Makan Itu Tak Hanya Soal Rasa

Urusan makan ternyata gampang-gampang susah. Enak bagi si A belum tentu enak pula bagi si B. Banyak hal yang mempengaruhi tingkat kenikmatan suatu makanan.

Mulai soal selera, rasa, tempat makan dan suasana hati. Makanan terlezat pun ada yang menjadi tak enak dan bahkan membuat perih lambung saat dikonsumsi. Bagaimana ndak perih, lha wong makannya sendirian. Perih tanpamu. Jadi sebenarnya makan apa itu gak penting, yang jauh lebih penting adalah makan sama siapa. *eeeaaaa

Eh ini serius lho. Saat kita menikmati makanan bersama orang-orang terdekat, ramai-ramai dengan keluarga tercinta, sahabat dan kerabat; maka ada sesuatu yang membuat rasa makanan itu menjadi lebih mantab. Meski mungkin hanya nasi putih, sayur lodeh, sambel terasi, ikan teri, tempe dan kerupuk.

Tak hanya itu, makin susah dicari, makin berat perjuangan kita menemukan makanan favorit, maka rasa akan lebih mak nyuss. Biasanya ini terjadi kalau kita berada di tanah rantau nan jauh di sana.

Pertama kali saya menemukan pecel khas Madiun di kota Palu, saat menyantapnya air mata saya hampir menetes. Bukan karna haru sih, tapi kepedesan. Sambelnya itu lho, pakai lombok apa pakai balsem geliga. Pedasnya kok nendang banget.

image

Meski rasanya tak persis dengan pecel di desa saya, tapi lumayanlah. Setidaknya bisa jadi tombo kangen. Saya bisa bernostalgia dengan kenangan masa kecil. Mengingatkan saya akan masakan orang tua, kehangatan rumah, kasih sayang, keakraban dengan saudara dan tetangga. Saya seperti diantar terbang ke kampung halaman. Ada kisah indah di balik sepincuk pecel kembang turi.

Berikutnya yang membuat makanan enak itu makin enak adalah saat dibayarin alias gratisan. Enak yang dibayarin, yang mbayarin gak enak. Etapi kalau sering-sering ditraktir bahaya juga, bisa menurunkan harkat dan martabat. Kok kesannya seperti orang susah. Jadi sesekali mentraktirlah, berbagi.

Saat kita lagi gak punya duit, saat benar-benar kelaparan, makan apa saja juga terasa nikmat. Bandingkan dengan orang yang sudah kebanyakan duit, malah bingung mau makan apa.

Yang perlu kita waspadai tentang makanan bukanlah soal rasa atau kandungan gizinya. Tapi sikap kita terhadap makanan. Bagaimana kita menghargai proses mendapatkannya, bagaimana kisah dibalik tersajinya sebuah makanan.

Jadi bersyukurlah pagi ini masih bisa makan, masih ada yang memasakkan dan menemani Anda sarapan.

Iklan

5 pemikiran pada “Makan Itu Tak Hanya Soal Rasa

  1. sebagai perantau ane juga ngalamin hal yg sama masbro
    nyari pecel harus menempuh perjalanan hampir 30 km terlebih dahulu
    pas didapat bersyukur banget meski rasanya tak seperti di kampung halaman sendiri
    anyway, met makan masbro 😀

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s