Menua Di Ujung Malam

jar-of-rocks

“Tak perlu menua di ujung malam. Hidup tak hanya untuk bekerja”

Kalimat yang menohok. Menyadarkan saya bahwa ada dunia lain selain pekerjaan, ada kehidupan di luar sana yang patut ditengok.

Kesibukan mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian ada kalanya membuat enggan pulang. Malu pulang TENG GO. Begitu jam lima TENG, langsung GO. Makin larut pulang, makin merasa heroik. Lupa meluangkan waktu untuk keluarga tersayang.

Jangan-jangan selama ini saya terlalu egois, memikirkan diri sendiri, tanpa memperhatikan yang lain. Jangan-jangan ada yang terluka karna ambisi saya. Jangan-jangan keringat saya terus menetes tanpa makna. Jangan-jangan……..#ahsudahlah

Padahal sebagai seorang lelaki ayah, tugas saya tak hanya mencari nafkah. Harusnya juga sempat mengantar anak-anak ke sekolah, bercanda dan ngobrol secara terbuka dengan mereka, mengajak solat berjamaah di masjid, makan bersama dan menemani tidur.

Sebuah studi mengatakan, rata-rata para ayah di Indonesia bertemu anaknya hanya 65 menit sehari. Maka tak heran jika kita pernah mendengar kisah ada seorang anak yang rela menabung demi membeli waktu ayahnya, agar bisa bermain bersama.

Banyak anak yang kehilangan figur ayah. Di sekolah, kebanyakan gurunya adalah perempuan, apalagi di PAUD dan TK. Guru laki-laki tak sampai 50%.

Tapi ini semua kembali pada masing-masing orang sih. Prioritas tiap orang berbeda, dan saya menghormatinya. Sebagian fokus di karir, sebagian fokus di keluarga, sebagian berusaha menyeimbangkan keduanya, sebagian lainnya tak jelas.

Prioritas dalam kehidupan itu ibarat sebuah wadah yang akan kita isi dengan batu besar, kerikil dan pasir, kata Stephen Covey dalam First Things First– nya. Videonya bisa dilihat di sini.

Batu besar mengibaratkan hal-hal yang paling penting dalam kehidupan kita, yaitu keluarga, anak-anak, kesehatan dan Tuhan.

Kerikil menggambarkan hal-hal lain yang juga penting dalam kehidupan, seperti pekerjaan dan pengetahuan.

Pasir adalah hal-hal lain yang  tak terlalu penting namun sangat menyenangkan seperti hobi dan materi.

Jika kita masukkan pasir terlebih dahulu, maka tak akan ada ruang untuk kerikil dan batu. Beda ceritanya jika batu besar yang kita masukkan terlebih dahulu, maka kerikil dan pasir pun akan bisa tertampung di sela-sela batu besar.

If you don’t put the big rocks in first, you’ll never get them in at all.”

Jangan sampai salah menentukan prioritas, agar tiada penyesalan di kemudian hari.

So, what are the big rocks in your life?

 

Iklan

7 pemikiran pada “Menua Di Ujung Malam

  1. Saya suka sekali dengan postingan ini. Keluarga memang menjadi prioritas utama, tak ada salahnya memang bekerja hingga larut malam, tapi apakah itu bisa menggantikan waktu dengan melihat tumbuh kembang anak kita.
    Saya bukan yang sudah berkeluarga, namun jika suatu saat itu terjadi, mungkin anak sudah selayaknya mendapat lebih dari 65 menit yang dikatakan.

    Posting ini menjadi cambukan bagi saya kelak, dimana keluarga adalah prioritas, walaupun tak seberapa namun waktu yang cukup untuk mereka akan menjadikan kehidupan batin lebih baik.
    Terimakasih atas postingan yang sangat bersahaja. 🙂

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s