Kartini Tanpa Pensil Alis

Sebagai lelaki yang menghormati wanita, saya mendukung hari ini 21 April ditetapkan sebagai hari libur nasional. Agar para wanita punya waktu lebih khusuk dalam  mempersiapkan perayaan hari Kartini. Nanti pas hari kelahirannya Cut Nyak Dien, bikin hari Cut Nyak Dien, libur lagi. Hari lahirnya Dewi Sartika, bikin perayaan, libur lagi dan lagi. Setuju banget pokoknya.

Bayangkan, betapa repotnya para wanita di hari ini. Pagi-pagi harus bangun, nyiapin kebaya, baju daerah, eye shadow, maskara, bulu mata. Demi tampil cantik di hari nan sangat penting bagi perkembangan kesetaraan gender.

Tapi saya jadi khawatir, kalau-kalau ada yang beranggapan bahwa Kartini adalah soal kebaya, make-up dan sanggul. Padahal gak selalu gitu kan.

Seorang Kartini juga bisa wanita yang berdaster. Yang sedari fajar menyingsing berjibaku dengan masakan bekal untuk anak dan suami tercinta. Lalu berlanjut bebenah rumah, momong si kecil, jualan on line, belanja di tukang sayur plus ngegosip dengan ibu-ibu komplek dan sederet aktivitas lain.

Oh ya satu hal yang perlu kita ketahui bersama, survei membuktikan bahwa daster selalu menjadi pakaian favorit wanita Indonesia dalam segala hal, dari Sabang sampai Merauke. Untuk itu, dukung daster jadi pakaian nasional. Murah, meriah, gak ribet dan nyaman digunakan.

Kembali tentang hari Kartini. Kartini masa kini adalah wanita multi talenta. Yang bisa masang gas sendirian, bisa bertahan hidup meski tanpa pensil alis, bisa membantu perekonomian keluarga, sabar dalam mengasuh dan mendidik anak-anak serta setia dan patuh pada suami.

Kartini modern bukanlah wanita yang menggunakan kata emansipasi sebagai tameng ketidakmampuan dan kemalasan. Bukan pula wanita yang tak rela disuruh pasangannya karena menganggap wanita dan pria adalah setara.

Kartini hebat tak hanya jago main gadget, tapi juga piawai ngulek sambel terasi. Kartini dambaan para suami adalah mereka yang tak pernah minta tambah jatah bulanan, bukan mereka yang nyuruh suami nyuci sendiri.

Kartini sejati adalah para wanita bernas – apapun profesinya – yang selalu berkarya, berkontribusi serta mampu membebaskan dirinya, keluarga dan bangsanya dari belenggu kegelapan menuju cahaya terang benderang. Berjuang lewat berbagai peran.

Selamat Hari Kartini. Door Duisternis tot Licht. Habis gelap terbitlah terang.

Iklan

Satu pemikiran pada “Kartini Tanpa Pensil Alis

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s