Aku Pamer Maka Aku Ada

Saya ini orangnya pemalu, ndak sombong dan ndak suka pamer kecuali terpaksa, kata ibu saya. *sudah ndak usah protes.
Tapi kalau saya dipamerin terus-terusan sama yang lain, ya kesel. Pengen ikutan pamer juga. Pengen mengatakan sesuatu, menunjukkan sesuatu dan berbuat sesuatu supaya orang lain tahu dan memuji saya.

Memang di era digital sekarang ini, pamer menjadi sebuah kebutuhan. Pamer apa saja. Awalnya cuma pamer foto makanan. Lama-kelamaan meningkat, jadi pamer kecantikan dan kegantengan, pamer harta, pamer kerjaan, pamer gelar, pamer liburan, pamer nonton konser dan pamer kegalauan. Sepertinnya ada kepuasan tersendiri saat yang lain menjadi iri dan dengki gegara dipamerin. Meski sebenarnya yang dipamerin pengen muntah. Kadang juga bingung, ini sekedar sharing, berbagi kebahagiaan atau pamer. Mungkin selagi pamer masih diperbolehkan, maka ya banyak yang berpamer rialah.

Nah agar tidak terlalu vulgar, maka saya kita harus memutar otak mencari cara pamer yang baik, yang sesuai dengan norma-norma kebajikan dan kearifan lokal. Biar ndak terlalu menyakiti orang yang dipamerin.

Begini caranya. Pamer yang sopan adalah ketika disamarkan dengan nada keluh kesah. Contohnya

 “Capek nih lembur terus, wiken diajak meeting. Untung gaji sebulan 50 juta”
“Aduh susah juga ya ngetik di iPhone, layarnya kecil sih”
“Eh bengkel resmi Rubicon di sini di mana ya? Dari kemarin nyari gak ketemu”
“Alhamdulillah, meski sibuk hari ini sempat sholat duha & ngaji 2 juz”

Usahakan ekspresi sedatar mungkin saat ngomong begitu, untuk menghindari kesan congkak.

Berikutnya, kalau lagi liburan ke luar negeri atau jalan-jalan kemana gitu, buatlah status di medsos “touchdown….” Supaya kelihatan rendah hati, gunakan kata Alhamdulillah agar nuansa syukurnya kuat sekali. Kalau ndak pakai Alhamdulillah, itu namanya sombong.

Selain di dunia maya, ada momen yang pas untuk pamer. Di acara reuni, pas arisan, saat ambil raport sekolah atau ketika buka bersama. Pamer kendaraan boleh, pamer gadget silakan, pamer baju dan aksesoris.

Nah sebelum mencoba trik pamer seperti di atas, sebaiknya Anda juga mengerti resiko di balik itu semua.

Jika pamer menjadi hobi dan gaya hidup Anda, maka Anda dianggap orang yang mengalami gangguan mental. Artinya Anda adalah orang yang rasa percaya dirinya rendah, sehingga berusaha menutupi hal tersebut dengan memamerkan sesuatu. Pamer juga salah satu bentuk mencari perhatian bagi orang yang mungkin kesepian, kurang kasih sayang dan mengalami kerapuhan jiwa.

Beragam reaksi pun akan muncul saat kita pamer. Sebagian cuek, sebagian akan mencibir dan membenci karna sikap kita yang membanggakan diri sendiri serta memandang rendah orang lain.

Jadi pikir matang-matang sebelum pamer mencari muka di depan manusia. Bukankah lebih baik cari muka di depan Tuhan, dengan amal solih yang tak kita pertontonkan?

Karna sejatinya hidup tak hanya soal seberapa banyak yang kita miliki, seberapa besar yang kan kita pamerkan. Tapi hidup juga tentang kebaikan, tentang keberkahan yang tak bisa diukur dengan angka dan decak kagum manusia.

Iklan

Satu pemikiran pada “Aku Pamer Maka Aku Ada

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s