Tak Ada Kebeningan Fikiran Pada Orang Yang Suka Marah

Sore itu selepas bubaran pabrik, Mas Karyo tak langsung pulang ke rumah. Diarahkan motor maticnya menyusuri jalanan lengang menuju warung Bulik Tarmi yang sudah lama tak dikunjunginya. Ada rasa kangen pada masakan perempuan yang sudah dianggap orang tuanya itu.

“Assalamualaikum bulik…” sapa Mas Karyo
“Waalaikum salam. Eh mas Karyo…, lama ndak ke sini kemana saja to” tanya bulik Tarmi.

“Sibuk bulik, banyak kerjaan sekarang” sahut mas Karyo
“Wah pasti mas Karyo naik jabatan ya” tebak bulik Tarmi.

“Ndak bulik, masih pancet di bagian produksi kok” jawabnya sambil tersenyum masam.

“Bulik saya minta kopi jahe sama nasi rames ya” Mas Karyo sudah tak bisa menahan rasa laparnya.

“Ambil sendiri nasinya mas, saya bikinkan kopi dulu” jawab bulik Tarmi sambil menuju ke dapur warungnya yang sempit. Suasana warung yang tengah sepi membuat mas Karyo leluasa menyajikan nasi rames untuk dirinya sendiri.

Masakan bulik Tarmi memang warrbiyaza

Sesaat kemudian, bulik Tarmi keluar membawa secangkir kopi panas dengan aroma rempah yang begitu menggoda.

“Monggo diunjuk dulu kopinya. Biar seger, biar semangat gitu lho mas. Sampeyan masih muda kok loyo gitu. Ada apa to mas?” selidik bulik Tarmi pada Mas Karyo.

Mas Karyo hanya diam, lahap menikmati nasi Rames kesukaannya.

“Sampeyan itu ditanya orang tua kok diem aja to?” Bulik Tarmi mulai penasaran.

“Anu bulik….anu…ndak papa kok. Ndak ada apa-apa. Cuma kecapekan saja” Mas Karyo sedikit berbohong dengan keadaannya.

“Ona anu…, ndak usah bohong, bulik tahu. Ada masalah di pabrik ya?” tebak bulik Tarmi

“Kok tahu bulik?” jawab mas Karyo
“Ya tahulah. Paklikmu itu kalau lagi ada masalah, wajahnya ya kayak kamu, mbesengut” kata bulik Tarmi.

“Gini lho bulik…” mas Karyo mulai berani cerita ke wanita paruh baya itu.

“Di pabrik.., juragan saya itu kerjaannya marah-marah terus. Padahal saya dan teman-teman sudah bekerja sungguh-sungguh. Kita datang tepat waktu, ndak pernah nilep barang punya pabrik, ndak KKN. Malah juragan saya sendiri yang kerjanya gak bener, ndak bisa ngasih contoh yang baik ke para buruh. Saya jadi bingung bulik” keluh mas Karyo.

“Mungkin juragannya mas Karyo jarang bercinta, jadinya marah-marah” jawab bulik Tarmi

“Bulik ini lho, saya serius kok malah dibecandain”

“Bulik juga serius lho. Orang yang kurang kasih sayang, jarang bercinta bawaannya marah-marah”

“Pasti paklik gitu juga ya bulik” goda mas Karyo.

“Nanti kalau kamu sudah nikah pasti tahu” bulik Tarmi tersipu malu.

“Trus kalau kayak gitu, saya harus gimana bulik” mas Karto minta nasehat.

“Orang yang gampang marah itu rentan kena stroke dan jantung. Sudah biarin saja. Biar capek sendiri juraganmu itu. Yang penting kamu tetap kerja dengan jujur, kerja yang bener, ndak macem-macem dan selalu menebar kebaikan. Gusti Allah ora sare mas” nasehat bulik Tarmi

“Namanya manusia ya gitu mas. Ada yang mudah marah tapi cepat tenang. Ada yang ndak gampang marah tapi pendendam. Ada yang cepet marah dan pendendam juga. Yang bagus itu yang ndak gampang marah dan pemaaf. Ini semua tentang pilihan mas. Mau milih yang mana kita” lanjut bulik Tarmi.

“Tapi saya jengkel bulik sama dia. Ngomongnya itu lho ndak sesuai sama kelakuannya. Maksud saya tuh, kalau ndak bisa jadi tauladan yang baik, kalau kelakuan masih kayak gitu, sudahlah diam saja. Ini malah hobinya ceramah, sok-sokan gitu bulik. Bikin yang dengar mau muntah” cerita mas Karyo berapi-api.

“Didoakan saja mas, biar selamat, biar mulutnya ndak ditapuk malaikat” jawab bulik Tarmi sambil membersihkan meja. Wanita ini memang bijak, sudah banyak makan asam garam kehidupan.

“Hahahaha….ditapuk malaikat sampai merot ya bulik” mas Karyo tak bisa menahan tawa.

“Sampeyan kan tahu to mas, Gusti Allah itu buenci banget sama orang yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya” jelas bulik Tarmi.

“Itu hadis apa ayat Quran bulik” tanya mas Karyo

“Quran itu mas. Kemarin pak ustad mbahas itu pas taklim ibu-ibu di musola” terang bulik Tarmi.

“Kita harus berterima kasih sama orang-orang seperti itu mas” saran bulik Tarmi.

“Berterima kasih gimana bulik, malah pengen saya pukuli” mas Karyo mulai geram.

“Lho bener ini mas. Kalau ndak ada orang jahat, orang-orang baik ndak akan terlihat baik. Dan ini ujian buat sampeyan supaya sabar. Semakin buruk lingkungan, semakin besar tanggung jawab mas Karyo untuk tetap berbuat baik. Keburukan ndak harus dibalas keburukan mas” tutur bulik Tarmi.

Mas Karyo cuma manggut-manggut mengiyakan. Dalam hati dia bergumam,  Bulik Tarmi ini sungguh bijaksana. Ndak banyak omong, kata-katanya sederhana, tapi tindak tanduknya begitu anggun, melukiskan keindahan jiwanya.

Tak terasa, nasi di piring mas Karyo sudah habis. Begitu juga kopi jahenya. Senja itu, saat langit memerah saga, selain perut kenyang, hati mas Karyo jadi tenang mendapat siraman ruhani dari bulik Tarmi.

“Bulik.., sudah petang saya mau pulang, keburu magrib. Ini uangnya. Gak usah susuk” mas Karyo menyodorkan lembaran lima puluh ribu.

“Lho kok banyak banget mas, matur suwun lho” bulik Tarmi sumringah.

*Tinggalkanlah orang marah. Kau tak akan menemukan kebeningan pikirannya*

Iklan

4 pemikiran pada “Tak Ada Kebeningan Fikiran Pada Orang Yang Suka Marah

  1. Sepenggal cerita yang menarik, dimana2 bos paling benar dan apabila salah harus kembali lagi berfikir bahwa bos itu paling benar..he

  2. Ping balik: Tips Hemat Ala Pahmud Mahmud | …ingin mengatakan begini dengan cara begitu…

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s