-anak muda serta kalangan menengah ngehe agar nampak gaul dan kekinian, memilih mall sebagai tempat berbuka puasa. Kumpul-kumpul dengan saudara, teman kerja atau teman kuliah. Semacam reunian gitu. Niatnya merajut tali silaturahim, sembari kangen-kangenan karena jarang ketemuan.

Tapi buat saya, berbuka di mall itu malah bikin bete. Kurang khusuk, jauh dari khidmat. Terlalu bising dan serba terburu-buru. Di mall gak akan terdengar suara bedug magrib, jadi harus pantengin adzan dari radio. Malah ribet kan.

Ujian pertama saat berbuka di mall adalah mencari tempat duduk. Jika tidak datang lebih awal, dijamin gak kebagian tempat. Sulit mencari tempat duduk serta nunggu pesanan makanan yang lama datang, akan memancing emosi kita, lalu marah-marah. Ngurangi pahala puasa kan.

Dalam kondisi haus dan lapar menunggu saat berbuka, pasti kita maunya dilayani cepat-cepat. Sementara waiters yang melayani juga ingin segera berbuka. Kalaupun kita dilayani dengan baik oleh pramusaji, selalu saja ada orang lain yang berteriak minta dilayani. Berisik. Pengaruh lapar ya seperti itu.

Berikutnya adalah, di mall tak ada masjid. Hanya ada musola kecil, sempit, dekil dengan sajadah bau apek karna tak pernah dicuci. Tempatnya pun jauh terasing, di parkiran bagian pojok. Ada juga sih mall yang punya musola bersih dan nyaman, tapi sangat jarang. Seusai berbuka, pengunjung mall akan bergantian solat di situ. Antri lagi. Hadeuh.

Lebih tertata jika kita berbuka di rumah. Berbuka dengan yang manis, setia dan solehah. Lebih afdhol. Suasananya santai dan akrab. Bisa ngobrol dengan anak-anak dan istri. Berbuka pun tak perlu buru-buru. Perlahan. Bisa dicicil. Air putih dulu, lalu kurma tiga biji. Maghrib-an. Usai solat lanjut kolak, es teler atau camilan. Selesai tarawih baru makan nasi. Cara berbuka yang indah bukan.

Jadi untuk bahagia itu tak harus sering-sering ke mall. Jangan sampai kita lebih betah di mall dari pada di masjid atau di rumah.

Iklan

3 pemikiran pada “Berbuka Di Mall

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s